
Nathan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, setelah pria itu baru saja tiba di apartemen Nicholas. Mata pria itu menengadah menatap ke langit-langit kamarnya. Wajah Renata dari tadi selalu berkelebat memenuhi pikirannya, bahkan di langit kamar yang berwarna putih itu, terlihat jelas wajah Renata di sana.
"Arghh! kenapa sih muka dia aja yang muncul di kepalaku?" Nathan meraih bantal dan menutup wajahnya.
"Woi! kamu kenapa?" tiba-tiba Nicholas muncul dan sudah berdiri di ambang pintu.
Nathan terjengkit kaget dan refleks melempar bantal ke arah Nicholas.
"Apaan sih,Nath? ini aku bukan setan," ucal Nicholas sembari menangkap bantal yang terlempar ke arahnya.
"Kak Nicho sejak kapan ada di sini? kakak tidak dicariin Tante Naura?" tanya Nathan setelah kekagetannya mereda.
"Malam ini aku mau tidur di sini. Tadi aku sudah pamit sama mama. Aku mau main game sama kamu . Kamu juga suka main game ...." Nicholas menyebutkan salah satu game online yang banyak digandrungi oleh kaum pria sekarang.
"Iya, Kak. Kakak Kenapa harus ke sini? dari rumah kan bisa," Nathan mengerenyitkan keningnya.
"Lebih enak main bersama. Teriak-teriaknya lebih greget," ucap Nicholas memberikan alasan.
"Ya udah deh, tapi aku ganti pakaian dulu," Nathan bangun berdiri dan masuk ke kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kamar Nathan kini terdengar dua suara pria yang berteriak bersahut-sahutan. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Nicholas dan Nathan.
__ADS_1
"Aduh, kamu mainnya bagus juga ternyata," puji Nicholas, jujur.
"Kakak juga bagus," balas Nathan.
"Kita berhenti main dulu, nanti kita lanjut lagi. Tenggorokanku rasanya sudah kering. Aku ke dapur dulu ya, kamu mau diambilkan minum juga nggak?" Nicholas berdiri dan bersiap melangkah menuju pintu.
"Kakak di sini aja, biar aku yang ambilkan minumnya," Nathan meletakkan ponselnya di atas ranjang dan turun dari ranjang.
"Oh, begitu ya! ya udah aku tunggu kamu di sini!" Nicholas kembali duduk dan Nathan melangkah ke luar.
Tanpa sengaja, Nicholas menggerakkan kepalanya dan melihat ke arah ponsel Nathan yang cahayanya belum meredup. Mata pria itu sontak membesar dan meraih ponsel itu, karena melihat photo wallpaper yang digunakan pemuda remaja itu.
"Photo mama? bukannya ini mama?"batin Nicholas dengan kemarahan yang langsung bergejolak. Pria itu benar-benar yakin kalau Nathan benar-benar sudah lancang berani jatuh cinta pada Naura mamanya.
Di saat bersamaan, Nathan masuk membawa sebotol air mineral. Pemuda itu mengreyitkan keningnya bingung, mendapat tatapan membunuh dari Nicholas.
"Kakak kenapa?" tanya pemuda itu sembari meletakkan botol air mineral itu ke atas nakas.
Bugh
Nicholas menjawab pertanyaan Nathan dengan melayangkan pukulan ke wajah pemuda itu.
"Kenapa Kakak memukulku? apa salahku?" ucap Nathan sembari mengusap setitik darah dari sudut bibirnya.
__ADS_1
"Kamu masih berani bertanya? apa maksud photo mamaku kamu jadikan wallpaper di handphone kamu? hah!" bentak Nicholas dengan suara tinggi. Bahkan jakun pria itu terlihat sudah turun naik, pertanda kemarahan pria itu sudah sampai ke ubun-ubun.
Nathan tidak menjawab sama sekali. Pemuda itu hanya bisa merutuki kebodohannya yang meninggalkan handphonenya dalam keadaan terbuka. "Kenap aku bisa lalai sih?" bisik pemuda itu pada dirinya sendiri.
"Jawab, Nathan. Kamu belum tuli kan? kamu dengar apa yang aku tanyakan kan?" suara Nicholas masih saja bernada tinggi.
Nathan tetap saja diam, karena dia tidak tahu mau menjawab apa. Mulutnya masih terasa berat untuk mengungkapkan yang sebenarnya.
"Kamu jatuh cinta ya sama mamaku? iya kan? ingat Nathan, wanita itu cocoknya jadi mamamu dan sudah memiliki keluarga. Jadi, jangan coba-coba kamu menyimpan perasaan lebih pada mamaku. Jangan karena mama baik padamu, kamu jadi berharap lebih!" tukas Nicholas, yabg seketika membuat Nathan terkesiap kaget. Pemuda itu tidak menyangka kalau Nicholas yang secara tidak langsung kakak tirinya itu memiliki pemikiran seperti itu.
"Kak, bagaimana bisa kamu memiliki pemikiran seperti itu? aku memang menyayangi Tante Naura, tapi bukan sayang seperti yang kamu pikirkan itu. Rasa sayangku sama seperti rasa sayangmu," ucap Nathan dengan suara rendah, tidak terpancing amarah atas tuduhan Nicholas.
"Kamu kira aku percaya? Sayang, tidak harus sampai membuat photo mama jadi wallpaper kan? seandainya tadi kamu membuat photo keluarga kami yang utuh, boleh jadi aku percaya, tapi kenapa yang kamu buat hanya photo mamaku saja? apalagi namanya kalau bukan, yang kamu memiliki perasaan lebih?" emosi Nicholas masih belum mereda.
"Sumpah demi apapun, Kak,aku bukan seperti yang Kakak tuduhkan. Itu aku lakukan karena ...."Nathan menggantung ucapannya, masih merasa ragu untuk tetap menyimpan kebenarannya atau mengungkapkannya.
"Karena apa? kenapa kamu tidak jadi melanjutkan ucapanmu? ayo katakan karena apa?" desak Nicholas, tidak sabar.
"Karena apa, Nathan!" suara Nicholas kembali menggelegar, karena pemuda itu masih mengunci mulutnya.
"Kamu tidak bisa jawab kan? berarti yang aku katakan benar. Aku benar-benar kecewa padamu. Aku menyesal mengenalkan mamaku padamu. Jadi, lebih baik kamu keluar dari apartemen ini,dan jangan kembali lagi. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" Nicholas menyingkirkan tubuh Nathan yang menghalangi jalannya. Kemudian pria itu, mengayunkan kakinya melangkah menuju pintu keluar.
"Aku menyayangi Tante Naura karena wanita yang kamu panggil mama itu adalah wanita yang sudah melahirkanku ke dunia ini!" Nicholas yang sudah hampir mencapai pintu tiba-tiba menghentikan langkahnya, mendengar ucapan Nathan.
__ADS_1
Tbc