
Nathan tidak menyangka kalau lukisannya yang berjudul kukejar mimpi dihargai hingga mencapai ratusan milliar jika dirupiahkan. Selain lukisan itu, ada juga beberapa lukisan lain seperti lukisan yang menggambarkan kasih sayang seorang ibu pada anaknya yang terjual walaupun tidak semahal lukisan yang dibeli oleh. Mr Albert Dawson, tapi setidaknya pencapaian Nathan benar-benar sudah bisa disejajarkan dengan para maestro seni lukis.
"Selamat ya,Alex. Kamu benar-benar hebat!" puji Nurdin dengan tatapan kagum.
"Terima kasih banyak, Kek. Aku juga sangat tidak menyangka kalau aku akan bisa sampai pada tahap ini. Ini semua berkat, Kakek. Terima kasih banyak, Kek!" ucap Nathan dengan tatapan yang berkilat-kilat, terharu.
"Jangan berterima kasih padaku! Tapi, berterima kasihlah pada Tuhan, yang mempertemukan kita. Selain itu, semua pencapaian yang kamu dapatkan itu berkat talenta yang kamu punya, Nak," Nurdin tersenyum tulus. Entah kenapa, Nurdin begitu menyayangi pemuda di depannya itu, padahal baru saja bertemu..Pria tua itu juga bingung kenapa bisa demikian.
Kedua laki-laki berbeda usia itu, hening beberapa saat, menikmati sejuknya semilir angin di taman belakang galeri milik Nurdin. Mereka berdua sepertinya sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Bagaimana ya kabar mama sekarang? apa mama sudah bangun dari komanya?" bisik Nathan pada dirinya sendiri. Sejujurnya di balik rasa bahagianya, hati pemuda itu masih belum bisa sepenuhnya merasa tenang karena tidak tahu sama sekali kabar Naura mamanya.
"Bagaimana juga kabar Renata sekarang? kenapa jantungku merasa tidak enak seminggu ini, karena memikirkan dia? apa ada sesuatu yang terjadi pada Renata?" lagi-lagi Nathan berbicara pada hatinya sendiri, walaupun sang hati tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya.
"Nak Alex kenapa kamu diam saja? apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" suar Nurdin kembali menyadarkan Nathan dari alam bawah sadarnya.
"Emm, tidak ada Kek. Aku cuma masih larut dalam suasana yang benar-benar di luar ekspektasiku ini," jawab Nathan, berbohong.
"Oh seperti itu?" Nurdin mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh ya, kata asistenku, semua urusan kuliahmu sudah selesai. Kamu bisa kuliah minggu depan," lanjut Nurdin kembali.
"Begitu ya, Kek? baiklah! sekali lagi terima kasih banyak, Kek!" Nathan melemparkan senyum manisnya.
"Satu lagi, kalau tidak keberatan, kamu pindah saja ke rumah kakek. Karena Kakek hanya tinggal sendiri bersama para asisten. Istri Kakek sudah lama meninggal. Sedangkan putri kakek satu-satunya sudah hidup di Indonesia bersama dengan suaminya. Apa kamu mau?" Nurdin menatap Nathan dengan tatapan penuh harap. Entah kenapa,pria tua itu sangat menginginkan Nathan bersedia tinggal seatap dengannya.
__ADS_1
"Tapi, Kek ... bukannya itu terlalu berlebihan?". Nathan terlihat merasa tidak enak.
"Tidak sama sekali. Kalau kamu tinggal di rumah Kakek, aku justru akan merasa sangat bahagia, karena seperti yang aku bilang tadi, aku tinggal sendiri di sini. Kamu mau ya, tinggal dengan kakek?" raut wajah Nurdin terlihat memelas, hingga membuat Nathan tidak kuasa untuk menolak.
"Baiklah, Kek!" pungkas Nathan akhirnya mengiyakan.
"Oh ya, Kek, aku penasaran bagaimana Kakek bisa jadi warga negara di sini?" tanya Nathan mengungkapkan rasa penasarannya.
Bibir Nurdin seketika menerbitkan sebuah senyuman. Matanya seperti menerawang membawa ingatannya ke masa lalu.
"Kakek sebenarnya sama sepertimu, datang ke negara ini untuk menggapai impian. Di negara ini, kakek justru bertemu dengan wanita yang bisa membuatku jatuh cinta. Wanita itu memang orang Asia, tapi sudah menjadi warga negara di sini. Wanita itu lah yang akhirnya menjadi istri Kakek. Awalnya hubungan kakek ditentang oleh orang tua nenekmu, karena aku dianggap tidak punya masa depan. Namun, lambat laun, melihat kegigihan kakek, orang tua istri Kakek akhirnya luluh dan merestui hubungan kami, tapi dengan satu syarat kakek tidak boleh membawa putri mereka untuk tinggal di Indonesia. Karena itulah Kakek bisa menjadi warga negara di sini, dan sesekali pulang ke Indonesia," jelas Nurdin panjang lebar.
