Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Bab 23


__ADS_3

"Terima kasih ya, sudah membantu adikku, memberikan klarifikasi dan membantunya belajar," ucap Arsen pada Renata setelah mereka keluar dari kelas.


"Sama-sama, Kak! Ini semua bukan karena aku, tapi juga karena niat Nathan yang kuat untuk membuktikan eka tidak bodoh. Selain itu, dia juga yang sudah menolongku, lepas dari jebakan Roby dan Tania. Kalau seandainya tidak ada dia, mungkin aku dalam keadaan depresi sekarang," sahut Renata, dengan menyelipkan senyuman tulusnya.


Arsen mengangguk-anggukan kepalanya dan membalas senyum Renata. Kemudian pria itu kembali mengalihkan tatapannya ke arah adik laki-lakinya, Nathan.


"Nath, selamat ya! kamu benar-benar hebat! sekarang kakak mau pergi dulu, karena kakak ada jadwal menggantikan dosen sebentar lagi," ucap Arsen, sembari menepuk pundak Nathan.


"Iya, Kak! Terima kasih ya, sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini!"


"Ah, tidak masalah! kamu itu adikku, sudah sepantasnya aku datang kan? ya udah, kakak pergi dulu!" Arsen melangkah pergi setelah Nathan dan Renata mengiyakan. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata sendu yang melihat dari dalam mobil. Di saat Arsen naik ke atas motornya, mobil itupun langsung berlalu pergi.


Arsen melajukan motornya, keluar dari area sekolah dan bersamaan dengan itu, sebuah mobil mewah masuk.


Tampak seorang wanita yang berpenampilan elegan keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri Nathan. Mata Nathan sontak membesar melihat siapa yang datang menghampirinya. Siapa lagi kalau bukan Naura, mama kandungnya.


"Huft, untung Kak Arsen sudah pergi!" batin Nathan menghela napas lega.


"Wah, siapa wanita itu? cantik sekali!"seru Renata, kagum melihat kecantikan yang terpancar di wajah Naura.


"Dia Tante Naura, mamanya kak Nicholas," sahut Nathan dengan tatapan masih fokus pada wanita yang melahirkannya itu.


"Wah, bagaimana mungkin kak Nicholas yang menyebalkan itu punya mama secantik itu?" Renata masih menatap kagum wanita yang sudah semakin dekat itu.


"Aduh, Tante telat ya, Nak?" ucap Naura tanpa basa-basi.


"Telat kemana, Tan?" Nathan mengrenyitkan keningnya.


"Loh, bukannya hari ini kamu terima surat kelulusan ya?" alis Naura bertaut.


"Udah selesai, Tan. Tapi, Kenapa Tante__"


"Dasar Nicholas, ngasih tahunya telat!" Naura menggerutu. "Dia baru kasih tahu Tante, jam 9 tadi, makanya Tante telat deh jadinya," sambung Naura lagi.


"Tidak apa-apa, Tan. Kebetulan kakakku tadi datang sebagai waliku,"


"Oh, begitu ya! aku tadi khawatir, kamu tidak punya wali, makanya Tante buru-buru datang ke sini. Bagaimana? kamu lulus kan?" tanya Naura antusias.

__ADS_1


Nathan tidak langsung menjawab. Pemuda itu justru termagu dan tidak bisa berkata apa-apa. Dia merasa, walaupun wanita yang ada di depannya itu sekarang tidak mengingatnya, tapi secara tidak langsung wanita itu sudah memberikan perhatian, layaknya seorang ibu pada anaknya. Nathan mengangkat wajahnya, menatap ke langit, berusaha agar air matanya tidak keluar.


"Nak Nathan, kenapa kamu diam? kamu lulus kan?" tampak ada ke khawatir terlihat di raut wajah wanita setengah baya itu.


"A-aku lulus kok, Tan," jawab Nathan akhirnya dengan bibir yang bergetar. Hal itu tentu saja, menimbulkan kecurigaan pada Renata.


"Syukurlah! tante turut senang," Naura menghela napas lega.


"Oh ya, ini siapa? pacar kamu?" Naura menunjuk ke arah Renata.


"Eh, bu-bukan, Tante. Dia Renata teman sekelas aku," jawab Nathan, gugup.


Naura menyunggingkan senyumnya. "Pacar juga tidak apa-apa kok," goda Naura.


"Tapi, Nathan benar Tan. Kami murni hanya berteman saja," Renata buka suara, menimpali ucapan Naura.


