
Langit kini sudah dipenuhi dengan bintang-bintang. Suasana malam di sekitaran London Eye terlihat begitu indah, tapi keindahan itu tidak benar-benar bisa dinikmati oleh Nathan.
Pemuda itu berjalan dengan langkah gontai sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Entah kemana dia melangkah, diapun tidak tahu. Dia membiarkan kemana saja kedua kakinya membawanya. Pemuda itu masih benar-benar belum tahu, keputusan yang hendak dia ambil.
Tiba-tiba dari arah belakangnya, sebuah mobil berkecepatan tinggi, dengan sengaja menghampiri Nathan sehingga pria itu tidak sempat lagi untuk menghindar. Alhasil tabrakan pun tidak bisa dihindari lagi, dan tubuh Nathan terhempas.
Pandangan Nathan seketika terlihat buram, hanya saja dia masih bisa mendengar suara-suara riuh yang mendekati dan mengelilinginya, sebelum akhirnya pria itu tidak sadarkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Naura berkali-kali pingsan di depan sebuah ruangan gawat darurat di mana putra yang baru saja dia temukan itu, ditangani oleh tenaga medis.
"Sayang, tolong jangan begini! kamu harus kuat. Di mana Naura yang dulu? yang kuat dan bisa bertahan sampai sejauh ini," ucap Rehan yang kali ini terlihat begitu rapuh.
"Pa, aku baru saja bertemu dengan putraku. Aku baru saja ingin menghabiskan waktu yang terbuang cuma-cuma, tapi kenapa harus seperti ini? apa sekarang gantian dia yang akan melupakanku? kalau iya, aku benar-benar tidak sanggup, Mas," ucap Naura lirih. Mata wanita itu sudah terlihat mengecil karena kebanyakan menangis.
Dari arah lain tampak Bastian dan Dava datang dengan sedikit berlari.
"Bagaimana? apa yang menabrak Nathan sudah ditangkap?" tanya Rehan tanpa basa-basi.
"Sudah, Om. Namanya Jeslyn. Katanya, dia merasa sakit hati karena cintanya ditolak mentah-mentah oleh Nathan. Sekarang, dia sudah ditangani oleh polisi dan selalu menangis histeris, meminta maaf pada Nathan," terang Bastian dengan napas yang memburu.
"Brengsek! aku akan pastikan, dia dihukum dengan hukuman seberat-beratnya," umpat Rehan dengan mata yang berkilat-kilat penuh amarah.
"Bagaimana, keadaan Nathan, Om?" Dava buka suara, tidak sabar mengetahui kondisi sahabatnya itu.
"Kami masih belum tahu. Dari tadi belum ada dokter yang keluar dari dalam," ucap Rehan lirih.
"Bagaimana keadaan cucuku?" Nurdin yang masih belum sepenuhnya sembuh, memaksakan diri untuk keluar dari ruangannya, begitu mendengar apa yang menimpa Nathan cucunya.
"Papa! kenapa Papa ke sini? Papa sebaiknya kembali ke dalam kamar Papa. Papa belum sembuh benar," Rehan terlihat panik.
"Bagaimana aku bisa berdiam di dalam kamarku, sedangkan kondisi cucuku belum diketahui. Kamu kira aku bakal bisa tenang? yang ada aku kepikiran. Aku mau tetap di sini!" tolak Nurdin mentah-mentah.
Rehan mengembuskan napasnya dengan berat tidak bisa membantah keinginan mertuanya itu, karena dia tahu jelas sifat mertuanya itu sangat mirip dengan Naura istrinya.
Pintu ruangan tempat Nathan mendapat pertolongan, tiba-tiba terbuka dan semua yang berada di tempat itu, langsung menghambur menghampiri dokter.
"Bagaimana kondisi anakku, Dok?" tanya Naura yang tentunya menggunakan bahasa Inggris. Wanita setengah baya itu terlihat benar-benar tidak sabaran.
Dokter itu tidak langsung menjawab, tapi menerbitkan seulas senyuman di bibirnya.
__ADS_1
"Anak anda, tadi memang sempat kritis. Tapi kalian semua tenang saja, karena sekarang dia sudah melewati masa kritisnya," terang dokter itu, membuat semua yang mengkhawatirkan Nathan mengembuskan napas lega.
"Oh ya, tadi pasien memanggil nama ...." Dokter itu menggantung ucapannya karena lupa sekaligus sulit menyebutkan nama yang memang langka di telinganya.
"Renata, Dok!" seorang perawat membantu mengingatkan sembari memberikan kertas yang bertuliskan nama Renata yang sempat dituliskannya tadi.
"Oh, iya. Nama itu. Dia menyebut nama itu dengan mata terpejam," sambung dokter itu kembali.
Naura kembali menangis sesunggukan.
"Ini pasti gara-gara aku. Aku yang berapi-api bicara mengenai pertunangan Nicholas dan Renata. Walaupun kita sudah menyangkalnya, dia pasti tidak percaya. Dia akhirnya tidak fokus dan akhirnya tidak bisa mengelak tabrakan itu. Ini semua salahku!" Naura kembali menyalahkan dirinya.
"Sayang, sayang, dengarkan aku! ini semua bukan salahmu. Ini semua sudah takdir," Rehan berusaha menenangkan Naura.
"Om, Rehan benar, Tante. Jangan menyalah diri sendiri lagi. Seandainya Nathan tidak tahu masalah itupun, kemungkinan kecelakaan ini juga bisa terjadi, karena Jeslyn sudah merencanakannya jauh-jauh hari," Dava buka suara menimpali ucapan Rehan.
