Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Fighting


__ADS_3

"Anisa, kamu dipanggil ke ruangan Presdir! kamu cepat ke sana!" titah Nicholas.


Wajah Anisa seketika berubah pucat mendengar perintah Nicholas. Gadis itu buru-buru mendekat ke arah pria itu dan tanpa sadar mengguncang-guncang bahu atasannya itu.


"Yang benar, Pak? Pak Rehan sudah kembali ke sini? kira-kira aku dipanggil ke sana buat apa? aku mau diminta pergi dari sini ya?" cecar Anisa dengan pertanyaan yang beruntun.


Nicholas meringis sembari mengusap-usap telinganya. "Kamu kalau bertanya bisa satu-satu nggak?"


"Maaf, Pak. Aku cuma gugup aja ketemu sama Presdir. Lagian aku kenapa dipanggil ke sana, kan aneh." sahut Anisa.


"Tadi Papa lihat kamu, berdebat di divisi keuangan, jadi __"


"Serius, Pak? waduh gawat ini!" belum selesai Nicholas berbicara, ucapannya sudah disela dengan cepat oleh Anisa.


"Bagaimana ini, Pak? apa yang harus aku lakukan?" Anisa mulai panik.


"Haish, bisa nggak sih kamu tenang sedikit? kepalaku sakit melihatmu," Nicholas mulai terlihat kesal.


"Tenang bagaimana,Pak? aku panik ini. Aku harus bagaimana sekarang?"


"Ya,mana aku tahu? itu urusan kamu! kamu ngajak aku berdebat, berani. Ngajak orang lain, berdebat juga berani,masa sama papaku takut? tunjukkan dong bakat berdebatmu!sindir Nicholas dengan seringaian tipis di sudut bibirnya.


"Beda cerita, Pak. Ini bukan kamu, ini Presdir,"


"Kenapa beda? itu Presdir, dan aku ini CEO, Aku ini putranya. Tapi tetap saja kamu suka membantahku. Kamu nggak ada takut-takutnya sama sekali," protes Nicholas.


"Ya tetap beda, Pak! Kamu kan __" Ucapan Anisa terhenti, karena telepon yang ada di meja Nicholas tiba-tiba berbunyi.


"Oh, iya, Pa. Aku baru saja memintanya ke sana. Tunggu aja ya, Pa!" Nicholas meletakkan kembali gagang teleponnya ke atas meja.


"Kamu sekarang, ke ruangan papa. No protes!" Nicholas meraih tangan Anisa dan mendorong gadis itu keluar dari ruangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anisa keluar dari dalam ruangan Rehan dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca. Entah apa yang dikatakan pria setengah baya itu tadi, hanya dirinya lah yang tahu.


Anisa terlihat membereskan mejanya, dan memasukkan semua barangnya ke dalam tas. Kemudian, dia berjalan ke pintu ruangan Nicholas dan mengetuk pintu itu.


"Masuk!" titah Nicholas dari dalam.


Anisa membuka pintu dengan perlahan dan masuk.

__ADS_1


"Lho, kamu sudah selesai bicara dengan, Papaku? dia bicara apa saja? kok lama?" tanya Nicholas dengan beruntun.


"Pak, aku ke sini mau pamit. Terima kasih untuk dua minggu ini!" bukannya menjawab pertanyaan Nicholas, Anisa justru membuat Nicholas, terkesiap kaget sekaligus bingung.


"Kenapa kamu pamit? emangnya apa yang dikatakan Papa padamu?" tanya Nicholas dengan alis bertaut.


"Pak Rehan hanya memintaku untuk pergi dari sini. Katanya, melihat dari jurusanku, aku tidak cocok untuk jadi seorang sekretaris. Apalagi tadi aku sudah membuat keributan di kantor ini," ucap Anisa dengan lirih dan wajah sendu.


"Makanya, cari bakat itu yang berkelas dikit. Ini ... berdebat malah kamu jadikan hobby. Jadinya kamu rugi sendiri kan?" bukannya menghibur, Nicholas malah melontarkan ledekan pada Anisa.


Anisa mendegus, dan mencebik.


"Bapak memang tidak punya hati. Orang lagi sedih, Bapak malah menertawakannya. Aku menyesal pamit pada, Bapak . Seharusnya tadi aku langsung pergi saja," Ujar Anisa dengan bibir mengerucut.


"Ya udah, maaf deh!" ucap Nicholas, sambil berusaha menahan tawanya.


"Jadi, karena alasan itu, Papa memberhentikanmu?" Anisa menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Kenapa bisa seperti itu? Papa memang selalu tegas pada orang yang melakukan kesalahan, tapi tidak pernah sampai memberhentikan seperti ini," Kening Nicholas terlihat berkerut.


