
Hari kini sudah berganti, wajah Anisa tampak terlihat masam, saat memasuki kantor milik keluarga Rehan.
"Untung saja bos tengil itu tidak ada lagi hari ini, jadi setidaknya rasa kesalku tidak akan bertambah," batin Anisa sembari melirik ke arah ruangan Nicholas yang tertutup.
"Tapi, apa yang harus aku kerjakan hari ini? aku benar-benar tidak bisa berpikir. Ini semua gara-gara Renata. Aku kira dia sahabat yang terbaik buatku, ternyata sama saja. Dasar munafik. Katanya cinta sama Nathan, eh giliran Pak Nicholas ke London, dia malah menyusulnya ke sana," Anisa menggerutu tidak jelas, hingga menimbulkan keryitan di kening seorang laki-laki yang melihatnya dari jauh.
Ya, Kemarin Anisa tahu kenyataan dari seorang laki-laki yang mengaku mengenal Renata dengan baik, kalau Renata adalah putri dari seorang pengusaha yang boleh dikatakan sukses, karena memiliki sebuah perusahaan yang sangat besar. Hal itu membuat gadis itu sangat marah,merasa dibohongi oleh wanita yang sudah dia anggap sahabat baiknya itu. Ketika dia ingin menanyakan kebenarannya, dia langsung menghubungi Renata, namun yang mengangkat teleponnya itu justru mama dari sahabatnya itu, sendiri. Kekesalannya semakin bertambah pada Renata, karena dia tahu kalau sahabatnya itu ternyata berangkat ke London, sementara handphonenya ketinggalan.
"Kamu gila ya, ngomong sendiri?"
"Eh, dasar orang munafik, dua muka, nggak punya hati!" tanpa sadar Anisa mengumpat, sembari melompat dari tempat duduknya, hingga bokongnya menyentuh lantai. Wanita itu benar-benar kaget mendengar suara laki-laki yang kini sudah berdiri tepat di depan mejanya.
"Hahahaha! sakit ya! makanya kalau jadi orang itu harus fokus," tawa laki-laki yang tidak lain adalah Nicholas itu pecah, merasa lucu melihat Anisa yang terjatuh.
Kekagetan Anisa semakin bertambah begitu melihat sosok yang membuat dirinya jatuh.
"Eh kok ada di sini? bukannya dia ke London?" bisik Anisa, pada dirinya sendiri.
"Siapa yang kamu katakan munafik, bermuka dua dan tidak punya hati?" tanya Nicholas menyelidik.
"Bapak tidak perlu tahu," Anisa berdiri sembari mengerucutkan bibirnya. "Kenapa, Bapak bisa ada di sini? bukannya seharusnya Bapak masih ada di London?" Anisa mengrenyitkan keningnya.
"Kenapa emangnya aku di sini? ini kan perusahaanku," sahut Nicholas, angkuh, hingga membuat Anisa berdecih. "Aku baru saja tiba di Indonesia dan langsung ke sini, karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan," lanjut Nicholas santai.
"Tapi, bagaimana dengan Renata? bukannya dia tadi malam menyusulmu ke London?" tanya Anisa, mendadak khawatir. Entah kenapa walaupun diri merasa kecepatan karena sudah dibohongi, tapi dia tidak bisa memungkiri kalau dia menyayangi sahabatnya itu.
"Apa? Renata ke London?" Nicholas terlihat tersentak kaget.
__ADS_1
"Iya, Pak. Dia berangkat ke London kemarin sore. Sehari sebelumnya aku kasih tahu dia, kalau Bapak ke London, eh ternyata sore kemarin dia langsung memutuskan untuk menyusul,Bapak" terang Anisa dengan raut wajah yang panik.
Nicholas mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu terlihat sangat gusar sekarang.
"Ternyata dia nekad juga untuk menemui Nathan ke London," desis pria itu lirih.
