
Rehan melangkah kembali menunju kamarnya dengan sebuah ide di dalam pikirannya. Dia merasa kalau itulah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah mengenai status Nathan.
Begitu sampai di depan pintu kamar, Rehan membuka pintu dengan sangat perlahan. Pria itu sedikit kaget melihat Naura ternyata sudah duduk. Tatapan wanita itu tampak kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sayang? kenapa kamu bangun lagi?" Rehan menyentuh pundak Naura dengan lembut, hingga membuat wanita itu terjengkit kaget.
"Huft, Papa, kenapa masuk tidak ngetuk pintu sih?" protes Naura sembari mengelus-elus dadanya.
"Buat apa aku mengetuk pintu kamar sendiri? lagian yang aku tahu, kamu itu sudah tidur tadi," sahut Rehan, sembari menyelipkan seulas senyum di bibirnya.
"Papa, dari mana tadi?" alis Naura naik, curiga.
"Emm, tadi aku ke dapur sebentar untuk minum. Karena nggak ngantuk lagi, aku menonton televisi sebentar," sahut Rehan, berbohong. "Oh ya, kamu belum jawab pertanyaanku, kenapa kami bangun lagi? dan kenapa kamu melamun? apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu?" Rehan mengulangi pertanyaannya dan kali ini secara beruntun sembari duduk di tepi ranjang.
Naura tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya menghela napasnya dengan cukup berat sembari memejamkan matanya sekilas.
"Pa, entah kenapa ucapan Nicho tadi sangat menggangu pikiranku. Bagaimana kalau yang dikatakannya itu benar? bagaimana kalau sebenarnya aku punya anak dulu, karena sangat jelas kalau di perutku ada bekas operasi yang bentuknya seperti operasi Caesar," ucap Naura lirih sembari memijat-mijat kepalanya yang sepertinya mulai sakit lagi.
Tenggorokan Rehan seperti tercekat. Bahkan pria itu mengalami kesulitan hanya untuk menelan ludahnya sendiri.
"Sayang, bukannya aku sudah pernah katakan kalau kamu dulu pernah operasi, untuk mengeluarkan kista dari perutmu? kenapa kamu bertanya lagi?" ucap Rehan dengan raut wajah khawatir, menyadari kalau sang istri sedang menahan sakit.
"Tapi, Pa. Kenapa perasaan aku mengatakan ___"
"Sudah, sudah! jangan kamu pikirkan lagi! nanti kepala kamu bisa sakit. Sekarang kita tidur lagi ya! papa sudah sangat mengantuk," Rehan dengan cepat menyela ucapan Naura dan membantu istrinya itu untuk berbaring.
"Sepertinya, aku harus menunggu besok untuk bisa mengatakan niatku," bisik Rehan pada dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari pagi kini sudah mulai mengintip dari balik awan dan seperti sang mentari masih malu-malu.
__ADS_1
Nathan terlihat membuka matanya dengan perlahan, tampak jelas kalau pemuda itu masih belum cukup tidur. Ya, tadi malam selepas kepergian Nicholas, pemuda itu sama sekali tidak bisa tidur, sekalipun dia sudah memaksa matanya. Pikiran pemuda itu benar-benar tidak bisa tenang, takut kalau Nicholas tidak mengindahkan permohonannya.
"Aku sungguh tidak bisa tenang sekarang. Sebaiknya aku datang ke sana, dan memastikan sendiri." Nathan tidak peduli lagi dengan rasa kantuknya. Pemuda itu langsung turun dari atas ranjang dan hendak menuju kamar mandi. Namun, tiba-tiba pemuda itu menyurutkan langkahnya, karena tiba-tiba merasa bimbang.
"Tapi, kalau aku ke sana tiba-tiba, padahal nggak diundang sama sekali, alasan apa yang akan aku berikan? bisa-bisa, Kak Nicholas berpikir kalau yang aku katakan tadi malam, 'bohong'. Sebaiknya aku nggak usah ke sana deh," Nathan akhirnya memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
"Atau, aku sebaiknya pergi saja dari apartemen ini dan menyewa sebuah rumah kecil atau ngekos. Toh, aku sudah punya uang sendiri kan? sepertinya aku juga harus menunda kuliah minimal satu tahun dan mencari pekerjaan sembari tetap melukis," ucap Nathan pada dirinya sendiri.
"Ya, sepertinya memang harus seperti itu. Nanti aku akan kabari kak Nicholas, setelah aku keluar dari sini. Aku harap Kak Nicholas bisa mengerti keputusanku," lagi-lagi Nathan bermonolog pada dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ayo sarapan dulu!" ucap Naura sembari menyendokkan makanan ke dalam piring Rehan suaminya.
