
"Nathan!" pekik Renata kegirangan, dan hendak berlari ke arah pria itu. Namun, sebelum dirinya berlari, tangan gadis itu, seketika dicekal oleh salah satu dari pria itu.
"Mau kemana kamu, Hah?" ucap pria itu pada Renata yang meringis kesakitan, karena cekalan tangan pria itu sangat kencang.
Nathan sontak mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras serta wajahnya memerah melihat apa yang dilakukan pria itu.
"Lepaskan dia bangsat!" bentak Nathan dengan napas yang memburu.
"Puih!" salah satu dari pria itu meludah ke tanah dan menatap Nathan dengan tatapan meremehkan.
"Siapa kamu yang berani memerintahkanku! apa kamu bosan hidup? kalau kamu masih sayang dengan nyawamu, kamu tinggalkan tempat ini!"
Nathan mendengus dan tersenyum sinis ke arah ketiga pria itu. "Apa kalian kira aku takut? tidak sama sekali! sekali lagi aku perintahkan kalian, lepaskan dia!" Nathan menunjuk ke arah Renata.
"Hahahaha, melepaskan dia? tidak mungkin! dia terlihat sangat cantik, rugi kalau dilepaskan," ucap pria yang mencekal tangan Renata, sembari membelai lembut pipi gadis itu.
Melihat apa yang dilakukan pria itu pada gadisnya, darah Nathan langsung mendidih.
"Brengsek! rasakan ini bangsat!" Nathan dengan gerakan cepat melangkah maju dan melayangkan tendangan tepat ke arah perut salah satu dari laki-laki itu hingga terpental cukup jauh. Apa yang dilakukan Nathan, tentu saja memancing amarah dua rekannya.
Pria yang tidak sedang mencengkram tangan Renata bergerak menyerang Nathan. Namun serangannya meleset karena Nathan sudah bisa membaca gerakan pria itu. Justru pria yang menyerang Nathan itulah yang terpental, akibat tendangan Nathan yang tiba-tiba.
Sementara itu, Renata berusaha untuk melepaskan diri. Karena dirinya kalah tenaga, mau tidak mau akhirnya Renata menggigit tangan pria itu lalu menginjakkan kakinya dengan keras ke kaki pria itu. Karena merasa kesakitan, akhirnya Renata bisa terlepas.
Begitu dirinya terlepas, Renata menghambur untuk memeluk Nathan.
"Renata! jangan ke sini! bahaya!" pekik Nathan.
Karena khawatir dengan Renata, Nathan tiba-tiba kehilangan konsentrasi. Hingga salah satu dari ketiga pria itu yang berhasil berdiri, melayangkan tendangan yang diarahkan ke dada pria itu. Namun, sebelum kaki pria itu mendarat dengan sempurna ke dada Nathan, kaki itu tergantung di udara, karena ditahan oleh seorang pria bertubuh tinggi besar.
Pria tinggi besar itu, seketika memutar kaki pria penyerang Nathan, sampai memekik kesakitan.
Di lain tempat tampak dua orang rekannya juga mendapat serangan dari seorang pria yang postur tubuhnya hampir sama dengan pria penolong Nathan tadi.
Ketiga pria yang berniat mengganggu Renata itu akhirnya minta ampun dan berlari pergi.
"Anda tidak apa-apa, Tuan Nathan?" tanya salah satu dari pria itu, membuat alis Nathan bertaut, bingung.
__ADS_1
"Kalian kok tahu nama saya? apa kita pernah bertemu?"
"Oh, maaf kami belum memperkenalkan diri. Aku Damian dan rekan saya ini , Robert. Kami berdua adalah pengawal Tuan. Kami diminta oleh Tuan Nurdin untuk menjaga keamanan Tuan Nathan," sahut salah satu dari pria itu tegas.
"Kenapa aku bisa tidak tahu?" tanya Nathan.
"Oh, itu karena Tuan Nurdin memerintahkan kami agar Tuan jangan tahu dulu, karena Tuan Nurdin khawatir, anda tidak suka dengan yang namanya pengawalan, tapi kejadian tadi, mau tidak mau kami terpaksa harus menunjukkan diri kami. Tuan Nurdin, tidak mau kecolongan lagi, apalagi Tuan Nathan baru saja melakukan operasi mata," sahut pria pria yang lainnya dengan panjang lebar.
Ya, mengingat kejadian yang menimpa cucunya, Nurdin akhirnya memutuskan untuk menyiapkan bodyguard atau pengawal buat Nathan. Tadi, dia melihat Nathan keluar, jadi dia segera memerintahkan pengawal Nathan untu mengawasi pria itu dari jauh.
"Hmm, kalau begitu terima kasih buat kalian berdua!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Renata tersenyum-senyum menatap Nathan, tapi tidak dengan Nathan. Pria itu justru menatap Renata dengan tatapan tajam menuntut penjelasan.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? kamu tidak senang ya, aku ada di sini? kamu nggak merindukanku?" Renata mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Kenapa kamu ada di London? sejak kapan kamu di sini?" bukannya menjawab pertanyaan Renata, justru Nathan balik bertanya.
