Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Aku pegang kata-katamu!


__ADS_3

Sudah seminggu waktu berlalu, tapi belum ada tanda-tanda kalau Naura akan sadar. Selama seminggu ini, Nathan belum bisa pergi kemana-mana, karena dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk bisa pergi ke luar negeri. Namun, hari ini pemuda itu mendapat kabar dari sang kakak, kalau semua yang dibutuhkan sudah selesai dan tiket ke London sudah dibeli untuk keberangkatan dua hari ke depan.


Nathan membaca pesan yang dikirimkan oleh kakak sulungnya itu dengan helaan napas yang panjang dan berat.


"Ada apa Nathan?" Nicholas yang berada di ruangan yang sama, dengan Nathan yaitu di ruangan tempat Naura dirawat, mengrenyitkan keningnya, penasaran dengan sikap Nathan.


"Tidak ada apa-apa, Kak! aku hanya merasa sedih melihat kondisi mama yang belum juga membaik," jawab Nathan, berbohong.


"Sabar aja! kita tetap harus yakin kalau mama akan secepatnya bangun," Nicholas menepuk pundak Nathan, untuk menenangkan pemuda itu.


"Kak, aku izin pergi sebentar. Aku mau ketemu Dava dan Bastian," Nathan mengayunkan kakinya, melangkah ke luar setelah Nicholas mengangguk, mengiyakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nathan berjalan mengitari sebuah taman, dan mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang sudah cukup sudah lama menunggunya. Siapa orang itu? yang ditemuinya ternyata bukanlah Dava maupun Bastian seperti yang dikatakannya pada Nicholas, melainkan Renata. Ya, gadis itu mengajak Nathan bertemu,karena katanya ada yang ingin dia bicarakan.


"Tuh dia!" gumam Nathan begitu melihat sosok seorang gadis yang penampilannya sangat kontras karena berbeda dengan gadis-gadis yang ada di taman itu. Gadis itu duduk di sebuah kursi besi, dan fokus pada ponsel di tangannya, sampai -sampai tidak menyadari kalau Nathan sudah berdiri di depannya.


"Boleh aku duduk?" tanya Nathan dengan sopan.


Renata sontak terjengkit kaget, begitu mendengar suara Nathan.


"Nathan, kamu kenapa datang nggak bilang-bilang sih?" Renata mengerucutkan bibirnya, cemberut.


"Kamu saja yang terlalu fokus ke Handphone kamu," ujar Nathan sembari duduk di samping Renata.


"Tadi kamu kirim pesan ke aku, katanya ada hal yang ingin kamu bicarakan, apa itu?" Nathan memasang wajah serius.


Renata tidak langsung buka suara. Terlihat wajah gadis berkacamata itu, berubah pucat. Gadis itu juga menggigit bibirnya, ragu untuk mengatakan kata-kata yang sudah dia susun sebelumnya.


"Ren, Kenapa kamu diam? katanya kamu mau bicara ... ayo bicaralah!" Nathan kembali buka suara dengan alis yang bertaut.


"Emm, Nathan, kalau aku bicara, kamu jangan menertawakan aku nanti ya!" ucap Renata dengan lirih.


"Menertawakanmu? untuk apa?" kening Nathan berkerut, bingung dengan arah pembicaraan Renata.


"Ya, kan bisa jadi kamu menertawakanku, karena apa yang ingin aku bicarakan adalah hal yang sangat jarang dilakukan oleh seorang perempuan,tapi, setelah aku pikir matang-matang, tidak ada salahnya seorang perempuan membicarakannya lebih dulu," ucap Renata, ambigu.

__ADS_1


"Ren, tolong kalau berbicara jangan mutar-mutar! langsung to the point aja!" Nathan mulai terlihat tidak sabar.


"Iya, tapi kamu harus janji dulu, nggak bakal menertawakanku," ucap Renata, memastikan. Tidak ada yang tahu kecuali dirinya, kalau jantungnya sekarang sudah berdetak lebih cepat dari detak jantung normal.


Nathan mengembuskan napasnya kemudian mengangguk, mengiyakan.


"Nath, aku nggak tahu sejak kapan ini aku rasakan, tapi aku ingin jujur, sepertinya aku menyukaimu!"


Mata Nathan membesar, dan mulut sedikit terbuka mendengar pengakuan Renata yang sama sekali tidak dia sangka-sangka.


"Kamu masih waras kan,Ren?" tanya Nathan yang jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.


"Iyalah! emangnya kenapa? aneh ya kalau perempuan duluan yang ngomong?" bibir Renata kembali mengerucut kesal. Gadis itu tidak bisa membayangkan seandainya mendapat penolakan dari pemuda di sampingnya itu.


"Ah, bodo amatlah! yang penting aku sudah omongin. Mengenai bagaimana hasilnya nanti, ya kita lihat aja," batin gadis itu, menenangkan diri sendiri.


Nathan tercenung tidak tahu ingin berkata apa-apa lagi. Kalau boleh jujur, jauh di dalam lubuk hatinya, kebersamaannya dengan Renata mulai dari belajar bersama sampai sekarang, sudah bisa menimbulkan getaran di dalam hatinya. Namun, untuk kali ini sangat berat baginya untuk menjawab karena dia sadar kalau dirinya akan pergi jauh.


"Nathan, kenapa kamu diam? kamu pasti nggak suka kan denganku? aku sih sudah yakin dengan hal itu, karena kamu tampan sementara aku ... aku pasti tidak termasuk kriteria yang kamu inginkan,"


"Renata! di sini kamu rupanya!" tiba-tiba terdengar suara bariton dari jarak yang tidak terlalu jauh dari mereka berdua.


