Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Bab 42


__ADS_3

"Halo, Naura, kamu masih ingat aku kan?" wanita yang berdiri di ambang pintu itu menyeringai sinis ke arah Naura.


"Ka-kamu! ngapain kamu ke sini?" seru Naura dengan sedikit gemetar, tapi tetap berusaha untuk tenang.


Wanita itu kembali menyeringai sinis.


"Hmm, dari pertanyaanmu,. sepertinya kamu sudah tidak amnesia lagi. Wah, sia-siakan deh latihan aktingku tadi. Padahal aku ingin berpura-pura baik, agar aku bisa dengan mudah melenyapkanmu. Oh ya, tadi kamu bertanya mau ngapain aku datang ke sini ya? menurutmu untuk apa lagi, kalau bukan untuk membuatmu benar-benar pergi dari dunia ini?" jawabnya dengan menyelipkan senyuman licik di sudut bibirnya.


"Kamu kira kamu bisa melakukannya? kalau Tuhan belum berkehendak, kamu tidak akan pernah berhasil melenyapkanku, Murni."


Ya, wanita itu adalah Murni. Istri pertama Aditya suami Naura dulu. Wanita yang menudingnya sebagai wanita yang membuat rumah tangganya hancur, walaupun dirinya sudah mengatakan jujur kalau dia juga dibohongi oleh Aditya yang mengaku kalau dirinya belum menikah. Murnilah pelaku tabrak lari atas dirinya.


Flash back on


Naura melajukan mobilnya ke suatu tempat, di mana Murni mengajaknya untuk bertemu. Kenapa Naura mau diajak bertemu, itu karena Murni mengatakan ingin memberikan sesuatu pada ke dua putranya Angga dan Arsen.


Naura menepikan mobilnya di dekat sebuah taman, tempat mereka janjian. Entah kenapa Naura sama sekali tidak memiliki kecurigaan kenapa wanita mantan istri suaminya itu mengajaknya di tempat yang sangat sepi dan lumayan jauh dari kota. Kemudian, wanita itu melangkah masuk ke dalam taman dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Murni. Ketika matanya sudah melihat keberadaan Murni, Naura dengan langkah pasti melangkah menemui Murni.


"Mbak Murni!" sapa Naura yang berusaha untuk tetap ramah.


Murni berbalik, menoleh ke arah datangnya suara.


"Oh, datang juga kamu akhirnya," ucap Murni dengan raut wajah tidak ramahnya.


"Iya, Mbak! Mbak bilang, kalau Mbak ingin menitipkan sesuatu pada Angga dan Arsen,mana barangnya,Mbak?" tanya Naura to the point, karena dia tidak ingin lama-lama mengingat kalau dirinya meninggalkan Nathan yang masih berusia 6 bulan.


"Barangnya ... tidak ada!" Murni menyeringai sinis.


"Maksudnya?" Naura mengrenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat, tidak ada barang apapun di sini. Aku memintamu bertemu hanya untuk meminta agar kamu mengembalikan mas Aditya padaku," jawab Murni dengan wajah datar.


"Mengembalikan Mas Aditya ke kamu? bagaimana mungkin? bukannya Mbak sendiri yang memutuskan untuk bercerai? jadi, kenapa Mbak sekarang meminta aku mengembalikan mas Adit?"


"Aku meminta cerai, karena aku tidak mau dimadu. Sekarang,aku mau dia kembali lagi padaku,"


"Silakan ambil sendiri, Mbak! kalau Mas Adit mau,aku akan berikan dengan ikhlas, tapi kalau dia menolak, itu berarti aku tidak akan memberikannya padamu," sahut Naura dengan tegas.


"Brengsek! wanita ja*lang! apa kamu kira aku akan menyerah begitu saja, hah?" Murni mulai emosional.


"Aku bukan wanita ja*lang, tapi justru kamulah yang seperti itu. Mbak jangan kira, kalau aku tidak tahu sepak terjang kamu di luar. Bahkan sebelum kamu bercerai dengan mas Adit, kamu


juga sudah menduakan mas Adit kan? kamu sering bermain dengan brondong, karena mas Adit sering bekerja ke luar kota. Aku juga tahu, kenapa dulu kamu tidak mau hak asuh anak jatuh ke tanganmu, itu karena kamu tidak mau, ribet mengurus anak yang pastinya akan mengganggu kesenanganmu. Aku juga tahu, kenapa kamu ingin kembali pada Mas Adit ... itu karena kamu sudah dicampakkan oleh pria itu kan? kamu merasa tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk bisa tetap exist sebagai wanita sosialita, iya kan?" tukas Naura panjang lebar dan berapi-api dan menghilangkan panggilan Mbak. Ucapan Naura sanggup membuat Murni terdiam tidak bisa membantah ucapan Naura yang memang tepat sasaran.


"Sudah ya! sepertinya tidak ada alasan lagi aku tetap berada di sini, karena benar-benar membuang waktuku. Permisi!" Naura berbalik dan melangkah meninggalkan Murni yang Menggeram di belakangnya.


Begitu melihat Naura yang berjalan ke arah mobilnya, dengan kecepatan tinggi, Murni yang sudah dirasuki oleh rasa benci dan amarah itu melajukan mobilnya ke arah Naura. Naura yang kaget tidak sempat menghindar lagi, hingga mobil Murni dengan mulus membentur tubuh Naura. Tanpa rasa kasihan, Murni kembali melajukan mobilnya meninggalkan tubuh Naura yang terkapar di jalan.


