Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Kepanikan Rehan


__ADS_3

"Kenapa kalian datang sendiri? di mana orang yang kalian jemput itu? apa dia tidak jadi datang?" Naura langsung memberondong Bastian dan Dava dengan pertanyaan beruntun melihat dua sahabat anaknya itu datang hanya berdua saja, tanpa adanya sosok orang yang dikatakan sedang membawanya donor kornea mata untuk Nathan. Tampak jelas terpancar kekhawatiran di raut wajah wanita setengah baya itu. Dia takut kalau si pendonor berubah pikiran, tidak jadi mendonorkan kornea matanya.


"Dia tidak ikut ke sini, Tan. Tapi, dia benar-benar datang dan sudah memberikan kornea mata itu ke dokter. Mungkin sebentar lagi, dokter akan datang dan melakukan operasinya," sahut Bastian, membuat Naura mengembuskan napas lega.


"Tapi, kenapa dia tidak hadir di sini? apa dia sendiri yang mendonorkan matanya?" Rehan buka suara dengan alis yang bertaut.


"Emm, dia tidak mau Nathan tahu, sebelum operasinya selesai, Om. Kalau operasinya berhasil, dia bilang kalau dia akan datang," kali ini Dava yang buka suara.


"Tapi, kenapa harus berhasil dulu operasinya? kenapa tidak sekarang aja? apa bedanya sekarang dan nanti?" Rehan terlihat sangat penasaran, demikian juga dengan Naura dan Nurdin.


"Untuk alasannya apa, kami sama sekali tidak tahu. Nanti,silakan Om tanya aja sama orang yang bersangkutan," pungkas Dava, lugas.


"Aku yakin, kalau kalian berdua pasti tahu alasannya apa. Tolong jangan berteka-teki!" Entah kenapa Rehan merasa hatinya tidak nyaman sama sekali.


"Om ... kami __"


"Keluarga dari Tuan Nathan Alexander! pasien akan segera dibawa ke ruang operasi dan kami akan langsung melakukan mengangkat kornea mata yang rusak dan menggantinya dengan kornea yang baru. Mohon doanya agar operasinya berjalan lancar!" tiba-tiba dokter yang menangani Nathan muncul, hingga membuat Bastian urung berbicara.


Semua orang yang berada di tempat itu, seketika melupakan perdebatan mereka. Mereka menghambur mendekat ke arah ruangan Nathan, menunggu pemuda itu dibawa ke ruang operasi.


Tidak menunggu lama, tampak 4 orang perawat keluar sembari mendorong brankar di mana ada Nathan yang terbaring di atasnya.


"Ma, Pa, Kek, di mana kalian?" tangan Nathan terangkat mencoba mencari keberadaan ketiga orang yang dipanggilnya tadi.


"Kami di sini, Nak!" Naura meraih tangan Nathan dan menggenggam tangan putranya itu dengan erat.


"Ma, apa operasinya akan berjalan lancar? aku akan bisa melihat lagi kan,Ma?" jujur saja, Nathan saat ini benar-benar dalam ketakutan dan khawatir dan dia butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya.


"Percayalah,Nak! kamu akan sembuh dan akan bisa melihat lagi! Doa mama menyertaimu. Begitu juga doa papa, Kakek, sahabat-sahabatmu," ucap Naura,mencoba menenangkan hati putranya. Padahal dirinya sendiri pun sama takutnya dengan Nathan.


"Bukan hanya kami, tapi Renata juga!" Dava buka suara menimpali ucapan Naura.


"Renata? bagaimana dia bisa ikut mendukungku, sementara dia tidak tahu apa yang terjadi dan saat ini dia pasti sudah sangat membenciku," desis Nathan dengan lirih.

__ADS_1


"Maaf, Nathan! Renata berulang kali menghubungimu. Karena kasihan, aku menghubungi dia balik dan tindak sengaja memberitahukan kondisimu sekarang," terang Dava, dengan sangat hati-hati.


"Kenapa kamu begitu lancang?" Nathan mulai terlihat murka.


"Sekali lagi,Maaf! dia memintaku untuk merekam suaranya dan memperdengarkan padamu. Kamu mau kan mendengarnya?"


Nathan tidak menolak maupun mengiyakan. Namun dari ekspresinya, Dava tahu kalau sahabatnya itu bersedia mendengar suara Renata.


Kemudian, Dava menghampiri Nathan dan mendekatkan ponselnya ke telinga pemuda itu.


