
"Kamu tinggal di mana,Nak?" tanya Nurdin yang seketika merasa tertarik untuk mengenal Nathan lebih dalam.
Nathan tersenyum sembari menyebutkan sebuah flat yang merupakan hunian yang biaya sewanya paling murah di London dan memiliki fasilitas yang standard.
"Wah, apa kamu betah tinggal di sana?" tanya Nurdin lagi.
"Betah kok, Kek. Walaupun standard, tapi masih nyaman untuk ditempati," sahut Nathan.
"Emmm, sebenarnya tujuan kamu datang ke London buat apa? kamu mau kuliah ya?"
"Di visa saya memang tertulis, tujuan untuk kuliah,Kek, tapi aku memutuskan untuk menunda dulu, karena aku masih harus banyak belajar, agar bisa bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya yang sudah dipastikan hebat- hebat,"
Nurdin mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Tapi, kalau aku lihat dan aku sangat yakin kalau kamu sebenarnya siap untuk langsung kuliah. Aku merasa kalau kamu itu cepat beradaptasi dengan apapun termasuk di bidang akademik. Kakek sarankan lebih baik kamu langsung kuliah saja. Untuk urusan daftarnya biar nanti aku minta asistenku yang mengurus," Nurdin memberikan usul.
Nathan terdiam tidak memberikan tanggapan. Pemuda itu justru menatap pria tua di depannya dengan alis bertaut.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Nak Alex?" alis Nurdin juga bertaut tajam.
"Aku penasaran, Kek. Kenapa Kakek begitu baik padaku, padahal kita baru saja bertemu hari ini. Apa kakek tidak takut kalau aku ini orang jahat?"
Nurdin terdiam, bingung mau memberikan jawaban apa.
"Iya juga ya? kenapa aku dengan mudah percaya pada anak ini?" bisik Nurdin pada dirinya sendiri.
"Kenapa, Kek?" Nathan mengulangi pertanyaannya.
"Itu karena Feeling aku yang kuat,Nak. Hatiku bilang, kalau kamu itu orang baik, jadi aku percaya kata hatiku. Jika, nanti kamu memang jahat, biarlah itu kesialanku sendiri," Nurdin memberikan jawaban yang bijaksana.
"Kalau begitu, terima kasih, Kek buat pemikiran positif yang Kakek berikan padaku. Baiklah, seperti yang Kakek katakan tadi, aku harus kuliah karena lebih cepat lebih baik. Di samping itu, aku ada janji yang harus aku tepati pada seseorang di Indonesia," ucap Nathan dengan tegas.
"Apa dia orang yang kamu cintai?" Nurdin tersenyum, menggoda.
Nathan tidak membantah maupun mengiyakan, tapi dari senyum pemuda itu yang tampak malu, bisa ditarik kesimpulan kalau dugaan Nurdin benar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di tanah air tampak Nicholas sedang menggulung lengan kemejanya dengan wajah yang berbinar. Kenapa wajah pria itu terlihat bahagia? itu karena dia mendengar sendiri percakapan papanya dengan seorang pria yang ingin menjodohkan putrinya dengan Nicholas .
Nicholas tahu jelas kalau pria rekan papanya itu adalah seorang pengusaha terkenal sekaligus papa dari seorang gadis yang sudah berhasil mencuri hatinya belakangan ini.
Nicholas mematut dirinya di depan cermin, memastikan kalau penampilannya sudah sempurna untuk bertemu dengan sang gadis pujaan atau belum. Ya, sang gadis pujaannya tadi menghubunginya dan mengajak untuk bertemu karena ada hal yang ingin dibicarakan oleh gadis itu padanya.
__ADS_1
"Kamu memang sangat tampan, Nicho! siapa sih yang tidak akan takluk di bawah pesonamu? tak terkecuali dia ... dia pasti akan terpesona denganmu, Tampan!" ucap w berbicara pada bayangannya sendiri di cermin.
Setelah dirasa penampilannya sudah maksimal, Nicholas keluar dari dalam kamar dan sambil bersiul kecil, berlari menurunkan tangga.
"Wah, sepertinya kamu sedang gembira, Nicho! kamu mau bertemu calon menantu mama ya?" tanya Naura yang selama dua bulan ini tidak seceria dulu. Senyum wanita setengah baya itu, Tidak setulus dulu lagi, semenjak tidak ada kabarnya Nathan.
"Iya nih,Ma. Mama tahu saja!" ucap Nicholas tersenyum lebar.
Naura tersenyum tipis dan hanya sekilas. Entah kenapa ada rasa tidak rela di dalam hatinya ketika mendengar rencana perjodohan Nicholas dengan gadis itu.
"Doa in ya, Ma! biar dia mau dan cintaku berbalas," ucap Nicholas lagi dan Naura mengangguk lemah.
Melihat anggukkan kepala mamanya yang sepertinya tidak ikhlas, membuat Nicholas mengembuskan napasnya. Dia merasa sikap mamanya seperti itu, masih berhubungan karena rasa kehilangannya pada Nathan dan dia cukup maklum dengan itu.
"Ma,aku pergi dulu ya!" Naura mengangguk dan Nicholas tersenyum sembari mencium pipi Naura, kemudian berlalu pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nicholas tiba di sebuah restoran tempat dia janjian makan malam dengan gadis pujaannya. Mata pria itu mengedar untuk mencari keberadaan gadis itu. Ketika dia melihat seorang gadis yang sedang duduk sendirian, sebuah senyuman manis terselip di bibir Nicholas, karena gadis yang dilihatnya itu adalah gadis yang ingin dia temui malam ini.
