
"Ma,Pa, sepertinya aku mau kembali lagi ke London. Aku tidak boleh meninggalkan pekerjaanku terlalu lama, kasihani Dava dan Bastian," Nathan buka suara ketika dia selesai menghabiskan makan malamnya.
"Kenapa harus buru-buru? aku rasa mereka berdua juga tidak akan keberatan jika kamu lebih lama lagi ada di Indonesia, mengingat kamu sudah lama tidak pulang," Naura tampak berat mengizinkan putranya itu langsung kembali ke London.
"Aku tahu, Ma. Tapi aku yang merasa tidak enak. Mama tenang saja, aku akan usahakan untuk lebih sering pulang," sahut Nathan mencoba memberikan pengertian pada mamanya itu.
"Aku rasa kamu bisa tetap memantau dan mengerjakan pekerjaanmu dari sini. Kalau untuk hal tanda tangan kamu kan bisa kasih mandat untuk Dava, agar bisa menggantikan kamu untuk sementara. Nanti kalau kamu kembali ke sana baru kamu tanda tangan ulang," Rehan buka suara memberikan saran.
"Lagian, bukannya sebentar lagi Arsen akan menikah? akan tidak elok kalau kamu tidak ada di acara yang membahagiakan buat Kakakmu itu," Naura kembali buka suara.
Nathan bergeming, sama sekali lupa akan pernikahan kakaknya yang tinggal menunggu hari.
"Setelah Arsen menikah, aku juga akan langsung menyusul dengan Anisa,apa kamu juga tidak mau menghadirinya?" celetuk Nicholas tiba-tiba.
Semua yang ada di tempat itu sontak terkesiap kaget mendengar ucapan Nicholas.
"Nicholas apa kamu serius dengan ucapanmu?" tanya Rehan memastikan.
"Tentu saja, aku sudah yakin," jawab Nicholas,mantap.
"Baiklah kalau begitu. Yang penting kamu sudah siap. Tapi,apa kamu sudah membicarakannya dengan Anisa? jangan asal mengambil keputusan," lanjut Rehan.
"Sudah, Pa. Aku sudah membicarakan rencana ini dengannya dan dia sudah setuju,"
"Emm, baguslah kalau begitu. Kamu juga sudah cukup usia untu menikah. Bagaimana, Ma, apa kamu setuju?" Rehan mengalihkan tatapannya pada Naura.
"Kalau aku sih dengan senang hati menyambut rencana ini, selama itu baik. Aku juga sangat menyukai Anisa," sahut Naura, tersenyum manis.
"Jadi, kapan rencana kamu ingin menikah?" tanya Rehan lagi pada Nicholas.
"Aku sih maunya secepatnya. Jadi, aku mau meminta Papa dan Mama untuk melamar Anisa dalam waktu dekat ini,"
"Bagaimana kalau hari Sabtu ini?" Naura memberikan usul.
"Baiklah, aku setuju,Ma!" sahut Nicholas.
"Emm, sepertinya aku harus tetap berada di Indonesia selama sebulan ini," batin Nathan, pasrah.
Rehan kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Nathan. "Kalau kamu bagaimana Nathan? apa kamu masih berniat untuk menunda menikah dengan Renata?" tanyanya dengan nada sungguh-sungguh.
"Sepertinya belum waktunya,Pa. Aku dan Renata masih terlalu muda," sahut Nathan.
__ADS_1
"Jadi,mau sampai kapan? Usia itu sepertinya hanya soal angka dan usia itu tidak bisa menjamin dewasanya seseorang. Yang aku lihat, walaupun usia kamu muda, tapi kamu sudah cukup dewasa untuk menikah," tutur Rehan, dengan lugas.
"Benar kata papamu. Kalau kamu menikah, kamu bisa membawa serta Renata ke London, tapi kalau belum menikah itu berarti kalian berdua harus berjauhan lagi," Naura menimpali ucapan Rehan suaminya.
Nathan tidak menjawab sama sekali karena jauh di lubuk hatinya, dia membenarkan ucapan mama itu.
"Kalau kamu mau, coba kamu bicarakan dulu dengan Renata. Setelah kalian bicarakan dan Renata setuju, papa dan mama akan membicarakannya dengan papanya Renata. Aku yakin kalau Rajendra juga pasti akan senang, karena status putrinya tidak digantung," Rehan kembali buka suara.
"Baiklah, Pa. Nanti aku akan coba bicarakan dengan dia," pungkas Nathan, mengiyakan.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Ma, Pa. Kak Arsen sendiri di rumah," Nathan bersiap untuk berdiri dari posisi duduknya.
"Kenapa kamu nggak menginap di sini malam ini, Nak? ingat, ini rumahmu juga," cegah Naura dengan tatapan penuh harap.
"Benar kata mamamu. Kamu menginap di sini aja malam ini, karena ada banyak hal yang ingin papa bicarakan juga denganmu, masalah bisnis," Rehan menimpali permintaan Naura istrinya.
