
"Ma, tolong jangan bercanda? Kak Angga, mendonorkan kornea matanya padaku? CK ... itu benar-benar sangat tidak mungkin," Nathan berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.
"Apanya yang tidak mungkin? mama tidak sedang bercanda,Nak. Nak Anggalah yang mendominasi kornea matanya untukmu," Naura berusaha meyakinkan putranya itu.
"Tidak mungkin!" Nathan kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian, dia menoleh ke arah Arsen untuk menuntut penjelasan.
"Kak Arsen, sekarang tolong jawab dengan jujur,apa yang dikatakan Mama itu tidak benar kan?" tuntut Nathan.
Arsen menghela napas dengan berat.
"Mungkin ini sudah saatnya kamu tahu. Ya, yang Mama katakan itu benar," Arsen mempertegas ucapan Naura yang beberapa hari ini sudah dia panggil 'mama'.
Nathan tersenyum smirk, menganggap ucapan mama dan kakaknya itu hanya lelucon.
"Kalian memang sangat pintar bercanda! itu benar-benar sangat tidak mungkin. Kak Angga selama ini, terang-terangan membenciku. Dan satu hal lagi, bagaimana dia bisa tahu kondisiku, padahal selama tiga tahun ini, dia sudah memutuskan hubungan denganku? dengan jelas, dia bilang setelah dia membantuku pergi, aku tidak memiliki hubungan lagi dengannya. Sekarang ... hahaha, sekarang kalian berdua bilang kalau dia yang mendonorkan kornea matanya? benar-benar lucu," Nathan kembali tertawa.
"Stop Nathan! ini sama sekali tidak lucu. Buat apa aku dan mama membohongimu? kenapa kami tidak langsung memberitahukan kamu seminggu yang lalu? itu karena kami menjaga agar kamu tidak banyak menangis, yang bisa saja memberikan efek samping pada matamu," bentak Arsen.
"Kamu bertanya, dari mana kak Angga bisa tahu, apa yang menimpa kamu kan? itu dari Dava yang ternyata selama ini diminta Kakak untuk mengawasimu dan memberitahukannya apapun yang kamu lakukan dan bagaimana kabarmu. Sekarang, coba aku tanya kamu, apa kartu yang diberikan Kak Angga padamu, saldonya selalu bertambah?"
Nathan mengangguk dengan pelan, mengiyakan.
__ADS_1
"Itu semua dari Kak Angga yang tiap bulan tetap mengirimkan bagianmu, hasil keuntungan dari perusahaan, walaupun dia tahu kalau kamu sudah memiliki uang yang berlimpah di sini. Dia mengatakan, bagaimanapun kamu tetap memiliki hak untuk menikmati hasil perusahaan," terang Arsen kembali, membuat Nathan semakin diam membeku.
"Kak, sekali lagi aku mohon, tolong jangan bercanda! aku __"
"Nathan! apa kamu tidak bisa membedakan yang bercanda atau sedang serius? Aku berani bersumpah kalau yang semua aku katakan tadi itu benar!" Arsen terlihat semakin tegas.
Nathan bergeming, diam seribu bahasa. Ingin rasanya dia tidak percaya pada ucapan kakak keduanya itu, tapi melihat keseriusan Arsen, tidak ada alasan baginya untuk tidak percaya
"Ka-kalau begitu, apa alasan Kak Angga mendonorkan kornea matanya untukku? dan bagaimana keadaan Kak Angga sekarang? kalau dia sudah mendonorkan kornea matanya, bagaimana Kak Angga bisa melihat?" ucap Nathan, terbata-bata. " Bukannya sangat jarang dokter mau menerima donor kornea mata dari orang yang masih hidup, kecuali kalau emang keinginan orang tersebut? Jangan bilang kalau ...." Nathan menggantungkan ucapan, merasa berat untuk melanjutkan apa yang hendak dia ucapkan.
"Untuk menjawab semua kebingunganmu, kamu tunggu di sini sebentar. Ada sesuatu yang dititipkan kak Angga buatmu," Arsen berdiri, melangkah menuju kamar yang dia tempati.
Tidak menunggu lama, Arsen kembali muncul dengan membawa sebuah buku diary, dan sepucuk surat di tangannya.
"A- apa ini?" tanya Nathan sembari menerima pemberian Arsen dengan tangan yang gemetar.
