Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Nathan yang sama


__ADS_3

Langit kini sudah berganti jingga, pertanda senja sudah menjelang dan malam sebentar lagi akan menyapa.


Tampak kelelahan di raut wajah Anisa, karena seharian sudah dibebani banyak pekerjaan oleh Nicholas, bos yang menurutnya sangat menyebalkan. Namun, sekarang ada rasa gembira di dalam hatinya mengingat pria itu mengatakan kalau besok dia tidak akan masuk kerja karena akan berangkat ke London.


"Akhirnya bebas juga dari pria menyebalkan itu, walaupun hanya beberapa hari," batin Anisa sembari melirik jam di pergelangan tangannya. Ya, gadis itu tengah menunggu kedatangan Renata di sebuah taman. Gadis itu benar-benar merasa belum tenang, sebelum mengetahui keadaan sahabatnya itu pasca tidak memiliki tempat magang lagi, setidaknya begitulah menurut pemikirannya.


"Renata kemana sih? kok lama munculnya?" Anisa mengedarkan pandangannya ke segala penjuru guna melihat sahabatnya itu.


"Itu dia sudah datang!" Anisa sontak berdiri dan tersenyum melihat sosok Renata yang berjalan menghampirinya.


"Dia terlihat sangat murung sekali! pasti dia sedih karena sikap pria menyebalkan itu!" Anisa kembali menggerutu di dalam hati.


"Hai, Nis!" sapa Renata yang berusaha untuk tetap tersenyum.


"Kalau enggan untuk tersenyum, sebaiknya jangan tersenyum. Soalnya terlihat jelas senyum kamu nggak tulus," ucap Anisa, yang memang terbiasa berbicara straight to the point.


"Ih, kamu. Selalu saja begitu," sungut Renata sembari mendaratkan tubuhnya duduk di bench tempat Anisa tadi duduk.


"Yang aku katakan benar kan? kamu pasti sedih karena berantem dengan Pak Nicholas ya? dia memang menyebalkan. Seumur-umur aku baru bertemu dengan orang yang menyebalkan seperti dia," lagi-lagi Anisa menggerutu tidak jelas.


Renata tidak menanggapi ocehan Anisa sama sekali. Gadis itu masih saja merasa tidak tenang karena Nathan belum juga menghubunginya.


"Ren, aku tahu kamu dan pak Nicholas lagi ada masalah dan itu biasa terjadi pada sebuah hubungan. Tapi, kan bisa diselesaikan dengan baik-baik. Aku yakin, kalau sebentar lagi, dia akan memintamu untuk magang lagi di perusahaannya," lagi-lagi Anisa berceloteh dan lagi-lagi tidak mendapat respon dari Renata.


"Rena, kamu dengar aku nggak sih!" Anisa menepuk pundak Renata, hingga membuat gadis itu terjengkit kaget.


"Nisa, apa-apaan sih! aku kaget tahu!"


"Lagian, kamu sih. Dari tadi aku bicara tapi kamu nggak dengar. Udah sampai berbuih mulutku tahu," Anisa mengerucutkan bibirnya, kesal.

__ADS_1


"Maaf! aku cuma lagi banyak pikiran, Nis,"


"Apa sih yang kamu pikirkan?kamu lagi mikirin masalah kamu sama pak Nicholas ya? udah, kamu nggak usah mikirin itu. Sebentar lagi, dia juga bakal menghubungimu. Yakin deh!" Anisa mencoba menghibur Renata.


Renata menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya kembali ke udara, berharap bebannya ikut terbuang seiring embusan napasnya.


"Sebenarnya bukan karena masalah itu, Nis, tapi karena pria yang aku cintai sama sekali belum menghubungiku,"


Anisa menautkan kedua alisnya, berusaha mencerna ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Renata.


"Maksud kamu apa? emangnya ada pria yang kamu cintai? bukannya kamu dan Pak Nicholas sudah bertunangan?" tanyanya dengan ekspresi penasaran.


"Bukannya aku sudah mengatakan kalau aku hanya terpaksa mau bertunangan dengan dia? sebelum bertunangan, aku sudah punya seorang laki-laki yang aku cintai dan juga mencintaiku. Nama dia Nathan,"


"Nathan?" gumam Anisa merasa kalau nama itu sangat familiar di telinganya.


