
"Bu, aku tahu adikku sendiri! dia tidak mungkin melakukan hal itu. Jadi, Ibu jangan sembarang Menuduh! ucap Arsen dengan nada yang masih berusaha menahan amarahnya.
"Tapi, ini benar-benar tidak masuk akal, Nak Arsen. Selama ini kamu tahu sendiri kemampuan adik kamu. Dia sangat jauh jika dibandingkan dengan Tania dan Roby," ucap Guru itu masih tetap yakin dengan pemikirannya.
"Apa itu bisa Ibu jadikan sebagai dasar untuk menuduhku? bukannya setelah ujian, kertas Jawa langsung dikumpulkan pada pengawasan. Bagaimana mungkin aku bisa sempat menukar kertas jawaban," Nathan buka suara, benar-benar tidak terima dengan tuduhan yang dialamatkan padanya.
"Dan asal, Ibu tahu aku tidak bodoh sama sekali. Seminggu sebelum ujian, hampir tiap hari aku belajar. Aku bersumpah demi apapun, kalau aku tidak pernah melakukan seperti yang Ibu tuduhkan tadi. Seharusnya, Ibu menanyakan pada Tania dan Roby, apa nilai mereka selama ini murni karena usaha sendiri atau karena bantuan orang lain," sambung Nathan lagi, membuat wajah putih Tania langsung berubah pucat.
"Jadi, kamu mau menuduh nilaiku selama ini tidak murni?" Roby buka suara dengan mata yang menatap tajam ke arah Nathan.
"Aku tidak menuduhmu. Aku tahu kemampuanmu. Nilai ujianmu rendah kali ini, hanya kamu yang tahu kenapa bisa seperti itu. Bagaimana dengan Tania? apa nilai dia selama ini murni karena usaha dia?" Nathan menyeringai sinis ke arah Tania yang semakin pucat pasi.
"Apa-apaan ini! apa kamu mau menuduh putriku curang selama ini? hah!" bentak Papanya Tania, yang tidak terima atas perkataan Nathan.
"Pak, tolong jangan membentak adikku!" Arsen buka suara.
"Aku tidak menuduh, tapi itulah kenyataannya. Kalau tidak percaya, sekarang aku siap untuk diuji kembali mengerjakan soal ujian kemarin atau aku juga siap mengerjakan soal-soal baru. Tapi, hal yang sama juga berlaku buat Tania dan Roby. Aku juga ingin membuktikan kalau pemikiran ibu tentangku selama ini salah!" tantang Nathan dengan tegas.
"Benar yang dikatakan oleh Nathan, Bu!" Renata tiba-tiba berdiri di ambang pintu. Ya, Renata belum pulang, sementara papanya setelah menerima surat kelulusan putrinya itu, langsung pergi ke kantor karena ada urusan penting.
"Renata!" gumam Tania dan Roby bersamaan.
"Nak Renata,apa maksud perkataanmu?" guru itu mengrenyitkan keningnya.
"Sebenarnya selama seminggu sebelum ujian, aku dan Nathan belajar bersama. Ternyata, Nathan sangat cepat menangkap pelajaran. Selama ini, dia hanya tidak niat belajar aja. Dan untuk masalah, kenapa nilai Tania bisa rendah, itu karena aku memberikan sebagian jawaban yang salah. Itu karena aku yakin kalau dia akan langsung menuliskan jawaban yang aku beri tanpa memeriksa terlebih dulu, seperti sebelum-sebelumnya," jelas Renata panjang lebar. .
"Maksudmu? Renata, kamu jangan mengada-ada!" ucap guru itu, masih sulit untuk percaya.
__ADS_1
"Aku tidak mengada-ada, Bu. Aku mengatakan yang sebenarnya. Selama ini, nilai tugas dan ujiannya, itu karena aku. Aku tahu, kalau yang aku lakukan itu salah, tapi itu semua aku lakukan, karena aku menganggapnya sahabat. Dengan bodohnya aku mau aja diperalat oleh dia,"
"Renata! bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku? aku ini sahabatmu, Renata!" pekik Tania, murka.
Renata, mendengus dan berdecih. " Cih, sahabat? kamu itu bukan sahabatku, tapi musuh yang bersembunyi di balik kata sahabat. Apa kamu kira, aku tidak tahu kalau kamu dan Roby memanfaatkanku selama ini?"
"Apa maksudmu? jangan bawa-bawa namaku!" Roby buka suara.
"DIAM!" bentak wali kelas mereka, menghentikan perdebatan yang membuat bingung itu. " Semuanya diam dulu, dan biarkan Renata menjelaskan lebih dulu. Nak, Renata sekarang kamu tolong jelaskan, bagaimana kamu bisa menuduh Tania dan Roby memanfaatkanmu!" lanjut guru itu lagi, menatap Renata dengan tatapan menuntut.
