
Kehamilan Renata disambut gembira oleh keluarga besar kedua belah pihak, khususnya kedua orang tua Renata. Bahkan pasangan setengah baya itu, langsung memutuskan untuk bertolak ke London.
Bagaimana dengan keputusan pemindahan acara pernikahan Dava dan Nabila? awalnya memang, sempat terjadi protes, tapi begitu mendengar alasannya, akhirnya semua setuju demikian juga dengan kedua orang tua Dava.
Beruntungnya undangan yang niatnya akan disebarkan hari itu juga, langsung dibatalkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pernikahan Dava dan Nabila berlangsung dengan begitu meriah. Nathan benar-benar memenuhi janjinya untuk mengurus pernikahan sahabatnya dengan adik perempuannya itu dengan baik. Hal itu terbukti dari mewah dan indahnya dekorasi pesta, yang sama sekali tidak meninggalkan kesan budaya Indonesia.
Acara juga banyak dihadiri oleh para kolega Nathan, para rekan-rekan pelukis terkenal dan para pecinta seni. Ya, walaupun Nathan sudah mewarisi perusahaan kakeknya dan juga galeri, Nathan tidak serta-merta mengabaikan bakat yang sudah membawanya bisa sampai sesukses ini. Pria itu bahkan kini sudah masuk dalam jajaran pelukis handal dan terkenal di mancanegara. Dia sudah memiliki beberapa galeri dan sekolah melukis bagi orang-orang yang mempunyai bakat melukis. Bahkan Nathan menggratiskan biaya bagi orang-orang yang kurang mampu tapi memiliki bakat yang hebat.
Bagaimana dengan Bastian? sahabat Nathan yang satu itu masih tetap seperti dulu yaitu menjalin hubungan dengan wanita bule, yang ternyata merupakan putri tunggal dari sebuah keluarga berpengaruh di London. Apakah dia tidak ada niat untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan? tentu saja ada, dan sudah diatur 3 bulan ke depan.
Jangan lupakan Arsen, kakak kandung Nathan satu-satunya. Pria itu kini juga sudah memiliki satu putra, dan dipercaya oleh Nathan untuk mengelola sebuah cabang perusahaan di tanah air.
Nicholas tampak kewalahan menggendong putranya yang terlihat tidak bisa diam. penampilan pria yang tadinya tampak sangat rapi dan gagah itu kini terlihat sedikit acak-acakan, karena ulah sang putra.
"Wah, tampannya keponakanku. Tidak sia-sia kamu punya Om seperti ku," ujar Nathan sembari mencubit gemas pipi putra Nicholas yang diberi nama Nixson Abinaya itu, yang berarti putra Nicholas yang cerdas dan penuh semangat.
"Hei, dia ini putraku! jadi, dia tampan pastinya gara-gara aku, bukan karena kamu," ujar Nicholas tidak terima.
"Masa sih? tapi, aku yakin itu pasti karena mamanya dulu penggemarku, makanya bisa tampan seperti ini," Nathan tidak mau kalah.
"Haish, sialan kamu! kenapa sih kamu makin ke sini bisa berubah menyebalkan seperti ini? kamu seperti bukan Nathan yang dulu, yang kalau bicara hanya seperlunya aja. Sampai-sampai kutub Utara sungkem ke kamu, gara-gara kalah dingin dengan mu," Nicholas menggerutu tidak jelas, membuat Nathan terkekeh.
"Aku memang pernah menyukaimu, tapi yang menjadi pemenang di hatiku, tetap Nicholas dong. Berarti kamu kalah tampan dibandingkan suamiku ini, di mataku," Anisa buka suara, menimpali perdebatan Nathan dengan Nicholas suaminya.
Nicholas sontak tersenyum bahagia mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Anisa. Berbanding terbalik dengan Nathan yang berdecih, dan mendengus kesal.
"Kamu jangan lupa, suami kamu ini, juga dulu pernah mencintai Renata, tapi aku tetap pemenang di hati Renata. Berarti dia kalah tampan denganku di mata Renata," Nathan tidak mau kalah.
"Kan aku juga bilang begitu tadi? Nicholas pemenang di hatiku, dan kamu pemenang di hati Renata. Jadi impas kan? ngapain sih diributkan lagi?" sahut Anisa.