"Oh, begitu ya. Ya udah deh, mumpung kamu lulus, Tante mau merayakan kelulusanmu. Nanti malam kamu makan malam di rumah ya. Nanti, Tante bakal masak makanan kesukaanmu," ucap Naura pada Nathan.


"Akan aku usahakan, Tan!" sahut Nathan dengan raut yang terkesan biasa saja, padahal jauh di dalam lubuk hatinya, pemuda itu sebenarnya sangat senang.


Kemudian Naura beralih ke arah Renata, " Kalau Renata mau, kamu juga bisa ikut datang ke rumah," lanjut wanita setengah baya itu lagi.


"Oh tidak apa-apa deh. Lain kali aja kalau begitu," pungkas Naura akhirnya.


"Oh ya, kalau begitu Tante pulang dulu ya! ingat, kamu harus datang nanti malam!" Naura berlalu pergi setelah Nathan mengiyakan.


"Nathan, kenapa kamu tadi terlihat sedih saat tante itu datang?" Renata tidak bisa lagi menahan diri untuk bertanya.


"Siapa yang sedih? kamu hanya salah lihat. Aku tidak sedih sama sekali," sangkal Nathan sembari mengalihkan tatapannya ke tempat lain.


"Tapi, tadi aku ...." Renata menggantung ucapannya karena ponsel Nathan tiba-tiba berbunyi.


Nathan merogoh saku celananya dan menarik keluar ponselnya. Pemuda itu langsung menekan tombol jawab, begitu melihat siapa yang sedang menghubunginya.


"Hallo, Kak!" sapa Nathan.


"Nath, apa mama tadi ke sekolahmu?" tanya si penelepon dari ujung telepon, yang tidak lain adalah Nicholas.

__ADS_1


"Iya, Kak. Tadi Tante Naura baru saja pulang. Kakak kenapa meminta Tante itu datang ke sekolah?"


"Aku sama sekali tidak meminta mama datang ke sekolahmu. Tadinya mama cuma tanya kabarmu aja, aku jawab aja kalau kamu baik-baik saja dan hari ini melihat kelulusan. Eh, tanpa ba bi bu, mama langsung marah-marah ke aku, karena aku tidak memberitahukan sebelumnya. Salahku apa coba? aku jadi bingung, kenapa sikap mama bisa seperti itu ke kamu, padahal kan kamu belum lama kenal sama mama?" Nicholas menggerutu tidak jelas dari ujung sana.


"Mungkin karena ikatan batin kamu terlalu kuat, Kak," jawab Nathan yang sayangnya hanya bisa dia ucapkan dalam hati saja.


"Nathan, kamu masih di sana? kenapa kamu tiba-tiba diam?" terdengar suara Nicholas kembali, hingga membuat Nathan tersadar dari lamunannya.


"Masih kok, Kak. Mungkin Tante Naura hanya merasa kasihan padaku," ucap Nathan akhirnya.


"Bisa jadi sih. Oh ya, kamu luluskan?" Nicholas mengalihkan pembicaraan.


"Iya, aku lulus!" singkat padat dan jelas.


"Syukurlah! kalau begitu, aku ajak kamu makan siang untuk merayakan kelulusanmu. Nanti aku akan kirim alamat restorannya. Kalau boleh ajak si culun juga,"


"Hei, aku dengar itu!" celetuk Renata, ketus. "Kapan sih, Kakak berhenti memanggilku, si culun?" Renata mengerucutkan bibirnya, padahal Nicholas tidak bisa melihat ekspresinya sekarang.


"Nath, si Culun ada di sampingmu?"


"Nggak, Kak!" sahut Nathan, singkat.


"Jadi, itu tadi suara siapa?"


"Suara, Renata." Lagi-lagi Nathan menjawab singkat.


"Lah, bukannya sama aja,"


"Nggak kak. Nama dia Renata, bukan culun," jawab Nathan yang tanpa sadar menunjukkan ketidaksukaannya, Renata dipanggil Culun.


"Iya deh, iya. Renata. Ajak dia sekalian ya!" pungkas Nicholas yang tidak mau berdebat.


"Kakak aja yang ajak dia!" Nathan memberikan ponselnya pada Renata.


"Maaf, kak, aku nggak bisa! Kata papa aku harus langsung pulang," ucap Renata,tanpa menunggu Nicholas berbicara lebih dulu.


Tbc

__ADS_1


Like, komen dan vote dong guys.🙏🏻🙏🏻


__ADS_2