
"Kak Angga, sedang apa di sini?" tanya Arsen begitu sudah berdiri tepat di depan Angga.
"Emm, ada teman kantor yang sedang sakit. Jadi, aku mengunjunginya ke sini." sahut Angga dengan gugup. "Kamu sendiri ngapain di sini?"tanya pria itu balik dengan ekor mata yang melirik ke arah tempat Nathan.
"Emm, aku ke sini karena Tante Naura sedang dirawat di sini,"
Mata Angga membesar, terkesiap kaget begitu mendengar nama Naura disebut oleh mulut Arsen.
"Tante Naura? maksudmu ...." Angga menggantung ucapannya seperti merasa enggan menyebutkan nama itu lagi.
"Iya, Kak. Ternyata Tante Naura tidak kembali selama ini karena amnesia diakibatkan tabrak lari. Selama belasan tahun, Tante itu tidak diizinkan untuk mengingat kembali masa lalunya, demi kebaikan beliau. Kepala Tante Naura akan merasa sangat sakit, kalau dipaksakan untuk mengingat. Tapi, tadi aku membuat kesalahan, berusaha membuat Tante itu mengingat papa dan kita serta Nathan. Karena itu, beliau jatuh pingsan dan koma," jelas Arsen dengan panjang lebar, dan dengan raut wajah sendu.
"Oh, seperti itu?" ucap Angga dengan nada malas. "Tuh anak kenapa?" Angga menunjuk ke arah Nathan dengan hanya menggerakkan matanya saja.
Arsen tidak langsung menjawab. Pria itu menghela napasnya dengan cukup berat dan kembali duduk di sebuah kursi besi. Kemudian, Arsen mulai menceritakan apa yang terjadi pada Nathan adik mereka, terutama tentang keinginan adiknya untuk pergi.
"Ck CK CK. Dia memang selalu saja membawa kesialan pada orang dekatnya. Baguslah dia pergi dari rumah," ucap Angga, kejam tanpa perasaan.
"Kak Angga! kenapa Kakak masih bisa berkata seperti itu? harusnya Kakak merasa empati padanya. Bagaimanapun dia adik kamu juga," tegur Arsen tidak senang.
"Tidak ada gunanya aku berempati pada dia. Buang-buang waktu saja! udah ya,aku mau pergi dulu!" pungkas Angga dengan sebuah ringisan di wajahnya, sembari beranjak pergi, tidak peduli dengan panggilan Arsen di belakangnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak Angga!" Angga yang sudah tiba di parkiran seketika menghentikan niatnya untuk membuka pintu mobilnya, begitu mendengar namanya dipanggil oleh suara yang sangat familiar di telinganya.
__ADS_1
Ya,pemilik suara itu adalah Nathan yang begitu melihat kakak sulungnya itu pergi, langsung pamit ke Nicholas dengan alasan mau ke toilet.
"Ada apa?" tanya Angga dengan dingin sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Nathan tidak langsung menjawab. Pria itu mengembuskan napasnya, seakan-akan berat untuk mengungkapkan apa yang hendak dia bicarakan.
"Kenapa diam? Tolong jangan buang waktuku! kalau tidak mau bicara, aku akan pergi!" Angga memegang handle pintu mobilnya dan bersiap hendak membukanya.
"Kak, aku mau menarik ucapanku yang tidak butuh uang kuliah yang sudah dipersiapkan oleh papa dulu," celetuk Nathan, dengan sigap sebelum kakaknya itu benar-benar masuk ke dalam mobil dan pergi.
Angga mengrenyitkan keningnya dan menjauhkan tangannya dari pintu mobilnya itu. Kemudian, pria itu kembali menatap Nathan dengan tatapan yang sangat tajam.
"Coba kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan! apa aku tidak salah dengar?"ucapnya dengan menyelipkan seulas senyuman sinis di sudut bibirnya.
"Kenapa?" tanya Angga dengan dingin.
"Hmm, kalau boleh, aku hanya ingin memintanya untuk biayaku pergi sejauh mungkin dari kota ini, bahkan kalau boleh dari negara ini. Apa boleh, Kak?" ucap Nathan yang kali ini tidak peduli lagi dengan harga dirinya.
