
Acara pertunangan Nicholas dan Renata berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana, walaupun tidak tampak sedikitpun senyuman di bibir Renata. Akan tetapi, ada sesuatu yang aneh dengan acara pertunangan ini, di mana acaranya tidak mengundang tamu seperti biasanya. Acara itu hanya dihadiri oleh dua keluarga itu saja.
"Sayang, kenapa dari tadi wajah kamu terlihat murung?" bisik Rehan pada Naura sang istri.
"Tidak ada apa-apa kok, Pa. Aku hanya merasa sedikit pusing saja," sahut Naura memberikan alasan.
"Hmm,aku tahu kenapa kamu tidak terlihat bahagia, Sayang. Kamu pasti merasa tidak rela kalau Renata bertunangan dengan Nicholas, karena kamu menginginkan Nathan lah yang seharusnya bersama dengan Renata," ucap Rehan yang sayangnya hanya berani dia ucapkan di dalam hati saja.
"Emm, kamu pusing ya? kalau begitu, kamu duduk di sana saja, karena tidak enak kalau kita langsung pulang. Nanti Rajendra dan istrinya akan berpikir yang aneh-aneh," Rehan menunjuk sofa yang terletak di sudut ruangan.
"Tidak usah, Pa. Nggak enak juga kalau aku duduk jauh dari kalian. Kesannya aku menghindar dari mereka," tolak Naura, sembari menerbitkan seulas senyum yang terkesan terpaksa di bibirnya.
Sementara itu, di area kolam renang kediaman Rajendra, tampak Renata duduk termenung, merenung tentang hubungannya dengan Nathan, pemuda yang sangat dia rindukan sekarang.
"Nathan, bagaimana kabarmu sekarang? di mana kamu? aku kangen!" gumam Renata sembari menyeka cairan bening yang menetes dari sudut matanya.
"Kamu tahu ... aku sekarang sudah bertunangan dengan kakakmu yang licik itu. Aku harap kamu secepatnya pulang karena aku takut begitu aku lulus kuliah, aku akan langsung dinikahkan dengan pria licik itu." kembali Renata bergumam berharap ucapannya bisa didengar oleh pemuda yang ada di pikirannya sekarang.
"Ternyata kamu di sini? aku dari tadi mencari kamu!"
Renata terjengkit kaget karena mendengar suara seseorang yang muncul tiba-tiba. Gadis itu seketika menoleh ke arah datangnya suara dan melihat sosok pria yang sekarang ini sangat dia benci. Siapa lagi sosok itu kalau bukan Nicholas. Pria yang dia anggap pria paling egois setelah papanya.
"Mau ngapain kamu ke sini?" cetus Renata sembari kembali menatap ke depan.
Nicholas tersenyum dan mendaratkan tubuhnya duduk di samping gadis yang sekarang sudah menjadi tunangannya itu.
"Tentu saja mencari tunanganku yang tiba-tiba menghilang," sahut Nicholas santai. Pria itu sama sekali terlihat tidak terpengaruh atas sikap Renata yang sinis padanya.
"Jangan sok manis di depanku! semanis apapun kamu, tidak akan pernah membuatku luluh, dan mencintaimu. Asal kamu tahu, aku benci pada mantan pacarku Roby, tapi rasa benciku tidak sebesar rasa benciku padamu. Kamu lebih licik dari Roby."
__ADS_1
"Jangan samakan aku dengan mantan pacarmu itu! kami berdua jelas-jelas berbeda,"
Renata berdecih dan mendengus mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Nicholas.
"Apa bedanya kalian berdua? kamu dan dia itu sama, sama-sama licik, karena sama-sama memanfaatkan keadaan, cuma beda posisi saja. Dia memanfaatkanku, karena aku anak papa Rajendra, sedangkan kamu ... kamu memanfaatkan kekayaan dan kuasa papamu untuk mencapai keinginanmu, walaupun kamu tahu jelas kalau aku mencintai Nathan orang yang sangat dekat denganmu. Kamu memanfaatkan situasi, di mana Nathan sedang berjuang sekarang untuk membuktikan dirinya bisa sukses," ucap Renata panjang lebar dan sinis.
Nicholas kembali tersenyum. Tangannya tiba-tiba bergerak mengacak-acak rambut Renata. "Kamu lucu deh kalau sedang marah seperti ini. Makin cinta deh aku," Pria itu seakan tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan sinis yang baru saja terlontar dari mulut Renata.