Flash back End


Murni berdecih, kemudian mendengus mendengar ucapan Naura yang terkesan meremehkannya.


"Mungkin dulu, kamu masih bisa bertahan hidup sampai sekarang, tapi jangan harap kalau kali ini kamu akan bisa selamat dari tanganku, karena kali ini tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu. Aku akan pasty kalau kamu benar-benar mati, baru aku akan pergi,"


Naura mulai terlihat takut. Bagaimanapun dia mengakui kalau kondisinya sangat lemah sekarang, tidak mungkin bisa melawan wanita jahat di depannya.


"Kenapa sih kamu sangat berniat untuk melenyapkanku? bukannya aku sudah bilang kalau aku tidak pernah ada niat untuk merebut mas Aditya dari kamu. Lagian, harusnya kamu instrospeksi diri, kenapa mas Adit bisa berpaling darimu? bukannya itu karena sikapmu sendiri yang tidak pernah menghargai mas Adit? kamu sibuk berfoya-foya di luar dan bahkan sampai tega menelantarkan kedua anakmu di rumah. Tidak berpikir apakah kedua anakmu sudah makan atau belum, apa saja yang mereka lakukan seharian, apa kamu pernah berpikir ke arah sana?"


"DIAM! bentak Murni dengan suara tinggi. "Kamu tidak punya hak untuk mendikteku, Naura! Kamu tahu, aku pernah menyesal tidak memastikan apakah kamu sudah benaran mati dulu sebelum pergi. Sekarang, aku tidak mau hal itu terulang lagi, apalagi kamu sudah ingat segalanya, yang pastinya itu akan mengancam kenyamananku. Aku tidak mau mendekam di dalam penjara,Naura. Jadi, sekarang bersiaplah untuk pergi ke akhirat untuk bertemu dengan mas Adit yang sudah lebih dulu aku akhiri hidupnya," ucap Murni yang tampa sengaja memberikan pengakuan baru.

__ADS_1


"Apa! berarti kamu sudah membunuh mas Adit?" pekik Naura.


"Bukan membunuhnya sih? cuma mempercepat kematiannya. Aku capek kalau harus mengurus orang yang sudah sakit-sakitan seperti itu. Kamu tahu sendiri kan, kalau mas Adit punya penyakit jantung, ya ketika sakitnya kambuh, aku kasih aja obat yang bukan obat jantung. Cepat modar deh langsung. Hahahahaha!" Murni tertawa seperti seorang psikopat.


"Kamu benar-benar gila!"


"Iya, benar!" sahut Murni. "kamu tahu penyesalanku yang paling besar? penyesalanku yang paling besar itu, kenapa aku membiarkan anak kamu Nathan hidup sampai sekarang. Awalnya aku hanya tidak ingin orang-orang curiga kalau Nathan tiba-tiba meninggal. Karena ... kalau dia tiba-tiba meninggal, pasti yang akan menjadi tertuduh itu, aku. Jadi, aku membiarkannya tetap hidup, tapi aku ganti dengan membuatnya hidup seperti orang yang tidak dianggap ada. Entah kenapa,aku selalu bahagia melihat wajah anakmu itu kalau menangis. Puas rasanya! Tapi, ternyata semakin besar, dia semakin melawan, benar-benar brengsek kan?"


"Kamu benar-benar jahat, Murni! kamu tidak punya hati!" air mata Naura menetes membayangkan kehidupan yang dialami Nathan putranya.


"Jelas! aku hanya peduli dengan kebahagiaanku saja. Kalau bukan karena harta peninggalan mas Adit dikendalikan oleh Angga sekarang, aku juga mungkin sudah lama meninggalkannya," ucap Murni lagi. "Ah, sudahlah! aku tidak mau berlama-lama lagi, aku akan melenyapkanmu sekarang. Jadi, bersiaplah!" Murni berjalan mendekati Naura dengan sebilah pisau di tangannya.


Dengan lemah, Naura mencabut jarum infus di punggung tangannya dan turun dari ranjang. Dengan sekuat tenaga, wanita itu hendak berlari menghindari Murni.


"Hahahaha,mau lari kemana kamu? kali ini kami tidak akan lolos!" Tatapan Murni sekarang bak singa yang siap menerkam mangsanya.


"Tolong, jangan lakukan itu, Murni! mohon Naura.


"Hei, apa yang kamu lakukan!" tiba-tiba terdengar teriakan dari seseorang, siapa lagi dia kalau bukan Rehan yang sudah kembali bersama dengan mertuanya.


"Itu ... itu dia wanita yang mengatakan kalau cucu saya sudah meninggal," Nurdin menunjuk ke arah Murni yang wajahnya kini sudah berubah pucat.


Rehan sontak menghambur ke arah Naura yang sudah tersungkur di lantai, sedangkan Nurdin menekan tombol yang ada di atas ranjang guna memanggil dokter. Sementara Murni, melihat adanya kesempatan langsung berlari ke luar untuk melarikan diri.


"Pa, kejar dia!" ucap Naura dengan lirih.


"Kita urus dia nanti! sekarang yang penting kondisi kamu dulu!"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2