Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Malu-malu


__ADS_3

"Kenapa kamu melakukan ini? bukannya aku udah bilang nggak perlu?" bisik Anisa begitu dia sudah berhadapan dengan Nicholas dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan Nicholas belum sempat menyerahkannya bunga yang ada di tangannya.


"Emangnya kenapa? kamu nggak suka ya?" Nicholas balik berbisik.


"Aku sangat suka, kalau seandainya kamu melakukannya karena cinta, bukan karena hanya pura-pura di depan Nathan dan Renata," ucap Anisa dengan ekor mata yang melirik ke arah Renata dan Nathan.


Renata dan Nathan, yang memperhatikan dari jauh saling silang pandang, bingung melihat interaksi Nicholas dan Anisa.


"Sayang, mereka berdua sebenarnya lagi apa sih? kok malah kaya bisik-bisik?" tanya Renata dengan alis bertaut.


"Entahlah!" sahut Nathan , singkat. "Sebaiknya kita pergi dari sini, mungkin mereka malu karena merasa ditonton sama kita," lanjut Nathan lagi.


"Tapi, aku pengen lihat keromantisan mereka, Sayang," Renata mengerucutkan bibirnya seakan tidak rela, melewatkan momen romantis di depannya.


"Sudahlah, tidak perlu dilihat lagi. Kita pergi aja!" Nathan menggandeng tangan Renata dan beranjak dari tempat itu.


Sementara itu, di tempat Nicholas dan Anisa berdiri tampak kedua insan itu, sama-sama melirik ke arah perginya Renata dan Nathan.


"Nah, sekarang mereka sudah pergi, bisa kita sudahi sandiwara ini?" ucap Anisa setelah tubuh Nathan dan Renata tidak terlihat lagi.


"Apa kamu tidak mau sedikitpun menghargai usahaku? bahkan bunga ini saja belum aku berikan padamu, kamu sudah memberikan tanda penolakan," ucap Nicholas dengan nada suara yang lirih.


Anisa tercenung seketika merasa sedikit bersalah. "Baiklah, sini bunganya! terima kasih ya!" Anisa hendak meraih bunga yang ada di tangan Nicholas, begitu saja. Namun, dengan cepat Nicholas langsung menjauhkan bunga itu, sehingga Anisa tidak berhasil menjangkaunya.


"Kenapa? apa kamu urung memberikan bunga itu?" Anisa mengrenyitkan keningnya.


"Aku tidak urung memberikannya, tapi aku ingin memberikannya dengan cara yang semestinya," sahut Nicholas, tegas.


"Tapi, buat apa harus seperti itu? please jangan membuatku jadi berharap banyak padamu, dengan sikap-sikap romantis yang kamu tunjukkan!"


Nicholas tidak menjawab sama sekali, pria itu malah menatap Anisa dengan tatapan yang sukar untuk dibaca.

__ADS_1


"Lagian, aku kan nggak menolak jadi istrimu," lanjut Anisa lagi, karena ucapannya tidak mendapat tanggapan dari pria di depannya itu.


"Aku hanya ingi memenuhi impianmu yang ingin memimpikan lamaran romantis seperti ini,apa aku salah?"


Anisa menghela napasnya dengan sekali hentakan dan cukup berat. "Sebenarnya tidak ada yang salah,tapi kalau itu dilakukan karena adanya rasa cinta. Kalau tidak ada perasaan cinta di dalamnya, bukannya aku sudah mengatakan kalau rasanya pasti beda? Karena aku tahu jelas kalau ini semua penuh kepalsuan," tutur Anisa panjang lebar, tanpa jeda dan raut wajah sendu. Ada kesedihan yang tersirat dalam ucapannya.


"Udah ya, sebaiknya kita pulang saja, tapi, jujur saja, aku tetap berterima kasih padamu," lanjut Anisa lagi, sembari memutar tubuhnya hendak beranjak pergi.


"Tapi, aku melakukan ini sama sekali tidak sedang berpura-pura. Aku melakukannya karena memang aku mencintaimu!" celetuk Nicholas, tiba-tiba hingga membuat Anisa yang nyaris melangkah, berhenti melangkah dan menoleh ke belakang dengan ekspresi kaget.


"Kenapa? apa kamu tidak percaya?" tanya Nicholas, ketika melihat tatapan tidak percaya dari Anisa.


"Sejak kapan?" tanya Anisa dengan mata yang memicing.


"Aku sama sekali tidak tahu, sejak kapan. Yang jelas, semenjak kamu menolak dengan tegas, untuk bekerja sama memisahkan Renata dan Nathan, walaupun dengan berbagai keuntungan dan kerugiannya, mulai saat itu aku sudah mengagumimu. Lambat laun, entah kenapa rasa kagum itu berangsur-angsur berubah menjadi cinta, yang tidak aku sadari kapan datangnya," jelas Nicholas. Pria itu terlihat tenang, tapi sebenarnya laki-laki itu sangat gugup ditambah dengan detak jantungnya yang tidak mau diajak kompromi.


