
"Nicholas! teriak Rehan begitu melihat sosok Nicholas yang hendak masuk ke dalam sebuah ruangan dokter, tidak jauh dari ruangan operasi.
"Papa!, Mama! Aduh, kenapa mereka bisa ada di sini? rencanaku bisa gagal nih,"batin Nicholas sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Syukurlah, Papa belum terlambat!" ucap Rehan di sela-sela napasnya yang ngos-ngosan.
"Kamu jangan coba-coba mau mengorbankan matamu! papa tidak akan pernah setuju," ucap Rehan tanpa basa-basi lagi.
"Tapi, Pa. Hanya ini jalan satu-satunya aku bisa menebus rasa bersalahku," ucap Nicholas dengan lirih.
"Kamu salah! kalau kamu melakukannya, permasalahan tidak akan pernah selesai. Yang ada, justru Nathan tidak akan pernah hidup bahagia melihat kamu berkorban padanya. Masalah akan semakin panjang dan runyam, Nak. Dia akan hidup dengan rasa bersalahnya seumur hidup," ucap Rehan.
"Tapi, Pa ... aku ...."
"Tidak ada tapi-tapi! kalau kamu masih nekad, papa akan mati sekarang juga di depanmu!" ancam Rehan.
"Om, jangan berbicara seperti itu, karena __"
"Kalian berdua diam saja! dia anakku, jadi aku tidak pernah rela melihat anakku buta," bentak Rehan membuat Bastian dan Dava terdiam.
Nicholas seketika bergeming, bingung mau melakukan apa.Di lain sisi dia ingin menolongnya Nathan, tapi di lain sisi dia tidak ingin melihat sesuatu apapun terjadi pada papanya.
"Sekarang, Papa perintahkan kamu untuk pulang! kamu urus perusahaan dengan baik!" titah Rehan dengan tegas.
"Tapi, Pa ...."
"Sekali lagi, Papa katakan tidak ada tapi-tapi! pulang ke Indonesia sekarang juga!" titah Rehan, tak terbantahkan.
Nicholas menghela napas panjang dan menghampiri Naura yang sepertinya terlihat terpukul.
"Ma,maafkan aku! aku sebenarnya ingin sekali membantu agar Nathan bisa melihat kembali, tapi aku juga tidak ingin kehilangan papa," ucap Nicholas dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa! mungkin belum rejekinya Nathan. Hanya saja,aku tidak bisa membayangkan kekecewaan Nathan nantinya, kalau operasinya batal. Padahal tadi dia sudah sangat bersemangat untuk menjalankan operasi ini. Tapi, aku juga nggak boleh egois, memaksakan kehendakku, demi anak kandungku sampai mengorbankan anak sambungku," sahut Naura dengan lirih.
"Maafkan aku!" desis Rehan dengan lirih. Dia merasa sangat bersalah tiba-tiba, karena sudah mematahkan harapan istri dan anak sambungnya.
"Nicholas, sekarang kamu pulang!" kembali Rehan buka suara.
Nicholas tidak memberi respon, pria itu kembali menatap ke arah Naura dengan tatapan sedih.
"Pulanglah, Nak! ikuti perintah papamu!" ujar Naura yang mengerti makna tatapan Nicholas.
"Baiklah! aku akan memanggil Nabila dulu!"
"Tidak perlu! kamu pulang sendiri saja, biarkan Nabila di sini!" cegah Rehan. Pria itu benar-benar takut kalau putranya itu kembali nekad, kalau masih tetap berada di tempat itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Naura berjalan dengan gontai menuju ruangan operasi yang lampunya masih menyala, sebagai tanda kalau operasi sedang berlangsung.
Wanita itu mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Sayang, maafkan aku! terserah kalau kamu bilang aku egois, tapi__"
"Stop dulu,Pa!" Naura menghentikan Rehan berbicara.
"Ada apa?" Rehan mengreyitkan keningnya.
"Kamu lihat lampu itu? kalau Nicholas tidak jadi mendonorkan kornea matanya, jadi kenapa operasi masih berlangsung?"
Rehan seketika terkesiap kaget, dan juga bingung.
"Iya juga ya! coba aku hubungi Nicholas lagi!" Rehan berniat ingin menghubungi putranya, tapi langsung dicegah oleh Naura.
__ADS_1
"Pa, cobalah untuk berpikir logis. Kita baru saja berbicara dengan Nicholas dan langsung melangkah ke sini. Jarak dari tempat kita tadi ke sini, hanya beberapa langkah. Kalau itu Nicholas, dari mana dia masuk dan kapan? kan tidak mungkin?"
Rehan seketika mengangguk-anggukan kepalanya. "Iya juga ya? jadi kalau bukan Nicholas, siapa?" ucap pria itu dengan alis bertaut.
"Nggak ada gunanya kamu bertanya padaku, Pa, karena aku juga tidak tahu. Tapi terlepas dari itu, yang jelas kalau memang Nathan tetap dilakukan operasinya, tanpa mengorbankan Nicholas aku sangat lega," tutur Naura.
Rehan menganggukkan kepalanya, karena jujur,pria itu juga ikut merasa lega.
Kemudian, pria itu kembali menatap ke arah Bastian dan Dava, yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Kalian berdua tahu kan kalau sebenarnya bukan Nicholas yang akan mendonorkan kornea matanya pada Nathan?" tukan Rehan dengan nada menuntut.
"Iya, Om. Tadi kami sudah berusaha untuk mengatakannya, tapi Om meminta kami untuk diam. Om sama sekali tidak memberikan kami kesempatan untuk berbicara," sahut Bastian.
"Terlepas dari kak Nicholas yang punya niat untuk mendonorkan kornea matanya, kami sama sekali tidak tahu. Tapi, sebelum Kak Nicholas memiliki niat itu sudah ada orang yang berbaik hati untuk mendonorkan kornea matanya," Dava buka suara menimpali ucapan Bastian.
"Kalau boleh tahu, siapa orangnya? kami sangat ingin sekali tahu. Dia pasti ada di sekitar sini kan?" Rehan kembali mendesak.
"Emm, bagaimana ya mengatakannya. Kamu sebenarnya tidak berhak untuk memberitahukannya pada Om dan Tante, tapi karena sudah didesak, mau tidak mau kami akan mempertemukan Om dan Tante ke orang itu, dan bertanya sendiri. Tapi, apa tidak sebaiknya kita menunggu sampai operasi Nathan selesai dulu?" tutur Dava panjang lebar.
"Tapi, Om dan Tante sudah sangat penasaran, ingin melihat orangnya. Dia pasti ada di salah satu kamar rumah sakit ini," ujar Naura.
"Tapi, Tan, kalau kita pergi menemui orangnya sekarang, bagaimana kalau operasinya selesai dan ketika dokter keluar tidak ada satupun keluarga yang menunggu?"
"Sayang, benar kata Bastian. Sebaiknya kita urungkan saja dulu niat untuk menemui orang itu, menunggu sampai operasi Nathan selesai.
Naura menarik napas dalam-dalam dan menghela napasnya,pasrah.
Sementara itu, dari arah yang tidak terlalu jauh dari mereka ada sosok pria yang mendengar semua apa yang mereka bicarakan.
"Semoga operasi kamu berjalan lancar dan kornea mata itu cocok buatmu, Nathan!" bisik pria itu pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tbc
Siapa sih sebenarnya si pendonor itu? 🤔