Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Nathan menghadiri Acara


__ADS_3

Malam kini sudah menjelang. Taman belakang kediaman keluarga Rehan terlihat indah dengan dekorasi yang penuh dengan bunga berwarna-warni dan cahaya lampu berkalap-kelip sangat indah.


Para tamu kini mulai berdatangan, dan duduk di kursi yang sudah disediakan



"Nak, di mana Nathan? kenapa dia belum juga datang? bukannya kamu bilang kalau Nathan akan hadir?" tanya Naura pada Nicholas sembari mengedarkan pandangannya mencari keberadaan putranya.


Renata tersentak kaget, mendengar kalau mantan kekasih yang masih dicintainya itu akan hadir. Perasaannya kini benar-benar sudah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari detak jantung normal.


"Iya, Nich. Acara sebentar lagi akan dimulai. Bagaimana kita bisa memulainya kalau dia belum ada di sini?" Rehan buka suara menimpali ucapan Naura, istrinya.


""Aku juga tidak tahu, Ma, Pa. Dia sendiri yang mengatakan kalau dia akan hadir. Coba aku hubungi dia!" Nicholas yang tampak gagah dengan tuxedonya mengangkat handphonenya dan meletakkan di telinganya.



Namun, belum benar- benar tersambung, Nicholas langsung mengurungkannya karena pria itu sudah melihat sosok Nathan dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"Itu dia sudah datang!" tunjuk Nicholas sembari memasukkan kembali handphone ke dalam saku celananya.


Semuanya tak terkecuali Renata, sontak menoleh ke arah datangnya Nathan bersama dengan Arsen.


Jantung Renata seakan berhenti berdetak untuk beberapa saat ketika melihat pria yang katanya sangat dibencinya itu. Bagaimana dengan Nathan? pemuda itu juga menatap Renata dengan perasaan yang sulit untuk dilukiskan.




Tatapan mereka terkunci untuk beberapa saat. Namun Nathan seketika tersadar dan mengakhiri tatapan mereka.


Pria itu dengan susah payah berusaha untuk menahan debaran jantungnya dengan melangkah mendekat ke arah keluarganya yang sudah berada di atas panggung. Dari belakangnya tampak Arsen berjalan mengikuti adiknya itu.


"Akhirnya kamu datang juga, Nak. Mama sangat merindukanmu," Naura langsung memeluk putranya itu dengan erat.


"Maaf,Ma! tadi jalanan sedikit macet," sahut Nathan sembari tersenyum. Kemudian pria itu, beralih ke arah Rehan, memeluk papa sambungnya itu, dan tidak lupa juga dengan Nicholas.


Saat hendak menjabat tangan Renata, gadis itu sontak melengos dan berlalu menghampiri kedua orangtuanya. Gadis itu bertindak seakan-akan tidak mengenali Nathan.


Nathan menghela napasnya dengan berat seraya menarik kembali tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celananya.


"Kak, lihatlah aku sudah datang. Apa Kakak sudah percaya dengan keikhlasanku?" bisik Nathan di telinga Nicholas.


"Terima kasih! sekarang aku sudah percaya," Nicholas menerbitkan seulas senyuman di bibirnya.


Kemudian, Nathan kembali mendekati Naura dan Rehan. "Ma, Pa, aku dan kak Arsen minta izin untuk duduk di kursi tamu ya?"


"Baiklah! tapi jangan jauh-jauh!" Naura memberikan peringatan.

__ADS_1


" Baiklah!" Nathan mengayunkan kakinya, melangkah menuju kursi tamu di barisan paling depan. Sementara itu, ekor mata Renata tidak bisa lepas melirik ke arah Nathan yang kini sudah duduk di sebuah kursi, sembari menatap ke arah panggung.


"Apa kamu baik-baik saja?" bisik Arsen.


"Seperti yang Kakak lihat. Aku baik-baik saja kan?" jawab Nathan, memperlihatkan senyumnya.


"Tapi, yang aku lihat hatimu tidak baik-baik saja. Mata kamu tidak bisa berbohong, Nath!" ucap Arsen.


Nathan tidak menjawab sama sekali. Dia tidak membantah ucapan kakaknya yang memang benar adanya. Matanya tetap fokus menatap ke depan, seolah-olah ingin menunjukkan kalau dirinya sangat antusias melihat acara peresmian pertunangan gadis yang dia cintai dengan kakak sambungnya.



"Yang sabar ya!" Arsen menepuk-nepuk pundak Nathan.


"Hai, Nathan! apa kamu masih ingat denganku?" tiba-tiba Anisa sudah berdiri di dekat Nathan dengan raut wajah yang berbinar.


Nathan mengrenyitkan keningnya, berusaha mengingat gadis yang baru saja menyapanya.


"Maaf, kamu siapa? aku sama sekali tidak mengingat kalau aku pernah kenal dengan kamu,"


Anisa seketika mengerucutkan bibirnya,merasa kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Nathan. Walaupun pada awalnya dia sudah bisa menduga kalau pemuda itu bakal tidak akan mengenalinya. Tapi, entah kenapa dirinya tetap saja merasa kesal dengan pria yang penuh kharisma itu.


"Aku Anisa. Aku pernah kami tolong ketika aku dikejar dua orang preman. Apa kamu sudah ingat?" Anisa berusaha mengingatkan.


