
Hari berlalu begitu cepat tidak terasa sudah seminggu semenjak Nicholas meminta Nathan untuk menghadiri peresmian pertunangan kakak sambungnya itu dengan gadis yang dia cintai.
Kaki Nathan kink sudah menapak di bumi Indonesia setelah beberapa menit lalu pesawat yang membawanya dari Inggris mendarat dengan sempurna di bandara Soekarno Hatta.
Nathan menarik napas dalam-dalam menghirup udara Indonesia yang sangat dia rindukan.
Nathan mencegat sebuah taksi dan langsung mengatakan tujuannya, yaitu rumah tempat dia dibesarkan bersama kedua kakaknya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, tidak henti-hentinya Nathan menoleh ke kanan dan ke kiri, karena sudah banyak perubahan yang dia lihat.
Perjalanannya hanya memerlukan kira-kira satu jam an agar tiba di rumah, apalagi tidak ada kemacetan yang terlalu berarti yang Nathan rasakan sepanjang jalan.
Nathan turun dari taksi dan melihat rumah dengan mata yang berkaca-kaca. Walaupun tidak banyak kenangan yang menyenangkan dia rasakan di rumah itu, tapi setidaknya rumah itulah dulunya tempat dia bernaung, terhindar dari panas dan hujan.
"Rumah ini tidak terlalu banyak berubah," batin Nathan sembari melihat ke sekeliling.
Nathan menekan bel di pintu dan menunjukkan ada yang membukan pintu untuknya.
Tugas pintu terlihat berputar, pertanda ada seseorang yang akan membukakan pintu untuknya.
Benar saja, pintu tampak terbuka dan memunculkan sosok kakak yang kaget melihat kehadirannya.
"Nathan? kamu pulang, Dek?" tanya Arsen, sedikit tidak percaya.
"Iya, Kak!" sahut Nathan singkat pada dan jelas, sembari menyelipkan seulas senyuman di bibirnya..
Arsen membalas senyum Nathan dan langsung memeluk adiknya itu.
"Ayo masuk!" Arsen membuka pintu lebar-lebar memberikan jalan pada Nathan.
Nathan masuk dan seperti tadi di awal. Pemuda itu mengedarkan tatapannya melihat ke segala penjuru ruangan.
"Kenapa kamu tidak pulang ke rumah Om Rehan?" lanjut Arsen kembali seraya mengrenyitkan keningnya. Pria itu kini sudah berdiri di belakang Nathan.
"Kenapa aku harus ke sana? rumahku kan ini," sahut Nathan lugas.
"Walaupun di sana ada mama, tapi rumahku tetap di sini kan Kak? atau Kakak, tidak suka kalau aku kembali ke sini?"
"Siapa yang tidak suka? justru kakak sangat bahagia," sangkal Arsen. "Kamu pulang dalam rangka apa? kenapa kebetulan bertepatan dengan acara pengumuman pertunangan Nicholas dan Renata nanti malam?" Arsen mengreyitkan keningnya.
__ADS_1
"Ya, karena aku memang ingin menghadirinya," senyum Nathan terlihat jelas sedikit dipaksakan.
"Emm,kamu tidak apa-apa kalau harus menghadirinya? kamu tidak sakit hati?"
Nathan menggelengkan kepalanya. "Kalau dibilang tidak sakit, munafik kalau aku bilang tidak. Tapi, bukannya ini adalah keinginanku? jadi mau tidak mau aku harus berlapang dada untuk menerimanya kenyataan," sahut Nathan, tersenyum miris.
Arsen menghela napasnya dengan cukup berat. Pria berusia 27 tahun itu, tersenyum sembari menepuk-nepuk pundak Nathan. "Kamu memang memiliki hati yang besar, Dek," ucapnya, jujur.
"Oh ya, Kak. Aku bisa pinjam handphone kamu? aku belum menyesuaikan nomorku dengan nomor Indonesia. Aku mau menghubungi Kak Nicholas," Nathan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nih, pakailah!" Arsen menyerahkan ponselnya.
Nathan kemudian mencari nomor Nicholas dan ketika ketemu, dia langsung menghubungi kakak sambungnya itu.
"Iya, Arsen!" terdengar suara Nicholas dari ujung telepon.
"Ini Nathan, Kak, bukan Kak Arsen,"
"Nathan? apa kamu sudah ada di Indonesia?" pria di ujung sana terdengar kaget.
"Iya. Aku sekarang ada di rumah Kak Arsen. Nanti malam aku akan datang di acara peresmian pertunangan kakak dengan Renata," sahut Nathan.
Terdengar embusan napas dari ujung sana. Sepertinya Nicholas mengembuskan napas lega, mendengar kalau Nathan sudah tiba di Indonesia.
