
Nicholas dan Rehan kini sudah berdiri di depan pintu apartemen yang sekarang ditempati oleh Nathan. Nicholas langsung menekan password untuk bisa membuka pintu.
"Nathan! aku datang!" panggil Nicholas sembari mengedarkan tatapannya ke segala penjuru ruangan yang tampak tidak seperti biasanya.
Biasanya kalau hari Minggu begini, kalau Nathan tidak sedang ada janji dengan dua orang sahabatnya, pria itu pasti sedang menonton televisi atau bermain game di ruang tengah.
"Nathan, kamu di mana?" Nicholas kembali memanggil karena panggilannya yang pertama tidak ada jawaban dan lagi-lagi panggilannya yang kedua ini juga mendapat hasil yang sama.
"Di mana dia?" tanya Rehan.
"Entah, Pa. Aku cek dulu ya ke kamarnya!" Rehan menganggukkan kepala, lalu mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa.
Tidak beberapa lama, Nicholas tampak keluar dengan membawa secarik kertas di tangannya.
"Pa, dia sudah pergi. Dia meninggalkan surat ini di kamarnya," ucap Nicholas dengan wajah lesu.
Rehan mengrenyitkan keningnya sembari menerima secarik kertas dari tangan Nicholas dan membaca isi surat itu. Di dalam secarik kertas itu jelas terlihat, Nathan menuliskan bahwa dia pamit untuk pergi mencari tempat tinggal lain dan tidak akan menggangu kebahagiaan keluarganya. Pemuda itu juga tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikan Nicholas dan keluarganya selama ini.
"Apa kamu mengatakan sesuatu tadi malam, sehingga dia memutuskan untuk pergi?" Rehan menatap Nicholas dengan tatapan meminta penjelasan sembari meletakkan surat itu ke atasnya meja.
"Aku tidak mengatakan apapun, Pa. Cuma awalnya aku sempat menuduhnya kalau dia jatuh cinta pada mama, tapi kesalahpahaman itu gak berlanjut kok Pa. Aku berhenti menuduhnya setelah dia mengakui kalau mama adalah ibu kandungnya," jelas Nicholas.
Rehan mengangguk-anggukan kepala, lalu mengembuskan napas dengan cukup berat.
"Apa kamu punya nomor teleponnya?" ucap pria setengah baya itu setelah diam sepersekian detik.
"Punya, Pa."
__ADS_1
"Kalau begitu tunggu apalagi? hubungi dia sekarang!" titah Rehan.
"Mau bilang apa, Pa? toh dia mungkin tidak akan mau menjawab teleponnya," Nicholas terlihat pesimis.
"Kamu tidak akan tahu kalau kamu tidak mencobanya,"
Nicholas merogoh saku celananya dan menarik keluar ponselnya. Pemuda itu tidak langsung menghubungi Nathan, tapi dia terlihat diam seperti memikirkan sesuatu. Ya, pria itu sekarang tengah memikirkan apa yang akan dia katakan untuk membuat Nathan mau kembali.
Tiba-tiba Nicholas menjentikkan jarinya, setelah dia sudah tahu apa yang akan dia katakan pada Nathan.
Nicholas sontak mencari nomor Nathan di daftar panggilan terakhir. Panggilannya kini tersambung ke nomor Nathan, tapi tidak ada jawaban sampai ponselnya berhenti berdering. Nicholas mencoba sekali lagi, dan hasilnya tetap sama. Nicholas tidak putus asa, pria itu mencoba untuk ketiga kalinya, tapi tetap tidak ada jawaban dari Nathan.
"Tidak diangkat, Pa." ucap Nicholas lesu sembari meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Kamu coba kirim pesan suara. Mudah-mudahan dia mau mendengarkan pesanmu," Rehan memberikan saran.
Nicholas kembali meraih ponselnya. Baru saja dia ingin merekam suaranya, tiba-tiba ponselnya berdering karena yang bersangkutan menghubunginya kembali.
