
Hari berganti hari, tidak terasa hari pernikahan Nathan dan Renata tinggal dua hari lagi. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Renata justeru sekarang sedang terikat dengan mulut yang disumpal.
Renata terlihat mulai bergerak dan melenguh,
pertanda dia sudah siuman dari pingsannya.
"Hallo, Renata, Sayang! akhirnya kamu bangun juga," tampak seorang pria tersenyum smirk di tepat di depan wajah Renata.
Renata mengerjap-erjapkan matanya, dan masih terlihat lemah untuk beberapa saat. Detik berikutnya, mata gadis itu seketika membesar melihat sosok pria yang ada di depannya.
"Ro-Roby!" ucap Renata lirih. Ya, yang menyekap Renata adalah Roby, laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengan Renata, ketika masih duduk di bangku SMA.
"Ternyata kamu masih mengingat jelas wajahku ya, Sayang?"
"Ba-bagaimana aku bisa di sini? bukannya tadi aku ada bersama Tania?" ucap Renata dengan raut wajah pucat.
"Hahahaha, kenapa kamu bisa ada di sini? itu tentu saja ada kaitannya dengan Tania," jawaban Roby, benar-benar membuat Renata terkesiap kaget. "Ti-tidak mungkin! aku tahu jelas kalau dia sudah berubah jadi lebih baik,". Renata menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hahahaha!" lagi-lagi tawa Roby pecah. "Kamu benar-benar terlalu naif, Renata. Kamu masih saja mudah untuk dibohongi. Aku dan dia sama-sama memiliki dendam padamu. Semua sifat baik yang ditunjukkannya padamu itu hanya gimick agar kamu percaya padanya," jelas Roby, yang masih disertai dengan bibir yang tersenyum sinis.
Renata terlihat masih menggeleng-gelengkan kepalanya, masih sulit untuk percaya dengan ucapan yang terlontar dari mulut Roby mengenai Tania, mengingat sikap wanita itu yang semakin ke sini semakin baik semenjak dia tolong dulu. Namun, ternyata sikap baik wanita itu hanya kamuflase.
Ya, semenjak Tania gagal membujuk papanya Renata agar tidak memecat papanya, wanita itu diusir dari rumah karena dianggap pembawa sial. Beruntungnya, ketika dia terlunta-lunta di jalan, Renata hadir sebagai penolong, dengan memberikan tempat tinggal untuk mantan sahabatnya itu.
aku dengar-dengar kamu akan menikah dengan Nathan. Kamu pasti menikah dengannya bukan karena cinta kan? kamu pasti hanya ingin balas Budi padanya. Aku tahu cintamu pasti hanya untukku," tutur Roby sembari membelai lembut pipi Renata.
Renata berusaha memundurkan wajahnya, menjauhkan tangan Roby dari pipinya.
"Cih, kamu mimpi! aku sama sekali tidak pernah mencintaimu lagi. Aku sekarang sangat mencintai Nathan," ucap Renata dengan sangat yakin dan tatapan sinis.
"Hahaha, kamu kira aku percaya? sama sekali, tidak!" sudut bibir Roby naik sedikit ke atas, membentuk senyum sinis.
"Hmm, tapi kalau karena kamu mencintainya sekalipun, aku tidak peduli. Yang jelas, aku tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia setelah menghancurkan masa depanku,"
"Kamu salah! justru yang membuat masa depan kamu hancur adalah dirimu sendiri," bantah Renata.
"Diam!" Roby meninggikan suara tepat di wajah Renata, hingga membuat gadis itu, terjengkit kaget.
"Ini semua gara-gara kamu dan papamu. Papamu sudah mem-blacklist namaku, agar tidak diterima di universitas ternama di Indonesia, yang akhirnya aku menjadi bahan olokan dari teman-teman SMA. Karena itu, membuat orang tuaku mengganggapku anak tidak tahu diri, buat malu keluarga dan banyak lagi hinaan yang aku terima. Dan ini semua gara-gara kamu, TAHU NGGAK!" Roby mulai terlihat emosional.
