Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Bertemu


__ADS_3

Nathan berdiri dari kursinya dan langsung meraih jacket yang tergantung di dekat pintu kamar. Kemudian, dia mengenakannya dan langsung keluar dari kamar.


"Kamu mau kemana?" tanya Arsen sembari mengrenyitkan keningnya.


"Aku mau keluar sebentar! aku mau cari angin untuk menenangkan pikiran," sahut Nathan. Sisa-sisa kesedihan masih membekas di raut wajah tampannya.


"Aku ikut kamu!" Arsen bangkit dari duduknya.


"Tidak perlu, Kak! aku hanya ingin sendiri dulu," dengan cepat Nathan menolak keinginan Arsen.


"Tapi, Nak. Mama akan jauh lebih tenang kalau kamu ditemani sama kakakmu," Naura buka suara. Raut wajah wanita setengah baya itu terlihat khawatir.


"Ma, aku akan baik-baik saja. Aku akan pulang nanti dengan selamat, sama seperti aku pergi. Aku hanya ingin sendiri dulu! Percayalah, aku tidak akan melakukan hal yang sangat merugikan diri sendiri. Aku memang lagi sedih, tapi aku juga tidak mau membuat pengorbanan kak Angga jadi sia-sia," Nathan berusaha meyakinkan mamanya.


"Nathan benar, Sayang. Izinkan dia untuk keluar. Kamu harus percaya padanya," Rehan buka suara.


Naura menghela napasnya dengan sekali hentakan. Tampak, di raut wajah wanita itu kalau dirinya masih sangat berat hati membiarkan putranya itu keluar sendiri. Tapi, hatinya membenarkan ucapan suaminya, kalau dirinya harus percaya pada putranya.


"Baiklah, kalau begitu!" pungkas Naura, pasrah.


Nathan baru saja hendak melangkah, tapi dia urungkan dan kembali menoleh ke arah tiga orang yang ada di tempat itu.


"Pa, besok papa dan Kak Arsen akan pulang ke Indonesia kan?" tanyanya dan Rehan mengangguk, mengiyakan.


"Bolehkan aku ikut pulang? aku ingin ke makam kak Angga," pinta Nathan dengan raut wajah sendu.


"Maaf, Nak! dengan berat hati papa tidak mengizinkan. Karena orang yang baru saja selesai melakukan operasi mata, belum diizinkan untuk naik pesawat. Papa tidak mau mengambil resiko. Papa takut kalau nanti ada yang terjadi pada matamu," jelas Rehan.


"Alasannya apa?" Nathan mengrenyitkan keningnya.


"Sebelum kamu bisa keluar dari rumah sakit, Papa dan Mama sudah berencana akan mengajak kamu pulang ke Indonesia untuk sementara. Tapi, papa tidak boleh asal membawa kamu, jadi papa lebih dulu bertanya pada dokter. Ternyata dokter tidak mengizinkan karena Pada kasus kornea yang membutuhkan transplantasi, tidak jarang dokter spesialis mata harus menyuntikkan gas atau udara ke dalam mata. Pada umumnya, pasien tidak diperbolehkan untuk naik pesawat selama masih ada gas atau udara di dalam mata. Itulah alasan kenapa hanya papa, Nabila dan Arsen yang kembali ke Indonesia besok," jelas Rehan panjang lebar tanpa jeda.


Nathan bergeming, kemudian mengembuskan napasnya untuk membuang rasa kesalnya.


"Kalau begitu,aku pamit dulu!" pungkas Nathan sembari melanjutkan langkahnya yang tadi sempat tertunda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Bagaimana, apa ada nomor baru yang menghubungi Nathan, baru-baru ini?" tanya Dava pada Bastian begitu ponsel Nathan yang mereka sembunyikan, diaktifkan.


"Emm, ini ada pesan suara. Coba kita dengar!" Bastian menekan tombol untuk mendengarkan pesan suara dari nomor yang tidak dikenal itu.


"Nathan, ini aku Renata. Sekarang aku ada di London. Aku tidak bisa menghubungimu karena handphoneku tertinggal di Indonesia. Aku mau bertemu denganmu. Aku harap kamu mendengar pesan suara ini. Kalau kamu sudah mendengarnya, hubungi aku ya!"


"Benar, Dav. Ini dari Renata," ucap Bastian dengan wajah berbinar.


"Sekarang, coba kamu hubungi dia!" Dava tidak kalah semangat dari Bastian.


Bastian dengan senang hati dan penuh harap segera menghubungi nomor yang merupakan nomor Renata. Panggilan itu seketika langsung terhubung untuk beberapa saat. Akan tetapi detik berikutnya panggilan tiba-tiba terputus begitu saja, padahal belum ada respon dari yang bersangkutan.


