Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Rasanya pasti akan beda


__ADS_3

Renata yang sudah bersiap akan tidur dikejutkan dengan bunyi ponsel yang berdering,pertanda ada panggilan yang masuk.


Renata tersenyum kecut ketika melihat nama si pemanggil, yang tidak lain adalah Nathan. Gadis itu merasa kesal karena tunangannya itu tidak memiliki sikap romantis sedikitpun ketika ingin mengajaknya untuk menikah.


"Ren,kata papa dan mama sebaiknya kita menikah saja, agar kita bisa hidup bersama di London, bagaimana menurutmu?" begitulah cara Nathan saat menanyakan dirinya. Benar-benar tidak romantis dan tidak sesuai dengan impiannya selama ini.


Renata, mencoba mengabaikan panggilan Nathan, hingga panggilan itu terputus. Namun Nathan kembali menghubunginya. Walaupun masih kesal, akhirnya Renata memutuskan untuk menerima panggilan pria itu.


"Hmm, ada apa lagi?" cetus Renata.


"Hmm, apa kamu masih kesal?" tanya Nathan dari ujung telepon.


"Menurutmu?" Renata balik bertanya.


"Menurutku, kamu masih kesal.


Maaf kalau aku tidak peka terhadap apa yang kamu inginkan, karena aku benar-benar tidak mengerti akan hal melamar, tapi, boleh tidak kamu keluar sebentar? Aku sekarang ada di depan rumahmu, dan aku sedang terluka karena mengalami kecelakaan tadi." Suara Nathan terdengar lirih dari ujung telepon.


"Apa!" Renata sontak panik dan langsung melompat turun dari tempat tidurnya,lalu lari menuju ke luar, tidak perduli dengan pakaiannya, yang hanya memakai pakaian kaos dan celana pendek dan rambut yang berantakan.


Kedua mata Renata sontak membesar dengan sempurna begitu melihat pemandangan di depan rumahnya,yang sudah terang benderang, dan ada kata yang bertuliskan 'Will you marry me?' di sana.


Tanpa disadarinya, Nathan sekarang sudah berlutut di depannya, dengan tangan yang menengadah, menyodorkan sebuah cincin yang sangat indah di tangannya.


"Renata, mungkin bagimu ini masih terlalu cepat, tapi bagiku ini sudah cukup lama bagiku untuk bisa mengenalmu. Aku tidak mau berpikir berlama-lama lagi dan sudah sangat yakin untuk menjadikanmu sebagai ratuku di istana yang sudah aku bangun selama ini. Aku yakin kamu adalah satu-satunya wanita yang memenuhi syarat untuk menjadi istriku, yaitu wanita yang bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama, Will you marry me Renata?" Nathan yang memang pada dasarnya, tidak pandai berkata-kata, tiba-tiba bisa merangkai kata seapik itu adalah sebuah keajaiban yang pernah didengar telinga Renata.

__ADS_1


"Apakah kamu serius melamar aku dengan keadaan seperti ini? biasanya kalau mau dilamar, wanitanya akan didandani cantik dulu, tapi kamu? kamu memang aneh, Nathan! tapi entah kenapa aku bisa cinta pada orang aneh sepertimu, bukannya langsung menerima atau menolak, Renata justru menggerutu tidak jelas.


"Jadi bagaimana? apa kamu mau menikah denganku tidak?" Kaki dan tangan Nathan mulai terasa pegal.


"Kamu masih berani bertanya, kamu diterima atau tidak? Kamu sudah membuatku hampir terkena serangan jantung, Nathan. Asal kamu tahu, aku tadi merasa takut mendengar kamu kecelakaan, teganya kamu bermain dengan nyawa. Dan sekarang ... aku merasa sangat jelek. Masa aku dilamar dengan pakaian begini?" Renata mencebikkan bibirnya.


"Maaf, kalau masalah itu. Aku bingung bagaimana caranya agar kamu mau cepat-cepat keluar," ucap Nathan, nyengir kuda sembari berdiri.


"Jadi, bagaimana apa caraku memintamu untuk menikah sudah sesuai dengan ekspektasimu? kamu lihat, cincin ini sengaja aku design dalam sehari untuk bisa membuat kejutan lamaran romantis, malam ini," tutur Nathan sembari memperlihatkan cincin yang sangat cantik dan mewah bertahtakan berlian.


