Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Kalut


__ADS_3

"Aku menyayangi Tante Naura karena wanita yang kamu panggil mama itu adalah wanita yang sudah melahirkanku ke dunia ini!" Nicholas yang sudah hampir mencapai pintu tiba-tiba menghentikan langkahnya, mendengar ucapan Nathan.


Nicholas kembali memutar tubuhnya dan menatap Nathan dengan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya.


"Lelucon apa lagi yang sedang kamu mainkan, Nathan? kamu kira aku akan percaya?" ucap Nicholas dengan nada sinis.


Nathan mengembuskan napasnya dan raut wajah pemuda itu kini terlihat sangat sendu.


"Aku tidak sedang memainkan sebuah lelucon, Kak. Aku mengatakan yang sebenarnya. Kakak ingat kenapa aku ingin langsung pulang dan berniat keluar dari apartemen kakak, ketika pertama kali kakak membawaku ke rumah Kakak dan mengenalkanku pada tante Naura? saat itu, aku merasa sangat kecewa melihatnya yang sudah memiliki keluarga dan merasa asing ketika menyebutkan namaku. Namun, ketika Kakak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, aku paham kenapa Tante Naura bisa, tidak mengenaliku," tutur Nathan panjang lebar, berusaha meyakinkan Nicholas.


Nicholas terdiam. Bayangan ketika pertama kali dia membawa Nathan ke rumahnya sontak berkelebat. Dia mengingat jelas wajah kaget Nathan dan sorot kebencian yang terpancar di mata remaja itu, saat pertama kali bertemu dengan Naura mamanya. Kembali pria itu mengingat kecurigaan papanya selama ini.


"Aku tetap tidak percaya," desisnya lirih.


"Aku juga mencoba untuk tidak percaya, Kak. Tapi itulah kenyataannya. Aku ditinggal dari usiaku masih 6 bulan. Aku bahkan baru tahu bagaimana wajah mamaku, dari foto yang dikirim kakakku, Kak malam di mana aku keluar dari rumah, Kak. Seandainya malam itu, Kakak Arsen tidak mengirimkan photo itu, mungkin saja aku tidak akan pernah tahu, bagaimana wajah ibu kandungku sendiri," terang Nathan lagi, sembari berusaha menahan air matanya.


"Tapi kenapa kamu tidak jujur? kenapa kamu bilang ke aku kalau kamu belum pernah bertemu dengan ibu kandungmu? hah!"

__ADS_1


Nathan memejamkan matanya sekilas dan mengembuskan napas beratnya. "Kakak mau tahu kenapa? __itu karena aku tidak ingin Tante Naura sampai kenapa-napa hanya gara-gara berusaha mengingatku. Bukannya Kakak yang bilang sendiri, kalau setiap mama berusaha mencoba mengingat masa lalunya, beliau akan mengalami sakit kepala yang amat sangat? jadi aku memutuskan untuk tidak mengatakan siapa aku sebenarnya,"


Nicholas kembali terdiam. Pria itu masih terlihat sulit untuk bisa menerima kenyataan yang baru saja terlontar dari mulut Nathan. Namun, jika mengingat semua perlakuan mamanya pada Nathan yang menurutnya terlalu berlebihan,dan mengaitkan ucapan mama tirinya Nathan saat di restoran serta bakat yang sama antara pemuda di depannya itu dengan sang mama, tidak ada alasan lagi baginya untuk menyangkal apa yang diungkapkan oleh Nathan barusan.


"Kak Nicho, aku tahu, ini mungkin sangat berat buatmu. Aku juga tidak akan memaksa agar aku diakui. Aku bahkan sekarang ingin memohon juga pada kakak, agar tidak memberitahukan kenyataan ini pada Tante Naura. Aku tidak apa-apa, kalau seumur hidup memanggilnya Tante, asalkan Tante Naura bisa bahagia, dengan tidak mengingat masa lalunya. Aku ikhlas, Kak," ujar Nathan yang kali ini sudah meneteskan air mata. Pria yang selama ini sudah lama tidak meneteskan air mata itu, kali ini dia benar-benar terlihat rapuh, sehingga air mata yang semula enggan untuk keluar, kini sudah tidak sungkan lagi memperlihatkan dirinya.