"Baiklah, Bu! aku sepertinya tidak perlu harus panjang lebar menjelaskan, tapi video ini bisa menjelaskan semuanya," Renata memberikan bukti video rekaman pembicaraan Roby dan Tania di rooftop sekolah mereka. Bukan hanya rekaman pembicaraan, tapi juga saat kedua insan itu melakukan hal yang tidak pantas dilakukan oleh remaja yaitu memadu kasih. Sementara itu, wajah Roby dan Tania langsung berubah pucat seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali.
"Aku sengaja tidak melabrak mereka berdua, dan memilih untuk berpura-pura tidak tahu apa yang mereka lakukan selama ini. Itu semua aku lakukan, untuk memberikan mereka pelajaran. Dan mengenai Nathan, aku berani jamin kalau hasil ujian itu, murni karena usahanya. Dia tidak sebodoh yang Ibu kira selama ini," jelas Renata lagi.
"Brengsek! jadi selama ini, kamu hanya berpura-pura?" umpat Roby, yang tidak peduli lagi kesopanan santunan.
"Ya, aku hanya berpura-pura! Aku juga berpura-pura menerimamu kembali. Hari itu, di taman, aku memang sengaja tidak meminum minuman yang kamu kasih, karena aku tahu jelas kalau kamu mau melakukan kembali rencana menjebakku yang pernah gagal. Kamu pasti berpikir kalau video yang ada pada Nathan sudah terhapus. Kamu tidak tahu, kalau video itu sudah pernah aku minta dari Nathan," Renata menyeringai licik.
Ketika, Roby memberikan minuman yang sudah dibubuhi obat tidur, Renata, berpura-pura menerima pesan dari papanya, yang memerintahkannya untuk segera pulang.
Setelah itu, Renata ternyata tidak langsung pulang, tapi mengintai dari jauh. Dia yakin, kalau Tania yang sebenarnya ada di sekitar itu, akan menghampiri Roby.
Renata yang sudah mempersiapkan semuanya lebih dulu, mengikuti kemana dua orang itu pergi, dan tampak jelas kalau kedua orang itu melakukan check in di sebuah hotel. Semua yang terjadi di depannya itu tidak lupa dia rekam.
"Sialan kamu, Renata! kamu menghancurkan semuanya!" Tania menghambur hendak menarik rambut Renata. Beruntungnya dengan sigap Nathan langsung menghadang aksi Tania.
"TANIA!" terdengar gelegar suara papanya. Pria setengah baya itu terlihat sangat marah sekarang. Hal itu terlihat dari tatapan dan wajah yang memerah.
__ADS_1
"Kamu benar-benar sudah membuat malu, Keluarga. Bagaimana perempuan seperti kamu bisa melakukan tindakan seperti itu? hah!"
"Pa, i-itu hanya fitnah!" Tania masih berusaha untuk menyangkal.
"Fitnah kamu bilang? itu sudah ada bukti nyata, kamu masih berani menyangkal?"
"Satu lagi, Om. Maaf jika aku lancang. Mereka berdua sudah sering melakukan hubungan layaknya suami istri. Kenapa, nilai Roby bisa turun juga karena seminggu sebelum ujian, dia selalu bersama dengan Tania," Renata kembali buka suara.
"Renata! cukup! aku tidak mau dengar lagi!" Tania berjongkok sembari menutup telinganya.
Sementara itu, Roby tengah mengelus-elus pipinya, karena pemuda itu juga mendapat bogem mentah dari papanya.
"Roby, pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus menikahi Tania!" ucap papanya Tania tiba-tiba.
"Enak aja, aku tidak setuju! masa depan Roby masih panjang. Dia masih harus fokus untuk kuliah. Ini semua salah anak kamu yang terlalu murahan!" tolak papanya Roby dengan tegas.
"Hei, enak saja kamu mau lepas tanggung jawab. Kalau anakku hamil bagaimana?"
"Aku tidak peduli! yang jelas, aku tidak mau masa depan anakku hancur hanya karena anakmu yang tidak tahu malu itu!" papanya Roby tetap kekeuh menolak.
"Maaf, Om. Aku juga belum mau menikah!" celetuk Roby tiba-tiba, menimpali penolakan papanya.
"Pak Surya, Pak Farhan, sebaiknya jangan berdebat di sini! selesaikan urusan kalian di rumah anda berdua!" ibu guru kembali buka suara, untuk menghentikan perdebatan dua pria setengah baya itu. Kemudian, dia menatap Roby dan Tania bergantian
"Roby, Tania, ibu benar-benar kecewa pada kalian berdua. Ibu benar-benar tidak menyangka kalau ternyata kalian bisa melakukan hal tercela seperti itu. Sekarang kalian boleh pulang!" Kemudian, guru itu mengalihkan tatapannya ke arah Nathan.
" Nathan, maafkan atas sikap ibu tadi ya!"
__ADS_1
"Iya, Bu! terima kasih!" sahut Nathan, sembari menghela napas lega.
Tbc