
Angga masuk membuka pintu ruang perawatan Naura dengan sangat perlahan,kemudian pria itu masuk ke dalam disusul oleh Arsen.
Sementara itu, Naura yang sedang memakan buah, sontak menghentikan suapannya dan mengrenyitkan kening menatap ke arah Angga lalu berganti ke arah Arsen.
"Ka-kamu Arsen kan? dan ka-kamu pasti A-Angga!" ucap Naura sembari beringsut, tiba-tiba merasa takut.
"Ka-kalian mau apa datang ke sini? apa kalian dendam dengan penangkapan mama kalian da ingin balas dendam?" lanjut Naura kembali yang benar-benar gagal memahami tatapan Angga yang ekspresi wajahnya terlihat datar.
"Tan, Tante Naura, jangan takut! kami datang ke sini tidak mau balas dendam, justru kami datang ke sini mau meminta maaf atas sikap kami pada Tante, benar kan, Kak?" Arsen buka suara sembari menyikut lengan Angga, meminta pria itu buka suara.
"Be-benar,Tan!" sahut Angga dengan gugup.
Naura yang semula merasa takut, kini terlihat berangsur-angsur tenang, melihat tidak adanya kebohongan pada mata kedua pria itu.
"Tante sudah memaafkan dan melupakannya. Karena Tante tahu, kalau kalian berdua adalah anak-anak yang baik," ujar Naura. Kemudian wanita itu menatap dalam-dalam ke arah Angga. Anak laki-laki yang dulunya selalu menatapnya dengan tatapan penuh kebencian kini telah tumbuh menjadi seorang pria yang tampan dan berkharisma, mengingatkan dirinya pada sosok Aditya.
"Angga, Tante juga mau minta maaf padamu, karena pernah membuat __"
"Tante tidak perlu minta maaf!" Angga dengan cepat memotong ucapan Naura. "Aku sudah menyadari kalau itu bukan kesalahan Tante. Memang pada dasarnya, papa dan mama dulu sudah tidak pantas disebut suami istri lagi, dan itu karena mama. Aku benci pada tante saat itu, karena mama pernah mengatakan, penyebab mama dan papa tidak harmonis lagi, itu gara-gara papa menjalin hubungan dengan Tante sudah sangat lama. Mama juga bilang kalau sebenarnya, Tante yang menghasut papa untuk menceraikan mama kami. Selain itu, mama juga bilang kalau sebenarnya Tante yang memaksa mama untuk meminta bercerai dengan papa," Angga melanjutkan penjelasannya dengan panjang lebar tanpa jeda.
"Ya, ampun! ternyata begitu ceritanya! itu sama sekali tidak benar, Nak!"
"Iya, Tan. Sekarang aku sudah tahu kalau itu sama sekali tidak benar. Karena itu aku meminta maaf pada Tante." ucap Angga tulus.
"Aku juga minta maaf, Tan. Aku sebenarnya __"
"Arsen tidak salah apapun, Tan. Dia hanya aku marahin aja kalau bersikap baik pada Tante. Jadi, ini semua murni karena kesalahanku,". Angga dengan sigap memotong ucapan Arsen.
Naura tersenyum dengan lembut dan menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba pintu kembali dibuka oleh seseorang.
__ADS_1
"Eh, kalian berdua ternyata ada di sini," ucap sosok yang baru saja datang itu yang tidak lain adalah Rehan.
"Pa, bagaimana dengan Nathan, apa dia sudah ditemukan?" tanya Naura tanpa basa-basi.
"Belum, Ma. Nicholas sudah bertanya pada kedua sahabat Nathan, tapi tidak ada yang tahu sama sekali, kemana anak itu pergi. Tapi, Nicholas sudah meminta orang untuk mencari ke stasiun, pelabuhan dan Bandara. Ternyata Nathan ada di daftar penumpang pesawat menuju Singapura. Nicholas, sekarang dalam perjalanan ke bandara, dan akan berangkat ke Singapura menyusul Nathan, jadi kamu tenang aja ya, Sayang! Nicholas pasti akan membawa Nathan pulang nanti," Rehan tersenyum dan membelai kepala istrinya itu.
