
Dua tahun kini sudah berlalu. Banyak hal yang sudah liku-liku rumah tangga yang dihadapi oleh Nathan dan Renata, di mana salah satunya adalah mengenai keturunan yang selalu mereka impikan tidak kunjung menghampiri mereka.
Nathan memang tidak terlalu menuntut, untuk segera memiliki keturunan, karena baginya, anak itu adalah sebuah anugerah. Kalau belum diberikan, ya berarti Tuhan belum berkehendak untuk mereka memiliki anak. Nathan beranggapan kalau Tuhan sedang memberikan kesempatan mereka untuk menghabiskan waktu seperti masih berpacaran, mengingat kalau dulu mereka berhubungan jarak jauh. Namun, Renata yang benar-benar sangat ingin memiliki keturunan, apalagi begitu mengingat kalau Anisa sahabatnya, dua bulan setelah menikah dengan Nicholas, langsung hamil dan sekarang umur anak mereka yang berjenis kelamin laki-laki, sudah menginjak usia satu tahun.
"Sayang, kenapa kamu menyendiri di sini? kamu melamunkan apa sih?" tanya Nathan dengan lembut, begitu menemukan istrinya yang sudah dia cari dari tadi dan ternyata sedang melamun di taman belakang rumah mereka.
"Tidak ada kok, Sayang. Aku hanya sedang menikmati keindahan malam ini. Coba kamu lihat, di langit sangat banyak sekali bintang- bintang yang sinarnya membuat langit terlihat indah," Renata menunjukkan taburan bintang di langit.
Nathan melihat ke arah mana jari telunjuk Renata menunjuk. Dia tidak menyangkal apa yang dikatakan oleh sang istri. Langit memang terlihat sangat indah malam itu.
"Emm, iya sih. Tapi bagiku cukup satu bintang yang sangat indah, dan itu lebih bersinar dari bintang yang paling bersinar," ucap Nathan, ambigu.
"Maksudnya?" Renata menatap Nathan dengan kening yang berkerut.
Nathan tidak langsung menjawab. Pria itu justru menerbitkan seulas senyum di bibirnya dan membelai rambut Renata.
"Bintang yang aku kagumi itu kamu. Kamu adalah bintang di hatiku yang cahayanya mengalahkan cahaya bintang yang paling bersinar itu. Kalau mereka bersinar hanya malam saja, tapi kamu ... pagi, siang, malam dan kapanpun itu, akan selalu bersinar di hatiku," sahut Nathan, tulus.
"Gombal!" Renata memukul pelan pundak Nathan, kemudian memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
"Aku tidak gombal! itu tulus dari hatiku," jawab Nathan sembari menangkup dagu Renata dan memutar kepala istrinya itu, agar kembali menatapnya.
Mata Renata tiba-tiba berkilat-kilat karena matanya sudah penuh dengan cairan bening yang sudah siap ditumpahkan dari wadahnya. Hal ini tentu saja membuat Nathan panik.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa? kenapa mau menangis seperti ini? apa kata-kataku ada yang salah ya?" ucapnya, bingung.
Renata menggeleng-gelengkan kepalanya. Air mata yang tadinya berusaha dia bendung kini sudah berhasil menerobos bendungan dan membasahi pipinya.
"kalau tidak ada, tapi kenapa kamu menangis?" Nathan terlihat semakin kebingungan.
"Aku hanya takut kalau kamu akan meninggalkanku, seandainya aku tidak bisa memberikan kamu keturunan," sahut Renata, di sela-sela Isak tangisnya.
"Astaga! kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk meninggalkanmu," ucap Nathan dengan tegas.
"Tapi, bagaimana kalau aku tidak__"
"Tidak ada tapi-tapi!" potong Nathan dengan cepat. "Sayang, kita masih muda. Usia kita masih 25 tahun. Masih__"
"Sebentar lagi kamu 26 tahun, ingat itu!" Renata dengan cepat membantai ucapan Nathan.
