Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Kita menikah saja!


__ADS_3

"Berani sekali kalian mengganggu kekasihku? apa kalian semua sudah bosan hidup?" ucap Nicholas dengan raut wajah dingin.


"Dan kamu ... siapa namamu?" Nicholas menunjuk ke arah Rian yang raut wajahnya sudah berubah pucat seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali.


"Ri-Rian!" jawab Rian yang masih berusaha menunjukkan ekspresi biasanya.


"Ya, entah siapapun namamu, aku tidak peduli. Aku cuma mau mengingatkanmu, berani kamu sekali lagi menghina Anisa, jangan salahkan aku, kalau membuat restoran kamu ini hancur, apa kamu mau hal itu terjadi?" Nicholas terlihat santai,tapi tatapannya penuh dengan ancaman.


"Maaf, tidak akan. Aku janji! tapi, tolong jangan hancurkan restoranku! sebagai permintaan maafku, kalian bisa makan sepuasnya dan gratis," pungkas Rian akhirnya. Pria itu tidak mau mengambil resiko.


"Kamu jangan minta maaf padaku, tapi minta maaf pada Anisa!"


Rian beralih menatap Anisa, "Nisa, maafkan aku!" ucapnya sembari meraih tangan gadis itu.


"Hei, kamu aku minta untuk meminta maaf, bukan untuk menyentuhnya!" bentak Nicholas dengan sorot mata yang kembali tajam.


"Ma-maaf!" Rian sontak melepaskan tangan Anisa.


"Wah, akting Pak Nicholas sangat totalitas, salut," Anisa membatin dalam hati.


"Anisa, Renata ayo kita pergi dari sini. Kita makan di tempat lain saja. Dan aku ingin mengingatkan jangan pernah makan di restoran ini lagi!" entah kenapa, kemarahan Nicholas benar-benar terlihat nyata. Dia benar-benar marah atau hanya ingin menyempurnakan aktingnya hanya dia yang tahu.


Nicholas meraih tangan Anisa dan menarik gadis itu keluar. Sementara itu Renata hanya bisa mengekor dari belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka bertiga kini sudah tiba di parkiran. Entah kenapa Renata merasa tidak enak seakan dirinya adalah makhluk tidak kasat mata yang berada di antara Anisa dan Nicholas.


Beruntungnya, handphonenya tiba-tiba berbunyi dan itu dari Nathan.


"Halo, Sayang!" sapa Renata dengan wajah berbinar bahagia.


"Sayang kamu di mana? apa sudah selesai makan siangnya? kalau belum biar aku menyusul ke sana. Kebetulan pekerjaanky baru saja selesai," ucap Nathan dari ujung sana.


"Aku belum makan siang, tapi kamu tidak usah menyusulku ke sini. Kami sudah keluar dari restoran karena ada sesuatu masalah terjadi,"


"Masalah apa? apa kamu tidak apa-apa?" terdengar kalau pria di ujung sana muka khawatir.


"Aku nggak pa-pa kok. Kamu tenang saja!" sahut Renata.


"Jadi sekarang kalian mau makan siang di mana, biar aku datang menyusul,"


Renata tidak langsung menjawab. Gadis itu justru menjauh sedikit dari Anisa dan Nicholas.

__ADS_1


"Sayang, sepertinya kita lebih baik makan siang berdua saja. Karena sepertinya Kak Nicholas dan Anisa mau menghabiskan waktu berdua," ucap Renata dengan nada pelan.


"Apa Kak Nicholas ada juga di sana? bukannya tadi kamu bilang hanya kamu dan sahabatmu itu saja?


"Tadinya hanya kami berdua, tapi tiba-tiba Kak Nicholas datang menyusul. Udah ah, sekarang kita ketemu di restoran mana?"


Nathan pun menyebutkan nama restoran yang sangat ingin dia kunjungi.


"Baiklah! see you there!" Renata, menyetujui.


"Apa perlu aku jemput?" tanya Nathan sebelum panggilan terputus.


"Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri," tolak Renata. Tidak menunggu lama, akhirnya panggilan mereka benar-benar terputus.


