Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Flashback


__ADS_3

Tempat acara kini sudah sepi, karena para tamu sudah pulang. Yang tinggal di tempat itu hanya Keluarga inti dari kedua belah pihak, yaitu keluarga Rehan dan Keluarga Rajendra. Yang bukan keluarga hanya Anisa karena gadis itu dilarang pulang oleh Nicholas, karena dia yang akan mengantarkan gadis itu pulang.


"Kak Nicho, bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nathan yang sebenarnya masih sangat penasaran kenapa dirinya yang bertunangan dengan Renata.


"Iya,Kak. Aku juga ingin tahu," Renata menimpali ucapan Nathan.


" Sebenarnya, mengenai perasaanku yang ingin menjadikanmu, pasangan hidup, itu benar. Tapi, di saat kamu memohon padaku untuk meminta pada Om Rajendra untuk membatalkan perjodohan, aku sadar kalau cinta tidak boleh dipaksakan, apalagi Nathan adalah adikku. Kebetulan juga, Om Rajendra sebenarnya awalnya tidak pernah menerima lamaranku," tutur Nicholas panjang lebar.


"Apa? papa tidak pernah menerima? maksudnya?" Renata mengrenyitkan keningnya.


"Apa kamu ingat ketika kamu bertanya kenapa aku datang ke rumahmu?" Renata menganggukkan kepalanya. Di saat itu dengan jelas Nicholas mengatakan kalau dia meminta Papanya untuk mempercepat pertunangan dan mengancam kalau dia tidak mau menerima, taruhannya adalah perusahaan papanya.


"Nah, saat itu sebenarnya __"


Flashback On.


Setelah Nicholas berpikir semalaman akan permohonan Renata yang memohon untuk meminta pada Rajendra papanya, agar membatalkan perjodohan, akhirnya Nicholas mengambil sebuah keputusan.


Ke esokan paginya, Nicholas mendatangi kediaman Rajendra dengan sebuah rencana atas persetujuan Rehan papanya yang mendukung sepenuhnya keputusan Nicholas.


"Eh,Nak Nicholas? kenapa kamu ke sini lagi? bukannya aku sudah bilang kalau aku tidak menerima permintaan kalian?" ucap Rajendra dengan nada dingin.


"Aku ke sini bukan untuk memaksa Om untuk menerima lamaranku lagi. Tapi ada sesuatu hal ingin aku bicarakan," ucap Nicholas dengan santai tapi tetap sopan.


"Baiklah! kamu ikut ke ruang kerjaku!" Rajendra mengayunkan kakinya, melangkah menuju ruang kerja,dan Nicholas mengekor dari belakang.

__ADS_1


"Silakan duduk!" Rajendra menunjuk ke arah sofa.


"Terima kasih, Om!" sahut Nicholas sembari mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa.


"Jadi apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Rajendra tanpa basa-basi.


"Aku hanya mau bertanya, Om. Kenapa Om tidak menerima lamaran yang diajukan papaku?"


"Karena aku tahu kalau putriku tidak mencintaimu,tapi mencintai pria lain," jawab Rajendra, lugas. "Sebenarnya kalau bukan karena aku sudah berjanji untuk memberikan kesempatan, untuk pria itu bisa membuktikan kalau dia mampu membahagiakan Renata, aku mungkin tidak akan berpikir panjang untuk tetap menjodohkan anakku denganmu. Tapi, Maaf! laki-laki itu kata-katanya harus dipegang. Jadi dengan berat hati, aku akan tetap menunggu Nathan untuk bisa memenuhi janjinya. Entah kenapa aku suka dengan ketegasan dan tanggung jawab Nathan. Aku jadi, sangat yakin kalau dia tulus, dan pasti sukses suatu saat," tutur Rajendra dengan, sangat yakin dan mantap.


Senyum Nicholas seketika terbit menghiasi bibirnya.


"Baiklah, Om. Aku akhirnya tenang begitu mengetahui alasan om sebenarnya. Tapi, aku benar-benar ingin memastikan kalau Om suatu saat tidak ingkar janji," ucap Nicholas ambigu.