Nicholas semakin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pria itu masih benar-benar seperti bermimpi, antara siap dan tidak siap menerima kenyataan.


Nathan mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan, kemudian melangkah ke arah lemari. Pemuda itu, mengeluarkan tasnya dan memasukkan pakaiannya ke dalam. Setelah, dia rasa semua barang miliknya sudah masuk ke dalam tas,pemuda itu menggendong tasnya dan mengayunkan kaki, hendak keluar.


"Kamu mau kemana?" Nicholas kembali buka suara.


"Kamu mau membuat aku semakin terlihat buruk?"


Nathan mengrenyitkan keningnya, mendengar ucapan Nicholas.


"Maksud, Kakak?"

__ADS_1


"Dengan kamu pergi, bukan kah itu berarti membuat aku menjadi manusia yang paling jahat? aku sudah merebut kasih sayang ibu kandungmu selama ini, bagaimana mungkin aku membiarkan kamu pergi begitu saja?" ucap Nicholas tanpa melihat ke arah Nathan.


"Aku tidak menganggap Kakak seperti itu. Kamu tidak pernah merebutnya dariku, tapi takdirlah yang mempertemukan Kakak dengan Tante Naura,"


"Kenapa kamu masih memanggilnya Tante Naura?apa kamu tidak ingin memanggilnya mama?" tanya Nicholas.


"Ingin, tentu saja ingin. Itulah adalah hal yang sangat aku inginkan. Kakak tidak tahu kan, betapa sulitnya aku berusaha untuk menahan diri agar tidak menghambur memeluknya, dan memanggilnya mama? itu sangat sulit, Kak. Benar-benar butuh perjuangan untuk bisa bersikap biasa saja di depan Tante Naura. Tapi,apa mungkin aku bisa memanggilnya mama di saat dia sama sekali tidak mengingatku? Aku tidak mau, wanita baik itu, kenapa-napa hanya gara-gara aku, Kak. Biarlah semua tetap seperti biasa, yang penting aku masih bisa melihatnya tersenyum bahagia, aku sudah bahagia, Kak," ucap Nathan, sedikit emosional.


"Tapi, setidaknya di depanku kamu memanggilnya mama, jangan terus menerus Tante Naura padahal kamu tahu jelas kalau mama Naura adalah mama kandungmu,"


"Aku tidak mau hal itu menjadi kebiasaan nanti, Kak. Bisa-bisa aku tanpa sadar memanggilnya mama nantinya, saat kita sedang berbicara di depan Tante Naura," ucap Nathan.


Nicholas terdiam. Sejujurnya pria itu benar-benar merasa kalut sekarang. Di sisi lain ada rasa takut yang muncul, jika sewaktu-waktu mamanya itu tahu kalau Nathan adalah anak kandungnya, wanita itu akan melupakannya dan lebih memilih lebih memperhatikan Nathan dibandingkan dirinya, tapi di sisi lain pula, pria itu akan menjadi orang yang paling egois, kalau menutupi kenyataan itu.


"Nathan kamu jangan kemana-mana! biarlah kamu tetap tinggal di sini! kalau kamu pergi, berarti kamu tidak menghargaiku sama sekali,"pungkas Nicholas sembari beranjak pergi meninggalkan kamar Nathan.


"Kakak mau kemana?" seru Nathan sebelum tubuh Nicholas benar-benar menghilang.

__ADS_1


"Pulang!" jawab Nicholas, singkat padat dan jelas. Ya, pria itu akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah utama, walaupun malam sudah semakin larut.


Tbc


__ADS_2