Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Diciduk


__ADS_3

Angga memasuki rumah dengan raut wajah datar yang sulit untuk dibaca. Di saat mencapai pintu masuk, tiba-tiba dirinya hampir saja berbenturan dengan tubuh Arsen yang sepertinya buru-buru hendak keluar.


"Kamu mau pergi kemana? kenapa terburu-buru?" Angga mengrenyitkan keningnya, menatap penuh tanda tanya.


"Aku mau mencari Nathan,Kak. Tadi, Nicholas menghubungiku, katanya Nathan pergi dan nomornya tidak bisa dihubungi," sahut Arsen dengan napas yang memburu dan raut wajah khawatir.


Angga diam dan seperti tidak peduli, pria itu melangkah masuk.


"Kak, apa kamu sama sekali tidak khawatir? ayo kita cari Nathan sama-sama!" Arsen ikut masuk menyusul sang kakak.


"Buat apa? apa ada untungnya bagiku mencarinya? kalau kamu mau mencarinya, kamu pergi dan cari sendiri. Kamu tidak perlu susah-susah mengajakku," ucap Angga, cuek.


"Kak, kali ini tolong turunkan egomu! aku tahu kalau sebenarnya Kamu juga menyayangi Nathan. Jangan kira aku tidak melihat Kakak sering masuk ke dalam kamar Nathan dan menangis duduk di ranjangnya,"


Untuk sepersekian detik, Angga terkesiap kaget mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Arsen, tapi detik berikutnya pria itu kembali ke sikap awal.


"Kamu salah lihat. Aku tidak pernah mena__". Angga menggantung ucapannya karena tiba-tiba Murni mama mereka masuk dengan raut wajah panik.


"Ada apa, Ma?" tanya Angga.


"Tidak ada apa-apa! Mama hanya ingin mengemas pakaian mama karena akan pergi berlibur dengan teman-teman mama, dan berangkatnya sebentar lagi. Makanya mama panik, takut ditinggal sama teman-teman mama kalau mama telat," ucap Murni memberikan alasan.


"Liburan? kenapa Mama terus-menerus liburan sih?" protes Arsen mengungkapkan kekesalannya.


"Mama ini memang butuh liburan, Arsen. Kalau tidak, Mama akan stress kalau di rumah terus,"


"Emangnya, sejak kapan mama di rumah terus? setahuku,Mama dari dulu memang tidak pernah betah ada di rumah. Apa keluar rumah itu harus setiap hari?" sahut Arsen menimpali ucapan mamanya.


"Kamu jangan bicara! yang jelas sekarang mama buru-buru! Awas mama mau ke atas!" Murni menyingkirkan tubun Arsen yang berdiri di depannya.


Belum melangkah sejauh lima langkah, Murni kembali berbalik menatap ke arah Angga.


"Angga, mama butuh uang yang lumayan banyak. Kamu ada kan, Nak?" ujar Murni, yang seperti biasa memasang wajah memelasnya.


"Aku sama sekali tidak punya banyak uang lagi,Ma. Maaf!"


"Tidak ada uang? kemana uang kamu semuanya? kamu tidak mungkin nggak punya uang. Tolong kasih mama uang kali ini,"

__ADS_1


"Ma, Angga benar-benar tidak punya banyak uang pribadi lagi. Hampir setiap hari mama menggunakan uang yang jumlahnya tidak sedikit,"


"Jadi, kamu tidak mau kasih uang pada mama kali ini?" tanya Murni memastikan.


"Maaf,Ma! tidak bisa! uangnya sudah aku ....". Angga menggantung ucapannya di udara, tidak melanjutkan ucapannya.


"Uangmu sudah kamu apakan?" Murni mengrenyitkan keningnya curiga.


"Tidak ada. Yang jelas, aku tidak bisa kasih uang lagi pada mama kali ini," tolak Angga tegas.


"Kalau kamu Arsen? apa kamu ada uang?" Murni mengalihkan tatapannya ke arah Arsen.


"Ada! dosa kalau aku bilang tidak ada! tapi, maaf aku juga tidak bisa kasih uang ke mama," sahut Arsen tegas.


"Kamu memang anak yang pembangkang. Kamu susah mama bilangin! kalau kalian tidak mau kasih mama uang, baiklah, tidak apa-apa! mama masih punya perhiasan yang bisa mama jual," Murni kembali memutar tubuhnya dan hendak melangkah kembali, tapi langkahnya tersurut karena tiba-tiba terdengar ketukan di daun pintu yang kebetulan memang sudah terbuka.


Wajah Murni berubah pucat, seperti tidak dialiri oleh darah melihat kemunculan tiga orang pria memakai seragam polisi di ambang pintu.


"Maaf, benar ini tempat tinggal ibu Murni?" tanya salah satu dari tiga polisi itu.


"Kami ke sini mau membawa surat perintah untuk menangkap ibu Murni atas tuduhan melakukan tabrak lari dan pencobaan pembunuhan pada ibu Naura, juga tuduhan atas penyebab kematian tuan Aditya Pramono," polisi itu menjawab dengan tegas sembari memberikan surat perintah yang ada di tangannya.


"Tabrak lari? mencoba membunuh? apa-apaan ini? mungkin bapak salah orang, karena itu sama sekali tidak mungkin," ucap Angga sembari mengembalikan surat yang ada di tangannya.