"Tentu saja aku merindukan mereka, tapi rumahku kan di sini ... tapi, Kakak jangan salah paham dulu. Bukannya aku tidak menganggap kalau rumah kak Nicholas bukan rumahku, tapi aku tumbuh besar di rumah ini, jadi aku harus kembali ke sini," tutur Nathan, dengan sangat hati-hati.
"Oh, baiklah kalau seperti itu. kalau begitu, aku akan kirimkan jas yang akan kamu pakai ke rumah Arsen ya?"
"Sepertinya tidak perlu, Kak." tolak Nathan dengan cepat. " Aku kebetulan punya jas sendiri," lanjut Nathan, lagi.
"Tapi, kamu harus tetap pakai jas ini, karena kebetulan kita semua memakai warna jas yang sama, termasuk Arsen. Tidak mungkin kan, kamu memakai yang beda?"
"Oh, seperti itu? ya udah, kirimkan aja ke sini, Kak," pungkas Nathan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam masih menunjukkan pukul 1 siang. Jadi masih menunggu sekitar enam jam lagi, sebelum acara dimulai. Nathan akhirnya memutuskan untuk mengunjungi makam kakak sulungnya, ditemani oleh Arsen.
Nathan berjongkok dan menyentuh batu nisan yang bertuliskan nama lengkap kakak sulungnya itu.
__ADS_1
"Hai, Kak, apa kabar! aku sudah datang! terima kasih ya, atas cahaya yang kakak berikan padaku? berkat cahaya itu, aku bisa meraih impianku sesuai yang kamu inginkan. Kakak bahagia kan di sana?" ucap Nathan, sembari membelai batu nisan Angga.
"Kak, aku merindukanmu. Kalau dulu aku sangat ingin memelukmu, tapi kini aku sangat sedih karena aku hanya dapat menyentuh batu nisanmu ini," tanpa sadar mata Nathan mulai meneteskan air mata.
"Sudahlah, kamu jangan menangis lagi! Kakak sudah bahagia di alam sana," hibur Arsen sembari menepuk pundak adiknya itu.
Nathan memejamkan matanya sekilas dan menghela napas yang cukup berat. Kemudian pria itu mulai menaburkan bunga dan menyiram air ke atas makam Angga.
"Sekarang sebaiknya kita pulang! lain kali kita ke sini lagi," ucap Arsen sembari berlalu pergi.
"Kak, kami pulang dulu! aku berjanji kalau aku akan lebih sering datang sini, mengunjungimu," pungkas Nathan, yang kemudian berlalu pergi menyusul Arsen.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak, apa kakak tidak memiliki seorang kekasih? apa kakak tidak ingin mengakhiri masa lajang kakak?" tanya Nathan ketika mereka dalam perjalanan pulang.
Bukannya menjawab, Arsen malah terkekeh mendengar perkataan adiknya itu.
"Kenapa Kakak tertawa? apa ada yang lucu?" Nathan mengrenyitkan keningnya.
"Kakak malu mengatakannya," sahut Arsen ambigu.
"Kenapa harus malu?" Nathan terlihat semakin bingung.
"Apa kamu masih ingat, kak Sita?" tanya Arsen.
Nathan terlihat berusaha mengingat nama wanita yang disebutkan oleh kakaknya itu.
"Oh iya, aku masih ingat kakak itu. Bukannya dia kekasihnya kak Angga?"
"Iya. Tapi sekarang dia calon istriku,"
"Hah, bagaimana bisa?" Nathan terkesiap kaget.
"Hmm, Kakak juga tidak menyangka. Awalnya aku hanya ingin menghiburnya dan menjaganya sesuai permintaan Kak Angga, tapi, seiring berjalannya waktu, aku jatuh cinta padanya, walaupun usianya lebih tua dariku. Ternyata cintaku bersambut walaupun awalnya sangat sulit untuk mendapatkan hatinya. Sekarang, kami sudah berencana untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan, tiga bulam ke depan. Awalnya aku merasa seperti sedang menghianati kak Angga, tapi akhirnya aku merasa kalau sebenarnya ini sudah menjadi takdir kami, karena yang namanya jodoh, pasti tidak akan kemana," tutur Arsen panjang lebar.
"Wah, kalau seperti itu, aku akan pastikan semua biaya pernikahan kakak, aku yang tanggung," ucap Nathan, tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.
"Tidak usah! kamu lupa siapa Kakak? aku sudah memiliki penghasilan yang cukup besar dan dapat memberikan pernikahan yang mewah untuknya," jawab Arsen.
__ADS_1
"Aku tahu itu. Bukannya aku ingin merendahkan kakak, tapi izinkan aku untuk tetap menanggung semua biaya pernikahan kakak,".
Tbc