
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam waktu Indonesia barat. Renata baru saja selesai mandi, bahkan rambutnya masih terbungkus dengan handuk.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan gadis yang semakin beranjak dewasa itu melangkah ke arah Nakas di man dirinya meletakkan ponselnya.
Kening gadis itu berkerut melihat sebuah nomor yang sama sekali dia tidak kenal dan bisa dipastikan kalau kode nomor si pemanggil itu berasal dari luar negeri.
"Halo!" sapa Renata dengan suara yang sangat pelan dan terkesan hati-hati.
"Halo Renata!" sahut suara seorang laki-laki dari ujung sana.
Renata membesarkan matanya, begitu mendengar suara yang walaupun sudah cukup lama dia tidak mendengarnya, tapi masih benar-benar sangat familiar di telinganya. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Nathan, pria yang sangat dia rindukan sekarang.
"Na-Nathan?" ucap Renata lirih dan gugup. Jantung gadis itu seakan terpompa sehingga bisa berdetak dengan sangat cepat antara percaya dan tidak percaya pada pendengarannya.
"Ternyata kamu masih mengenal suaraku," ucap Nathan dengan sangat lembut. Pemuda itu sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah gadis yang juga dirindukannya itu.
"Ja-jadi ini benaran kamu?" Renata masih yakin tidak yakin.
"Jadi, menurut kamu siapa? kalau tidak percaya, akan aku alihkan ke panggilan video,"
"Jangannn!" pekik Renata, menolak.
"Kenapa kamu tidak mau? apa kamu tidak mau melihatku lagi?" bisa dipastikan kalau kening Nathan di ujung sana pasti berkerut.
"Bu-bukan seperti itu! tapi, aku belum dandan, kepalaku bahkan masih terbalut sama handuk. Aku malu kamu melihat keadaanku begini." terang Renata, dengan suara yang sangat lirih.
"Sejak kapan kamu punya malu? bukannya selama ini kamu __"
"Nathan, bisa diam nggak sih!" pekik Renata, menyela ucapan Nathan.
Sementara itu, Tawa Nathan terdengar pecah di ujung sana.
"Sekarang kamu jawab panggilan videoku ya! aku gak peduli, bagaimanapun penampilanmu saat ini, bagiku kamu tetap cantik," tanpa menunggu jawaban Renata, Nathan sudah mengalihkan panggilan biasa ke panggilan video, hingga membuat Renata kalang kabut, bingung antara mau menjawab atau tidak.
"Aduh, aku harus bagaimana ini? aku malu dengan penampilanku sekarang," batin Renata sibuk menggigit-gigit ujung jari jempolnya.
Di satu sisi dirinya sangat merindukan bisa melihat wajah Nathan, tapi di satu sisi lagi, entah kenapa gadis itu merasa tidak percaya diri tampil apa adanya di depan pria yang dia cintai itu.
Renata melompat dari tempat tidurnya dan langsung melepaskan handuk dari atas kepalanya. Kemudian gadis itu, buru-buru menyisirnya.
"Arghh, disisir basah begini kok rambutku jadi seperti tikus yang kecebur got ya? kok jadi lebih bagus di tutup handuk lagi," Renata menggerutu sembari mengacak-ngacak rambutnya.
Wanita itu meraih handuknya kembali. Belum sempat dirinya menggelung rambutnya, gadis itu tiba-tiba berhenti dan meraih ponselnya.
__ADS_1
"Aku sebaiknya jawab dulu, nanti keburu putus panggilannya," Renata menekan tombol jawab, tapi tidak memperlihatkan wajahnya.
"Ren, kamu di mana? kok yang terlihat hanya langit-langit kamarmu?" Nathan bersuara dari arah handphone.
"Aku di sini! tunggu sebentar!" sahut Renata sembari sibuk menutup rambutnya kembali menggunakan handuk.
Setelah selesai, dengan perlahan dan hati-hati Renata meraih ponselnya dan memunculkan wajahnya dengan sangat perlahan sembari menggigit bibirnya.
Mata wanita itu seketika membola melihat wajah Nathan yang tersenyum manis di sebrang sana. Senyum yang sangat dia rindukan. Seketika mata itu berkilat-kilat karena cairan bening yang sudah penuh dan siap tumpah dari wadahnya. Renata melihat wajahnya Nathan sekarang terlihat lebih tampan dan berkharisma.
Seketika situasi berubah canggung, karena tidak ada satupun dari mereka yang buka suara.
Mata Nathan tetap intens menatap wajah Renata dengan dalam-dalam membuat Renata seketika grogi.
"Ke-kenapa sih kamu lihat aku seperti itu?" ucap Renata dengan nada malu-malu.
"Kenapa? emangnya ada yang salah? aku hanya ingin melihat wajahmu sepuasnya. Ternyata tanpa riasan sedikitpun, kamu tetap cantik bahkan lebih cantik," puji Nathan yang membuat rona merah muncul di pipi gadis itu. Tidak ada yang tahu, kalau sekarang sebenarnya Renata ingin sekali melompat-lompat kegirangan dan menari-nari mendengar pujian pria yang sebenarnya sangat pelit dalam memuji itu.
"Haaa, kamu gombal!" ucap Renata, sembari mengalihkan tatapannya ke tempat lain, agar wajah malunya tidak diketahui oleh Nathan.
"Aku tidak gombal! aku berucap sesuai dengan fakta. Kamu kenapa melihat ke arah lain? kamu tidak mau ya melihatku? kamu tidak kangen padaku?" goda Nathan, yang sebenarnya tahu kalau wanita di layar ponselnya itu sedang malu.