"Bukan hanya memberhentikanku, Pak. Bea siswaku juga dicabut. Aku bingung mau bagaimana lagi? dari mana aku cari uang untuk biaya kuliah yang tinggal sebentar lagi selesai?"


Ucapan Anisa membuat Nicholas lebih kaget dari sebelumnya.


Anisa akhirnya menceritakan apa yang menyebabkan dia berdebat dengan seorang wanita di divisi keuangan tadi, dan Nicholas mendengarkan dan berusaha mencerna cerita Anisa.


"Sepertinya, Papa sudah salah paham sama kamu. Kamu di sini saja dulu ya, biar aku yang bicara sama,Papa." Nicholas berdiri dari tempat duduknya dan mengayunkan kakinya hendak melangkah keluar. Namun sebelum pria itu sampai di pintu,Anisa sudah menghalangi langkah bosnya itu.


"Tidak usah, Pak!"


"Kenapa?" Nicholas mengrenyitkan keningnya.


Senyum Anisa tiba-tiba merekah dan tanpa sadar menarik tangan Nicholas dan mengajak pria itu melompat-lompat.


"Hei, hentikan!" bentak Nicholas.


"Eh, maaf-maaf!" Anisa refleks melepaskan tangannya.


"Kamu sudah gila ya! ada ya orang seperti kamu yang diberhentikan, riang seperti itu? atau jangan-jangan kamu ...." Nicholas memicingkan matanya, curiga.


"Hehehe! aku tidak diberhentikan. Justru Pak Rehan menjadikanku bukan karyawan magang lagi, tapi benar-benar menjadi karyawan di perusahaan ini. Tapi, bukan jadi sekretaris Bapak," jelas Anisa dengan semangat.

__ADS_1


"Jadi? kalau bukan jadi sekretaris, kamu jadi apa?"


"Aku justru jadi manager keuangan. Yeee, akhirnya aku lepas dari Bapak!" sorak Anisa dengan wajah berbinar.


"Sialan! bisa-bisanya dia bahagia karena lepas dariku. Lihat aja kamu! sekarang kamu bisa gembira, tapi tidak dengan nanti," Nicholas tersenyum smirk, penuh akal licik.


"Aku pamit dulu, ya Pak! bye,bye!" Anisa mengerlingkan matanya, meledek Nicholas.


"Kamu tunggu dulu! aku telepon papa dulu!" seru Nicholas, menghentikan langkah Anisa.


"Tidak percaya amat sih? telepon aja kalau nggak percaya!"


Nicholas meraih telepon di atas meja dan langsung menghubungi ruangan sang papa.


Tidak menunggu lama, Terlihat Nicholas terlibat percakapan serius dengan Rehan papanya.


Sementara itu, Anisa terlihat menggeram mendengar apa yang dibicarakan oleh Nicholas yang jelas-jelas sedang menyampaikan protes, atas keputusan yang diambil oleh Rehan papanya.


"Oh, Ok Pa! " Nicholas menoleh ke arah Anisa. "Anisa, nih pak Presdir mau bicara!" Nicholas menyerahkan ponselnya ke arah Anisa yang sudah memasang wajah mengajak perang.


"Iya, Pak?" ujar Anisa setelah telepon sudah berpindah padanya.


"Emm, begini Anisa. Aku mau minta maaf lebih dulu. Kamu akan tetap jadi manager keuangan nanti, tapi berhubung sekretaris lama sedang cuti melahirkan, untuk tiga bulan ini, kamu tetap jadi sekretaris Nicholas dulu ya, sampai sekretaris lama selesai cuti," ucap Rehan dari ujung telepon.


"Baik, Pak! sahut Anisa dengan lemas, sembari meletakkan telepon itu ke tempat semula.


"Yeee, tidak jadi lepas dariku!" kini gantian Nicholas yang bersorak, dengan raut wajah meledek.


Anisa menghentak-hentakkan kakinya, merasa super duper kesal. Seandainya Nicholas bukan atasannya, ingin sekali dia mencekik pria itu.


"Menyebalkan! umpat Anisa sembari menatap kesal ke arah Nicholas.


"Sekarang, kamu selesaikan dulu laporan ini!" Nicholas memberikan sebuah dokumen ke tangan Anisa.


Anisa memutar badannya dan dengan wajah cemberut, gadis itu melangkah menuju pintu.


"Anisa, tunggu sebentar!" Anisa kembali berbalik menoleh ke arah Nicholas.


"Fighting!" ledek Nicholas, sembari mengangkat tangannya dengan tangan terkepal, memberikan semangat ala artis-artis Korea.


Anisa kembali mengerucutkan bibirnya, dan keluar sembari menghentakkan kakinya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2