Nathan kembali memicingkan matanya berusaha mengingat wajah Anisa.


"Apa kamu sudah mengingatnya?" sorak Anisa dengan semangat.


"Emm, sebenarnya sih belum terlalu ingat. Maaf! soalnya ada beberapa orang yang pernah aku tolong. Kamu yang mana ya?" tanya Nathan, jujur.


Mendengar jawaban Nathan, membuat bibir Anisa semakin maju ke depan. Sementara itu Arsen tertawa merasa lucu dengan ekspresi Anisa.


"Ya udah deh, kalau kamu nggak ingat. Emm, boleh aku duduk di sini?" Anisa menunjuk ke arah kursi kosong di dekat Nathan.


"Silakan! siapapun bisa duduk di situ, selagi masih kosong," sahut Nathan,dingin.


Dari atas panggung, tampak raut wajah Renata yang tidak bisa menutupi rasa cemburunya melihat Anisa berbicara dengan Nathan. Ya, Renata sudah tahu kalau sahabatnya itu ternyata menyimpan hati pada Nathan sejak lama.


"Kenapa aku harus kesal? aku kan tidak punya hubungan lagi dengan Nathan. Tapi bukannya sebagai sahabat, dia harus mengerti bagaimana perasaanku sekarang? harusnya dia tidak mengambil kesempatan di tengah keruhnya hubunganku dengan Nathan," bisik Renata dalam hati.


Bukan hanya Renata yang menatap ke arah meja Nathan, tapi juga dengan Nicholas. Namun, raut wajah pria itu benar-benar sukar untuk dibaca.


"Sepertinya dia berusaha menggoda, Nathan! Dia kira Nathan gampang tergoda," Nicholas tersenyum sinis.


Nathan kembali fokus menatap ke arah depan mengacuhkan Anisa yang sibuk berceloteh, seakan mereka sudah sangat dekat.


"Ish, ternyata Nathan sangat dingin. Tapi,dia benar-benar sangat tampan. Pantas saja, Renata tidak bisa melupakannya. Sikapnya cool begini," ucap Anisa yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.

__ADS_1


"Kak, apa kakak kedinginan?" tanya Anisa sembari mencondongkan tubuhnya ke arah Arsen.


"Tidak! emangnya kenapa? apa kamu kedinginan?" tanya Arsen dengan kening berkerut.


"Iya. Rasanya seperti berada di kawasan kutub Utara," sahut Anisa dengan ekor mata yang melirik ke arah Nathan.


Arsen seketika terkekeh, karena mengerti apa maksud ucapan Anisa yang ternyata sedang menyindir sikap dingin Nathan.


"Haish, mental dari Nathan, sekarang di berusaha menggoda Arsen," Nicholas menggerutu, menatap dongkol ke arah Anisa.


Sementara itu, Anisa tanpa sadar menatap ke arah Nicholas. Gadis itu kaget melihat tatapan Nicholas yang sangat tajam padanya.


"Apa lihat-lihat? mau aku colok matanya?" Anisa balik menatap Nicholas tidak kalah tajamnya.


"Sialan! beraninya dia menantangku," umpat Nicholas yang bisa membaca apa yang diucapkan Anisa.


"Selamat malam semuanya!" terdengar suara Rehan yang memutuskan untuk segera memulai acara.


" Kami sungguh berterima kasih, Atas kesediaan kalian untuk menyempatkan waktu menghadiri acara peresmian pertunangan anak kami Nathan dan Renata, putri dari rekanku Rajendra,"


Nathan yang tadinya sudah menundukkan kepalanya, tiba-tiba mengangkat wajahnya, kaget mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Rehan papanya. Bukan hanya Nathan, Renata juga tidak kalah kagetnya.


"Sepertinya, Papa Rehan salah sebut nama," batin Nathan yang masih tetap duduk di tempatnya.


"Seperti yang kalian ketahui, kalau aku dan istriku sama- sama sudah memiliki seorang putra, sebelum kami menikah,dan Nathan adalah anak sambungku. Anak istriku, anakku juga kan? jadi selain mengumumkan pertunangan Nathan dengan Renata, aku juga ingin memperkenalkan dia pada kalian semua,"


Lagi-lagi Nathan, terkesiap kaget, bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa sebenarnya yang terjadi? kenapa jadi begini?" batin Nathan.


"Nathan, mari sini, Nak!" Rehan menatap ke arah Nathan yang masih belum lepas dari rasa kagetnya.


"Nathan, kamu dipanggil. Ayo ke depan!" Arsen buka suara.


"Nak, kenapa kamu masih diam di sana? ayo maju ke depan!" kembali Rehan memanggil Nathan.


Karena Nathan tidak kunjung berdiri, Nicholas akhirnya turun dari panggung dan menghampiri Nathan.


"Nath, apa kamu tidak mendengar papa memanggilmu? ayo maju ke depan!" Nicholas meraih tangan Nathan.


"Apa maksudnya semua ini, Kak?" tanya Nathan masih kekeh duduk di tempatnya.


"Nanti kamu akan tahu sendiri! ayo berdiri!"


Nathan akhirnya berdiri dan berjalan bersama dengan Nicholas menuju panggung, diiringi tepuk tangan dan tatapan kagum dari para tamu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2