Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Harus tetap Optimis


__ADS_3

Brakkk ....


Nicholas tersentak kaget karena tiba-tiba pintu ruangannya dibuka dengan kasar oleh seseorang. Pria itu sontak menatap tajam ke arah si pelaku.


"Kamu! kenapa kamu buka pintu dengan keras? itu pintu mahal, Kalau rusak, apa kamu bisa ganti?" bentak Nicholas pada sosok perempuan yang tidak lain adalah Anisa, karyawan magang sekaligus sahabat Renata.


Anisa terlihat tidak merasa takut mendengar amarah Nicholas. Justru perempuan itu balik menatap Nicholas dengan tatapan yang sangat tajam dan wajah memerah.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Nicholas mengrenyitkan keningnya.


"Kamu bertanya lagi, kenapa aku bisa seperti ini? kamu apakan Renata? kenapa dia tidak magang di sini lagi? apa harus seperti itu caranya menyelesaikan masalah? kalau ada masalah, seharusnya diselenggarakan dengan kepala dingin. Setiap hubungan itu mana ada yang lancar jaya, pastilah akan ada muncul masalah, tapi, sebesar apapun masalah kalian berdua, bukannya sebaiknya harus dibicarakan baik-baik?" Anisa berbicara dengan nada tinggi dan sangat cepat, beda tipis dengan kecepatan kereta api.


"Kamu sudah selesai bicara? kalau sudah, Silakan keluar sekarang!" titah Nicholas dengan nada yang sangat dingin.


"What, aku mengomel, panjang kali lebar, dengan kecepatan Valentino Rossi, dia tidak ada tanggapan sama sekali? apa ini termasuk pekerjaan yang sia-sia?" Anisa menggerutu di dalam hati.


"Hei, kamu dengar aku nggak sih? kamu kasih tanggapan kek!" teriak Anisa.


"DIAM!" Bentak Nicholas, hingga membuat Anisa tersentak kaget. Wajah wanita itu seketika berubah pucat dan takut. Namun, dia masih berusaha untuk menunjukkan pada Nicholas kalau dia tidak gentar pada pria itu.


"Apa hak kamu bicara dengan nada tinggi di depanku? jangan kamu urusi yang bukan urusanmu! sekarang, aku perintahkan agar kamu keluar dari sini!" sambung Nicholas tanpa menatap ke arah Anisa.


Anisa menghentak-hentakkan kakinya, benar-benar kesal dengan sikap Nicholas.


Dengan bibir yang mengerucut, Anisa memutar tubuhnya, hendak keluar dari ruangan Nicholas.


"Tunggu dulu!" Anisa seketika menghentikan langkahnya, begitu mendengar panggilan Nicholas.


"Ada apa lagi? bukannya kamu yang memintaku untuk pergi?" bibir Anisa masih setia dengan posisi awal, mengerucut.


"Berhubung sekretaris saya lagi cuti, dan Renata sudah tidak di sini lagi, jadi kamu yang akan menggantikannya untuk sementara. Jadi, kamu pindahkan barang-barang kamu ke meja depan!" titah Nicholas, tegas.


"Kalau aku tidak mau?" Anisa memberanikan diri untuk menantang Nicholas.


"Kalau kamu tidak mau, itu berarti kamu harus mencari tempat magang baru, itupun kalau ada yang mau menerimamu. Kenapa? karena aku akan membuat namamu ada di dalam daftar hitam, sehingga tidak akan ada yang mau menerimamu," Nicholas menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya dengan santai.

__ADS_1


"Kami benar-benar, kejam. Pantas saja Renata ___"


"Jangan sekali-kali kamu sangkut pautkan apa pun pada hubunganku dan Renata. Kamu itu tidak tahu apa-apa!" Nicholas dengan cepat menyambar ucapan Anisa sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya.


Anisa sontak terdiam dan memilih untuk memutar tubuhnya kembali.


"Hei, siapa namamu?" Nicholas kembali menahan langkah Anisa.


"What? dia bahkan tidak tahu namaku? sialan!" umpat Anisa dalam hati.


"Jangan mengumpatiku! sekarang, cepat kasih tahu siapa namamu!"


"Hah! bagaimana dia tahu kalau aku mengumpat di dalam hati? apa dia bisa mendengar suara hati?" bisik Anisa dalam hati.


"Stop berbicara dalam hati, cepat kasih tahu siapa namamu!" bentak Nicholas, membuat Anisa tersentak kaget.


"A-aku Anisa!" jawab Anisa cepat dan gugup.


"Baiklah! sekarang kami keluar dan ingat sebentar lagi aku akan ada janji bertemu dengan klien. Aku mau kamu ikut! ... jangan membantah!" Nicholas dengan cepat mencegah, Anisa berbicara lagi, karena melihat pergerakan bibir wanita itu yang sudah siap untuk membantah.


"Dasar batu, tidak punya hati!" Anisa kembali mengumpat sembari melangkah keluar.


