Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Kekesalan Nicholas


__ADS_3

Anisa berusaha mengikuti langkah Nicholas yang tentu saja sangat panjang dibandingkan dengan dirinya. Namun, walaupun sudah sedikit berlari kecil, tetap saja gadis itu kewalahan mensejajarkan langkahnya dengan Nicholas.


"Pak, bisa tidak jalannya diperlambat sedikit? aku capek ngikutin, Bapak." Anisa akhirnya memutuskan untuk berhenti melangkah.


Nicholas menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh ke arah Anisa.


"Perasaan, aku berjalan biasa saja. Kamu saja yang terlalu pendek, jadi susah mengimbangiku," sahut Nicholas sembari menyelipkan sebuah sindiran.


"Apa hubungannya pendek dengan tidak bisa mengimbangi jalan, Bapak?" ujar Anisa sembari berjalan mendekat ke arah Nicholas.


"Katanya kamu itu dapat beasiswa karena pintar, tapi kenapa aku jadi meragukan kepintaranmu ya? masa kamu tidak tahu di mana hubungannya?" ucap Nicholas sembari kembali melangkah.


Anisa sontak mengerucutkan bibirnya, kesal dengan sikap Nicholas yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Itu orang yang harus kita temui!" Nicholas menunjuk ke arah seorang wanita muda yang sangat cantik dan berpenampilan seksi. "Ingat, kamu harus bersikap profesional. Jangan bersikap kurang ajar padaku! kamu harus menjaga wibawaku sebagai atasanmu. lanjut Nicholas kembali, mengingatkan Anisa.


Anisa tidak menjawab sama sekali. Wanita itu tetap saja mengerucutkan bibirnya.


"Kamu dengar tidak?" Nicholas mulai kesal.


"Iya, Pak aku dengar!" jawab Anisa dengan ketus.


"Bagus! ayo ke sana!" Nicholas melangkah lebih dulu dan disusul oleh Anisa dari belakang.


"Selamat siang Nona! apa anda Nona Rosa dari Sunrise Company?" sapa Nicholas dengan sopan.


Bukannya menjawab, wanita yang dipanggil Rosa itu justru terpaku, karena terpesona dengan ketampanan wajah Nicholas.


"Nona, apa anda mendengarku?" Nicholas mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah wanita itu.

__ADS_1


"Oh, I-iya. Aku Rosa! anda pasti Pak Nicholas kan?" Wanita bernama Rosa itu, langsung berdiri dan mengulurkan tangannya menjabat tangan Nicholas.


"Iya, Aku Nicholas dan ini sekretarisku Anisa," Nicholas menunjuk ke arah Anisa, yang ternyata sudah menatap Rosa dengan tatapan waspada.


"Oh, baiklah! ayo Pak Nicholas, Nona Anisa, silakan duduk!" Rosa menunjuk ke arah kursi sebelum dia mendaratkan tubuhnya kembali duduk di atas kursi.


"Terima kasih!" ucap Nicholas, disusul oleh Anisa.


"Bisa kita mulai, untuk membicarakan kerjasamanya, Nona Rosa?" tanya Nicholas tanpa basa-basi.


"Kenapa harus terburu-buru, Pak? Bapak pesan minum saja dulu, kita ngobrol-ngobrol sebentar, agar lebih dekat?" ucap Rosa dengan nada yang dibuat semanja mungkin, hingga membuat Anisa merasa jengah.


"Maaf, Nona Rosa! aku tidak punya banyak waktu. Soalnya setelah pertemuan ini, aku juga ada janji dengan klien yang lain,". Nicholas yang ternyata sudah bisa membaca niat wanita di depannya itu, mencoba mencari alasan.


"Oh ya, aduh sayang sekali. Padahal aku benar-benar ingin mengenal anda lebih dekat di luar dari urusan perusahaan," wanita bernama Rosa itu, dengan sengaja menyilangkan kakinya, sehingga memperlihatkan kemulusan pahanya. Wanita itu bahkan dengan sengaja membungkuk dan memperlihatkan belahan dadanya.


"Maaf, Nona Rosa. Kami benar-benar tidak ada waktu. Karena kebetulan Pak Nicholas akan makan siang dengan tunangannya," tiba-tiba Anisa buka suara, karena benar-benar jengah dengan sikap Rosa yang benar-benar terlihat ingin menggoda Nicholas. Bukan karena dia cemburu, tapi itu karena dia tahu kalau bosnya itu adalah tunangan sahabatnya. Entah kenapa, dia merasa berkewajiban untuk menjaga hubungan Renata dan Nicholas, walaupun dia tahu kalau kedua orang itu sedang ada dalam masalah sekarang.


"Tunangan? aku sama sekali tidak pernah mendengar kalau putra sulung Pak Rehan, sudah bertunangan. Apa yang dikatakan sekretarismu itu benar, Pak Nicholas?" tanya Rosa. Ada ada kecewa di dalam ucapannya.


" Apa anda meragukannya? kebetulan acara pertunangannya tertutup, jadi tidak ada yang tahu," lagi-lagi Anisa yang buka suara.


"Aku tidak berbicara denganmu, tapi dengan bosmu. Jangan lewati batasanmu! kamu itu hanya seorang sekretaris yang sangat jauh di bawah levelku," Cetus Rosa dengan sinis dan tatapan merendahkan.