"Terima kasih, Sayang!" Rehan tersenyum manis.
"Aku juga mau dong, Ma diambil makanannya sama Mama," celetuk Nicholas yang pagi ini tiba-tiba manja.
Senyum di bibir Nicholas tiba-tiba menyurut dan langsung merasa kalau sikapnya sekarang seharusnya didapatkan oleh Nathan.
"Ya udah, Mah. Biar aku ambil sendiri aja, makanannya!"Nicholas meraih sendok yang ada di tangan Naura.
"Lho, kenapa seperti itu? mama nggak keberatan kok,kamu bersikap seperti anak kecil. Justru mama sangat senang. Kamu jangan ambil hati ucapan adik kamu," Naura menepis tangan Nicholas dan tetap menyendokkan makana ke dalam piring Nicholas.
"Jiahh, tumben, Kakak langsung bawa ke hati ucapan Nabila. Biasanya kan kakak bodi amat dan malah meledek Nabila," ledek Nabila.
"Nabila! jangan ledek kakak kamu terus. Sekarang kamu cepat makannya!" titah Naura dengan tatapan tajam.
Setelah itu, semuanya menyantap sarapan pagi tanpa adanya pembicaraan sama sekali.Yang terdengar hanyalah suara sendok dan garpu, yang beradu di atas piring. Selama makan, wajah Nicholas tampak tidak bersemangat,merasa sedih memikirkan Nathan yang pasti sedang menikmati sarapannya dalam kesendirian sekarang, sementara dirinya dengan keluarga yang lengkap.
"Aku sudah selesai makan. Aku sudah kenyang," Nicholas melap sudut bibirnya dengan tissue dan mendorong piring bekas makannya yang terlihat belum habis.
__ADS_1
"Kenapa makanan kamu tidak habis, Nicho?". Naura mengerenyitkan keningnya. "Makanannya tidak enak ya?" lanjutnya kembali.
"Enak kok, Ma. Aku hanya sudah kenyang saja," sahut Nicholas, memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"Kenyang? kamu kan hanya makan sedikit, kok sudah kenyang?" Naura menatap Nicholas dengan curiga. "Apa kamu sedang kurang enak badan?" tatapan curiga Naura kini berganti menjadi tatapan khawatir.
"Ti-tidak kok,Ma! aku hanya benar-benar sudah kenyang," bantah Nicholas, gugup. Sementara itu, Rehan menghela napas, karena hanya dirinyalah yang tahu kenapa Nicholas bisa seperti itu.
"Ya udah deh kalau begitu. Yang penting kamu baik-baik saja," pungkas Naura sembari kembali melanjutkan makannya.
"Kak Nicholas masih ngambek kali Ma, karena aku bilang kaya anak kecil tadi," celetuk Nabila yang memang suka usil pada sang kakak.
"Nabila, pagi ini Kakak sama sekali tidak mau berdebat denganmu. Jadi jangan cari gara-gara!" ucap Nicholas dengan kesal, hingga membuat Naura semakin kaget. Bukan hanya Naura, Nabila juga kaget karena baru kali ini kakaknya itu seketus itu padanya.
"Nak, kamu lagi ada masalah ya? adik kamu hanya bercanda, kenapa kamu membentaknya?" tegur Naura.
"Maaf,Ma!" ucap Nicholas, lirih.
"Kamu seharusnya minta maaf pada adikmu, bukan sama mama,"
"Maaf,Nabila!" ucap Nicholas, sembari menoleh ke arah Nabila yang bibirnya sudah mengerucut sekarang.
"Papa juga sudah selesai makan!" Rehan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Nicholas. Bedanya, makanan di piring pria setengah baya itu sudah habis. "Sayang, mumpung aku ingat, aku ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua di sini." sambung Rehan dengan wajah serius.
"Mau ngomong apa, Pa?" tanya Naura dengan kening berkerut. Sementara itu, jantung Nicholas sekarang sudah berdetak tidak karuan, takut kalau papanya itu akan menceritakan yang sebenarnya pada sang mama.
"Aku berharap mama setuju dengan keinginan papa," ucap Rehan kembali, membuat Naura dan yang lainnya semakin bingung.
"Keinginan apa sih, Pa? bisa papa bilang aja sekarang?" ucap Naura menuntut.
"Ma, aku mau kita mengangkat Nathan sebagai anak kita sendiri. Kasian dia hidup sendiri dan tidak dianggap, bagaimana?" ucap Rehan, dengan sangat hati-hati. Menurutnya hanya dengan cara itulah, Nathan bisa memanggil istrinya itu, mama.
__ADS_1
Tbc.