"Tetap aja beda. Kalian berdua setidaknya pernah sama-sama by mencintai kami, sedangkan kami sama sekali tidak," Nathan benar-benar tidak mau kalah.
"Cih, kamu kenapa tiba-tiba tidak mau kalah seperti ini sih? sepertinya ini, bawaan calon anak kamu. Mungkin anak kamu perempuan dan sifatnya persis seperti ibunya. Ya ... beda tipis lah dengan sikap kamu sekarang," Nicholas buka suara dengan menyelipkan sebuah sindiran di balik ucapannya.
__ADS_1
"Sudah, sudah! kalian tidak capek apa berdebat dengan hal yang tidak penting seperti ini? aku aja pusing mendengar kalian berdebat," Renata yang dari tadi hanya diam, akhirnya buka suara.
"Ini, pernikahan adik perempuan kalian berdua, bukan ajang untuk berdebat. Lagian, kenapa sih masih mengungkit masa lalu?" lanjut Renata kembali.
"Yang memulai lebih dulu kan suamimu! aku hanya melakukan pembelaan diri aja," sahut Nicholas.
"Ya udah deh, kalau kalian berdua masih mau lanjut berdebatnya, silakan! ayo Anisa,kita pergi dari sini! biarkan mereka berdua menghabiskan waktu dengan berdebat di sini!" Renata bangun dari tempat duduknya dan hendak berlalu pergi, tapi dengan sigap Nathan langsung menahannya. Pria itu hampir lupa, kalau istrinya itu sangat sensitif sekarang.
"Mau pergi kemana sih,Sayang? kamu di sini saja. Aku janji deh nggak bakal berdebat lagi dengan kak Nicholas," ucap Nathan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Empat tahun akhirnya berlalu. Di kediaman Rehan dan Naura tampak seorang gadis kecil berusia 3 tahun sedang bermain kejar-kejaran dengan seorang bocah laki-laki berusia 4 tahun. Siapa lagi mereka kalau bukan cucu dari pasangan Rehan dan Naura yaitu anak dari Nathan dan Nicholas. Ya, Nathan dan Renata sekarang sedang berkunjung ke Indonesia dan sekarang sedang berada di kediaman orang tua Nathan setelah sebelumnya dari kediaman orang tua Renata.
Ya, sesuai tebakan Nicholas empat tahun yang lalu, kalau bayi yang ada di dalam kandungan Renata adalah bayi perempuan, benar adanya. Renata benar-benar melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Navya Radifa yang berarti wanita cerdas dan dihormati serta percaya diri. Sikap menyebalkan Nathan pun hilang seiring lahirnya putri sulungnya itu.
"Vya, hati-hati Sayang! perhatikan jalanmu, jangan asal main lari saja!" teriak Rehan dengan raut wajah khawatir. Di samping pria setengah baya itu tampak Naura istrinya sedang memangku seorang bayi laki-laki berusia kira-kira satu tahun yang merupakan adik dari Navya. Ya, dulu Renata harus menunggu dua tahun baru memiliki keturunan, tetapi dia tidak menunggu lama untuk bisa memberikan Navya seorang adik karena di usia satu tahun Navya, Renata langsung mengandung anak keduanya yang diberi nama Nevan Rafandra yang artinya suci, tampan dan jantan.
Di lain tempat, tepat di ruang keluarga tampak dua pasang insan sedang asik bercengkrama. Siapa lagi mereka kalau bukan Nathan dengan Renata serta Nicholas dan Anisa yang perutnya terlihat membuncit.
"Kak Nicholas mau bagaimanapun ternyata aku tetap jadi pemenang," ucap Nathan ambigu.
"Pemenang? dalam hal apa?" Nicholas mengrenyitkan keningnya demikian juga Renata dan Anisa.
"Ya, kan aku lebih dulu punyaku anak dua, aku menang kan?" jawab Nathan tersenyum kemenangan.
"Emangnya selama ini siapa yang sedang bertanding? tidak ada kan? atau jangan-jangan selama ini kamu merasa bersaing dengan kakakmu itu? kalau kamu merasa bersaing, fiks, selama ini kamu merasa berada di bawah standard dia, dan kamu ingin menyainginya. Kasihan sekali kamu," bukan Nicholas yang menjawab melainkan si mulut pedas Anisa.