"Maaf, Pak! kami tidak mungkin salah, karena melaporkan adalah suami dan ayah dari ibu Naura sendiri,"


"Tidak! itu semua fitnah! dia memang ingin aku hancur,Pak. Itu sama sekali tidak benar!" pekik Murni, membantah.


"Maaf, Bu! untuk masalah itu nanti kita bicarakan di kantor polisi. Ibu ikut kami dulu!" pinta seorang polisi itu sembari melangkah menghampiri Murni.


"Aku tidak mau! kalian jangan berani kurang ajar ya!"


"Pak, jangan paksa mama saya! mama saya tidak mungkin melakukan hal itu. Ini pasti fitnah dari wanita itu. Lagian, tidak mungkin mama yang menjadi penyebab papa kami meninggal, karena sudah jelas kalau papa kami meninggal gara-gara penyakit jantung,". Angga berdiri menghadang polisi yang hendak membawa mamanya itu.


"Ya, benar papamu memang sakit jantung, tapi asal kalian tahu mama kalian tidak pernah memberikan obat yang dianjurkan oleh dokter untuk dikonsumsi papa kalian, tapi justru obat lain yang malah memperburuk penyakit papa kalian, hingga papa kalian meninggal," tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang sudah berdiri di ambang pintu,siapa lagi dia kalau bukan Rehan dan di sampingnya berdiri Nurdin papa mertuanya.


"Om Rehan!" gumam Arsen,kaget.

__ADS_1


"Pak Rehan?" Angga bergumam. Siapa yang tidak mengenal Rehan, salah satu pengusaha sukses di negara ini.


"Jangan-jangan pak Rehan ini suaminya Tante Naura," bisik Angga dalam hati.


"Angga jangan percaya sama mereka! mama sama sekali tidak pernah melakukan yang mereka tuduhkan!" Murni masih berusaha untuk membantah.


"Ibu Murni, anda jangan berusaha untuk mengelak lagi! semua bukti sudah ada. Anda datang ke rumah sakit tadi, mau melenyapkan istriku kan? kamu tahu kalau Naura tetap hidup, kamu bakalan akan masuk dalam penjara,"


"Hentikan omong kosong ini! anda jangan memfitnahku!" lagi-lagi Murni berusaha untuk menyangkal.


Rehan mendengus dan menyeringai sinis ke arah Murni yang pelipisnya sudah ditetesi oleh peluh.


"Aku tidak fitnah! rekaman CCTV sudah ada di tangan kami. Dan mengenai kematian Aditya, kamu coba dengarkan ini!" Rehan memutar sebuah rekaman dari ponsel mengenai pengakuan Murni tadi di rumah sakit. Ya, ketika Murni memberikan pengakuan, Naura berinisiatif langsung merekam pengakuan itu dengan Handphone yang berada di bawah selimutnya. Hanya satu tujuannya, dia berharap kalau seandainya dia berhasil dibunuh oleh Murni, setidaknya melalui rekaman itu, ada yang tahu siapa pelakunya.


"MAMa!" Pekik Angga dan Arsen bersamaan.


"Mama ayo sekarang ngaku! mama gak bisa mengelak lagi! itu suara mama kan? mama kenapa tega? dan apa maksud Mama,mau tetap bersama kami, hanya karena harta peninggalan papa?" teriak Angga dengan napas yang memburu dan berapi-api.


"Hahahaha! ya itu benar, benar sekali. Aku yang sengaja menabrak Naura karena tidak mau melepaskan papa kalian padaku. Aku memang ingin membunuhnya tadi, dan aku juga yang mempercepat kematian si Aditya bodoh itu. Brengseknya, si Aditya bodoh itu tidak memberikan warisan sedikitpun untukku, semuanya untuk kalian bertiga. Dan lagi, si pengacara bodoh itu, tidak mau aku ajak kerja sama untuk mengalahkan semua harta atas namaku sewaktu kalian kecil. Dia bodoh, terlalu amanah pada wasiat papa kalian. Jadilah aku harus bertahan tetap tinggal bersama kalian, benar-benar membosankan. Aku hanya diberikan jatah yang tidak terlalu banyak oleh pengacara itu, selama kalian masih kecil sampai usia kalian siap memegang kendali semua harta papa kalian. Dasar pengacara sialan!" umpat Murni tanpa sadar melontarkan pengakuan.


"Jadi selama ini sikap mama padaku ... semua yang mama katakan tentang Tante Naura itu ...."


"Itu semua akal-akalan mama.Mama memang sengaja meracuni otak kamu, supaya kamu benci dengan wanita itu dan memudahkanku untuk masuk kembali ke keluarga ini," ucap Murni sembari tersenyum smirk.


Angga tercenung tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pria itu benar-benar menjadi seperti orang yang sangat bodoh dan hatinya terasa sangat sakit. Dia tidak menyangka kalau wanita setengah baya yang dia bela selama ini ternyata tidak tulus menyayanginya.


"Bawa dia, Pak!" cetus Angga akhirnya.


"Aku tidak mau, brengsek! aku tidak mau! lepaskan aku!" Murni berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan dua orang polisi.


Sementara itu, Angga dan Arsen memalingkan wajah tidak mau melihat ke arah mamanya yang dibawa paksa oleh polisi.


Sementara itu, Rehan mendekat dan menepuk-nepuk punggung Angga dan Arsen bergantian guna menenangkan kedua pemuda itu.


Tbc.


"Itu semua ka

__ADS_1


__ADS_2