
Dua minggu waktu sudah berlalu semenjak Renata meminta pada Nathan, untuk memeriksakan kembali kesuburan mereka berdua. Namun, entah kenapa sampai waktu yang dijanjikan Nathan, Renata tidak memintanya kembali. Apa wanita itu lupa atau sudah bisa berdamai dengan keadaan, Nathan tidak tahu sama sekali, yang jelas Nathan pun tidak berniat mengingatkan. Pria itu berpura-pura lupa.
Nathan terlihat menggeliat, pertanda kalau pria itu hendak bangun. Benar saja, pria itu perlahan-lahan membuka matanya. Bibir pria itu terlihat menerbitkan seulas senyuman, begitu melihat wajah Renata yang masih terlihat terlelap. Nathan mengikis jarak dan mengecup kening istrinya itu.
Setelah itu, Nathan duduk, lalu meraih ponsel yang ada di atas nakas. Pria Itu melihat ada beberapa pesan yang masuk ke dalam handphonenya.
"Kok pagi-pagi begini, sudah banyak pesan yang masuk ya?" batin Nathan dengan kening yang berkerut. Kemudian,pria itu mulai membuka pesan itu satu persatu. Ternyata pesan itu adalah ucapan selamat ulang tahun untuk dirinya dari para keluarga besar dan sahabatnya.
"Ternyata hari ini aku ulang tahun, tapi kenapa Renata tidak mengucapkan sama sekali? Biasanya, tengah malam dia sudah lebih dulu mengucapkan selamat padaku, karena dia tidak suka dirinya didahului oleh orang lain. Apa dia lupa ya kalau hari ini aku ulang tahun?" bisik Nathan pada dirinya sendiri sembari kembali menoleh ke arah Renata.
"Dia bahkan jam segini belum bangun juga? padahal biasanya dia akan bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan dan pakaian kerjaku. Bukannya dia tadi malam tidur cepat ya? jadi kurang masuk akal kalau sampai jam segini, dia belum bangun juga," lagi-lagi batin Nathan sibuk menduga-duga.
"Ah, sudahlah! mungkin dia lagi kecapean makanya belum bangun jam segini. Aku tidak boleh berpikiran buruk padanya. Sekarang, lebih baik aku mandi saja dan menyiapkan sendiri keperluanku," Nathan akhirnya tersenyum kembali seraya beranjak turun dari atas ranjang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nathan pulang dari kantor dengan wajah yang ditekuk. Seharian ini dia menunggu Renata untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya, tapi apa yang ditunggunya tidak kunjung datang. Renata memang tetap menghubunginya melalu telepon, tapi, ya seperti sebelum-sebelumnya, istrinya itu hanya menanyakan apa dia sudah makan siang atau belum, dan jam berapa pulang.
"Sayang, kenapa wajahmu kusut seperti itu? apa tadi banyak pekerjaan kantor ya?" tanya Renata ketika menyambut Nathan.
Bukannya menjawab, Nathan justru mengrenyitkan keningnya, semakin bingung dengan sikap Renata yang terkesan seperti tidak ada sesuatu yang dilupakannya.
"Hais, sepertinya dia benar-benar lupa kalau hari ini aku ulang tahun," batin Nathan kesal.
"Sayang, kamu kenapa diam saja? kamu capek ya?" lagi-lagi Renata bertanya.
"Iya, hari ini aku capek sekali. Aku capek menunggu kesadaran seseorang," sahut Nathan, ambigu.
"Maksudnya?" Renata mengrenyitkan keningnya.
"Tidak ada. Aku mau ke kamar dulu ya. Aku mau mandi dan langsung istirahat," sahut Nathan sembari berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Renata.
Sesampainya di depan pintu kamar, Nathan membuka pintu dengan perlahan. Namun, alangkah kagetnya dia begitu melihat kamar yang kini terlihat sangat indah, didekorasi sedemikian rupa. Di atas kasur tampak ada ucapan 'Happy birthday suamiku' dan di atasnya ada tumpukan kado yang Nathan tidak tahu berapa jumlahnya.
"Happy birthday, Sayang!" ucap Renata yang ternyata menyusulnya dari belakang. Di tangan wanita itu ada kue, lengkap dengan lilin angka 2 dan 6 yang sudah menyala.
Nathan sontak menoleh dan melihat Renata yang tersenyum manis ke arahnya.
__ADS_1
"Sayang, ini semua kamu yang melakukannya?" tanya Nathan dan Renata mengangguk, mengiyakan.
"Maaf ya, Sayang. Aku tidak mengucapkannya lebih dulu dari yang lainnya. Aku sama sekali tidak lupa, tapi aku hanya ingin memberikan kamu surprise. Sekarang kamu tiup dulu lilin ini!" tutur Renata tanpa menanggalkan senyum dari bibirnya.
Nathan sontak tersenyum dan melangkah menghampiri Renata. Kemudian, pria itu memejamkan matanya untuk sejenak, untuk membuat sebuah harapan. Kemudian, pria itu mulai meniup lilin, lalu meraih kue itu dari tangan Renata dan meletakkan di atas meja. Setelah itu, dia menarik tubuh sang istri,lalu memeluknya dengan erat.
"Terima kasih ya, Sayang. Jujur, aku bisa merasakan bagaimana rasanya mendengar sebuah ucapan selamat ulang tahun, semenjak bersama denganmu. Dari dulu aku sama sekali tidak pernah mendengar ucapan itu dari keluargaku," ucap Nathan dengan tulus.
