
"Terima kasih sudah mengantarkanku pulang!" ucap Anisa sembari membuka pintu mobil.
"Tunggu dulu!" Nicholas menyentuh pundak Anisa, mencegah gadis itu untuk keluar dari mobil.
Anisa menaikkan kembali kakinya yang sempat sudah menginjak tanah, lalu menoleh ke arah Nicholas.
"Ada apa lagi, Pak?" Anisa mengrenyitkan keningnya.
"Aku cuma bilang, agar kamu jangan menganggap serius apa, ucapanku yang mengatakan kalau kita menjalin hubungan," ucap Nicholas dengan sangat hati-hati, takut gadis itu salah paham dan marah.
"Oh, itu? sebelum Bapak mengatakannya aku memang tidak menganggapnya serius, Pak. Jadi kamu tenang saja," ucap Anisa dengan santai.
Nicholas bergeming, tidak menyangka kalau respon Anisa sesantai itu.
"Syukurlah kalau kamu paham," Nicholas mengalihkan tatapannya yang awalnya menatap Anisa, kini menatap ke depan.
"Tidak mungkin aku menganggapnya serius, Pak. Aku tahu, tujuan Bapak mengatakan itu, hanya supaya Nathan tidak merasa bersalah kan?" Anisa menyunggingkan senyumnya.
"Iya!" sahut Nicholas singkat padat dan jelas. "Jadi,aku mau jika di depan mereka kita harus tetap berpura-pura memiliki hubungan, sampai kita bertepuk dengan pasangan hidup kita masing-masing. Kamu tidak keberatan kan?" lanjut Nicholas kembali.
"Hmm, bagaimana ya? apa ada keuntungan bagiku?"
"Aku akan memberikan kamu tambahan uang jika kamu mau,"
"Ah, sudahlah lupakan! aku memang butuh uang, tapi gajiku sudah lebih dari cukup. Jika aku mau tambahan uang, aku bisa cari kerja sampingan lagi. Tapi, Pak Nicholas tenang saja, aku tetap bersedia bekerja sama dengan Bapak. Cuma aku sarankan agar Bapak cepat-cepat mencari pasangan supaya aku tidak capek berpura-pura terus. Aku juga perlu mencari pasangan sendiri, Pak," ucap Anisa dengan lugas.
"Emmm," sahut Nicholas, mengiyakan dengan nada malas.
"Kalau begitu, aku sudah bisa keluar kan? atau masih ada yang ingin Bapak bicarakan?". alis Anisa bertaut.
"Tidak ada! kamu bisa keluar sekarang!" Nicholas masih tetap menatap ke depan.
"Hmm, baiklah! sekali lagi terima kasih buat tumpangannya! Selamat malam!"
"Malam!" sahut Nicholas dengan nada malas.
Anisa akhirnya keluar dari dalam mobil, dan menutup pintu mobil Nicholas kembali.
Namun, wanita itu tidak langsung beranjak pergi. Anisa masih berdiri, berniat akan masuk setelah mobil Nicholas berlalu pergi. Akan tetapi, ternyata Nicholas juga tidak langsung pergi, dia memutuskan untuk menunggu Anisa masuk ke dalam rumah sebelum dia pergi.
Nicholas mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Kenapa dia masih berdiri di situ? dia nggak ada niat buat masuk kah?" gumam Nicholas sembari menurunkan kaca mobilnya.
"Hei, kenapa kamu belum juga masuk ke dalam rumah? sana masuk!" titah Nicholas.
__ADS_1
"Aku akan masuk setelah kamu pergi. Sana pergi!" Anisa balik memerintahkan Nicholas pergi.
"Kamu benar-benar keras kepala ya? aku akan pergi setelah kamu masuk!" Nicholas menolak untuk pergi.
"Kenapa harus aku masuk dulu, baru kamu pergi? seharusnya kamu pergi dulu baru aku masuk, biar lebih sopan," Anisa tetap kekeuh berdiri di tempatnya.
"Ya udah, sekarang kita bedakan dari yang biasa, Kamu masuk dulu, baru aku pergi,"
"Aku tidak mau! jangan bilang kalau kamu ingin melihat boko*ngku dari belakang, ketika aku berjalan masuk. Iya kan? ayo ngaku!" tukas Anisa dengan tatapan curiga.
"Astaga, bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu.Apa kamu kira aku ini manusia cabul? lagian, aku tidak tertarik sama sekali dengan tubuhmu. Sana masuk!" titah Nicholas dengan ekspresi yang sangat kesal.
"Nggak mau! kamu pergi dulu baru aku masuk," lagi-lagi Anisa menolak.
Nicholas mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan. Pria itu benar-benar dongkol dengan sikap keras kepala Anisa.
"Baiklah, begini saja. Kita sama-sama pergi. Aku hitung sampai tiga, kamu berjalan masuk ke dalam rumah dan aku juga langsung pergi, bagaimana?" Nicholas memberikan usul.
Nicholas menghidupkan mesin mobilnya terlebih dulu, kemudian dia mulai menghitung.
"Satu, dua, tiga!" seiring hitungan Nicholas sampai di angka tiga, pria itu langsung melajukan mobilnya dan Anisa berjalan masuk.