"Hei, itu semua karena kesalahanmu. Kamu memang pantas mendapatkannya," Renata terlihat berani melawan padahal sebenarnya gadis itu sudah sangat ketakutan.
"Hahahaha! ok, aku memang pantas mendapatkannya, tapi aku sama sekali tidak terima dengan balasan yang kamu dan papamu berikan padaku. Sekarang aku akan membalasnya, dengan menghancurkan kebahagiaanmu yang juga merupakan kebahagiaan papamu," Roby terlihat tersenyum licik.
"A-apa maksudmu? apa yang akan kamu lakukan?" wajah pucat Renata kini semakin terlihat pucat. Dia tidak mampu lagi untuk menutupi rasa takut yang dia rasakan.
__ADS_1
"Apa lagi kalau tidak menghabisi nyawamu ... tapi, sebelum kamu mati, ada baiknya aku menikmati tubuhmu dulu, sayang sekali bukan kalau belum dinikmati? Aku yakin kalau kamu masih perawan kan?" raut wajah Roby kini terlihat seperti orang kelaparan. Dia menatap tubuh Renata dengan tatapan penuh gairah.
"Ja-jangan lakukan itu! asal kamu tahu, Papaku, Nathan dan yang lainnya tidak akan pernah membiarkan kamu hidup kalau ada sesuatu yang terjadi padaku. Jadi, sebaiknya, kamu jangan melakukan apapun padaku," Renata mencoba menakuti Roby. Namun, sepertinya ancaman Renata sama sekali tidak berpengaruh pada Roby. Hal itu terlihat dari tawa pria itu yang kembali pecah.
"Aku sama sekali tidak takut. Aku juga sudah siap mati, jika memang harus mati di tangan mereka.Yang terpenting, aku puas melihat kehancuran papamu melihat putri semata wayangnya, meninggalkannya untuk selamanya," tawa Roby benar-benar terlihat seperti seorang psikopat.
Renata semakin ketakutan. "Taniaaaa! brengsek kamu! aku sudah menolongmu dulu, kenapa kamu malah menjebakku dengan pria brengsek ini!" pekik Renata, sembari berusaha melepaskan diri dari ikatan, ketika tiba-tiba dia melihat kemunculan Tania.
"Sialan! kenapa dia harus muncul sekarang? kalau begini kan aku tidak bisa menikmati tubuh Renata. Aku harus mencari cara untuk mengelabui Tania, agar dia meninggalkan tempat ini untuk sementara waktu." Roby menggerutu dalam hati.
Sementara itu, Tania berjalan menghampiri Roby dan Renata dengan bibir yang tersenyum sinis.
"Bagaimana, Sayang, apa kita sudah bisa menghabisinya?" Tania sama sekali tidak menanggapi kemarahan Renata, justru wanita itu bergelayut mesra di lengan Roby.
"Hmm, iya Sayang. Tapi, sebelum kita habisi dia, kamu tolong belikan aku makanan dulu, karena aku sudah sangat lapar," Roby mulai mencari alasan.
"Kita habisi saja dia sekarang, setelah itu kita makan siang di luar sekaligus merayakan kematiannya," sahut Tania dengan nada manja.
"Brengsek kamu Tania!" Renata kembali berteriak.
"Sebaiknya, kamu belikan aja dulu makanan sekarang. Setelah itu kita makan sama - sama di sini untuk menambah tenaga. Maksudku, sebelum dia kita habisi, kita bercinta di depan matanya. Setidaknya dia bisa melihat walaupun tidak akan pernah merasakan surganya dunia," Roby mengerlingkan matanya, menggoda.
"Ah, kamu bisa aja!" ujar Tania sembari memukul pelan dada Roby. "Baiklah, kamu tunggu di sini, aku akan belikan makan siang untuk kita,"
Tania melirik ke arah Renata dan tanpa sepengetahuan Roby, wanita itu mengedipkan mata pada Renata.