Nicholas semakin terlihat tegang, melihat wanita itu yang melihatnya tanpa ekspresi apapun. Pria itu benar-benar tidak kuat saat menatap mata Anisa, hingga membuatnya garuk-garuk kepala. "Hais, kenapa dia menatapku seperti itu sih? lututku sudah gemetaran nih," bisik Nicholas pada dirinya sendiri.


"Bukannya kamu mengatakan kalau aku cerewet dan laki-laki yang akan menjadi pasanganku akan cepat mati berdiri, jika hidup dengan orang cerewet sepertiku?" akhirnya Anisa buka suara.


Ingin rasanya Anisa tertawa mendengar ucapan yang terlontar dari mulut pria itu, tapi dia berusaha untuk menahannya.


"Kenapa kamu diam saja? kamu masih belum percaya ya?" Nicholas kembali buka suara.


"Sebenarnya, ketika aku mengajakmu menikah saat itu, benar-benar murni niat dari hatiku, bukan karena didesak oleh mama. Itu hanya akal-akalanku saja, supaya kamu bersedia,"


Mata Anisa membesar dengan sempurna, terkesiap kaget mendengar pengakuan Nicholas.


Sementara itu, Nicholas memukul mulutnya sendiri karena sudah keceplosan.


"Mati aku, kenapa aku jadi jujur sih? nanti dia jadi membatalkan pernikahan, gara-gara sudah tahu, kalau ini bukan karena didesak mama. Aku kok jadi bodoh begini sih? padahal aku kan berniat mengakuinya pas sudah sah menikah. bodoh ... bodoh!" Nicholas merutuki kebodohannya sendiri di dalam hati.

__ADS_1


"Kamu marah ya? maafkan aku! dari diamnya kamu sepertinya sudah jelas kalau kamu akan menolak menikah denganku. Maaf kalau aku sudah membuang waktumu," tutur Nicholas pasrah sembari berbalik hendak beranjak pergi.


"Jadi, kenapa kamu masih berdiri di sana? kamu tidak mau berlutut, memberikan bunga di tanganmu dan menyodorkan cincin seperti yang dilakukan pria-pria yang melamar kekasihnya pada umumnya?" celetuk Anisa tiba-tiba hingga membuat langkah Nicholas tertahan.


Pria itu sontak berbalik dan menatap Anisa yang tersenyum manis padanya. Nicholas benar-benar speechless, hingga seperti tidak memiliki tenaga untuk melangkah ke arah Anisa.


"Kenapa kamu jadi patung? apa perlu aku mengajarimu, bagaimana caranya berlutut?" kembali Anisa buka suara, menyadarkan Nicholas dari keterpakuannya.


Senyum Nicholas sontak merekah, dan menghampiri Anisa. Setelah sudah sangat dekat, Nicholas pun berlutut dan memberikan bunga pada Anisa. Kemudian dia, merogoh sakunya, dan menyodorkan cincin ke arah Anisa.


"Aku tidak mau, kata-katanya sama persis seperti ucapan Nathan ke Renata kemarin. Aku mau kata-kata romantis yang baru," belum saja Nicholas buka mulut, Anisa sudah memberikan ultimatum pada Nicholas, karena dia tahu jelas kalau kata-kata romantis Nathan saat melamar Renata adalah yang diajarkan oleh pria yang berlutut di depannya itu.


"Sial! padahal tadinya aku mau mengucapkan kata-kata itu lagi," Nicholas menggerutu dalam hati.


"Ayo kenapa kamu diam? kamu tidak punya kata-kata romantis lagi ya?" desak Anisa.


"A-ada! tunggu sebentar!" Nicholas mulai memejamkan matanya sekilas, berusaha untuk merangkai kata-kata romantis. Kemudian, dia berdeham dan menatap Anisa dengan bibir tersenyum.


"Berjuta rasa rasa yang tak mampu diungkapkan kata-kata. Dengan beribu cara-cara kau selalu membuat ku bahagia, walaupun kamu cerewet. Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan, hanyalah kau untuk selalu di sini ada untukku. Maukah kau tuk menjadi pilihanku? menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau tuk menjadi yang pertama? Yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata? Please jadilah istriku!" ucap Nicholas dengan lantang dan yakin.


Senyum Anisa merekah dan mengulurkan jarinya, "Ya,aku mau!" ucapnya tanpa keraguan sedikitpun.


"Yes! sorak Nicholas sembari memasangkan cincin ke jari manis Anisa, kemudian berdiri dan memeluk Anisa.


"Sebenarnya hari itu, kamu bilang love you kan padaku, bukan see you?" bisik Nicholas.


Anisa sontak melepaskan pelukan dan mengerucutkan bibirnya. "Masih saja kamu bahas itu, kesal ah!" Anisa menggerutu sembari membelakangi Nicholas.


"Kenapa emangnya? apa kamu malu mengakui kalau kamu juga sudah mencintaiku?" desak Nicholas sembari memeluk pinggang Anisa dari belakang.


Anisa tersenyum samar dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Tamat


Belum benar-benar tamat, karena masih ada ekstra partnya


__ADS_2