"Maksudnya?"Rajendra mengrenyitkan keningnya.


Rajendra bergeming, memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Nicholas. Ada kalimat yang sama sekali tidak dia sukai, di mana Pemuda itu meragukannya, takut kalau dia berubah di pertengahan jalan.


"Aku sama sekali tidak suka kalau ada yang meragukanku. Bukannya tadi aku sudah mengatakan kalau seorang laki-laki itu harus memegang kata-katanya? jadi, ketika aku sudah mengatakan kalau aku akan memberikan kesempatan buat Nathan, aku tidak akan berubah, kecuali Nathan sudah melewati batas perjanjiannya. Karena sebagai seorang ayah, sangat menginginkan yang terbaik buat putrinya,"


"Maaf,Om, kalau Om tidak terima dengan ucapanku. Tapi, selain karena alasan itu, aku hanya ingin bisa lebih leluasa menjaga Renata, mewakili Nathan. Kalau ada pria yang berusaha mendekati Renata, aku dengan leluasa akan menyingkirkan pria-pria itu, dengan mengatakan kalau aku adalah tunangan Renata, bagaimana, Om?" tanya Nicholas lagi,penuh harap.


Rajendra tidak langsung mengiyakan, pria itu masih terlihat berpikir, akan saran Nicholas. Kemudian, pria itu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kembali ke udara dengan sekali hentakan.


"Baiklah,aku setuju!" pungkas Rajendra akhirnya. "Tapi, jangan coba-coba untuk menggoda putriku dan dengan licik melakukan berbagai cara, untuk membuat putriku jatuh cinta padamu. Karena kalau sudah seperti itu, dengan sangat tegas aku akan tetap menolakmu jadi menantuku, sekaya apapun kamu. Kenapa? ya karena dengan apa yang kamu lakukan,aku bisa menyimpulkan kalau kamu itu pria egois yang menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang kamu mau. Aku tidak mau putriku memiliki pasangan yang seperti itu," lanjut Rajendra lagi, memberikan ultimatum buat Nicholas.

__ADS_1


"Om, tenang saja. Aku bukan tipe seperti itu," sahut Nicholas, mantap.


"Bagus! Om pegang kata-katamu! jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Rajendra.


"Kita akan melakukan pertunangan minggu depan,dan seperti yang aku katakan tadi, secara tertutup. Jangan sampai ada yang tahu, karena aku takut kalau ada yang tahu, bisa aja Nathan mendengar, sehingga bisa mengganggu konsentrasinya untuk meraih impiannya. Biarlah dia fokus mengejar impiannya," sahut Nicholas, lugas dan tegas.


Rajendra mengangguk-anggukan kepalanya, merasa yang diucapkan oleh Nicholas sangat masuk akal.


"Jadi, apa yang harus Om lakukan?"


"Om, tetap saja berpura-pura seakan-akan perusahaan Om berada di bawah kendali perusahaan kami, jadi Om tetap menyetujui pertunangan kami berdua. Bagaimana, Om?"


"Baiklah kalau begitu. Om setuju!" pungkas Rajendra tersenyum puas.


"Selamat bekerja sama, Om!" Nicholas mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Rajendra.


"Sekarang aku, pamit dulu! Om tenang saja, masalah cincin akan aku persiapkan dengan baik. Aku pastikan cincinnya akan ada Minggu depan,"


"Ok!" jawab Rajendra.


Nicholas akhirnya melangkah keluar dari ruang kerja Rajendra. Walaupun ada rasa sakit yang timbul di dalam hatinya, karena cintanya pada Renata tidak berbalas, namun dia tidak memiliki niat untuk merebut Renata dari Nathan. Dia tidak mau membuat Nathan merasa kehilangan wanita yang dia cintai disebabkan olehnya lagi, seperti halnya ketika dia merasakan kasih sayang lebih dari Naura dibandingkan Nathan yang merupakan putra kandung mamanya itu.


Flashback end


Tbc

__ADS_1


Hayo, siapa yang sudah menghujat Rajendra papanya Renata?😀


__ADS_2