"Hai, apa kamu sudah lama menunggu?" tanya Nicholas begitu sudah berdiri di dekat gadis itu.
Gadis itu tampak sedikit terjengkit kaget karena posisi gadis itu yang sedang melamun tadi. Gadis itu sontak menatap Nicholas dan menatap pria itu dengan sangat tajam.
"Jangan hancurkan rambutku! aku tidak suka!" cetus gadis itu sembari merapikan rambutnya kembali.
"Maaf deh!" Nicholas terkekeh sembari mencubit hidung bangir milik gadis itu dengan gemas.
Gadis itu dengan cepat menepis tangan Nicholas dan kembali mendelik ke arah Nicholas.
"Udah, jangan marah-marah! apa kamu sudah pesan makan?" Nicholas mengalihkan pembicaraan, sembari meraih buku menu yang ada di meja dekat dia duduk. Pria itu sengaja langsung terlihat fokus pada buku menu untuk menutupi rasa sakit di hatinya ketika tangan gadis di depannya itu, menepis tangannya dengan sangat keras tadi. Nicholas memang menyadari kalau gadis pujaannya itu tidak memiliki perasaan pada untuknya. Namun, dia percaya kalau lambat laun sang pujaan pasti akan luluh nantinya.
"Aku sudah pesan minum karena aku tidak mau makan. Kalau Kakak mau mau makan ya silakan!" jawab gadis itu dengan ketus.
"Kenapa tidak mau makan?" Nicholas mengrenyitkan keningnya.
"Karena tujuanku memang tidak mau makan. Aku hanya ingin membicarakan sesuatu pada Kakak," ucap gadis itu.
"Apa itu, Renata?"
Ya, gadis yang bisa membuat Nicholas jatuh cinta adalah Renata, gadis yang polos yang bisa membuat jiwa playboy Nicholas menghilang.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kakak menolak perjodohan ini, karena aku tidak mau dijodohkan dengan kakak.
Hati Nicholas seketika sakit seperti ada yang sedang menancapkan pisau di atas. Namun, pria itu masih berusaha untuk bersikap tenang seakan tidak terusik dengan penolakan Renata.
"Kenapa kamu tidak mau? apa karena kamu masih ingin kuliah? kalau iya, kita juga tidak akan menikah cepat kan? aku akan menunggu sampai kamu Lulus kuliah." ucap Nicholas menyimpulkan sendiri alasan kenapa Renata bisa keberatan.
"Bukan karena itu!"
"Jadi, karena apa?" Nicholas mengrenyitkan keningnya.
"Karena aku tidak memiliki perasaan apapun pada Kakak,"
"Seiring berjalannya waktu, perasaan itu akan bisa timbul kan? apalagi jika kita banyak menghabiskan waktu bersama,"
"Tapi tetap tidak bisa Kak!"
"Tidak bisa kenapa? kamu tidak boleh mengatakan tidak bisa kalau belum dicoba dulu,"
"Karena sebenarnya sudah ada laki-laki yang aku cintai, dan itu Nathan!"
Bagai tersambar petir di siang bolong, Nicholas tersentak kaget dan benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ta-tapi bukannya Nathan sudah pergi jauh?"
"Aku tahu itu, tapi dia pernah berjanji sebelum pergi kalau dia akan kembali lagi ketika dia sukses nanti. Dia akan membuktikan pada papa kalau dia bisa membahagiakanku dengan usaha dia sendiri tanpa harta dari papa,"
"Dan kamu percaya itu?"
"Tentu saja aku percaya. Walaupun sekarang aku tidak tahu dimana dia berada, tapi aku yakin kalau dia tidak akan pernah ingkar janji. Aku rasa kak Nicholas juga sudah mengerti Nathan," ucap Renata dengan sangat yakin.
"Tapi, aku tidak yakin, Renata! kalian berdua masih remaja, usia kalian berdua masih labil dan kalian pasti akan berubah seiring bertambahnya usia. Sangat tidak logika jika seorang pria tampan seperti Nathan tidak akan bertemu dengan perempuan-perempuan yang mungkin jauh lebih cantik di luar sana. Jadi, kamu jangan terlalu naif dan percaya begitu saja, Renata!" ujar Nicholas, tidak kalah yakin dengan Renata.
Renata tercenung, mulai terpengaruh dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Nicholas. Namun, detik berikutnya gadis itu sontak menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Apapun yang kakak katakan, aku tetap yakin kalau suatu saat Nathan akan kembali dan menepati janjinya," ucapnya menyangkal ucapan Nicholas.
"Bagaimana kalau aku tetap mau melanjutkan perjodohan ini? karena bagaimanapun kedua orang tua kita sudah sepakat dan ditambah aku yang sudah jatuh cinta padamu membuatku sangat berat untuk melepaskanmu untuk Nathan sekalipun dia itu adikku,"
"Arghhn pokoknya aku tidak mau!" Renata berdiri dari tempat dia duduk dan beranjak pergi meninggalkan Nicholas yang mengusap wajahnya dengan kasar.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa untuk tetap meninggalkan jejak ya guys. Like, vote dan komen. Kasi hadiah juga boleh 😁