Sementara itu, Tania yang melihat kebingungan Renata, mencondongkan tubuhnya, mendekat persis di depan wajah Renata, lalu mulutnya berpindah persis ke telinga Renata.
"Nathan dan Kak Nicholas ada di depan. Kamu tenang saja, aku tidak sejahat itu. Justru, sekarang aku sedang bekerja sama dengan Nathan untuk menjebak Roby. Jadi, berpura-puralah untuk tetap ketakutan,"bisik Tania, tersenyum tipis. dan tanpa Roby sadari, tangan Tania dengan sangat hati-hati, memotong tali yang mengikat tangan Renata di belakang, kemudian dia juga meraih sebuah pistol milik Roby, yang ada di meja dekat kursi di mana Renata terikat.
Roby sama sekali tidak merasa curiga dengan apa yang dilakukan oleh Tania. Pria itu yakin kalau Tania sedang membisikkan kata-kata mengejek pada Renata.
"Sayang, aku pergi dulu ya! tunggu aku!" Tania mengedipkan matanya. Namun sebelum melangkah, tiba-tiba Tania menjatuhkan dirinya persis di kaki Roby.
"Tania, kamu kenapa?" Roby menghambur hendak menolong Tania. Namun sebelum, sampai di dekat Tania, tiba-tiba pintu dibanting keras dan beberapa orang berseragam polisi, beserta Nathan dan Nicholas menerobos masuk.
"Angkat tangan,kamu sudah dikepung!" seru salah satu polisi sembari menodongkan pistol ke arah Roby.
Roby sama sekali tidak mengangkat tangannya, dia justru berbalik menghambur ke tempat di mana dia menaruh pistolnya. Pria itu berenang hendak mengancam polisi dengan menodongkan pistol di kepala Renata. Namun alangkah kagetnya dia, ketika berbalik, dia melihat kursi yang tadinya ditempati Renata sudah kosong, dan pistolnya menghilang.
"Kamu cari ini?" Tania yang sudah berdiri kembali, memperlihatkan pistol di tangannya dengan sudut bibir yang tersenyum sinis. Sementara Renata kini sudah ada di dalam pelukan Nathan.
"Tania, sini pistolnya!" titah Roby penuh harap.
"Nih, tangkap!" Tania melakukan gerakan seakan sedang melemparkan pistol ke arah Roby. Namun, tentu saja dia tidak benar-benar melakukan hal itu.
__ADS_1
"Tania, apa-apaan ini? kamu mau mempermainkanku ya?" Roby terlihat mulai geram sekaligus panik.
Tania tidak langsung menjawab sama sekali, tapi senyum sinisnya bisa menjawab segalanya.
"Menurutmu? apa kamu kira aku benar-benar mau bekerja sama dengan orang yang sudah membuat hidupku hancur?"
"Tania, kamu jangan lupa, kalau yang membuat hidup kita hancur adalah Renata. Bukannya kita sudah sepakat untuk membalaskan dendam kita pada dia?" ujar Roby dengan alis yang bertaut dan lagi-lagi Tania menyeringai sinis.
"Kamu salah! bukan dia yang membuat masa depan kita hancur, tapi justru kita sendiri. Kamu sudah mengambil semuanya dariku, tapi kamu mencampakkanku begitu saja, di saat aku sedang mengandung anakmu. Bahkan dengan tega kamu memintaku untuk menggugurkan janin yang sama sekali tidak bersalah itu. Beruntung Renata mencegahku dan menolongku sewaktu aku terlunta-lunta di jalanan setelah diusir mama dan papa," tutur Tania panjang lebar, dan dengan nada yang berapi-api.
"Tunggu dulu! jangan bilang kalau kamu mempertahankan kandunganmu dulu?" alis Roby bertaut tajam, menuntut penjelasan.
