Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Tidak tahu malu


__ADS_3

"Perkenalkan, ini Nathan putra keduaku!" kembali Rehan bersuara memperkenalkan Nathan, setelah pemuda itu sudah berdiri di sampingnya. "selama ini, dia menyelesaikan studinya di London dan sekarang memimpin perusahaan almarhum papa mertuaku. Dia memiliki bakat seni seperti istriku yaitu melukis. Selain galeri yang diwariskan oleh mertuaku, dia juga punya galeri sendiri yang cukup besar," lanjut Rehan kembali.


"Sebenarnya, Nathan dan Renata sudah lama bertunangan, semenjak mereka lulus SMA, tapi dilakukan secara tertutup. Malam ini, kami kira adalah saat yang tepat untuk mengumumkannya ke publik," ucap Rehan yang membuat Nathan semakin bingung. Bukan hanya Nathan, Renata juga ikut bingung. Gadis itu menoleh, dengan tatapan menuntut penjelasan, ke arah Rajendra papanya. Sementara itu, Rajendra yang mengerti maksud dari tatapan putrinya itu hanya bisa tersenyum saja ke Renata


"Pa, sebenarnya apa yang terjadi? sejak kapan aku bertunangan dengan Renata?" bisik Nathan, tepat di telinga Rehan.


"Bukannya tadi sudah papa katakan? kalian bertunangan sudah lama, semenjak kamu lulus SMA," sahut Rehan, yang kembali berbisik.


"Tapi, bukannya yang bertunangan itu ...."


"Lebih baik, nanti saja kita bicarakan! jangan membuat para tamu berpikir yang aneh-aneh!" sahut Rehan.


"Nah, supaya pertunangan mereka benar-benar sah, mari kita lakukan kembali acara pemasangan cincinnya," ucap Nicholas, mengambil alih microphone dari tangan papanya.


"Renata ke sini, Nak!" panggil Rehan seraya tersenyum.


Nathan sontak memutar tubuhnya, menatap Renata yang kini juga tengah menatapnya.


"Nak, kenapa kamu masih berdiri di sana? ayo kemari!" Rehan kembali memanggil Renata.


Renata sontak menoleh ke arah sang papa, seakan meminta persetujuan.

__ADS_1


Rajendra yang mengerti makna tatapan sang anak, tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


Renata membalas senyum papanya, kemudian melangkah menghampiri Nathan.


Tatapan Nathan kini tidak pernah lepas dari Renata. Sedangkan Renata menundukkan kepalanya, merasa grogi ditatap oleh Nathan.


"Renata, ayo kamu lepaskan cincin kamu itu dan berikan pada Nathan agar dia memasangkannya kembali ke jarimu!" ucap Rehan dengan lembut.


Renata mengerenyitkan keningnya, merasa ada yang aneh. Dia mengira kalau keluarga Nicholas akan menyiapkan cincin baru, bukan yang dipasangkan oleh Nicholas dulu.


"Kenapa belum kamu buka? kamu mengira nama yang terukir di cincin itu namaku ya? makanya perhatikan jelas-jelas! sangat jelas terukir nama Nathan di cincin itu. Saat itu aku hanya mewakili Nathan saja," bisik Nicholas.


"Ke-kenapa bisa? kenapa aku tidak tahu?" gumam Renata dengan suara yang sangat pelan.


"Itu karena kamu tidak pernah memakainya dan tidak pernah memperhatikannya. Cincin itu, selalu kamu simpan kan?" ledek Nicholas.


Renata seketika merasa sangat menyesal, melepas cincin tunangan itu selama ini. Ya, emang benar apa yang baru saja terlontar dari mulut Nicholas. Mulai dari acara tukar cincin dulu, tanpa memperhatikan cincin yang terpasang di jarinya dengan jelas, Renata sudah mencopotnya dan menyimpannya. Malam ini dia pakai karena memang diharuskan pakai.


"Ya udah sekarang berikan cincinnya pada Nathan. Dan ini cincin Nathan aku kasih ke kamu,". Nicholas meletakkan cincin ke telapak tangan Renata.


Nathan menerima cincin dari tangan Renata dengan tangan yang gemetar. Pria itu benar-benar tidak menyangka kalau hari ini akan tiba.

__ADS_1


"Ayo, tunggu apa lagi? pasangkan cincinnya!" desak Nicholas yang terlihat gregetan.


Renata menatap Nathan dengan semburat merah di pipinya saat tangan pria yang dicintainya itu terulur hendak memasangkan cincin ke jari manisnya.


"Renata, berikan tanganmu! atau kamu sekarang sudah berubah pikiran? apa sekarang kamu sudah mencintaiku?" goda Nicholas yang kesal melihat pergerakan Renata yang lambat.


"Enak aja!" tanpa menunggu Nathan memasang cincin ke jarinya, gadis itu meraih tangan Nathan dan memasukkan cincin yang ada di tangan Nathan ke jarinya sendiri dengan cepat, tidak ketinggalan dirinya memasukkan cincin yang ada di tangannya ke jari manisnya Nathan.


"Sudah sah, tidak boleh digangu gugat lagi!" Renata menggenggam tangan Nathan dengan erat dan menunjukkan cincin yang sudah terpasang jari masing-masing.


"Cih, nggak tahu malu! ngebet banget sama Nathan!" celetuk Nicholas, meledek Renata.


Sementara keluarga lain yang berdiri di dekat mereka hanya bisa menggelengkan kepala.


"Lihat tuh putrimu, benar-benar tidak tahu malu! persis seperti kamu dulu," bisik Rajendra di telinga Lina, istrinya.


"Tapi, kamu suka kan?" Lina balas berbisik yang disambut kekehan ringan dari Rajendra.


"Jadi, sekarang apa aku sudah bisa memanggilmu, Sayang?" bisik Nathan, persis di telinga Renata, hingga membuat wajah wanita itu seketika berubah merah merona, malu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2