"Papa!" Renata sontak berdiri ketakutan dan berusaha menelan ludahnya yang tiba-tiba sangat susah untuk dia telan.


Bukan hanya Renata yang kaget, Nathan juga demikian. "Oh, ini Papanya Renata?" bisik pemuda itu dalam hati dan ikut berdiri seperti yang dilakukan oleh Renata.


"Halo, Om! aku Nathan!" Nathan berusaha untuk ramah sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan pria setengah baya yang tampak parlente di depannya itu.


Rajendra, papanya Renata sepertinya tidak berniat menyambut uluran tangan Nathan. Itu tampak jelas dari enggannya pria itu mengeluarkan tangannya dari dalam saku celananya. Sebaliknya, justru pria itu menatap Nathan dengan tatapan yang sangat tajam.


Mendapat sikap seperti itu, Nathan menghela napasnya dan menarik kembali tangannya.


"Renata, bagaimana bisa, kamu seorang perempuan mengatakan suka pada seorang laki-laki lebih dulu. Dimana harga dirimu?" bentak Rajendra yang seakan tidak peduli dengan kehadiran Nathan di tempat itu.


"Emangnya salah ya, Pa? semua yang mengganjal dalam hati kita, bukannya seharusnya harus kita ungkapkan? itulah yang aku lakukan sekarang. Aku tidak ingin menyimpan apa yang aku rasakan," sahut Renata dengan tegas. Sejujurnya gadis itu mulai sedikit muak dengan cara papanya memperlakukannya dan membatasi semua yang ingin dia lakukan. Bahkan dia berpenampilan seperti itu juga atas kemauan papanya itu.


"Kalau, laki-lakinya selevel denganmu, tidak masalah! ini ... bagaimana mungkin kamu bisa menyukai laki-laki yang sama sekali jauh di bawah level keluargamu? apa kamu mau dimanfaatkan oleh dia nanti?" ucap Rajendra dengan dingin, tidak peduli apa kata-katanya itu sangat menyakiti Nathan atau tidak.

__ADS_1


"Papa! bisa tidak nggak bicara seperti itu! Nathan tidak seburuk seperti yang papa pikiran,"


"Kamu tidak belajar dari Roby ya? Roby yang notabene, datang dari keluarga yang cukup berada, mendekatimu karena ada maunya, apalagi dia yang orangnya sama sekali tidak jelas!" Rajendra tetap saja melontarkan kata-kata pedas sembari melirik sinis ke arah Nathan.


Mendengar semua hinaan yang terlontar dari mulut papanya Renata, membuat Nathan merasa harga dirinya terhina. Pria itu mengepalkan tangannya sekencang mungkin, berusaha untuk menahan emosi.


"Om, aku bukan orang yang tidak jelas! aku punya papa dan juga seorang mama. Aku memang tidak datang dari keluarga kaya raya seperti Om. Tapi, aku bisa pastikan, aku bukanlah orang yang suka mengemis belas kasihan, bahkan sampai memanfaatkan seorang perempuan. Aku masih punya harga diri, sebagai seorang Laki-laki! Om bisa pegang kata-kataku ini, aku akan bisa buktikan kalau aku bisa membahagiakan putrimu menggunakan apa yang aku dapat, bukan dengan harta Om," ucap Nathan dengan tegas, yang secara langsung, mengatakan kalau dia akan berjuang untuk membahagiakan Renata.


Rajendra tersenyum sinis seperti sedang meremehkan. "Jangan asal bicara! aku butuh bukti bukan hanya sekedar kata-kata,"


"Baik, Om! aku bukanlah seorang pecundang. Aku pastikan kalau aku akan bisa sukses nantinya!" ucap Nathan dengan emosional, karena merasa tidak suka, harga dirinya seperti diinjak-injak.


"Aku tunggu janjimu! Dan sampai kamu bisa membuktikan kata-katamu itu, jangan pernah datang menemui Renata!"


"Baik, Om!"


"Nathan, aku tidak mau!" seru Renata tidak terima.


"Ren, please mengerti! Biarkan aku pergi untuk meraih impianku dulu. Aku berjanji, kalau aku akan sukses dan kembali menemuimu. Selama kamu menjaga hatimu untukku, aku tidak akan membiarkan ada nama perempuan lain di hatiku kecuali kamu!" pungkas Nathan dengan tegas.


"Kamu sudah selesai bicara kan? Renata, sekarang kita pulang!" Rajendra meraih tangan Renata dan menarik tangan putrinya itu untuk ikut pulang dengannya.


"Aku tidak mau, Pa!" tolak Renata berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Rajendra. Setelah terlepas, gadis itu kembali berlari ke arah Nathan dan tanpa sungkan langsung memeluk pemuda itu.


"Renata!" bentak Rajendra, geram.


"Ren, tolong lepaskan pelukanmu! tidak baik dilihat orang!" bisik Nathan.


"Aku tidak mau! kamu tadi bilang mau pergi meraih impianmu, emangnya kamu mau pergi kemana?" Renata tidak peduli dengan bentakan papanya juga dengan permintaan Nathan untuk melepaskan pelukannya.


"Aku tidak bisa bilang kemana aku akan pergi. Tapi yang pasti aku akan kembali lagi. Tapi percayalah padaku. Aku pastikan di usiaku yang ke 25 tahun aku akan kembali lagi.Jika dalam kurun waktu 7tahun itu, aku tidak kembali, kamu bisa menerima laki-laki lain." ucap Nathan dengan raut wajah tegas dan yakin.


"Baiklah, aku pegang kata-katamu!" pungkas Renata, akhirnya melepaskan pelukannya.


Tbc


"

__ADS_1


__ADS_2