"Kamu lihat aja sendiri! aku tinggal dulu ya!" Arsen beranjak pergi.
"Mama juga ya!" Naura melangkah menyusul Arsen.
Tangan Nathan dengan gamang meletakkan buku Diary berwarna biru itu dan memilih untuk lebih dulu membaca sepucuk surat yang katanya dititipkan oleh kakaknya Angga.
__ADS_1
Dear Nathan
Mungkin kalau surat ini sudah sampai ke tanganmu, aku sudah tidak ada lagi, karena aku memang harus menyerah pada penyakit tumor otak, yang sudah lama Kakak idap. Oh ya, aku masih pantas kan dipanggil kakak olehmu? mudah-mudahan kamu masih mau menganggapku Kakak ya.
Ya, Nathan Kakak sudah lama mengidap penyakit tumor otak yang kebetulan katanya ganas. Selama ini Kakak berusaha untuk bertahan dan mencoba untuk tidak memperlihatkan penyakit kakak di depan Arsen dan kamu. Kenapa? karena Kakak tidak mau kalian menatap kasihan padaku, khususnya kamu.
Nathan ... Kakak hanya mau mengatakan maaf dan selamat tinggal. Aku selalu tersenyum bahagia bila mendengar kabarmu yang selalu aku tanyakan lewat Dava sahabatmu. Aku bangga padamu, karena kamu bisa kuat bertahan melawan segala terpaan badai hinaan yang selalu kamu terima mulai dari kecil. Kalau aku berada di posisimu, mungkin aku tidak akan bisa sekuat kamu. Aku juga bangga padamu, karena bisa membuktikan kalau kamu bisa sukses dengan usaha kamu sendiri. Aku memang mungkin terlalu keras padamu, tapi percayalah kalau itu benar-benar bukan dari hatiku. Maafkan sikap Kakak selama ini, yang selalu merendahkanmu dan mengucap kata-kata yang sangat menyakitkan buatmu. Tapi, sekali lagi, percayalah itu bukan dari hati Kakak.
Nathan, Kakak begitu terpukul ketika mendengar kabar kalau kamu buta akibat dari sebuah kecelakaan yang disengaja oleh seorang gadis yang terobsesi denganmu. Ingin rasanya kakak terbang ke sana, untuk melihat secara langsung keadaanmu. Namun, Kakak tidak berdaya karena Kakak sedang berada di tahap akhir perjuangan melawan penyakit itu. Sebelum Kakak pergi selamanya, Kakak ingin memberikan sesuatu yang berguna untukmu. Aku titipkan kornea mata Kakak, ya. Jaga baik-baik dan gunakan mata itu untuk bisa melihat masa depanmu yang masih panjang. Jangan pernah merasa bersalah. Jadilah Nathan yang selama ini Kakak kenal, Nathan yang kuat, dan pantang menyerah. Ingin sekali Kakak bisa memelukmu untuk yang terakhir kali sebagai seorang Kakak, tapi apa daya kakak benar-benar lemah, dan sudah tidak kuat lagi Kakak sudah kalah dengan penyakit ini dan akhirnya lebih memilih untuk berdamai dengannya daripada harus melawannya.
Selamat tinggal adikku! Jangan menangis, karena itu bukan dirimu. Kamu kuat seperti yang kamu katakan dulu, di mana kamu sudah bersahabat dengan air mata.
Salam semangat dari Kakakmu.
Angga
"Kak Angga kenapa harus seperti ini? kenapa Kakak merahasiakan semuanya?" Nathan merintih di sela Isak tangisnya.
Kemudian Nathan memejamkan matanya sekilas, dan kembali membukanya.
"Aku berjanji, Kak, kalau aku akan menjaga mata ini baik-baik. Tenanglah di sana! sejujurnya, aku tidak pernah membencimu. Aku bahkan selama ini sangat merindukan pelukan seorang kakak darimu, tapi aku tidak bisa mengungkapkannya. Kita berdua terlalu ego, untuk bisa mengungkapkan rasa sayang kita," ucap Nathan, menganggap seakan Angga ada di depannya.
__ADS_1
Kemudian, Nathan meraih buku Diary yang sudah dipastikan milik Angga kakaknya. Dengan tangan gemetar, Nathan membuka buku diary itu dan mulai untuk membaca semua rahasia yang tertulis di dalam diary itu.
Tbc