Sementara itu, Rehan ingin kembali buka suara memberitahukan kalau tidak ada gunanya Nicholas pergi menyusul Nathan ke Singapura, karena dia tidak akan bertemu dengan Nathan di sana. Namun entah kenapa,.mulut pria itu tetap bungkam dan memilih untuk tidak memberitahukan pada Naura dan Rehan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu berlalu dengan begitu cepat, tidak terasa sudah dua bulan berlalu sejak Nathan meninggalkan tanah air.
Di tepi sungai Thames di bawah London bridge kini dipenuhi banyak orang-orang yang sedang bersantai.
Ya, dia adalah Nathan yang kini berprofesi menjadi seorang pelukis jalanan. Di tempat ramai seperti ini, biasanya akan banyak orang khususnya yang berpasangan meminta untuk dilukis olehnya dengan bayaran yang lumayan.
Pria itu, memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah untuk sementara ini, walaupun sebenarnya uang yang ada di kartunya jumlahnya sangat besar dan lebih dari cukup untuk biaya kuliah dan hidupnya. Entah dari mana uang sebanyak itu, Nathan juga bingung, karena menurutnya uang asuransi pendidikannya tidaklah sebanyak itu.
Keputusan Nathan untuk menunda kuliahnya, karena berniat untuk belajar lebih banyak dulu agar bisa bersaing nantinya dengan mahasiswa lain.
"Kenapa hari ini, tidak ada yang minta dilukis ya?" batin Nathan sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.
Nathan menghela napasnya dengan sekali hentakan dan tersenyum tipis.
"Emm, sabar Nathan! rejeki itu sudah diatur oleh Tuhan. Kemarin-kemarin kamu sudah diberikan cukup rejeki, mungkin hari ini, rejekinya dialihkan Tuhan untuk orang lain," bisik Nathan kembali pada dirinya sendiri. Kemudian, pria itu kembali melanjutkan lukisannya yang sepertinya sudah 90 persen hampir selesai.
"Wow, lukisanmu sangat bagus!" puji seorang pria dalam bahasa Inggris.
__ADS_1
Nathan sedikit kaget dan sontak menoleh ke belakang. Tampak seorang pria yang usianya sudah tidak muda lagi, tapi sisa-sisa ketampanannya masih tercetak jelas di wajah pria itu. Pria tua itu juga terlihat bukan orang Eropa, melainkan orang Asia seperti dirinya.
"Aduh, terima kasih pujiannya Mister! tapi, ini masih belum sempurna. Aku masih harus banyak belajar," sahut Nathan merendah, menggunakan bahasa Inggris juga.
"Hmm, lukisan kamu ini sudah seperti dilukis boleh profesional. Tinggal poles sedikit pasti akan sempurna," kembali pria tua itu memuji lukisan Nathan.
Nathan tidak menjawab sama sekali. Pemuda itu hanya tersenyum menanggapi pujian Pria itu.
"Oh ya, dari wajahmu, kamu sepertinya orang Asia, apa aku benar?" tanya pria itu sembari menelisik wajah Nathan.
"Iya, Mister. Aku orang Asia, tepatnya Indonesia," jawab Nathan, sopan.
"Wah, kamu orang Indonesia rupanya, berarti kita datang dari negara yang sama. Aku juga orang Indonesia, tapi memang sudah menjadi warga negara di sini karena aku sudah lama tinggal di London," sahut pria itu yang langsung menggunakan bahasa Indonesia.
"Wah, benarkah ...." Nathan menggantung ucapannya karena bingung mau memanggil apa pada pria tua di depannya itu.
"Panggil saja aku kakek! karena aku sudah memiliki cucu sebesar kamu. Kalau kamu namanya siapa?" pria tua itu kembali bertanya.
"Aku Alex, Kek," jawab Nathan yang mengganti namanya menggunakan nama tengahnya yaitu Alexander.
"Oh, Nak Alex. Kalau nama kakek, Nurdin! Kakek punya galeri di sini dan Minggu depan akan mengadakan pameran lukisan.
Kalau kamu mau, aku mau meletakkan lukisan kamu di galeriku untuk ikut dipamerkan. Apakah kamu mau?"
"Tentu saja aku mau, Kek!" ucap Nathan dengan mata berbinar.
Tbc
Kalian ingat kan siapa Nurdin? masih ingat dong 😀.
__ADS_1