
"Om, boleh kita bicara?" ucap Nathan, tanpa basa-basi, hingga membuat Rejendra dan Lina kaget dan sontak menatap ke arah Nathan yang berdiri di ambang pintu.
"Nathan? bukannya kamu tadi sudah pulang dengan orang tuamu,Nak?" tanya Lina.
Nathan, tidak langsung menjawab, tapi pria itu mengayunkan kakinya melangkah menghargaiku kedua orang tua Renata.
"Belum, Tan. Aku tadi masih menunggu di luar," sahut Nathan masih tetap berdiri.
"Jadi, kenapa kamu masih berdiri? ayo duduk!" Lina mempersilakan calon menantunya itu duduk.
"Emm, bolehkah,Om?" tanya Nathan hati-hati.
"Silakan!" jawab Rajendra dengan suara yang masih terdengar berat, akibat menangis. Hanya satu yang dia harapkan sekarang. Dia berharap kalau Nathan tidak melihat dirinya menangis.
"Terima kasih, Om!" Nathan mengulas senyum dan mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa.
"Tadi kamu bilang, kalau kamu mau bicara. Kamu mau bicara apa? kenapa tadi ketika orang tuamu masih ada di sini kamu tidak buka suara sekalipun? kamu tidak mengajukan protes sedikitpun. Atau jangan-jangan, keinginan kamu untuk memperistri Renata tidak sepenuhnya dari hatimu?" tukas Rajendra, penuh selidik.
Nathan kembali tersenyum. Pemuda itu benar-benar tidak terpancing dengan ucapan Rajendra yang terkesan menuduhnya.
"Tidak sama sekali, Om. Aku diam bukan berarti kalau aku tidak peduli dengan perdebatan antara Om dan Papa. Aku hanya tidak ingin memperkeruh suasana. Jika aku ikut terpancing emosi, masalah tidak akan selesai justru akan semakin runyam, bukan kah begitu, Om? makanya setelah aku merasa sudah agak tenang, aku datang lagi,"
Rajendra terdiam, tidak menyangka kalau pemuda yang masih berusia belum genap 23 tahun itu, bisa berpikir rasional seperti itu dan tidak gegabah dalam menyikapi sebuah masalah.
"Om, aku datang kembali ke sini mau kembali membicarakan masalah yang tadi. Aku tahu dan mengerti, kenapa Om bertanya di mana kami akan tinggal, setelah menikah. Sekarang coba kita lihat dari dua sisi, Om. Perusahaanku ada di London dan Om ada di Indonesia, sementara Renata adalah pewaris tunggal. Seandainya, aku memilih untuk tinggal di Indonesia seperti yang Om katakan, jadi bagaimana dengan perusahaan dan galeriku yang ada di London? bukannya perusahaan itu juga perusahaan turun temurun dari keluarga besar mama? bukannya tanggung jawabku untuk meneruskannya? kalau aku meninggalkannya, apa aku masih bisa disebut pria yang bisa menjaga amanah? apa Om percaya pada pria yang tidak bisa menjalankan amanah? Dan bukannya Om sendiri yang mengatakan ingin punya menantu yang tidak menggantungkan hidupnya pada putri, Om? kalau aku memilih untuk tinggal di Indonesia, bukannya itu berarti aku harus menggantungkan diri pada Renata? kalau begitu, apa aku masih memiliki muka di depan semua orang nantinya?" Nathan Diam sejenak untuk mengambil jeda atau sekedar ingin mengisi kekosongan udara di paru-parunya.
"Maaf, Om bukannya aku ingin merendahkan seorang wanita. Aku tahu wanita itu, adalah makhluk ciptaan Tuhan yang kuat. Namun, mereka diciptakan dari tulang rusuk, yang berarti menjadi pendamping ... yang harus dilindungi dan disayang, bukan untuk menjadi tulang punggung, walaupun aku tahu banyak wanita yang bisa menjadi kedua-duanya, jadi pendamping sekaligus menjadi tulang punggung, dan aku sangat salut pada wanita seperti itu. Tapi, di sini aku mau mengatakan kalau aku ingin menjadi tulang punggung untuk Renata, dan dia jadi pendampingku,Om.
__ADS_1
Aku ingin membahagiakan dia dengan apa yang sudah aku hasilkan selama ini dan Om tahu sendiri Kalau itu ada di London. Untuk masalah perusahaan Om yang ada di Indonesia, aku pastikan aku akan tetap mengizinkan Renata untuk mengelolanya kelak, dengan catatan dia sanggup. Aku juga janji akan ikut andil membantunya dalam mengelola perusahaan," lanjut Nathan kembali. Senyum di bibir pria itu tidak pernah tanggal saat berbicara dengan Rajendra.
Rajendra tidak menjawab sama sekali, di dalam hati pria itu masih ada hal yang sangat dia tunggu-tunggu dan ingin sekali dia dengar keluar dari mulut Nathan dan yang diinginkannya itu belum dia dengar sama sekali.
