
"Mama kandung? apa maksudnya ini?" celetuk Naura, dengan kening yang semakin berkerut.
"Tante Naura kenapa bertanya seperti itu? apa Tante sama sekali tidak mengenalku?" Arsen mengreyitkan keningnya, bingung.
"Aku sama sekali tidak mengenalmu. Emangnya kamu siapa?"
"Oh, iya ya, dulu Tante pergi dari rumah, kan waktu aku dan kak Angga masih kecil. Bahkan Nathan aja masih usia 6 bulan saat itu, jadi, tentu saja Tante lupa siapa aku. Aku Arsen Tante, anak papa Aditya, suaminya Tante," jawab Arsen sembari mengulurkan tangannya.
"Aditya? suamiku? Aditya siapa yang kamu maksud? dan siapa Angga?" Naura terlihat semakin bingung.
Kini gantian Arsen yang bingung. Dia merasa tidak salah mengenal orang, tapi kenapa wanita yang di depannya itu bersikap seakan-akan tidak mengenal suaminya sendiri itu yang dia bingung.
"Angga, Tan. Anak sulung Papa. Dulu aku, sangat ingin memanggilmu mama, tapi tidak diizinkan kak Angga, makanya aku tetap memanggilmu Tante, walaupun Tante sudah menikah dengan papa. Apa Tante tidak mengingat itu?"
Naura memejamkan matanya, berusaha untuk mengingat nama-nama yang disebutkan oleh pemuda di depannya itu. Kepala Naura mulai kembali diserang rasa sakit, hal itu terlihat dari tangan wanita itu yang mulai memijat kepalanya.
"Tante kenapa? apa tante sakit?" tanya Arsen, khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Nak Arsen. Aku cuma berusaha untuk mengingat nama-nama yang kamu sebut tadi. Tapi, aku sama sekali tidak bisa mengingatnya,"
"Tan, nama tante benar Naura kan?" tanya Arsen memastikan dan Naura mengangguk mengiyakan dengan raut wajah yang meringis menahan sakit di kepalanya.
"Kak Arsen,udah dulu ya! kakak pulang aja dulu sebentar, nanti aku akan menghubungi kakak," celetuk Nathan yang kembali berusaha mencegah Arsen untuk melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih? kenapa kamu mengusirku? aku belum selesai bicara dengan Tante Naura," tolak Arsen, dengan tegas.
"Ini apartemenku, jadi kamu tidak pantas datang ke sini, walaupun Nathan itu adikmu," celetuk Nicholas yang ternyata sudah berdiri di dekat mereka bersama dengan Nabila.
"Nicholas! kenapa kamu kurang ajar begitu? dia itu tamu, jadi kamu tidak boleh bicara seperti itu!" tegur Naura sembari menatap tajam pada Nicholas.
"Tapi, Ma, aku__"
"Tidak ada tapi-tapi! ayo minta maaf!" Naura menyela ucapan Nicholas yang kembali hendak membantahnya.
"Ma?" Arsen terlihat semakin bingung mendengar Nicholas memanggil Naura,'mama'.
"Iya, dia anakku, emangnya kenapa?"
"Itu bukan urusanmu! sekarang aku mau kamu pergi dari tempat ini. Nathan, bawa kakak kamu pergi dari sini!" titah Nicholas, dengan tangan yang terkepal. Jujur, sekarang perasaan pria itu benar-benar sangat khawatir, dengan keadaan mamanya nanti jika kakaknya Nathan itu terus saja berbicara masa lalu mamanya itu.
"Kak, ayo ikut aku! kali ini, tolong ikut!" mohon Nathan memelas.
"Tapi ... sebenarnya apa sih yang terjadi? kenapa Tante Naura tidak mengenalku? kalau tidak mengingat wajahku, aku bisa maklum, tapi tidak mungkin kan, dia lupa sama nama suami dan nama anak sendiri?" Arsen masih kekeh berdiri di tempatnya, karena pria itu benar-benar penasaran.
"Kak, please ayo ikut aku! nanti aku akan jelaskan!" Nathan kembali memohon.
"Nathan, buruan bawa kakakmu pergi dari sini!" bentak Nicholas dengan suara yang sangat tinggi, karena sudah panik melihat kondisi mamanya yang terlihat kesakitan, karena berusaha mengingat nama-nama yang disebutkan oleh Arsen.
__ADS_1
"Aditya,Angga,Arsen, Nathan. Siapa sebenarnya mereka? kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya? apa aku benar meninggalkan anak berusia 6 bulan?" Naura mulai berkata-kata pada dirinya sendiri.
"Ma, jangan ambil hati omongan dia. Mama sama sekali tidak ada hubungan dengan orang-orang yang disebutnya tadi," Nicholas menahan tubuh Naura agar tidak terjatuh.
"Nathan, tunggu apa lagi? bawa pengacau itu dari sini!" teriak Nicholas. Pria itu benar-benar panik sekarang.
"Kak Arsen, ayo ikut aku!" Nathan menarik kencang tangan Arsen. Sementara itu,Arsen memutuskan untuk ikut saja kemana Nathan pergi, walaupun dirinya masih sangat penasaran. Pria itu berharap akan menemukan jawabannya nanti dari Nathan.
Bruk ....
tiba-tiba Naura yang sudah tidak kuat menahan sakit di kepalanya, ambruk.
Nathan yang nyaris menjauh, kaget dan berbalik. "Mama!" teriaknya sembari berlari menghambur ke arah Naura.
"Mama! Nabila yang dari tadi diam saja, kini berteriak sembari menangis.
Nathan tanpa berpikir panjang lagi, langsung mengangkat tubuh Naura dan berlari untuk membawa wanita itu ke rumah sakit.
"Nathan tunggu kakak di depan lobby, kakak akan ambil mobil ke parkiran!". Nicholas hendak berlari, tapi kembali berbalik dan menatap Arsen dengan tatapan membunuh.
"Ini semua gara-gara kamu! kalau ada yang terjadi dengan mamaku, aku akan mencarimu dan tidak akan membiarkan kamu hidup!" ancam Nicholas. Kemudian, pria itu kembali berlari tanpa menunggu Arsen menanggapi ancamannya.
"Apa salahku? kenapa ini bisa terjadi? apa yang sebenarnya terjadi pada Tante Naura?" bisik Arsen pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tbc