"Aku khawatir sama kamu.Jadi, aku kabur dari rumah. Aku di sini sudah satu minggu," sahut Renata masih dengan bibir yang mengerucut.
"Iya,"
"Tapi, kenapa kamu tidak menghubungiku?"
"Handphoneku ketinggalan di rumah karena terburu-buru datang ke sini. Makanya aku tidak bisa menghubungimu, Dava maupun Bastian. Tapi aku sudah mencarimu ke beberapa rumah sakit, tapi tidak ada namamu di rumah sakit itu,"
"Dasar bodoh!" Nathan menyentil jidat Renata.
"Ouch! sakit!" Renata mengusap-usap jidatnya. "Bukannya kamu sudah tahu kalau handphoneku ketinggalan di rumah kan? aku kan sudah kasih tahu di pesan suaraku? kamu sudah mendengarnya kan?"
"Mendengarnya? maksudmu?" Nathan mengrenyitkan keningnya.
"Bukannya kamu tadi sempat menghubungiku ? kamu menghubungiku karena sudah mendengar pesanku kan? tadi aku nggak bisa jawab karena ponselku tiba-tiba kehabisan daya," ucap Renata.
"Tunggu, tunggu dulu! aku menghubungimu dengan nomorku yang biasa menghubungimu dulu?" Renata mengangguk, membenarkan.
__ADS_1
"Sial! berarti aku sudah dibohongi Dava dan Bastian. Mereka pasti sudah tahu kamu ada di London, tapi mereka sengaja menyembunyikan handphoneku, mengatakan kalau handphoneku kemasukan air dan rusak. Pasti mereka tadi, yang mencoba menghubungimu," ujar Nathan dengan ekspresi kesal.
"Tapi, kenapa mereka melakukan hal itu? apa mereka tidak menyukaiku?" tanya Renata dengan raut wajah sendu.
"Bukan karena mereka tidak menyukaimu. Mereka pasti melakukan hal ini, supaya aku tidak khawatir, dan nekad mencarimu, padahal aku baru saja selesai dioperasi. Mereka melakukan ini demi kebaikanku. Aku yakin, kalau dalam seminggu ini, mereka pasti sibuk mencarimu, makanya mereka jarang datang menemuiku," terang Nathan.
"Sekarang,apa yang kamu lakukan malam-malam di sini?" Nathan kembali dingin.
" Aku hanya ingin mencarimu, walaupun aku tahu itu sangat mustahil bisa bertemu di sini,"
"Jadi seandainya aku tidak ada tadi, bagaimana? hah!" intonasi suara Nathan mulai sedikit meninggi. Pria itu tiba-tiba merasa kembali geram, mengingat kejadian yang baru saja menimpa, Renata.
"Maaf!" desis Renata lirih. "Kamu kenapa sih? aku datang ke sini bukannya dipeluk, tapi diomelin! Kamu nggak kangen ya padaku?" Renata mulai protes.
Nathan tersenyum simpul, kalau bisa jujur, sebenarnya dia sudah ingin memeluk wanita itu. Namun, dirinya tidak melakukan hal itu karena masih kaget dengan keberadaan gadis itu di London.
"Kamu mau dipeluk?" goda Nathan.
"Nggak mau lagi!" Renata memalingkan wajahnya ke tempat lain, dengan wajah manyun.
Nathan akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Dia menyentuh pundak gadis itu dengan lembut. "Lho, kenapa sekarang jadi cemberut. Lihat ke aku dong! apa pemandangan di sana lebih indah dibandingkan aku?" Nathan masih menggoda Renata.
"Ihh, kamu menyebalkan! aku nggak mau melihatmu!" Sekarang posisi Renata sudah membelakangi Nathan.
Nathan kembali tersenyum geli. Tangan pria itu tiba-tiba menyelusup, merangkul pinggang Renata. Dagunya dia letakkan di pundak gadis itu.
"Oh, begitu ya? sedih banget sih, aku!" godanya.
"Lepaskan ih, aku kesal sama kamu!" Renata berusaha melepaskan tangan Nathan dari pinggangnya, tapi Nathan justru semakin mengencangkan pelukannya.
"Benar, kamu mau aku lepaskan?" Nathan kembali menggoda, tapi Renata tidak merespon sama sekali.
Nathan melepaskan tangannya dari pinggang Renata, hingga membuat bibir gadis itu semakin mengerucut. Dia mengira kalau Nathan memang tidak benar-benar mau melepaskan pelukan di pinggangnya. Namun, apa yang dipikirkan Renata ternyata salah, karena Nathan ternyata malah memutar tubuhnya untuk menghadap ke pria itu. Kemudian Nathan meraih tubuh Renata ke dalam pelukannya. Seketika senyum Renata, terbit menghiasi bibirnya.
"Siapa bilang aku tidak merindukanmu dan tidak ingin memelukmu? hanya saja, tadi aku sedang kesal, karena tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, seandainya aku tidak ada di tempat ini tadi," ucap Nathan, tanpa sadar mengecup puncak kepala Renata dengan lembut.
Renata seketika merebahkan kepalanya di dada Nathan dan mempererat pelukannya di pinggang pria itu.
__ADS_1
Tbc