"Maaf Nona Rosa! tapi yang dikatakan sekretarisku itu benar. Aku memang sudah bertunangan dan sekretarisku ini sendirilah yang menjadi tunanganku," Nicholas menarik tubuh Anisa dan merangkul pundak Anisa dengan erat. Anisa ingin sekali melepaskan dirinya, tapi dirinya mengurungkannya dan berniat ikut dengan permainan Nicholas.


"Dia, tunangan anda? anda jangan bercanda!" Rosa menatap penampilan Anisa dari atas sampai ke bawah.


"Emangnya kenapa dengan saya? aku cantik walaupun tidak berdandan tebal seperti anda," kali ini Anisa yang menyindir Rosa.

__ADS_1


"Pak Nicholas, sekretaris yang katanya tunangan anda ini benar-benar tidak sopan. Bagaimana anda bisa memiliki tunangan seperti dia?" Rosa melirik sinis ke arah Anisa.


"Maaf, Nona Rosa kalau tunanganku, bersikap kurang sopan, tapi menurut saya,apa yang dia katakan itu benar. Dia tetap terlihat cantik buat saya," akhirnya Nicholas memutuskan untuk mengikuti permainan Anisa.


Rosa mendengus dan sekali lagi menatap Anisa dengan sinis. "Kalian sudah bertunangan, dan dia juga sekretarismu, siapa yang tahu apa saja yang sudah kalian lakukan di dalam ruangan. Tidak mungkin kan tidak melakukan apa-apa? bisa jadi, dia berpenampilan kuno yang katanya sopan itu, hanya tameng saja, agar terlihat seperti wanita baik-baik," lagi-lagi Rosa menyindir Anisa, hingga membuat Anisa mengepalkan kedua tangannya berusaha untuk menahan emosi.


"Nona Rosa yang cantik, walau cantik karena polesan, apa anda sedang berbicara mengenai anda sendiri? kalau dilihat dari penampilan anda sih, tidak tertutup kemungkinan kalau anda itu sudah terbiasa melakukan hal seperti itu dengan bos Anda sendiri. Ups, maaf keceplosan," Anisa berpura-pura menutup mulutnya.


Wajah Rosa sontak memerah. Sepertinya wanita itu sudah benar-benar terpancing provokasi Anisa. Sementara itu, Nicholas berusaha untuk menahan tawanya.


"Pak Nicholas, tolong suruh sekretaris anda meminta maaf padaku! kalau tidak, aku bisa saja meminta bos saya untuk membatalkan kerja sama kita," tutur Rosa berang.


"Emm, sayangnya aku tidak ada niat lagi untuk bekerja sama dengan perusahaan kalian, kalau dari awal aja anda tidak profesional. Kemungkinan sikap anda yang mencoba menggoda setiap klien yang anda temui, bisa berguna, tapi sama sekali tidak berguna untukku. Terima kasih!" Nicholas langsung berdiri dari tempat duduknya demikian juga dengan Anisa. Keduanya sontak berlalu pergi, meninggalkan Rosa yang panik.


"Pak Nicholas, maafkan sikapku tadi! mari kita bicarakan kerja samanya lagi!" Rosa mengejar Nicholas dan berusaha menahan pria itu.


"Maaf, aku sama sekali tidak berminat lagi. Asal kamu tahu, yang sangat ingin bekerja sama ada perusahaan kalian. Bosmu sudah berkali-kali memohon untuk itu, tapi baru kali ini aku bersedia. Tapi, sepertinya dia salah menilaiku. Dia mengira aku sama seperti klien-kliennya yang lain, yang suka bermain wanita, makanya dia mengirimmu. Mulai sekarang, kamu harus bersiap-siap kena murka bosmu itu, syukur-syukur kalau kamu tidak dipecat. Maaf kami pergi dulu, permisi!" tanpa sadar Nicholas meraih tangan Anisa dan membawa wanita itu pergi meninggalkan Rosa yang terduduk lemas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kamu mengatakan kalau kamu itu tunanganku?" Nicholas menatap Anisa dengan tatapan sangat tajam, begitu mereka berdua ada di dalam mobil.


"Hei, bukan aku yang mengatakannya, tapi kamu sendiri. aku hanya mengikuti permainanmu saja. Aku tahu kalau pertunanganmu dan Renata dilakukan secara tertutup,makanya aku nggak mau memberitahukan identitas Renata," sahut Anisa, kesal.


"Itu karena kamu yang lebih dulu mengatakan kalau aku sudah bertunangan. Kenapa kamu punya inisiatif mengatakan kalau aku sudah bertunangan? apa tujuanmu?" alis Nicholas bertaut, curiga.


"Kenapa tidak? aku melakukannya demi sahabatku tentunya. Aku tahu kalau kamu dan Renata sedang ada masalah, tapi kan masih bisa diselesaikan dengan baik-baik. Tadi,aku melihat wanita itu berniat menggodamu, jadi, sebagai sahabat yang baik, aku harus menjaga tunangan sahabatku dari wanita - wanita penggoda seperti wanita tadi," lagi-lagi Anisa berbicara dengan cepat.


"Apa berbicara dengan kecepatan tinggi itu adalah keahlianmu? kalau iya, aku yakin, kelak siapapun yang akan jadi suamimu tiap hari pasti akan tutup kuping, karena kecerewetanmu," tutur Nicholas, sembari menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Apa kamu sedang memujiku? kalau iya, terima kasih buat pujiannya!" ucap Anisa yang membuat Nicholas, diam kehabisan kata-kata.


Tbc


__ADS_2