Bastian mencoba menghubungi lagi, tapi kali ini sama sekali tidak bisa terhubung lagi.


"Bagaimana ini, Dav? tadi sudah sempat terhubung, tapi kenapa sekarang sama sekali tidak bisa dihubungi?" Bastian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Waduh, bagaimana ini?" Dava ikut-ikutan menggaruk kepala dan terduduk lemas.


"Tadi sempat terhubung kan?" tanya Dava yang kembali bersemangat.


Bastian menganggukkan kepala dengan kening yang berkerut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Sementara itu, Renata yang tadinya sedang berjalan menyusuri jalan sepanjang sungai Thames, terlihat kesal karena tiba-tiba daya ponselnya habis, padahal tadi matanya bisa melihat jelas, nomor pria yang ingin ditemuin, sedang menghubunginya.



"Arghh, kenapa aku bisa teledor lagi sih? kenapa sebelum keluar, aku pastikan daya ponselku terisi penuh. Kalau begini, aku mau nyalahin siapa?" Renata menggerutu, merutuki kebodohannya. Wajah wanita itu terlihat seperti hendak menangis, tapi dia berusaha untuk menahannya karena banyak orang yang sedang berlalu lalang.


Renata memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Kemudian, gadis itu memutar badannya, berencana hendak kembali ke apartemen. Dia sudah tidak sabar ingin mengisi daya ponselnya itu.


Langkah gadis itu tersurut ketika tiba-tiba ada tiga orang pria yang tersenyum menatapnya.


"Hai, dari tadi kami mengikutimu. Sepertinya kamu orang Asia dan sedang patah hati, boleh kami menemanimu? Kamu tenang saja, kami bisa membuatmu lupa dengan patah hatimu dengan sekejap. Kamu tinggal menikmati saja apa yang akan kami lakukan," ucap salah satu dari pria itu.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak mau! asal kalian tahu, aku tidak sedang patah hati. Aku datang ke sini hanya untuk menikmati keindahan sungai Thames di malam hari, itu saja," sahut. Renata masih berusaha untuk bersikap biasa saja, padahal hatinya benar-benar sudah takut sekarang.


Renata, kembali melangkah, tapi ketiga pria itu masih saja tetap berdiri di tempatnya, seakan tidak memberikan jalan pada gadis itu.


"Tuan-tuan, bisa kasih aku jalan? aku mau lewat," ucap Renata dengan sopan.


"Emm, kenapa sih kamu angkuh? kamu tenang saja, kami ini tidak akan jahat padamu. Kami justru sedang berbaik hati untuk menemanimu malam ini. Kan sayang, kalau malam indah seperti ini dinikmati seorang diri," salah satu dari ketiga pria itu tersenyum, menggoda.


"Maaf, Tuan aku sama sekali tidak tertarik. Aku benar-benar mau pulang. Please kasih aku jalan!" pinta Renata yang mulai tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.


"Kalau kami tidak memberikan jalan, bagaimana?" mulai mencolek pipi Renata yang dengan sigap langsung ditepis oleh gadis itu.


"Hahahaha, kamu berani juga ya, menepis tanganku? aku semakin suka deh,". pria yang sedang berbicara itu, meraih rambut Renata dan mencium rambut itu.


"Hei, jangan sentuh aku, brengsek!"


"Hahahaha! tawa ketiga orang itu, pecah mendengar umpatan gadis kecil di depan mereka.


Sementara itu, dari arah yang tidak terlalu jauh, ada seorang pemuda yang tadinya sedang merenung, merasa terganggu dengan apa yang dilakukan ketiga pria itu.



Pemuda itu ternyata, Nathan yang ternyata memilih untuk menenangkan diri di tempat dia biasa melukis.


Nathan yang sama sekali tidak bisa melihat seseorang diintimidasi, langsung berdiri dan melangkah mendekat ke arah tiga orang pria itu.


"Hei, apa yang kalian bertiga lakukan? lepaskan dia!"


Ketiga pria itu sontak menoleh ke belakang, merasa terganggu dengan Nathan.


Ketika ketiga pria itu menoleh ke arahnya, Nathan bisa melihat jelas siapa sosok gadis yang sedang diganggu tiga pria itu. Mata pemuda itu sontak membesar dengan sempurna, begitu melihat siapa sosok wanita yang sedang ketakutan itu.


"Renata?" ucapnya disela-sela rasa kagetnya.


Renata yang tadinya sedang memejamkan matanya karena ketakutan, tiba-tiba membuka matanya karena suara yang baru saja menyebut namanya itu sangat familiar di telinganya.


Tbc

__ADS_1


.


__ADS_2