Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Bab 91


__ADS_3

"Nis, temani aku lihat-lihat gaun pengantin, yuk! sekalian kamu juga bisa pilih buat kamu," ajak Renata dengan sangat bersemangat.


"Kenapa cepat sekali? apa tanggal pernikahannya sudah ditetapkan?" Anisa mengrenyitkan keningnya.


Renata terlihat cengengesan, sembari menggelengkan kepalanya. " Nanti Papa mau ke rumah Om Rehan dulu, untuk minta maaf masalah tadi malam," tutur Renata.


"Jadi, kalau belum ditetapkan, kenapa kamu buru-buru buat hunting gaun?" Anisa berdecak sembari menggelengkan kepalanya. "apa kamu yakin, kalau om Rehan akan mudah memaafkan papamu?" lanjut Anisa lagi.


"Aku sih optimis, karena Nathan berjanji akan membantu bicara pada Om Rehan,"


"Oh, begitu? kalau begitu besok saja kita hunting gaun pengantinnya, tunggu ada kejelasan,"


" Tapi, aku pengennya sekarang, Nis. Emangnya kamu nggak pengen?"Renata mencoba meracuni pikiran Anisa.


Anisa diam, berpikir untuk beberapa saat. Detik berikutnya, gadis itu menerbitkan seulas senyum manis.


"Baiklah! aku tiba-tiba ingin melihat-lihat juga,"


Anisa terlihat sangat semangat, bahkan sekarang lebih semangat dari Renata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Renata dan Anisa kini sudah sampai di sebuah butik yang cukup terkenal. Begitu mobil sudah menepi, Anisa dengan semangat langsung turun dari dalam mobil.


"Cepat, Ren!"


Renata, mengrenyitkan keningnya menatap sikap Anisa yang terlihat lebih antusias dari dirinya.


"Kenapa jadi dia yang lebih bersemangat?" bisik Renata sembari turun dari mobil.


Begitu dua wanita itu sudah berada di dalam butik, mereka berdua berdecak kagum melihat deretan gaun yang sangat mewah dan elegan.


"Maaf,ada yang bisa kami bantu, Nona?" Seorang karyawati di butik itu langsung menghampiri Renata dan Anisa.


"Emm, kami boleh tidak bertemu sama designer yang membuat gaun-gaun di butik ini? soalnya kami mau membuat gaun pengantin. Kami mau bertanya model apa yang bagus untuk bentuk tubuh seperti kami," jawab Renata.


"Emm, maaf, Nona! Bu Dinda lagi tidak ada di tempat. Beliau lagi ada urusan di luar,"sahut karyawati itu dengan sopan.


"Oh, begitu ya? kalau begitu kami lihat-lihat dulu ya!"


"Silakan, Nona!" karyawati itu mempersilakan dengan sopan.


Anisa dan Renata kini terlihat sudah mulai sibuk melihat-lihat gaun yang dipasangkan pada manekin-manekin. Mereka berusaha mengagumi n setiap detail design yang dirancang oleh seorang designer bernama Diana itu.

__ADS_1


"Nis, aku ke sana dulu sebentar ya! kamu lihat-lihat yang di sini dulu!" Renata beranjak pergi, setelah Anisa menganggukkan kepala.


Anisa begitu tertarik pada sebuah gaun panjang berwarna baby pink, yang walaupun tanpa lengan, tapi masih terlihat sopan.


"Mbak, bisa aku coba yang ini?" tunjuk Anisa dengan tatapan yang sangat menginginkan gaun itu.


"Tentu saja, boleh Nona. Silakan dicoba dulu! ruang gantinya ada di sebelah sana!"


Anisa segera membawa gaun itu dan mencobanya di ruang ganti. Mata gadis itu berbinar melihat dirinya yang tampil cantik dengan gaun itu.


"Wah, cantik sekali, Nis!" puji Renata yang tiba-tiba sudah muncul kembali.


"Terima kasih!" sahut Anisa, sembari tersenyum.


"Coba kamu berdandan sedikit saja, pasti akan lebih cantik," Renata memberikan saran.


"Buat apa, berdandan sekarang? nanti saja kalau kamu menikah, aku akan memakai gaun ini dan berdandan cantik," Anisa masih tetap mematut dirinya di depan cermin.


"Tidak ada salahnya sekarang, Nis. Apa kamu tidak penasaran untuk melihat penampilanmu pakai gaun ini lengkap dengan riasannya? kebetulan butik ini juga menyediakan MUA,"


Anisa menggembungkan pipinya, memikirkan usul Renata.