"Kenapa harus pakai cincin lagi? aku kan sudah mengenakan cincin tunangan?" Renata mengangkat tangan menunjukkan cincin tunangannya.


"Aku tahu, tapi entah kenapa aku ingin memberikan cincin yang aku beli dari uangku sendiri. Aku harap kamu menyukainya. Jadi bagaimana, apa kamu sudah bersedia menikah denganku?" Nathan kembali bertanya.


Renata akhirnya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ya, aku mau!" Renata mengeluarkan cincin tunangan dan memindahkan ke jari tengah, lalu mengulurkan tangannya ke arah Nathan agar pria itu bisa memasukkan cincin yang dibeli sendiri, ke jari manisnya.


Dari arah yang tidak terlalu jauh tampak dua pasang mata menatap momen romantis antara Nathan dan Renata. Siapa lagi mereka kalau bukan Nicholas dan Anisa.


Ya, apa yang dilakukan oleh Nathan barusan adalah saran dari Nicholas dan dibantu oleh Anisa.


"Ih, romantis ya? dulu, ketika aku masih remaja, aku memiliki impian akan dilamar dengan cara yang romantis penuh kejutan, pasti akan menyenangkan kan?" Anisa buka suara dengan seulas senyum di bibirnya dengan mata yang masih belum beralih dari Renata dan Nathan.


"Apa kamu mau aku melakukan seperti itu?" tanya Nicholas tiba-tiba.


"Sepertinya tidak perlu.Rasanya pasti akan beda," sahut Anisa, ambigu.

__ADS_1


"Maksudmu? apa kamu berharap kalau Nathan yang melakukannya padamu, baru kamu merasa bahagia?" terselip perasaan tidak suka di balik ucapan Nicholas. Pria itu seperti salah menafsirkan ucapan Anisa.


Anisa sontak menoleh ke arah Nicholas dengan tatapan tajam.


"Berapa kali lagi aku harus mengatakan, kalau aku sudah tidak memiliki perasaan lagi pada Nathan?"


"Jadi, apa maksud ucapanmu tadi? rasa apa yang beda?" tuntut Nicholas.


"Karena kalau kamu melakukannya untukku, kan aneh. Aku pasti tidak akan merasa bahagia, mendapat lamaran seperti yang dilakukan Nathan, di mana aku tahu jelas, kalau kamu melakukannya bukan karena ada cinta. Iya kan?"


Nicholas bergeming mendengar penuturan Anisa. Bibir pria itu bungkam kehilangan kata-kata. Kalau tadi, dia berhasil mengajarkan kata-kata romantis pada Nathan, sekarang dirinya menjadi seperti orang bodoh di depan Anisa.


"Sudahlah, kamu tidak perlu terlalu dalam memikirkan kata-kataku," Anisa tersenyum, karena melihat Nicholas yang terdiam.


"Ayo kita hampiri mereka!" Anisa kembali buka suara dan beranjak mendahului Nicholas. Namun, Nicholas dengan sigap menahan Anisa dengan menggenggam tangan wanita itu.


"Ada apa?" Anisa mengrenyitkan keningnya.


"Sepertinya kita tidak perlu menghampiri mereka berdua. Sebaiknya kita pergi dari sini. Kamu tidak mau jadi nyamuk di antara mereka kan?" ucap Nicholas dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca. Antara sendu dan biasa saja bercampur menjadi satu.


Kini giliran Anisa yang terdiam. Wanita itu menarik kesimpulan sendiri dengan sikap Nicholas yang tidak mau menghampiri Renata dan Nathan, dan entah kenapa dia merasa sakit dengan kesimpulan yang dia buat sendiri itu.


"Kamu tidak mau menghampiri mereka, karena kamu masih merasa belum kuat melihat kemesraan Nathan dan Renata. Jauh di lubuk hatimu, kamu pasti masih mencintai Renata," bisik Anisa pada dirinya sendiri dengan raut wajah sendu.


"Ayo! kenapa kamu masih belum bergerak?" alis Nicholas bertaut tajam.

__ADS_1


"Baiklah!" ujar Anisa yang tanpa sadar tidak berniat melepaskan tangannya dari genggaman Nicholas. Mereka berdua, kini berjalan menuju mobil dengan tangan yang saling bertaut mesra.


Tbc


__ADS_2