"Tolong singkirkan tanganmu! jangan harap kalau kamu bersikap manis seperti ini, perasaanku bisa berubah. Tidak akan!" pungkas Renata sembari menepis tangan Nicholas dengan kasar. Gadis itu juga langsung berdiri dari tempat dia duduk dan langsung berlalu pergi meninggalkan Nicholas tanpa pamit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, jauh di kota London, tampak seorang pria tua berjalan menuju sebuah kamar yang sekarang ditempati oleh Nathan. Siapa lagi pria tua itu kalau bukan Nurdin.
Ya, hari ini adalah hari pertama Nathan resmi tinggal di kediaman Nurdin yang mewah. Pemuda itu juga diberikan sebuah kamar yang sangat mewah dan diumumkan sebagai cucunya pada semua penghuni rumah itu.
Nurdin mengetuk pintu kamar Nathan dengan pelan, tapi sama sekali tidak ada sahutan dari dalam. Nurdin mencoba sekali lagi, tapi hasilnya tetap sama.
"Dimana dia? apa dia tidur siang?" batin Nurdin sembari melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ini sudah jam tiga sore, aku rasa tidak mungkin dia tidur," Nurdin membatin sembari mencoba membuka pintu perlahan. Ternyata pintu kamar itu tidak dikunci sama sekali.
"Alex!" panggil Nurdin yang masih bersikap seakan-akan tidak tahu kalau pemuda itu adalah Nathan cucunya.
Nurdin melangkah ke arah balkon, untuk memastikan keberadaan Nathan, karena panggilannya sama sekali tidak ada respon.
Benar saja, pemuda yang dia cari ternyata sedang ada di balkon dan terlihat sedang fokus dengan alat lukisnya.
"Di sini kamu ternyata. Kakek cariin dari tadi," ucap Nurdin, berdiri di samping Nathan.
__ADS_1
"Eh, Kakek! ada apa mencariku, Kek?" Nathan mengrenyitkan keningnya.
"Tidak ada hal yang penting sih, cuma Kakek hanya ingin ngobrol-ngobrol saja denganmu. Sudah lama Kakek tidak memiliki teman ngobrol di rumah ini semenjak nenekmu meninggal dan putriku menikah," tutur Nurdin tersenyum miris.
"Oh, begitu ya Kek? baiklah kalau begitu, aku akan temani Kakek ngobrol. Nanti aku bisa melanjutkan lukisannya, tinggal sedikit lagi kok," Nathan meletakkan kuasnya di atas meja.
"Emangnya kamu sedang melukis apa?". Nurdin menatap ke arah lukisan yang memang sudah 90 persen selesai.
Nathan tidak menjawab sama sekali, tapi pemuda itu tersenyum dengan wajah yang memerah, menahan malu.
"Apa yang kamu lukis itu, pacarmu?" tanya Nurdin dan Nathan mengangguk mengiyakan.
Ya, yang sedang dilukis oleh Nathan adalah lukisan wajah Renata.
Nurdin menghela napasnya, merasa sedikit bersalah tidak jujur pada Nathan, ketika melihat rasa cinta cucunya itu pada gadis yang sekarang sudah sah menjadi tunangan Nicholas.
"Cantik!" puji Nurdin, tersenyum di sela-sela rasa bersalahnya.
"Iya, Kek. Dia memang cantik! entah kenapa, beberapa hari ini, perasaanku tidak enak,. karena memikirkan dia. Tapi, aku berharap kalau dia baik-baik saja di sana," ucap Nathan yang membuat Nurdin merasa semakin bersalah.
"Yang itu lukisan siapa?" Nurdin menunjuk ke arah lukisan yang sebenarnya dia tahu, wajah siapa yang ada di lukisan itu.
"Oh, kalau yang ini, mamaku, Kek." sahut Nathan, sembari memandang lukisan wajah Naura dengan tatapan penuh kerinduan.
"Kamu merindukan mama kamu ya?" tanya Nurdin dan Nathan mengangguk, mengiyakan.
"Aku merindukan kedua wanita ini. Tapi, untuk sementara ini, aku harus berusaha menahan kerinduanku, demi impianku," ucap Nathan dengan tatapan sendu dan seulas senyum tipis.
Tbc
__ADS_1