"Wah, aku jadi terinspirasi dengan cerita kakek, karena posisiku juga sama seperti kakek yang dianggap tidak memiliki masa depan oleh orang tua pacarku. Karena itulah, aku memutuskan untuk membuktikan pada papanya itu, kalau aku bukan benalu seperti yang dia katakan. Aku berjanji kalau aku akan sukses dan membahagiakan putrinya dari hasil jerih payahku sendiri," Nathan terlihat berbicara dengan berapi-api penuh semangat.
"Kakek juga sekarang sedang mencari cucu kakek yang hilang. Sayangnya kakek gak punya photonya. Kakek berencana akan mewariskan galeri dan perusahaan kakek pada cucu laki-laki kakek itu," lanjut Nurdin kembali. Wajah pria itu kembali terlihat sedih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nurdin meletakkan ponselnya ke atas meja setelah baru saja menerima panggilan.
"CK bagaimana ini? aku tidak bisa pulang ke Indonesia untuk menghadiri pertunangan Nicholas. Padahal aku sudah janji akan hadir," gumam Nurdin sembari mengembuskan napasnya. Ya, pria yang sudah berusia hampir 70 tahun itu, baru saja menerima telepon dari asistennya kalau ada hal penting di perusahaan yang harus diselesaikannya. Perusahaan yang dimiliki Nurdin merupakan perusahaan mertuanya dulu yang dia kelola sampai sekarang.
"Sebaiknya aku hubungi Nicholas dan minta maaf kalau aku tidak bisa datang. Dia pasti akan mengerti," Nurdin kembali meraih ponselnya dan langsung melakukan panggilan ke nomor Nicholas.
Tidak menunggu lama, panggilan langsung dijawab oleh Nicholas. Setelah berbasa-basi sebentar, Nurdin akhirnya mengungkapkan permintaan maafnya yang tidak bisa memenuhi janji untuk bisa hadir di acara pertunangan cucunya itu. Dan sesuai dugaan, Nicholas cukup mengerti dan sama sekali tidak merasa keberatan.
__ADS_1
"Kalau begitu, tolong kamu kirimkan photo calon istrimu itu ke Kakek sekarang! Kakek penasaran, ingin tahu, secantik apa sih gadis yang bisa menaklukkan hati seorang Nicholas," ucap Nurdin dengan nada menggoda.
"Ah, Kakek bisa saja! pokoknya dia cantik Kek. Nanti aku akan kirimkan photonya ke kakek," sahut Nicholas dari ujung sana.
"Kakek tunggu ya! kalau boleh sekarang juga kamu kirimkan! kalau tidak, nanti Kakek tidak bisa tidur karena penasaran,"Nurdin menyelipkan candaan pada ucapannya.
"Iya, ya Kek!" ucap Nicholas di sela-sela tawa kecilnya.
Panggilan akhirnya terputus dan Nurdin kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula. Baru saja ponsel itu berada di atas meja, ponsel itu kembali berbunyi, tapi bukan panggilan melainkan pesan.
Ternyata itu dari Nicholas yang langsung mengirimkan photo Renata.
"Wah, pantas saja Nicholas jatuh cinta. Perempuannya cantik begini," batin Nurdin tersenyum mengangumi wajah cantik Renata.
Kemudian pria tua itu menoleh ke arah toilet, kemana Nathan pamit pergi tadi.
"Kenapa Alex lama di toiletnya ya?" batin Nurdin yang tanpa sengaja menyenggol handphone Nathan yang tertinggal hingga terjatuh.
Nurdin meraih handphone itu dan tanpa sengaja menekan sebuah tombol menghidupkan.
Cahaya biru langsung tertangkap mata Nurdin, tapi, bukan itu yang membuat pria tua itu kaget, melainkan photo wallpaper di ponsel itu, dimana Nathan berpose romantis dengan Renata waktu malam perpisahan sekolah dulu.
"Bukannya, gadis ini, gadis yang sama dengan tunangan Nicholas? Tadi, dia juga bertanya mengenai Alex kan? apa sebenarnya yang terjadi? berarti Nicholas benar-benar mengenal Alex dan dia merebut pacarnya," Nurdin menarik kesimpulan sendiri di dalam hatinya.
Tbc.
__ADS_1