"Nathan? di London? ... ja-jadi Nathan ada di London dan dia ke sana bukan nyusul Bapak, tapi nyusul Nathan?" tanya Anisa, memastikan pendengarannya.
Nicholas tidak langsung menjawab. Pria itu justru menatap Anisa dengan alis yang bertaut.
"Dari perkataanmu, sepertinya kamu sudah tahu tentang Nathan. Apa Renata menceritakan sesuatu tentang dia?"
"Iya. Aku tahu kalau Renata tidak pernah mencintaimu. Dia hanya mencintai Nathan. Tapi, dengan keegoisanmu, kamu menggunakan kekayaan dan kuasamu untuk memaksa Renata mau bertunangan denganmu. Aku benar kan?" tutur Anisa dengan tatapan sinis.
"Kamu sebaiknya diam kalau tidak tahu apa-apa. Sekali lagi,aku katakan, jangan lewati batasanmu, kalau kamu masih mau bisa tetap magang di perusahaanku," tegas Nicholas sembari berlalu dari depan Anisa, dan masuk ke dalam ruangannya.
Anisa mengembuskan napasnya keluar dengan keras, berharap kekesalannya pada Nicholas juga ikut terbuang.
Tiba-tiba Nicholas kembali memutar tubuhnya dan kembali menatap Anisa.
"Oh ya,kamu jangan masuk ke dalam ruanganku, kalau aku tidak memanggilmu. Tadi, aku belum mandi karena harus ke sini. Jadi, aku mandi dulu. Ingat kamu jangan sampai masuk!" pungkas Nicholas memperingatkan, lalu melangkah kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah selesai mandi dan sudah terlihat berganti pakaian, Nicholas melangkah ke meja kerjanya. Kemudian dia mencoba menghubungi Anisa lewat wireless interkom yang terhubung ke meja sekretaris. Namun, sama sekali tidak ada respon dari Anisa.
Nicholas mencoba sekali lagi, tapi hasilnya tetap sama.
__ADS_1
brakk...
Nicholas menghempaskan map yang berisi dokumen dengan keras ke atas mejanya.
"Kemana sih dia? berani sekali mengabaikan panggilanku," Nicholas berdiri dai tempat duduknya dan melangkah ke luar dengan wajah yang keras.
"Anisa, kenapa kamu ...." ucapan Nicholas menggantung di udara karena Anisa tidak ada di tempatnya.
"Heh, kenapa meja dia kosong? kemana dia pergi? berani sekali dia meninggalkan mejanya tanpa izin," Nicholas terlihat geram dan melangkah mendekati meja Anisa.
"Handphonenya ada di sini, tapi kemana dia pergi? dasar teledor!" Nicholas meraih handphone Anisa dan berniat untuk menyimpannya. Namun, tanpa sengaja jari jempolnya menekan tombol 'on', sehingga handphone itu terbuka dan memperlihatkan photo seorang laki-laki yang sangat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan photo Nathan.
"Bapak jangan lancang menyentuh handphoneku!" tiba-tiba Anisa datang dan merampas handphonenya dari tangan Nicholas.
"Kenapa ada photo Nathan di handphonemu? apa kamu punya hubungan dengan Nathan?" Nicholas menatap curiga ke arah Anisa.
"Bukan urusan, Bapak!" sahut Anisa ketus.
"Kenapa bukan urusanku? Apapun yang berhubungan dengan Nathan adalah urusanku. Kamu menyukai Nathan ya?" tukas Nicholas dengan mata yang memicing.
Anisa, bungkam tidak mau menjawab sama sekali.
"Jawab!" suara Nicholas mulai meninggi.
"Kalau iya, kenapa?" tantang Anisa balas menatap tajam ke arah Nicholas.
"Ikut aku ke ruanganku!" Nicholas menarik paksa tangan Anisa.
__ADS_1
"Lepaskan, Pak! sakit!" rintih Anisa.
Tbc