Renata melangkah kembali menghampiri Nicholas dan Anisa yang dari tadi ternyata fokus memperhatikannya


"Ada apa Ren? apa Nathan mau menyusul kita?" tanya Anisa tanpa basa-basi.


"Tidak! aku dan Nathan akan makan siang berdua. Aku pergi dulu ya! nikmati kebersamaan kalian berdua, Bye!" tanpa menunggu tanggapan Anisa, Renata sudah berjalan ke arah mobilnya.


"Renata, tunggu!" Anisa mencoba memanggil Renata, tapi dengan sengaja Renata pura-pura tidak mendengar. Gadis itu tetap saja masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan sedang.


Situasi kini mulai terlihat canggung di antara Nicholas dan Anisa. Mereka berdua tidak ada yang buka suara lebih dulu.


"Sekarang kita mau kemana?" akhirnya Nicholas buka suara untuk mencairkan suasana canggung yang sempat tercipta.


"Hei, tadi aku sudah menolongmu, apa balasan seperti ini?"


"Jadi, aku harus seperti apa? apa aku harus memeluk Bapak, dan jingkrak-jingkrak karena sudah ditolong oleh pria yang kaya raya seperti Bapak? lagian, tadi Bapak tidak benar-benar menolongku, tapi Bapak justru membuat masalahku semakin bertambah," ucap Anisa dengan ekspresi kesalnya.


"Masalah semakin bertambah? maksudnya?". Nicholas mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Apa Bapak sama sekali tidak paham? coba Bapak pikirkan, dengan Bapak sok baik mengakui kalau aku ini pacar Bapak, akan semakin membuat aku semakin tertekan Pak. Kalau nanti seandainya Bapak dalam waktu dekat ini, tiba-tiba bertemu dengan pasangan Bapak yang sebenarnya, dan kalian menikah. Justru mereka tadi akan semakin meledekku. Menganggap aku dicampakkan dan mimpi terlalu tinggi. Apa Bapak tidak berpikir sampai ke arah sana? Mulai sekarang, sepertinya aku harus menyiapkan mentalku, untuk jadi bulan-bulanan mereka nantinya," pungkas Anisa sembari melangkah meninggalkan Nicholas.


Sebelum Anisa benar-benar melangkah jauh, tangan Nicholas sudah lebih dulu meraih tangan Anisa.


"Tunggu!" ucap Nicholas.


"Ada apa lagi, Pak? apa masih ada yang harus dibicarakan?"


"Kalau kamu tidak mau itu terjadi, bagaimana kalau kita realisasikan saja hubungan palsu kita menjadi nyata?"


Anisa bergeming, memicingkan matanya berusaha membaca raut wajah yang ditunjukkan oleh Nicholas.

__ADS_1


"Apa sekarang,Bapak sudah gila? atau tadi kepala Bapak terbentur sesuatu?" tanya Anisa. Gadis itu benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Nicholas.


"Tidak kedua-duanya! aku hanya menanggapi ucapanmu saja," ucap Nicholas ambigu.


"Sekarang sebaiknya kita masuk ke dalam mobil dulu, karena tidak baik kalau kita bicara di tempat terbuka seperti ini," Nicholas membuka pintu mobilnya dan membantu Anisa untuk masuk. Kemudian,dia mengitari mobil, masuk lalu duduk di belakang kemudi.


"Pak, aku punya mobil sendiri, jadi __"


"Mobilmu biar di sini dulu! nanti aku akan meminta orang untuk mengambil mobilmu itu," sahut Nicholas sembari melajukan mobilnya.


"Kenapa sih, Bapak suka bersikap semena-mena?" protes Anisa, kesal.


Nicholas tidak menjawab sama sekali. Pria itu masih terlihat fokus mengemudikan mobilnya.


"Bapak dengar aku nggak sih?" Anisa mulai meninggikan suaranya.


"Aku dengar, jadi nggak usah teriak! bisa-bisa karena suaramu, gendang telingaku jadi pecah," ucap Nicholas sembari mengusap-usap telinganya.