"Ya udah kamu jawab!" Nicholas menganggukkan kepalanya sembari menyentuh tombol jawab.
"Halo, Kak! maaf, tadi aku lagi di atas motor, jadi nggak bisa angkat telepon," terdengar suara Nathan dari ujung sana. Sepertinya pemuda itu, menepikan motor sebentar di tepi jalan, karena terdengar suara klakson motor dan mobil yang saling bersahutan.
"Kamu di mana? kenapa pergi dari apartemen? apa kamu tidak menghargai aku lagi?" ucap Nicholas, tanpa basa-basi.
"Bukannya aku sudah buat surat, Kak. Kakak pasti sudah baca kan?"
"Aku mendadak buta huruf, gak bisa baca surat yang gak jelas," ucap Nicholas, santai. Kalau lagi situasi bercanda, mungkin orang akan tertawa mendengar celetukan Nicholas. Namun, karena situasinya serius, tidak ada yang tertawa sama sekali, kecuali Rehan yang tersenyum berusaha menahan tawa.
__ADS_1
"Sial, bisa-bisanya nih anak nyeletuk begitu di saat serius begini. Anak siapa sih dia?" batin Rehan, yang tiba-tiba lupa kalau Nicholas itu putranya sendiri.
"Aku memutuskan untuk cari kos-an sendiri, Kak. Aku nggak mau menyusahkan kakak. Karena kalau dipikir-pikir, sama aja aku hidup enak dan gagal membuktikan diri kalau aku bisa sukses tanpa bantuan keluargaku," ucap Nathan dari ujung sana.
"Aku tidak peduli. Sekarang kamu kembali ke sini! aku tunggu!"
"Tapi, kak, aku __"
"Nggak ada tapi-tapi! kalau kamu tidak kembali, aku pastikan aku akan memberitahukan pada mama Naura, kenyataan yang kamu adalah anak kandungnya. Kamu tidak mau kan terjadi sesuatu pada mama?" akhirnya Nicholas mengeluarkan jurus jitunya. Pria itu yakin kalau dengan mengatakan itu, pemuda di ujung telepon sana, pasti akan blingsatan karena takut.
"Kak, please jangan lakukan itu!"
"Kalau kamu tidak ingin aku mengatakannya pada mama, ya kamu harus kembali ke apartemen sekarang!"
"Aku yakin kakak tidak akan mungkin berani mengatakan hal itu pada mama," ucap Nathan yang tanpa sadar memanggil Naura, mama tidak Tante lagi. Hal ini tentu saja menerbitkan senyuman tipis di bibir Nicholas.
"Oh,jadi kamu meragukanku? kamu mau lihat, kenekatanku ya?" Nicholas kembali memprovokasi Nathan.
"Tidak, Kak. Baiklah, aku kembali sekarang!" pungkas Nathan akhirnya mengalah.
"Bagus! aku tunggu kamu!" Nicholas memutuskan panggilan secara sepihak dan meletakan ponselnya di atas meja.
"Wah, seandainya Nathan tetap menolak untuk kembali ke sini, apa kamu benar-benar akan memberitahukan kebenarannya pada mamamu?" Rehan buka suara memastikan ucapan putranya.
"Nggaklah, Pa! aku hanya mengancamnya aja, karena aku tahu kelemahannya," ucap Nicholas sembari terkekeh.
Sementara itu, Nathan yang memang belum terlalu jauh dari apartemen, terlihat masih belum menghidupkan motornya kembali. Pemuda itu masih bimbang apakah dia akan kembali ke apartemen atau tidak. Jauh di dalam hatinya, ada keyakinan kalau Nicholas pasti hanya mengancamnya.
__ADS_1
"Apa aku harus kembali, atau melanjutkan rencanaku? aku yakin, kalau kak Nicholas tidak akan setega itu. Tapi, bagaimana kalau dia benar-benar membuktikan ancamannya?" batin Nathan, dilema.
Tbc