"Sudahlah! yang sudah lalu, tidak perlu diingat lagi. Sekarang kamu buka kado-kado itu dulu! aku sudah menyiapkannya dengan susah payah," ucap Renata sembari menuju ke arah tumpukan kotak di atas ranjang itu.
"Banyak sekali, Sayang. Apa aja sih isinya?"
"Aku menyiapkan 26 kado, sesuai dengan usiamu sekarang. Jadi kamu harus membukanya berurutan sesuai dengan nomor yang tertera di kado itu," ucap Renata.Ya, Renata sudah membubuhi angka 1- 26 di kertas pembungkus kado-kado itu.
Nathan mendapatkan tubuhnya duduk di tepi ranjang dan mulai membuka kado yang bertuliskan angka satu. Ternyata isinya adalah sebuah mie instan,brand yang terkenal di Indonesia.
"Mie instan?" Nathan mengrenyitkan keningnya.
"Iya, mie instan! Aku sengaja membelinya karena aku tahu kamu suka memakan itu," ucap Renata, memberikan alasannya.
"Sudahlah! kamu tidak perlu mengingat hal itu lagi. Sekarang, kamu buka lagi kado yang lainnya," ucap Renata berusaha mengalihkan kesedihan sang suami.
Nathan kini kembali tersenyum lebar. Dia kembali meraih kado kedua dan yang lainnya. Ternyata isinya berbagai macam. Ada snack-snack ringan, kemeja, jam tangan mahal, ikat pinggang, kemeja, sepatu, parfum dan banyak lagi. Kini Nathan sudah tiba di kado yang bertuliskan angka 26.
Perlahan-lahan, pria itu membuka kado itu. Mata pria itu sontak membesar melihat isi kado itu.
Ternyata kado itu merupakan sebuah photo hasil USG, dan bertuliskan 'You're going to be a Daddy!'.
"I-ini maksudnya apa?" tanya Nathan dengan bibir yang bergetar.
"Apa kamu tidak bisa membacanya? Kamu sebentar lagi akan jadi seorang ayah, Sayang!" ucap Renata dengan mata yang tiba-tiba berembun.
"Ka-kamu tidak bercanda kan?" Nathan masih sulit untuk percaya.
__ADS_1
"Tidak sama sekali!" sahut Renata tegas.
"Sejak kapan kamu tahu?"
"Dua minggu yang lalu. Aku tidak sabar menunggu hari yang kamu janjikan. Aku pergi sendiri untuk periksa, ternyata dokter mengatakan kalau aku sudah hamil. Tapi, aku memutuskan untuk memberitahukanmu, tepat di hari ulang tahunmu, sebagai kado untukmu," tutur Renata, menjelaskan.
"Jadi, gara-gara itu, kamu tidak mengajakku lagi untuk periksa kesuburan ke dokter?" Renata menganggukkan kepalanya,. mengiyakan.
Nathan sontak berdiri kembali seraya meraih tubuh Renata ke pelukannya. Mata pria itu terlihat berkaca-kaca, benar-benar terharu karena tidak menyangka kalau dia sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Terima kasih, Sayang. Aku janji akan menjaga kamu dan calon anak kita dengan baik. Aku akan menjadi suami siaga," ucap Nathan dengan raut wajah sumringah.
"Tapi, Sayang ...." wajah Renata tiba-tiba merasa seperti memikirkan sesuatu.
"Tapi apa?" Nathan mengrenyitkan keningnya.
"Seminggu lagi kan Dava dan Nabila akan menikah di Indonesia. Kata dokter, kandunganku tidak kuat untuk naik pesawat. Aku dilarang untuk naik pesawat, Sayang," ucap Renata dengan raut wajah sendu.
Ya, Dava dan Nabila akan segera melangsungkan pernikahan mereka di Indonesia,.setelah menjalin hubungan selama dua tahun, dan kuliah Nabila selesai.
"Untuk masalah itu serahkan padaku." ucap Nathan sembari meraih ponselnya.
Pria itu kemudian menghubungi Dava. Tidak perlu menunggu lama, panggilan sudah terhubung.
"Iya, Nath? ada apa?" terdengar suara Dava dari ujung sana.
"Aku mau pernikahanmu dan Nabila diadakan di London." ucap Nathan tanpa basa-basi.
"Hei, tidak boleh begitu dong! semuanya sudah siap 95 persen. Kamu jangan seenak hati merubah tempatnya," tolak Dava.
"Renata sedang hamil muda, dan dia dilarang untuk naik pesawat. Jadi tidak mungkin aku meninggalkannya sendiri di sini. Sementara itu, Nabila itu adik perempuanku satu-satunya, tidak mungkin aku tidak hadir di hari istimewanya itu,"tutur Nathan, memberikan alasannya.
"Wah, Renata hamil? selamat ya, Nathan! tapi, waktunya sudah sangat mepet, Nath. Tinggal seminggu lagi. Sepertinya akan sulit jika harus dilaksanakan di sini,"
"Untuk masalah itu kamu tenang saja. Aku akan mengatasi segalanya. Kamu serahkan saja padaku. Untuk masalah orang tua, aku akan memberitahukan pada mereka, dan aku yakin mereka akan mau mengerti. Kamu tenang saja, semuanya biayanya aku yang tanggung,"
"Terserah kamu sajalah!" pungkas Dava akhirnya mengalah.
__ADS_1