"Jadi, apa maksud ucapan Bapak tadi? sekarang, tolong jelaskan!" ujar Anisa berusaha untuk meredam kekesalannya.


"Kamu tidak sabaran amat sih?" Nicholas mengerlingkan matanya.


"Pak, aku tidak sedang bercanda!" Anisa mendelik.


"Baiklah! begini, mama sudah sangat ingin aku menikah dan kebetulan dia menyukaimu. Bagaimana kalau kita menikah saja dan untuk masalah perasaan, kita bisa belajar untuk saling mencintai nanti," ucap Nicholas dengan sangat hati-hati.


"What! Bapak benar-benar sudah gila!" pekik Anisa, terkesiap kaget. "pernikahan itu bukan permainan, Pak. Harus ada cinta di dalamnya. Dan mengenai Bapak yang mengatakan kalau kita akan belajar mencintai, apa Bapak kira itu gampang? bagaimana nanti kalau kita tidak pernah mencintai satu sama lain, apa perceraian menjadi solusinya?" lanjut Anisa lagi.


"Kita belum coba, bagaimana kita bisa tahu apa yang terjadi ke depannya?"


"Tapi, apapun itu kita harus tetap memikirkan akibat yang akan terjadi, sampai yang terburuk sekalipun. Jangan karena hanya ingin ketenangan yang sesaat, kita jadi mengabaikan resiko ke depannya. Coba Bapak bayangkan kalau kita berakhir dengan perceraian, karena akhirnya bapak menemukan wanita yang Bapak cintai, demikian juga aku, apa menurut Bapak,Tante Naura dan Om Rehan tidak akan sedih? bukan hanya itu saja, orangtuaku juga akan lebih sedih lagi dan merasa kalau ini adalah aib, jadi, please jangan menggampangkan segala sesuatunya," tutur Anisa panjang lebar tanpa jeda.


Nicholas tercenung mendengar ucapan Anisa. Dia tidak membantah karena memang semua yang dikatakan oleh wanita itu benar.


Mereka berdua hening untuk beberapa saat, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sampai akhirnya Nicholas mengembuskan napas dengan cukup berat. Pria itu menepikan mobilnya di tempat yang aman dan menoleh ke arah Anisa.


"Anisa, aku tahu kalau ini berat, tapi kalau kita menikah, aku berjanji tidak akan menceraikanmu, walaupun aku belum bisa mencintaimu.Kalau hal itu sampai terjadi, semua harta kekayaanku akan jadi milikmu," ucap Nicholas dengan mantap.


Mata Anisa membesar dengan sempurna.


"Pak, apa Bapak sadar dengan apa yang Bapak ucapkan barusan?" tanya Anisa memastikan.


"Iya,aku sangat menyadarinya, dan sudah yakin," tegas Nicholas. "Aku dulu sempat kehilangan cahaya hidupku karena tidak merasakan kasih sayang seorang ibu, tapi mama Naura membawa kembali cahaya itu. Jadi, aku ingin sekali membuat dia bahagia dengan merealisasikan keinginannya untuk melihatku menikah denganmu. Aku siap dengan segala konsekwensinya, karena aku yang memulai kebohongan dengan mengakuimu kekasihku," lanjut Nicholas lagi.

__ADS_1


"Tapi, maaf Pak aku tetap tidak bisa. Kenapa? karena aku bukan wanita kejam. Aku tidak mau Bapak bertahan denganku nanti hanya demi agar harta tidak jatuh ke tanganku, padahal Bapak sama sekali tidak bahagia. Aku tidak sekejam itu. Lagian ini adalah keputusan sepihak Bapak, tidak dengan Om Rehan dan Tante Naura," Anisa diam beberapa saat untuk mengambil jeda. "Tapi, karena aku melihat Bapak yang sungguh ingin membuat Tante Naura bahagia, baiklah aku bersedia. Tapi, bukan karena harta yang Pak Nicholas janjikan. Dan satu hal lagi, Bapak juga jangan sampai mengucapkan kata cerai, karena ini demi kedua orangtuaku," pungkas Anisa akhirnya setuju.


Tbc


__ADS_2