"Ya, aku mempertahankannya. Dia sekarang sudah berumur 4 tahun. Beruntungnya, di saat aku sedang terpuruk ada pria yang menerimaku dan anakku dengan tulus, walaupun dia hanya seorang supir pribadi. Dia memberikan kasih sayang seorang ayah pada putraku," lanjut Tania lagi, menjelaskan.
Roby tercenung, benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Mama!" tiba-tiba seorang anak laki-laki, berteriak memanggil Tania, mama dan di samping anak kecil itu berdiri seorang pria yang tidak lain adalah suami Tania yang merupakan supir pribadi keluarga Renata.
"Mas, kenapa kamu bawa dia ke sini?" tanya Tania pada suaminya, panik.
"Aku khawatir padamu, aku terburu-buru datang ke sini sampai tidak sadar kalau aku membawa Tristan ke sini," jawab sang suami.
"Di-dia anakku, Tania?" suara Roby terdengar terbata-bata. Dia benar-benar tidak menyangka kalau anak kecil yang tampan itu adalah anak kandungnya.
" Tidak! dia anakku dan suamiku. Semenjak kamu memintaku untuk menggugurkannya, kamu sudah kehilangan hak untuk menjadi papanya," jawab Tania tegas.
"Tania, bagaimanapun dia tetap anakku. Dia darah dagingku," Roby berteriak tidak terima.
"Berhenti berdebat! sekarang kamu harus ikut kami ke kantor polisi!" tiba-tiba salah seorang polisi berteriak menghentikan perdebatan antara Roby dan Tania.
"Aku tidak mau!" tolak Roby dengan tegas.
"Anda harus tetap ikut kami ke penjara! anda telah melakukan penyekapan atas saudari Renata. Selain itu, anda juga terlibat kasus perdagangan obat-obat terlarang serta senjata api ilegal,"
Roby kembali tersentak kaget, mengetahui kalau kejahatannya sudah diketahui oleh polisi.
"Kalian jangan fitnah! kalian sama sekali tidak ada bukti," Roby masih saja berusaha untuk mengelak.
"Kamu kira kami tidak ada bukti? beberapa Minggu ini,aku dan kak Nicholas sudah menyelidiki semua kejahatanmu, dan bukti-bukti kejahatanmu sudah ada di tangan kami. Ini semua juga berkat Tania, yang membantu kami," bukan polisi yang buka suara melainkan Nathan.
"Ya, aku sudah mengambil semua bukti-buktinya dan memberikannya pada Nathan. Ketika kamu mengajakku kerja sama untuk melenyapkan Renata, aku hanya berpura-pura berada di pihakmu, dan itu semua adalah rencana Nathan. Kami sengaja tidak memberitahukan pada Renata tentang rencana ini, agar semuanya berjalan dengan lancar. Dengan ketakutan di wajah Renata, kamu pasti tidak akan menyangka kalau sebenarnya dirimu lah yang terjebak dengan rencanamu, sendiri," Tania kembali buka mulut, menimpali ucapan Nathan.
"Brengsek! Matilah kamu!" tanpa Tania sadari, Roby yang ternyata menaruh pisau di saku celananya, menarik pisau itu keluar dan menghambur hendak menusukkannya pada Tania. Beruntungnya salah seorang polisi yang sudah siap untuk mengantisipasi apa yang terjadi, menembakkan pistolnya ke arah kaki Roby, sehingga pria itu terjerembab jatuh ke lantai. Para polisi yang lainnya dengan sigap langsung meringkus Roby dan membawa pria itu pergi.
"Tania, terima kasih ya. Tadinya aku mengira kalau kamu benar-benar bekerja sama dengan Roby," ucap Renata yang kini tengah berdiri di dekat Tania.
__ADS_1
Tania menyunggingkan senyum manisnya dan memeluk Renata. "Justru aku yang berterima kasih. Mungkin apa yang aku lakukan sekarang ini, tidak sebanding dengan pertolonganmu dulu. Kamu juga sudah membuatku menyadari semua kesalahanku dulu, dan membuatku jadi lebih baik," sahut Tania dengan hati tulus.
Tbc