"Satu lagi, Om. Walaupun aku akan membawa Renata untuk tinggal di London, aku tidak akan pernah berniat untuk menjauhkan Om dari putri Om sendiri. Karena bagaimanapun aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Om yang merupakan cinta pertama Renata. Tapi, aku akan berusaha menggantikan Om, untuk menyayangi dan melindunginya. Aku tidak akan melarangnya seandainya nanti dia mau pulang Ke Indonesia dan bertemu dengan Om dan Tante,"
Senyum Rajendra seketika merekah, karena kalimat yang ingin sekali dia dengar akhirnya dia dengar dari mulut Nathan.
"Terima kasih Nak Nathan, akhirnya aku lega sekarang. Aku sekarang sudah yakin menyerahkan putriku padamu. Masalah perusahaan sebenarnya itu hanya sebuah alasan bagiku, Sebenarnya yang paling membuat aku berat, ketika membayangkan kalau aku akan segera berpisah dengan Renata dan aku akan dilupakannya. Tapi, mendengar perkataanmu, aku percaya kalau kamu adalah laki-laki yang sangat bijak," ucap Rajendra panjang lebar.
"Jadi, Om?"
"Jadi, aku setuju kamu menikah dengan Renata. Om juga tidak keberatan kalau kamu membawanya ke London, karena itu memang sudah keharusannya untuk mengikuti suami. Selain itu, bisa hidup bersamamu juga merupakan kebahagiaan putriku. Tidak ada yang lebih membahagiakan untuk seorang ayah selain melihat putrinya bahagia dengan pria pilihannya," tutur Rajendra lagi.
"Terima kasih, Om!" senyum Nathan kini terlihat semakin lebar. Mendung di dalam hatinya seketika pergi ketika mendengar persetujuan yang diucapkan oleh Rajendra.
"Tapi, bagaimana dengan orang tuamu? Pak Rehan sudah sangat marah tadi?" Lina buka suara menimpali ucapan suaminya.
"Nak, Nathan sebenarnya ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu dan aku harap kamu bisa setuju," lanjut Rajendra lagi dengan sangat hati-hati.
"Apa itu, Om?" Nathan mengrenyitkan keningnya.
"Kalau kamu mau, setelah kalian berdua menikah nanti, aku ingin melakukan merger antara perusahaanmu dan perusahaanku, dan kamu yang mengelolanya terserah mau tetap menggunakan nama perusahaanmu atau diganti. Aku rasa itu adalah cara yang tepat. Untuk masalah keuntungan bisa kita bicarakan, baik-baik. Aku membuat keputusan itu, karena aku tidak meragukan kemampuanmu," tutur Rajendra.
"Om, sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini pada Om, tapi aku mengurungkannya karena tidak mau dianggap ingin mengambil keuntungan," sahut Nathan.
"Tidak sama sekali!" ucap Rajendra, tegas.
__ADS_1
Keheningan terjeda untuk beberapa saat. Sudut mata Nathan, terlihat bergerak bergerak, meliriknya ke arah kamar Renata.
"Renata ada di dalam kamarnya, dia mungkin sedang menangis sekarang. Kalau kamu mau melihatnya ke sana, silakan! tapi ingat, jangan berbuat macam-macam!" celetuk Rajendra yang seketika mengerti maksud lirikan Nathan.
Mendengar ucapan Rajendra, pipi Nathan seketika memerah. Pria itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, sementara Lina mamanya Renata sudah terkekeh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Renata masih menelungkupkan wajahnya di atas bantal ketika mendengar ketukan di pintu.
"Ma, aku mau sendiri dulu! tolong jangan ganggu aku!" sahut Renata dari dalam kamar.
"Sayang, ini aku! boleh kamu buka pintunya?" ternyata yang mengetuk pintu kamar Renata adalah Nathan yang sudah mendapat izin dari Rajendra dan Lina.
Renata sontak mengangkat wajahnya dari atas bantal dengan alis bertaut.
"Eh, bukannya itu suara Nathan? tapi nggak mungkin kan? dia kan sudah pulang? aku pasti hanya berhalusinasi," Renata kembali menelungkupkan wajahnya.
Tok ... tok tok
"Sayang, ini aku! kenapa kamu tidak mau buka pintunya? kamu tidak mau lagi ya bertemu denganku?" lagi-lagi terdengar suara Nathan dari luar.
Renata sontak duduk dan mengusap-usap telinganya, " aku benar-benar mendengar suara Nathan kan? ini bukan halusinasi kan?"
di saat gadis itu bertanya-tanya dalam hati, terdengar kembali suara Nathan memanggilnya.
Renata, akhirnya percaya dan dia pun melompat dari tempat tidur, dan berlari untuk membuka pintu.
__ADS_1
Tbc
Merger adalah suatu proses penggabungan dua perusahaan atau lebih menjadi satu perusahaan saja, dimana perusahaan tersebut mengambil dengan cara menyatukan saham berupa aset dan non aset perusahaan yang di merger.