Angga menyeringai sinis dan tertawa mengejek. "Sudah aku bilang,kamu tidak akan bisa hidup sendiri. Tapi, untuk apa kamu meminta uang itu? bukannya kamu sudah memiliki banyak uang dari hasil melukismu itu?" sindir Angga.
"Kak, aku hanya bertanya,apa aku bisa menggunakan uangnya atau tidak? kenapa Kakak mengalihkannya? kalau boleh ya Kakak jawab boleh, kalau tidak ya tidak," ketegasan Nathan kini kembali lagi.
"Boleh saja aku memberikannya, tapi dengan satu syarat. Kamu harus mengaku kalah dulu padaku. Pembuktian tentang kamu yang dengan lantangnya, berkata akan bisa hidup sendiri tanpa bantuanku, hanya hayalan semata. Apa kamu sanggup mengakuinya?" tantang Angga yang seperti berada di atas angin.
Nathan tercenung. Ingin rasanya dia memberikan pembelaan. Namun, begitu mengingat niatnya, Nathan berusaha menahan diri agar tidak mengeluarkan kalimat-kalimat sarkas pada kakak sulungnya itu.
__ADS_1
"Baik, Kak. Aku mengaku kalah! aku memang pecundang yang perkataannya tidak sesuai dengan kenyataannya," ucap Nathan, akhirnya pasrah.
"Bagus, akhirnya kamu mengakuinya juga."ucap Angga dengan raut wajah puas.
"Kamu tadi bilang kalau uangnya bukan buat kuliah tapi ingin pergi. Emangnya kamu mau pergi ke mana?"Kini Angga mulai terlihat serius.
"Belum tahu, Kak. Sebenarnya aku ingin pergi ke luar negri saja. Untuk itulah aku meminta uang kuliahku, sebagai tambahan uang yang aku punya, sebelum aku mendapat pekerjaan di tempat itu," jelas Nathan.
"Kenapa kamu ingin pergi jauh?" Angga pura-pura tidak tahu.
"Itu karena aku nggak mau membuat orang-orang yang sayang padaku, mendapat masalah, kak, jika aku terus menerus tinggal dengan keluarga itu,"
"Akhirnya kamu sadar diri juga, kalau kamu memang selalu mendatangkan masalah. Kasian mama kamu, yang menanggung kesialan yang kamu bawa. Mulai dari kamu ada di dalam kandungan, kamu memang sudah aku anggap sebagai kesialan. Karena kehadiranmu di perut mamamu itulah, membuat papa tidak jadi bercerai dengan mamamu, tapi justru membuat aku dan Arsen yang terpisah dengan mama kami," lagi-lagi Angga berucap dengan sarkastik.
Nathan tampak diam saja, berusaha untuk menahan diri agar tidak membantah sindiran-sindiran yang terlontar dari mulut kakaknya itu. Bisa saja dia balik melontarkan kata-kata pedas atas sindiran kakaknya itu, tapi mengingat tekadnya untuk pergi jauh dia mengurungkan niatnya untuk membantah.
"Baiklah, karena kamu sudah mengakuinya, aku dengan senang hati akan memberikan uang itu. Tujuan kamu mau kemana? aku sendiri yang akan membelikan tiket pesawatnya. Untuk urusan segala dokumen penting seperti paspor, visa, aku juga yang akan urus sendiri agar bisa cepat selesai."
"Terima kasih, Kak! aku berencana mau ke London," jawab Nathan dengan tegas.
"Baiklah, nanti aku akan pesan tiket untukmu ke sana. Terserah kamu mau pakai uang itu untuk apa. Mau kamu pakai untuk biaya kuliah di sana atau nggak, itu terserah kamu. Cuma, aku ingat kan sekali lagi, kalau kamu kehabisan uang di sana, jangan pernah coba menghubungiku dan meminta uang lagi. Paham kamu!"
"Paham , Kak! tapi kalau boleh, aku meminta, tolong, please Kakak jangan pernah kasih tahu pada siapapun termasuk mama, kemana aku pergi,"
Tbc
__ADS_1