"Nathan, aku tidak tahu kenapa kamu tidak memberitahukanku tentang kondisimu. Tapi, aku berharap bukan karena kamu membenciku karena sudah tahu pertunanganku dengan Kak Nicholas. Asal kamu tahu, aku di sini akan selalu menunggumu dan perasaanku tidak akan pernah berubah sedikitpun. Kamu yang semangat ya! aku yakin kamu pasti bisa kembali melihat. Kalaupun nantinya kamu tidak bisa melihat lagi,aku tetap bersedia menjadi mata untukmu, sekalipun papa bahkan dunia menentang. I Love You and I miss you!"


Nathan seketika merasa terharu mendengar suara perempuan yang dia cintai. Dia seperti memiliki semangat tinggi untuk bisa melihat lagi.


"Dok, aku siap untuk melakukan transplantasi kornea mata!" ucap Nathan dengan semangat.


"Baiklah! mari kita ke ruang operasinya sekarang!" titah dokter itu pada empat orang perawat itu.


"Tapi tunggu dulu, Dok! apa si pendonor ada di sini? aku sangat ingin berterima kasih dan ingin tahu apa alasannya mau mendownload matanya," cegah Nathan tiba-tiba.


Dokter itu memberikan isyarat melalui matanya agar pada perawat itu kembali mendorong brankar ke ruang operasi.


Sementara itu, Rehan yang masih belum merasa tenang, kembali menghampiri Bastian dan Dava.


"Sekarang tolong kasih tahu aku siapa sebenarnya pendonornya?" desak Rehan, yang membuat dua pria itu berdecak sembari menggaruk-garuk kepala masing-masing yang sama sekali tidak gatal.


"Jangan bilang kalau yang


mendonorkan kornea matanya itu Nicholas! bukan dia kan?" tukas Rehan, mengungkapkan kegundahannya.


Bastian dan Dava terlihat kaget mendengar dugaan Rehan. Bukan hanya kedua pria itu, Naura dan Nurdin juga kaget mendengar dugaan Rehan.


"Pa, kenapa kamu bisa berpikir kalau itu Nicholas?" Naura mengrenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Aku berusaha menghubunginya dari kemarin, tapi tidak tersambung sama sekali. Aku ini papanya, darahku mengalir di dalam darahnya. Jadi, kami memiliki ikatan batin yang kuat. Sama seperti ikatan batin antara kamu dan Nathan. Aku tahu kalau Nathan anak kandungmu yang otomatis anak sambungku, tapi aku tidak akan pernah rela kalau anakku sampai mengorbankan dirinya," ucap Rehan dengan napas yang memburu.


Naura terdiam. Wanita itu tidak bisa marah atas ucapan suaminya, karena jika dia ada di posisi suaminya itu, dia juga pasti tidak akan rela.


"Sekarang, kalian berdua jelaskan, siapa pendonornya!" Rehan kembali mengalihkan tatapannya pada Bastian dan Dava.


"Om, sebenarnya yang menjadi pendonor itu__"


"Papa! Mama!" tiba-tiba seorang gadis yang baru saja lulus SMA menghambur lari ke arah Rehan dan Naura. Siapa lagi dia kalau bukan Nabila anak hasil dari pernikahan mereka.


"Nabila? kamu kenapa ada di sini? kamu datang dengan siapa?" tanya Rehan dengan perasaan yang semakin tidak karuan.


"Aku datang dengan kak Nicholas. Aku juga ingin tahu keadaan kak Nathan," sahut Nabila sembari bergelayut manja di lengan sang papa.


"Nicholas? kalau kamu dengan dia, jadi di mana dia sekarang?" desak Rehan sembari melihat ke arah dari mana putrinya itu datang.


"Kak Nicholas tadi, memintaku lebih dulu untuk menemui papa dan mama. Katanya, dia ada urusan penting," sahut Nabila.


"Sudah kuduga, dia pasti yang bersedia berkorban," Rehan melesat berlari menuju ruang operasi. Bukan hanya pria itu, Naura juga ikut menyusul suaminya.


"Om, Tante! tunggu dulu! Jangan __" teriakan Bastian terputus, karena kedua orang itu sudah menjauh, dan yang pastinya tidak akan peduli dengan panggilannya.


"Sebaiknya kita susul mereka!" tanpa sadar Dava menarik tangan Nabila.


"Eh, lepaskan tanganku! kamu salah tarik!" Nabila berusaha menepis tangan Nabila.


"Eh, maaf! ayo Bas!" Dava kali ini menarik tangan Bastian.


"Kek, ini sebenarnya kenapa sih? kenapa papa dan mama panik? kenapa juga kedua laki-laki tadi ikutan panik?" Nabila mengrenyitkan keningnya.


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Sekarang sebaiknya kita ke kamar kakek sebentar. Kakek belum terlalu kuat untuk berlama-lama berdiri dan duduk. Nanti setelah kakek merasa enakan, kita susul mereka ke ruang operasi,"


Nabila mengangguk dan menuntun kakeknya itu menuju kamar perawatan.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2