
"Renata! keluar kamu!" teriak seorang wanita yang tidak lain adalah Tania, di depan pintu pagar sebuah rumah yang sangat besar dan mewah.
"Non, Tania! tolong pergi, dan jangan buat keributan di sini!" ucap seorang pria yang memakai seragam security, dengan tegas.
"Aku tidak mau! sebelum aku bertemu dengan Om , Rajendra dan Renata, aku tidak akan pergi dari sini. Aku akan terus berteriak sampai mereka keluar," tolak Tania dengan tatapan sengit.
"Kalau kamu terus seperti itu, jangan salahkan aku akan mengusir paksa non Tania dari sini," ancam sekuriti itu.
"Coba aja kalau berani! aku akan pastikan kalau aku akan berterus sekencang-kencangnya dan bilang kalau bapa berniat melecehkanku," Tania terlihat tidak gentar. Justru perempuan itu menyeringai sinis ke arah sang sekuriti.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tiba-tiba terdengar suara bariton dari belakang sekuriti.
Sekuriti itu sontak berbalik dan membungkukkan badan pada pria yang baru muncul yang tidak lain adalah Rajendra, pria yang merupakan papanya Renata.
"Ini, Pak, ada non__"
"Om, aku mau protes pada Om," Tania dengan sigap memotong ucapan sekuriti itu sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.
"Mau apa kamu datang kemari?" Rajendra terlihat memasang wajah datar dan dingin, tidak bersikap seperti biasanya.
"Om, izinkan aku masuk dulu! aku mau bicara di dalam!" pinta Tania dengan wajah memelas.
"Izinkan dia masuk!" titah Rajendra pada satpam rumahnya sembari berlalu pergi masuk kembali ke rumah.
__ADS_1
Tania tersenyum meledek pada sang security
"Ayo buka! kamu tidak dengar ya, apa yang dibilang sama om Rajendra!" bentak Tania.
Security itu membuka pintu pagar sembari berusaha menahan emosi, karena sikap kurang ajar Tania.
"Silakan masuk, Non!" ucap satpam itu dengan nada sopan.
"Nah, gitu dong. Kalau masih hanya satpam, harus tahu diri!" celetuk Tania sembari melangkah pergi meninggalkan sang security yang menggeram sembari mengepalkan tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mau apa kamu kemari?" tanya Rajendra sembari menyilangkan kakinya. Aura pria setengah baya itu terlihat sangat dingin, bahkan dirinya tidak meminta Tania untuk duduk.
Namun, Tania sama sekali tidak peduli. Perempuan itu tanpa diminta langsung duduk begitu saja di depan sang tuan rumah.
"Om memecat papamu bukan karena masalahmu dan Renata, tapi, papamu memang pantas untuk dipecat," ucap Rajendra, ambigu.
"Pantas dipecat? maksud Om Apa?" Tania mengerenyitkan keningnya.
"Dari dulu, Om memang berniat untuk memecat papamu karena sudah banyak menggelapkan uang perusahaan. Namun,aku masih berusaha mempertahankannya, karena kamu bersahabat dengan Renata, tapi sekarang kalian berdua sudah tidak bersahabat lagi, jadi aku harus merealisasikan niatku yang sempat tertunda," jawab Rejendra masih dengan sikap santai dan dinginnya.
"Menggelapkan uang?tidak mungkin, Om! ini pasti ada orang yang sengaja ingin membuat jelek nama papa," Tania berusaha melakukan pembelaan pada papanya.
__ADS_1
"Terserah kamu mau mengatakan apa, aku tetap akan memecat papamu. Ok, dari tadi aku berusaha menahan diri untuk menendangmu keluar. Sekarang, aku sudah benar-benar muak, untuk itu, kamu tinggalkan rumah ini sekarang juga dan jangan kamu injakan kakimu lagi di sini!" Rajendra kini terlihat memasang wajah bengis. Dia tiba-tiba teringat akan cerita Renata, tentang Tania dan Roby yang hampir berniat menjebaknya.
"Aku tidak mau, Om, sebelum Om merubah keputusan Om, untuk tidak memecat Papaku. Aku janji, Om, aku tidak akan menggangu Renata lagi, jika Om membatalkan niat pemecatan papa," Tania dengan tidak tahu malunya menolak pergi dari kediaman Rajendra papanya Renata.
"Bukannya sudah aku bilang, kalau tidak ada gunanya kamu datang memohon? Sekali lagi aku katakan, kalau aku tidak akan merubah keputusanku, paham kamu! sekarang kamu keluar dari sini! Kalau tidak, aku akan panggilkan satpam untuk menarikmu keluar,"
"Gak mungkin satpam itu berani?aku bisa saja berteriak berpura-pura __"
"Coba saja kamu lakukan itu,kalau bukan kamu yang akan malu sendiri. Jangan lupa, kalau aku sudah memegang bukti video kelakuanmu," potong Rajendra, yang dari awal sudah tahu kemana arah bicara perempuan remaja di depannya itu.
Tania, terdiam sembari diselimuti oleh rasa kesal yang amat sangat. Perempuan itu sontak berdiri dan bersiap pergi dari tempat itu.
"Bagaimana mungkin aku bisa membatalkan pemecatan papanya itu, kalau cara memohon putrinya aja, pakai pemaksaan," bisik Rajendra dalam hati, sembari berdiri dari tempat duduknya, dan siap untuk meninggalkan ruangan itu. Namun langkah pria setengah baya itu langsung berhenti, begitu mendengar suara Tania yang ternyata batal meninggalkan ruangan itu
"Om, asal Om tahu, Renata putri yang Om banggakan itu, sekarang sedang dekat dengan laki-laki, bodoh dan miskin," celetuk Tania, dengan menyelipkan seulas senyum sinis.
"Kamu pergi sekarang, atau kamu akan ditarik paksa sama satpam?" Rajendra berusaha untuk tetap bersikap biasa saja dan seakan tidak terpengaruh dengan ucapan Tania.
Tania tercenung, tidak menyangka kalau papanya Renata bisa bersikap biasa seperti itu. Padahal, tadinya dia yakin kalau pria setengah baya itu akan murka pada Renata.
"Kenapa kamu masih belum pergi juga? Hah! apa kamu benar-benar mau ditarik paksa dari sini!" aura wajah Rajendra terlihat semakin dingin.
Tania akhirnya berbalik, dan berlalu pergi sembari menghentak-hentakkan kakinya.
__ADS_1
Setelah tubuh Tania benar-benar hilang, Rajendra dengan suara lantang, berteriak memanggil nama Renata. Pria itu, benar-benar berniat untuk bertanya secara langsung, kebenaran tentang ucapan Tania tadi.
tbc