Tingkah dua orang yang katanya sudah dewasa itu, benar-benar seperti anak-anak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku benar-benar tidak menyangka, kalau kita bisa sampai sejauh ini. Aku sempat pasrah, untuk menerima dengan lapang dada pertunanganku dengan kak Nicholas," ucap Renata, sembari menerbitkan senyum manisnya.
"Apa kamu bahagia?" tanya Nathan, lembut.
Renata menjauhkan kepalanya dai dada Nathan dan menatap pemuda itu. "Tentu saja aku bahagia, walaupun aku sempat kesal padamu, yang seenaknya saja, memutuskan hubungan." Renata mengerucutkan bibirnya, membuat Nathan terkekeh.
"Bagaimana denganmu? apa kamu bahagia atau hanya aku saja yang bahagia?" Renata balik bertanya.
"Menurutmu?" bukannya menjawab, Nathan malah balik bertanya.
"Ya, mana aku tahu," Renata kembali mencebikkan bibirnya.
"Kenapa tidak tahu? dari raut wajahku kan sudah tampak jelas, kalau aku bahagia. Aku speechless, benar-benar tidak bisa mengutarakan dengan kata-kata lagi,"
Renata tersenyum lebar, begitu mendengar jawaban Nathan.
"Sekarang, aku mau tanya sekali lagi, karena tadi kamu belum memberikan jawaban. Apa sekarang aku sudah bisa memanggilmu, Sayang?" goda Nathan sembari mengerlingkan matanya.
"Haish, kenapa dia harus melontarkan pertanyaan itu lagi sih? kalau mau manggil sayang, ya kan tinggal manggil. Kenapa harus ditanya coba? aku kan malu buat menjawabnya," Renata menggerutu di dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam? apa kamu keberatan aku panggil sayang? kalau iya, aku akan __"
"Aku nggak keberatan, kok!" sambar Renata dengan cepat, takut Nathan berubah pikiran.
"Hahahaha! cepat sekali jawabnya!" ledek Nathan.
"Ihh, Kenapa kamu jadi menyebalkan seperti ini sih?" Renata mencebik sembari menatap ke arah lain.
Tawa Nathan seketika pecah, melihat ekspresi kesal wajah Renata.
"Tertawa aja terus! benar-benar menyebalkan! kalau tidak mau manggil sayang, ya tidak usah," Renata mulai mengomel tidak jelas.
"Jangan marah dong! tadi aku hanya bercanda!" bujuk Nathan sembari menyentuh pundak wanita yang dicintainya itu. Akan tetapi,Renata yang masih cemberut menepis tangan Nathan.
"Sayang, jangan marah dong! sumpah tadi aku hanya bercanda," tanpa disadari oleh Nathan, bibir Renata melengkung ke atas membentuk senyuman, ketika pertama kali dia mendengar Nathan memanggilnya 'sayang'. Dia merasa bagaikan berada di taman bunga yang berwarna-warni dan mekar dengan indahnya. Namun, Renata mencoba untuk tetap terlihat masih kesal.
"Sayang, jangan marah ya!" kembali Nathan membujuk Renata dengan kata sayang, sembari memutar tubuh Renata dengan lembut menghadapnya.
Nathan menatap intens ke arah Renata demikian juga dengan gadis itu. Untuk beberapa saat, tatapan mereka terkunci satu sama lain. Tanpa sadar Nathan mulai mengikis jarak dan menempelkan bibirnya ke bibir baby pink milik Renata. Renata menerima sentuhan bibir Nathan yang pertama kalinya sembari memejamkan matanya.
Awalnya bibir Nathan hanya menempel, tapi ketika tidak mendapat penolakan, Nathan mulai melu*mat dengan perlahan dan Renata pun membalasnya. Ciuman keduanya benar-benar kaku, mengingat ini adalah pengalaman pertama kalinya buat mereka berdua.
Ciuman mereka berdua terhenti, ketika tiba-tiba handphone Renata berbunyi, tanda ada pesan yang masuk ke handphonenya.
Renata dengan sigap membuka pesan itu yang ternyata dari papanya.
"Jangan macam-macam, sebelum sah secara hukum dan agama!" bunyi pesan yang dikirimkan oleh Rajendra
Renata sontak terkesiap kaget dan langsung mengedarkan tatapannya ke segala penjuru, untuk mencari keberadaan papanya.
"Kamu cari siapa?" Nathan mengrenyitkan keningnya.
"Cari papa! coba kamu lihat ini!" Renata menunjukkan pesan yang dikirimkan papanya pada Nathan.
Pria itu sontak ikut kaget dan juga mengedarkan pandangannya mencari keberadaan calon mertuanya itu.
"Bukannya tadi, papa kamu sudah pulang dengan mama kamu? kita sendiri kan yang mengantarkan mereka ke dalam mobil?" tanya Nathan memastikan.
"Iya juga ya? tapi, kenapa papa mengirimkan pesan seperti ini?"
"Entahlah!" Nathan mengangguk bahunya.
"Ya udah, ayo aku antarkan kamu pulang sekarang! aku tidak mau, papa kamu berpikir yang aneh-aneh dan menganggap aku pria yang tidak bertanggung jawab," pungkas Nathan sembari meraih tangan Renata.
Walaupun Renata masih sangat ingin bersama dengan Nathan, tapi apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu benar, sehingga mau tidak mau dia tidak menolak untuk pulang.
__ADS_1
Tbc