Anisa dengan cepat membuka pintu, seraya bergidik. "Aku lupa, kalau dia bisa mendengar suara hati," gumam Anisa seraya melangkah dengan cepat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, jauh di benua Eropa tepatnya di kota London, dan di sebuah ruangan rumah sakit, terlihat raut wajah Naura yang murung, tidak memiliki semangat sedikitpun.


"Pa, biarkan aku mendonorkan mataku pada Nathan. Aku ingin dia bisa melihat lagi, karena masa depannya masih sangat panjang," mohon Naura pada Rehan suaminya. Pipi wanita itu sudah terlihat banjir dengan air mata.


"Sayang, kamu tidak boleh melakukan hal itu! itu sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah, tapi justru akan menambah masalah. Nathan akan menanggung rasa bersalah selama hidupnya, dan aku bisa pastikan kalau dia akan meminta dokter untuk mengembalikan kornea matamu," tutur Rehan sembari mengelus lembut kepala sang istri.


"Benar kata suamimu, Nak. Nathan pasti tidak akan bisa menerima dirinya sendiri kalau dia tahu kamu yang mendonorkan kornea matamu. Itu akan menjadi beban hidupnya baginya," Nurdin menimpali ucapan Rehan.


"Jadi, sekarang harus bagaimana,Pa? apa kita harus melihat Nathan bersedih dan tidak berdaya terus? menurut kalian, siapa yang akan mau mendonorkan kornea mata, kalau itu bukan keluarganya sendiri?" Naura kembali emosional lagi.

__ADS_1


"Kita harus tetap berusaha untuk mencarinya, Sayang. Kita haruslah tetap optimis, jangan pesimis,"


"Enak sekali kamu bicara! kita memang harus tetap optimis, tapi juga harus tetap pakai logika. Coba kamu pikirkan secara logika, apa masih ada manusia yang berhati malaikat, yang mau memberikan kornea matanya? itu benar- benar sangat mustahil, Pa! kalaupun ada, kapan? apa tunggu aku meninggal dulu? kalau iya,aku rela mati sekarang kalau memang harus itu syaratnya,"


"Cukup, Sayang!" Rehan tiba-tiba meninggikan suaranya, "tolong tenangkan dirimu dulu! jangan gegabah dalam mengambil keputusan dan jangan membicarakan kematian, yang belum waktunya. Itu sama saja kamu mendahului kehendak Tuhan. Please, kamu berpikir optimis. Mengenai kapan Nathan akan mendapat donor mata, kita serahkan semua pada Tuhan,"


Naura menyeka air matanya yang kembali keluar, dan Rehan langsung menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lain ruangan di rumah sakit yang sama, tampak Nathan yang terlihat pucat dan muram. Pemuda itu, sama sekali tidak menyentuh makanan yang sudah disiapkan, sepertinya dia benar-benar sudah putus asa.


Nathan terlihat menurunkan kakinya dari atas ranjang dan berdiri. Dengan langkah lemah, pria itu mulai mengayunkan kakinya dengan tangan yang meraba-raba.


"Sob,kamu mau kemana?" Bastian dengan cepat menahan tubuh Nathan.


"Lepaskan, tanganmu! aku mau ke toilet," sahut Nathan dengan dingin.


"Ya udah, biar aku bantu," dengan lembut Bastian memegang lengan Nathan dan siap menuntun Nathan ke toilet.


"Aku tidak butuh bantuan! aku masih kuat. Aku bukan benalu dan bisa sendiri," Nathan menghempaskan tangan Bastian dengan kasar. Pria itu benar-benar tidak mau terlihat lemah.


Bastian menghela dengan sekali hentakan. Jika bukan karena Nathan adalah sahabatnya, ingin rasanya pria itu mengumpat. Sementara itu, Dava menepuk-nepuk pundak Bastian agar sabar. Sulit memang, mengingat dari tadi Nathan selalu marah-marah pada mereka berdua, tapi memang sudah seharusnya mereka menahan amarah, karena mereka tahu, kalau sahabat mereka itu sedang dalam kondisi down.


Bugh


Nathan meninju tembok dengan sangat keras, karena dia tidak berhasil menemukan pintu toilet, justru kepalanya membentur tembok.


"Aku memang benar-benar tidak berguna! buat apa aku hidup? kenapa aku selalu bernasib sial? ini benar-benar tidak adil, Brengsek!" Nathan kembali meninju tembok, hingga tangan pemuda itu mengeluarkan darah.


Bastian dan Dava segera menghambur menghampiri Nathan, guna menahan sahabatnya itu, untuk tidak melukai dirinya sendiri lagi.


"Jangan halangi aku! pergi kalian! aku mau mati saja!" Nathan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan dua sahabatnya.


"Nathan, please jangan begini! tetaplah optimis, kalau kamu akan mendapat donor mata secepatnya," tutur Dava yang tanpa sadar sudah meneteskan air mata, demikian juga dengan Bastian. Namun, keduanya berusaha untuk tidak terisak, agar Nathan tidak merasa dikasihani.

__ADS_1


"Ada apa ini? apa yang terjadi?" tiba-tiba pintu terbuka dan Naura beserta suaminya masuk ke dalam ruangan.


Tbc


__ADS_2