"Tapi, bagaimana dengan Anisa? dia bahkan hanya membutuhkan waktu dua bulan setelah menikah. Dia sudah langsung diberi keturunan,"
"Memiliki anak itu, bukan ajang perlombaan. Ada yang cepat dan ada yang lambat.Tapi, percayalah Tuhan punya rencana indah di balik lamanya kita belum diberi keturunan. Anisa, bagi Tuhan pasti sudah cukup siap untuk menjadi seorang ibu, makanya Tuhan langsung menganugerahkan anak pada dia dan kak Nicholas," tutur Nathan, dengan sabar.
"Tapi, aku juga sudah siap. Sangat siap malah,"
"Siap menurut kita, belum tentu sesuai dengan pemikiran yang Tuhan miliki. Boleh saja kita mengatakan, 'Aku sudah siap,Tuhan'.Namun, Tuhan mengatakan, 'Sabar, kamu belum benar-benar siap! tunggu! ada saatnya aku akan memberikan apa yang kamu mau, jika kalau aku sudah yakin kalau kamu benar-benar siap,'" ujar Nathan lagi, berusaha untuk memberikan pengertian pada sang istri.
__ADS_1
"Mungkin saat ini Tuhan masih ingin memberikan kesempatan pada kita untuk banyak menghabiskan waktu berdua. Iya kan? Nanti kalau kita sudah bertiga, kamu pasti akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak kita," lanjut Nathan kembali, berharap kalau istrinya itu bisa berhenti memikirkan hal yang membuatnya sedih.
"Emm, iya jug sih," Renata kini sudah kembali tersenyum. "Kalau begitu, bagaimana kalau besok kita ke dokter lagi, untuk melakukan pemeriksaan?" lanjut Renata lagi, hingga membuat Nathan yang tadinya sudah mengembuskan napas lega, kembali menghela napas.
"Sayang, buat apalagi kita ke dokter? kan waktu itu, sudah. Dokter juga bilang kalau kita berdua kan tidak ada yang bermasalah. Kita sabar menunggu aja ya?"
"Kenapa sih kamu tidak mau? kan hasilnya bisa berubah-ubah, Sayang. Aku hanya ingin kembali memastikan, itu aja, kok!" Renata kini terlihat sangat kesal dan ada cairan yang keluar tiba-tiba dari matanya.
"Sayang, bukannya aku tidak mau. Cuma, kamu tahu sendiri kan, kalau besok aku ada projects yang sangat penting dan benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Kalau urusannya sudah selesai besok, aku janji deh, lusa kita pergi periksa," sahut Nathan dengan penuh kesabaran.Pria itu memang cukup maklum dengan ke khawatiran yang dimiliki oleh istrinya itu, mengingat mama mertuanya yang juga sulit untu hamil dulu, bahkan Renata didapat setelah beberapa kali melakukan program bayi tabung.
"Baiklah kalau begitu! janji ya!" Nathan menganggukkan kepalanya, mengiyakan hingga membuat bibir Renata kembali tersenyum.
Hanya satu doa Nathan sekarang, berharap urusannya bisa selesai besok, sehingga dia bisa memenuhi janjinya pada Renata. Dia tidak mau kalau istrinya yang belakangan ini sangat sensitif itu kecewa padanya.
"Ya udah, ayo kita tidur sekarang!" Renata bangkit berdiri.
"Apa nanti kita akan langsung tidur?" tanya Nathan. Di balik ada ucapannya terselip sebuah keinginan yang tersirat.
"Iya. Aku lagi capek, Sayang. Lagi tidak ingin melakukannya malam ini," sahut Renata.
"Tapi, kalau tidak dilakukan, bagaimana kita bisa punya anak?" Nathan mencoba mengubah pikiran Renata.
Renata terdiam, sepertinya mulai terpengaruh dengan ucapan Nathan.
__ADS_1
"Iya juga ya! ya udah, kalau begitu aku mau deh," pungkas Renata, akhirnya.
"Yes! sorak Nathan dan dengan semangat langsung berdiri dari kursinya dan menggandeng tangan Renata.