Mendengar ucapan Anisa, tawa Renata dan Nicholas pecah, berbanding terbalik dengan Nathan yang terdiam sembari garuk-garuk kepala, kehabisan kata-kata.
"Makan tuh kemenanganmu," sindir Nicholas di sela-sela tawanya.
"Hallo! apa boleh kami masuk?" tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.
"Mama, Papa? kenapa bisa ada di sini?" seru Renata dengan alis bertaut.
"Emangnya kenapa? kami mau melihat cucu-cucu kami. Kalian sudah lama membawa mereka dari rumah. Di mana mereka?" jawab Rajendra sembari mengedarkan tatapannya mencari keberadaan kedua cucunya.
__ADS_1
"Baru aja satu jam, Pah. Lama dari mananya?"protes Renata sembari berdecak.
"Bagi papa itu sudah lama. Di mana mereka?"
"Ada di taman belakang, Pah. Lagi bermain dengan papa dan mama," kali ini Nathan yang buka suara.
"Ok, kalau begitu kami langsung ke sana!"ucap Rajendra sembari beranjak pergi.
"Ma,Pa baru satu jam kalian berdua tidak melihat cucu, sudah segitu kangennya, bagaimana denganku? berbulan-bulan di London, kalian tidak langsung datang ke London. Apa kalian tidak merindukanku?" protes Renata sebelum kedua orang tuanya itu benar-benar jauh.
Rajendra dan Lina yang mendengar protes putrinya sontak berhenti melangkah dan kembali menoleh ke arah Renata.
"Maaf, kamu sudah dewasa. Imut dan tingkah lucumu, sudah kaladuwarsa," sahut Rajendra dengan entengnya sembari kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Renata yang seketika mengerucutkan bibirnya. Sementara itu, Nathan, Nicholas dan Anisa hanya bisa tertawa puas melihat wajah manyun Renata.
"Sepertinya akan ada perang di luar sana. Kita tidak boleh ketinggalan untuk menyaksikannya," celetuk Nicholas tiba-tiba.
"Perang apa?" tanya Nathan.
"Perang rebutan cucu. Mari kita saksikan dari jarak jauh!" Nicholas meraih tangan Anisa istrinya dan melangkah. Kemudian disusul oleh Nathan, Renata.
Benar saja, sesuai dugaan Nathan di depan sana ada dua pasang suami istri setengah baya yang berebut untuk menggendong cucu mereka dan masing-masing tidak ada yang mau mengalah.
Sementara itu, Nathan meraih pinggang Renata dan merangkulnya. Mereka berdua saling silang pandang untuk sejenak sembari tersenyum penuh makna. Kemudian mereka kembali bersama-sama melihat pemandangan yang benar-benar membahagiakan di depan mereka.
"Sayang, Nathan merangkul pinggang Renata, nah aku bingung mau merangkul pinggangmu, soalnya pinggangmu nggak kelihatan. Pinggangmu yang mana sih?" celetuk Nicholas, dengan nada meledek.
"Eh, kamu ya ... ingat aku gemuk begini, karena ulah ularmu. Siapa suruh menyemburkan bisa ke dalam?" sahut Anisa dengan nada kesal.
"Iya iya,maaf! walaupun kamu terlihat gemuk, tapi kamu terlihat semakin cantik dan seksi di mataku," rayu Nicholas sembari mencubit gemas hidung Anisa.
Di sebelah mereka tampak Nathan yang melakukan adegan sedang muntah, mendengar rayuan Nicholas .
Setelah perdebatan kecil mereka berakhir, kedua pasang suami istri muda itu akhirnya kembali sama-sama menonton perang dua pasang suami istri setengah baya di depan mata mereka.
Tamat
Benar-benar tamat ya guys. See you di next story. Terima kasih banyak yang sudah setia dari awal hingga akhir. Tanpa kalian semua, tidak mungkin aku bisa melangkah sampai sejauh ini. Sending hugs virtual dan taburan love di udara buat kalian semua 🥰🥰🥰🥰😘🤗🤗🤗
__ADS_1