"Iya, namanya Nathan? apa kamu mengenalnya?" tanya Renata, curiga.


"Tidak sama sekali! ayo lanjutkan ceritanya!"


"Tapi, papa sama sekali tidak setuju karena menurut papa dia tidak akan punya masa depan. Tapi, pacarku itu mengatakan akan membuktikan kalau dia bisa sukses dan membahagiakanku kelak dan akan kembali lagi 5 atau 7 tahun. Tapi, baru tiga bulan dia pergi, papa malah menerima permintaan keluarga kak Nicholas, untuk dijodohkan denganku. Aku sudah meminta Kak Nicholas untuk membatalkannya pada papa, tapi dia tidak mau mendengar permintaanku. Sekarang aku sangat tidak tenang, karena Nathan sepertinya marah padaku karena tahu kalau aku sudah bertunangan dengan kak Nicholas yang merupakan kakak sambungnya," Renata melanjutkan penjelasannya.


"Adik sambung pak Nicholas? berarti Nathan yang dia maksud bukan Nathan yang aku cari, karena kalau adiknya Pak Nicholas, otomatis dia orang kaya dong, padahal Nathan yang kucari kan bukan orang kaya." batin Anisa mengembuskan napas lega.


Renata mengeluarkan ponselnya dari tasnya untuk melihat apakah Nathan ada menghubunginya atau tidak. Begitu dia menekan tombol untuk menyalakan, sinar biru dari ponsel itu langsung menyinari wajah wanita cantik itu. Tampak jelas, photo Nathan yang digunakan Renata sebagai wallpapernya dan Anisa seketika kaget melihatnya.


"Apa dia Nathan pacar kamu?" Anisa menunjuk ke arah layar ponsel Renata dengan tangan yang bergetar.


"Iya," singkat padat dan jelas.

__ADS_1


"Jadi Nathan yang aku cari adalah pacar Renata? kenapa bisa seperti ini?" bisik Anisa dalam hati.Perasaan wanita itu tiba-tiba merasa gundah dan sakit seperti ada yang mencubit.


Bayangan ketika Nathan pernah menolongnya dulu dari kejaran preman, seketika berkelebat di pikirannya. Sejak saat itu, Anisa merasa kalau dirinya memiliki perasaan pada pemuda yang menolongnya itu.


"Nis, kenapa jadi kamu yang diam?" Renata menyentuh pundak Anisa.


Anisa seketika terjengkit kaget, dan menatap wajah Renata.


"Ti-tidak apa-apa, Ren! aku hanya kagum dengan wajah tampan pacarmu itu," ucap Anisa berbohong.


"Jangan coba-coba jatuh cinta padanya ya! rasanya sangat sakit kalau sahabat sendiri merebut orang yang kita cintai." Anisa langsung merasa tertohok dengan peringatan yang baru saja terlontar dari mulut Renata.


"Nggaklah! aku hanya mengaguminya, tidak salah kan? kalau untuk jatuh cinta, tidak mungkin aku jatuh cinta pada pacar sahabatku sendiri,"


"Syukurlah! soalnya aku sudah pernah mengalaminya dulu, sewaktu SMA. Untungnya ada Nathan yang menolongku dari dua orang tidak tahu diri itu! lanjut Renata lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berganti hari, Dava dan Bastian sudah berada di London Heathrow Airport, guna menunggu kedatangan seseorang yang katanya akan membawa donor kornea mata untuk Nathan.


"Dav, apa si pendonor sendiri yang akan datang?" tanya Bastian sembari mengedarkan pandangannya ke dalam pintu gerbang kedatangan.


"Emm, aku belum bisa mengatakan padamu," sahut Dava dengan ekspresi wajah sedih.


"Itu dia sudah datang!" Dava menunjuk ke arah sosok laki-laki memakai hoodie, yang berjalan sembari melambaikan tangannya.


Mata Bastian seketika membesar dengan sempurna, terkesiap kaget melihat sosok yang baru saja datang itu. Pria itu, sontak sibuk menduga-duga dalam hati. Apakah sosok itu yang akan mendonorkan matanya atau dia hanya membawa kornea mata si pendonor?


Tbc

__ADS_1


__ADS_2