Nathan tidak langsung menjawab. Dia terlihat berpikir beberapa saat. "Baiklah!" Nathan, mengiyakan.
"Kalau begitu, aku coba menghubungi Kak Arsen dulu. Aku tidak mau dia nanti menungguku pulang," Nathan merogoh sakunya dan mengeluarkan handphone dari dalamnya.
Ketika handphone pemuda itu sudah menyala, dia melihat ada sebuah pesan yang masuk. Ternyata Nathan tidak menyadarinya karena dia menonaktifkan bunyi handphonenya.
Nicholas dan yang lainnya mengrenyitkan kening, penasaran melihat Nathan terkekeh.
"Ada apa, Nathan, apa ada yang lucu?" Nicholas benar-benar penasaran.
"Tidak ada sama sekali, Kak!" sahut Nathan yang dengan sigap memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya.
Namun, belum masuk dengan benar, Nicholas sudah menyambar handphone itu dari tangan Nathan, saking penasarannya.
"Nicholas! itu tidak sopan!" tegur Rehan dengan tatapan tajam.
"Eh, maaf!" Nicholas hampir saja mengembalikan ponsel itu ke tangan Nathan, tapi matanya tanpa sengaja melihat ada photo bersama sewaktu acara pertunangan Nathan dengan Renata, tapi bukan masalah photo itu yang jadi permasalahannya, tapi ada photo Anisa yang dilingkari. Nicholas mau tidak mau akhirnya membaca isi pesan yang berasal dari Bastian.
"Sob, wanita ini siapa? dia cantik, dan sepertinya baik. Kenalkan ke aku dong. Sekali pandang saja, aku sepertinya langsung menyukainya," begitulah isi pesan Bastian.
"Nathan!" Nicholas menggeram dan menatap Nathan dengan tajam. Entah kenapa ada rasa tidak suka yang timbul di hatinya begitu ada laki-laki lain yang mengagumi Anisa.
"Hahahaha,maaf, Kak. Dia sama sekali tidak tahu. Jadi jangan marah!" ujar Nathan, berusaha menahan tawanya. Jangan lupakan ekspresi wajah Rehan, Naura dan Nabila yanb bingung dengan apa yang membuat Nicholas marah.
"Kalau begitu, kasih tahu sekarang!" titah Nicholas, memaksa.
__ADS_1
"Ada apa? kenapa kamu marah?" Rehan akhirnya buka suara.
"Itu, Pa. Kak Nicholas marah karena Bastian suka pada Anisa dan minta dikenalkan padanya," sahut Nathan santai, membuat Rehan dan yang lainnya tertawa.
"Itu kak Bastian kan, bukan Kak Dava?" celetuk Nabila tanpa sadar.
Sontak mata semua orang beralih menatap Nabila dengan tatapan meminta penjelasan.
"Emangnya kenapa kalau itu Dava?" tanya Nathan.
"Eh, ng-nggak pa-pa. Aku ke kamar dulu ya!" Nabila sontak berlari, menghindar dari segala pertanyaan dari 3 laki-laki yang disayanginya itu.
"Nathan, urusan kita belum selesai! sekarang kamu kasih tahu Bastian, mengenai Anisa!" titah Nicholas.
"Iya, iya aku kasih tahu sekarang!" Nathan terlihat mengetik.
"Sudah!" Nathan meletakkan ponselnya di atas meja.
Nicholas yang sama sekali tidak percaya, meraih ponsel Nathan. Dia pun tersenyum melihat pesan yang dikirimkan oleh adiknya itu.
"Maaf, Bas. Tidak bisa! soalnya gadis itu calon istrinya kak Nicholas," begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Nathan.
Nicholas nyaris meletakkan kembali ponsel Nathan, tapi dia urungkan begitu melihat ada balasan dari Bastian.
"Aduhhhh, aku telat dong. Tapi, nggak Papa deh, masih calon istri kan? jadi sepertinya aku masih ada kesempatan kan?"
"Brengsek! berani-beraninya dia! Nathan kamu balas lagi pesan dia!" Nicholas mengembalikan handphone itu ke tangan Nathan.
"Kenapa bukan Kakak saja yang balas? terserah kakak mau bilang apa," tolak Nathan, memberikan kembali handphone ke tangan Nicholas.
Nicholas dengan rasa geram akhirnya menerima kembali handphone itu dan mengetikkan balasan.
"Hei, apa kamu sudah bosan hidup! sepertinya kamu memang ingin dimutilasi," Nicholas segera mengirimkan pesan itu.
"Nathan, kenapa jadi kamu yang marah?" kembali mendapat balasan dari Bastian
"Aku Nicholas, bukan Nathan. Sini kamu, biar aku mutilasi!"
Lama ditunggu, tidak ada lagi balasan dari Bastian. Sepertinya pria itu merasa takut dan memilih untuk tidak membalas pesan itu lagi
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1