Renata perlahan-lahan mulai kembali menatap Nathan, walaupun rasa malunya masih tersisa.
"Apa kamu benar-benar, Nathan yang kukenal?" Renata mengerenyitkan keningnya.
"Karena Nathan yang kukenal itu kaku, seperti robot. Susah tersenyum dan kalaupun harus tersenyum pasti terlihat dipaksakan. Tapi, sekarang kamu terlihat berbeda. Kamu bisa bercanda dan melontarkan gombalan,"sahut Renata, membuat Nathan terkekeh.
"Senyum dan sisi lainku, hanya aku tunjukkan padamu. Atau kamu mau aku bersikap manis pada wanita lain di sini?" goda Nathan.
"Tidak boleh! kamu hanya bisa berubah manis di depanku, dan jadi robot kembali di depan perempuan lain!" Renata mengerucutkan bibirnya, hingga membuat Nathan semakin tertawa di sebrang sana.
"Apa itu suatu perintah dari seorang putri raja?"
"Iya, itu perintah dan harus kamu laksanakan!" ucap Renata dengan tegas.
"Siap, laksanakan tuan putri!" ujar Nathan tidak kalah tegas, hingga membuat Renata tertawa.
"Kamu sudah makan malam?" tanya Renata mengalihkan percakapan, berusaha membuka pembicaraan baru agar tidak canggung.
"Makan malam? di sini masih siang, Ren. Aku sengaja meneleponmu jam segini karena aku tahu kalau di Indonesia sudah malam dan kamu pasti sudah di rumah,".
"Sebenarnya kamu ada di mana sih, Nath?" tanya Renata yang sudah mulai tidak canggung lagi.
__ADS_1
"Coba kamu tebak!" bukannya memberikan jawaban, justru Nathan membiarkan gadis itu menebak sendiri.
"Ya, aku mana tahu. Nanti aku cari tahu deh.Tapi kalau dilihat dari kode nomornya, sepertinya dari benua Eropa sana. Apa tebakanku benar?"
"Kamu ternyata masih sepintar dulu. Iya, kamu benar! tapi, aku mohon jangan beritahu pada siapapun, khususnya kak Nicholas,"
Mendengar nama Nicholas disebutkan oleh Nathan, membuat mood Renata seketika berantakan karena merasa bersalah pada pria di depannya itu, yang sudah bisa dipastikan tidak tahu kalau status gadis yang dia cintai sudah menjadi tunangan kakaknya sendiri.
"Kenapa dengan wajahmu? kenapa kamu tiba-tiba berubah sedih?apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Nathan mengrenyitkan keningnya.
"Ti-tidak ada kok!" ucap Renata dengan cepat. "Aku hanya ingin bertemu denganmu. Kapan kamu akan pulang? apa kamu masih ...." Renata menggantung ucapannya karena takut kalau ucapannya itu akan menyinggung perasaan Nathan.
"Sebenarnya, kalau mengikuti kata hati, begitu melihat wajahmu, ingin sekali aku pulang ke Indonesia sekarang, dan memelukmu, tapi masih ada hal yang harus aku selesaikan di sini. Aku masih belum lulus kuliah, Ren. Tapi, kamu tenang saja, janjiku pada papamu, sebentar lagi akan terealisasi. Aku sudah memiliki usaha di sini walaupun belum sebesar perusahaan papamu. Kalau semuanya sudah berjalan dengan lancar, aku akan kembali dan menepati janjiku,"
"Aku mohon jangan lama-lama ya!aku tidak mau kalau kamu sampai didahului oleh orang lain,"
"Maksudnya?" kening Nathan kembali berkrenyit.
"Ti-tidak apa-apa!" sahut Renata dengan cepat dan gugup, hingga membuat Nathan semakin curiga.
Tok .. tok tok
tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Renata.
"Ren, ini papa. kenapa kamu tidak keluar kamar dari tadi? Kita makan malam dulu yuk!" yang mengetuk pintu di luar sana ternyata adalah Rajendra papanya Renata.
"Nath, ada papa di depan kamarku. Aku diminta untuk turun makan malam, bagaimana ini?" bibir Renata terlihat manyun.
"Emangnya kenapa? Kan memang sudah waktunya makan malam. Udah dulu ya, lain kali aku akan menghubungimu lagi,"
"Tapi, aku masih kangen,Nath!" rengek Renata dengan manja, hingga membuat Nathan merasa gemas.
"Kamu makan dulu! nanti calon papa mertuaku itu, marah. Kebetulan tugas kuliahku sudah selesai, jam 9 nanti aku akan telepon kamu lagi. Kalau di sini kebetulan masih jam 3 sore kan?"
"Renata! kamu lagi tidur ya, Nak?" kembali terdengar suara Rajendra dari arah pintu.
"Iya,Pa! tunggu sebentar!" sahut Renata.
"Ya udah, aku tunggu nanti ya! bye!" panggilan akhirnya terputus dan Renata langsung melangkah ke arah pintu.
Renata membuka pintu dengan senyum yang tidak pernah tertanggal dari bibirnya, hingga membuat alis Rajendra bertaut tajam, curiga.
"Kenapa kamu senyum-senyum? apa ada sesuatu yang menggembirakan tejadi?" tanya Rajendra sembari melihat ke dalam kamar Renata.
__ADS_1
"Tidak ada sama sekali, Pah. Ayo kita turun!" Renata menautkan tangannya di lengan sang papa dan melangkah menuruni anak tangga.
Tbc