"Iya juga sih. Baiklah aku coba!" pungkas Anisa yang tidak menyadari kalau Renata sama sekali tidak mencoba satupun gaun yang ada di butik itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aduh, aku juga nggak tahu, Nis. Kamu sih teledor. Tadi ada seorang gadis yang masuk ke dalam,"


"Kalaupun masuk, tidak mungkin kan dia mengambil pakaian buluk seperti itu?" sahut Anisa,kesal.


"Maaf,Nona! tadi memang ada gadis yang masuk dan sepertinya dia membawa pakaian anda," ucap salah seorang penjaga butik itu.


"Kalau kamu lihat, kenapa tidak dicegah?" suara Anisa mulai meninggi.


"Dia bilang kalau pakaian itu miliknya, makanya tidak aku cegah," penjaga butik itu menundukkan kepalanya.


"Masa sih kamu tidak __"


"Nis, sudahlah! mbaknya nggak salah. Sekarang kita pulang saja. Kamu pakai gaun itu saja dan aku sudah membayarnya," sebelum Anisa selesai dengan ucapannya, Renata sudah menyela.


"Ren, tidak mungkin aku pulang dengan memakai gaun begini?" Anisa masih tetap saja belum merasa puas.


"Sudahlah, jangan marah-marah! ayo keluar!" Renata dengan sigap menarik tangan Anisa, mengajak sahabatnya itu keluar dari tempat itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil yang dikemudikan oleh Renata tiba-tiba berhenti di dekat sebuah taman, hingga membuat alis Anisa bertaut, bingung.


"Nis,maaf ya! sepertinya kamu harus turun di sini! Nathan baru saja menghubungiku, memintaku untuk menemuinya. Katanya ada hal yang sangat penting ingin dia bicarakan," ucap Renata dengan mimik wajah yang merasa tidak enak hati.


"What? kamu gila ya? aku nggak mungkin turun di tempat seperti ini, dengan mengenakan gaun pesta. Aku bakal jadi tontonan, Renata! aku gak mau turun!" tolak Anisa dengan tegas.


"Nis, please deh! yang mau dibicarakan kali ini benar-benar sangat penting. Kamu tahu sendiri kan kalau papa dan Om Rehan berselisih paham tadi malam," Renata memohon sembari menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya.


"Kamu antarkan aku pulang dulu! ini sudah mulai malam, soalnya, " Anisa tetap kekeuh duduk di tempatnya.


"Tidak bisa, Nis. Kelamaan! soalnya Nathan sebenarnya ngajak ketemuan di dalam taman ini. Atau kamu tunggu di mobil ya, aku menemui Nathan di dalam dulu!" tanpa menunggu persetujuan Renata, sudah keluar dan beranjak pergi, tidak peduli dengan teriakan Anisa yang memanggilnya.


"Sial, jadi aku ngapain di dalam mobil begini? kalau ada hal yang penting ingin dibicarakan, pasti akan memakan waktu yang lama. Bisa jamuran aku di sini," Anisa menggerutu kesal.


Di saat wanita itu menatap ke arah perginya Renata, tiba-tiba dia melihat ada tiga orang gadis yang berlari panik. Karena penasaran Anisa menyembulkan kepalanya keluar dari dalam mobil.


"Mbak, ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Anisa dengan suara yang sedikit lantang.


"Iya,Mbak. Barusan ada seorang gadis dicegat sama preman sembari menodongkan pisau," jawab wanita itu dengan raut wajah ketakutan.


"Apa!" perasaan Anisa tiba-tiba terasa tidak enak. Dia sangat khawatir dengan Renata yang jelas-jelas berjalan di arah yang ditunjuk oleh tiga gadis itu.


Tanpa berpikir panjang lagi, Anisa keluar dari dalam mobil dan berjalan setengah berlari menuju tempat kemana Renata pergi.



Namun Renata tidak melihat apapun. Yang dia lihat justru taman yang terlihat sangat indah dan ada tulisan 'Marry me?'



Anisa begitu speechless dengan mata yang sudah berembun, menahan tangis. Dari tempatnya berdiri dia melihat sosok pria yang tidak lain adalah Nicholas, berdiri dengan menggenggam buket bunga di tangannya.



Anisa mulai tersenyum. Perasaannya mulai campur aduk. Wanita itu, mulai mengayunkan kakinya, melangkah menghampiri Nicholas, demikian juga dengan Nicholas yang melakukan hal yang sama, berjalan menghampirinya.




Tbc

__ADS_1


__ADS_2