Naura terlihat mulai sedikit lebih tenang mendengar ucapan suami dan sahabat putranya itu. Wanita itu mengatur napasnya dan kembali menatap dokter.
"Dok, satu lagi yang mau aku tanya, anakku tidak akan lupa ingatan kan? dia tidak akan melupakanku kan?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.
"Maaf, Nyonya. Aku belum bisa memastikannya. Kita akan tahu, setelah pasien siuman. Untuk itu, begitu pasien siuman, harap panggil aku segera!" Dokter itu akhirnya pamit dan mengizinkan keluarga Nathan untuk melihat kondisi Nathan sekarang.
Jari-jari Nathan mulai terlihat bergerak-gerak pertanda kalau pemuda itu sudah mulai sadar. Naura yang duduk di dekat ranjang putranya itu, seketika menyadarinya.
"Pa, lihat tangan Nathan bergerak!" pekik Naura dengan girang.
Rehan, Nurdin, Bastian dan Dava yang masih berada di ruangan itu, sontak berdiri dan menghambur mendekati ranjang Nathan.
Nathan terlihat membuka matanya perlahan, namun hanya sebentar, karena detik berikutnya pria itu kembali memejamkan matanya.
"Nathan, kenapa kamu memejamkan matamu lagi, Nak?" tanya Naura yang seketika kembali panik.
Nathan kembali membuka matanya, dia berusaha melihat ke sekitar dengan raut wajah yang ekspresinya sungguh membingungkan orang-orang yang berada di ruangan itu.
"Ma,kalian di mana? kenapa semuanya gelap?
pertanyaan Nathan seketika membuat semua orang yang berada di ruangan itu kaget.
"Nathan, kamu jangan bercanda! mama berdiri di sampingmu. Masa kamu tidak bisa lihat?" ucap Naura dengan panik.
"Di mana,Ma?" Nathan mengangkat tangannya berusaha untuk mencari keberadaan Naura.
__ADS_1
"Semuanya gelap, Ma. Kenapa aku tidak bisa melihat, Mama?" ucap Nathan lagi sembari meraba-raba tangan mamanya yang sudah berhasil dia genggam.
Melihat hal itu, sontak membuat Naura kembali menangis dan Rehan bergerak dengan cepat menekan tombol yang berada di atas ranjang anak sambungnya itu, guna memanggil dokter.
Tidak menunggu lama, Dokter yang tadi menangani Nathan sudah masuk ke dalam ruangan.
"Dok, kenapa dengan anakku? kenapa dia tidak bisa melihatku?" tanya Naura dengan tidak sabar.
"Sabar ya, Nyonya! aku periksa dulu!" dokter itu melangkah menghampiri Nathan dan segera melakukan pemeriksaan di mata pemuda itu.
Dokter itu terlihat menghela napas dengan berat, pertanda kalau ada sesuatu yang buruk terjadi dengan mata Nathan.
"Bagaimana, Dok? apa yang sebenarnya terjadi?" Naura kembali mendesak.
"Emm, begini Nyonya, Tuan, anak anda Nathan, mengalami kebutuaan karena kornea matanya mengalami kerusakan akibat dari kecelakaan,"
Bagai petir di siang bolong, Naura seketika tersungkur hampir jatuh begitu mendengar penjelasan sang dokter.
"Ti-tidak mungkin!" bukan Naura yang memekik melainkan Nathan sendiri.
Bastian dan Dava dengan sigap menghampiri Nathan dan menahan tubuh Nathan mencegah agar pemuda itu tidak mengamuk.
"Sabar, Nath! kamu tenang dulu!" bujuk Bastian.
"Tenang bagaimana, Sialan! aku tidak bisa melihat lagi. Mimpi-mimpiku sudah musnah! buat apa aku masih hidup?" pekik Nathan mengumpat pada Bastian.
"Kamu jangan putus asa! pasti ada solusinya," Bastian merasa tidak sakit hati dengan umpatan Nathan.
"Enak sekali mulutmu bicara! coba kamu ada di posisiku, apa kamu masih bisa bicara seperti itu? hah!" bentak Nathan lagi, membuat Bastian terdiam, tidak bisa menjawab, karena memang kalau dia ada di posisi Nathan, bisa dipastikan kalau dia pasti akan histeris dan sulit untuk bisa menerima keadaannya.
"Kenapa kamu diam? kamu tidak bisa jawab kan? sudah kuduga. Mulut kita memang mudah untuk memberikan semangat karena bukan kita yang mengalaminya. Seharusnya aku langsung mati saja, karena dengan keadaanku begini, aku akan menyusahkan orang -orang dan tentu saja akan jadi benalu seperti yang dikatakan kak Angga selama ini," suara Nathan mulai melemah seiring dengan air mata yang menetes.
"Dok, apa mata anakku masih bisa kembali seperti semula?" Rehan buka suara.
"Emm, begini Tuan. Mata putra anda akan bisa sembuh kalau mendapat donor mata. Namun, seperti yang anda ketahui agak sulit untuk mendapatkan orang yang ikhlas mendonorkan matanya," terang dokter itu, yang membuat Rehan dan yang lainnya lemas.
Tbc
Apa yang akan terjadi selanjutnya? apakah akan ada orang yang mau mendonorkan matanya?
maaf ya, konfliknya agak sedikit berat, tapi tenang saja, masih lebih berat beban hidup emak-emak kok, di mana harga cabe dan minyak goreng mahal. 😀
__ADS_1