Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Kamu buta ya?


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi waktu Indonesia Barat. Tampak Nicholas membuka matanya karena jam wekernya dari tadi sudah berbunyi seakan berteriak membangunkan sang tuan.


Pria itu menggeliat sebentar, lalu duduk dan merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Kemudian, ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas yang kebetulan sedang berbunyi pertanda ada yang sedang menghubunginya.


"Papa? kenapa papa menghubungiku di jam segini? bukannya di sana masih jam 1 subuh? atau jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi pada mama?" batin Nicholas dengan kening yang berkerut.


"Halo, Pa!" sapa Nicholas.


"Lama sekali kamu menjawab teleponnya? Dari tadi Papa sudah berkali-kali menghubungimu, tapi tidak kamu respon. Apa kamu baru saja bangun tidur?"


"Iya, Pa, maaf!" sahut Nicholas sembari mengusap-usap dagunya. "Ada apa, Pa? di sana kan masih jam 1 pagi, bukannya seharusnya Papa tidur sekarang?" lanjut Nicholas kembali seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.


"Kalau Papa menghubungimu jam segini, itu berarti ada hal penting,"


Alis Nicholas bertaut tajam, mendengar ucapan papanya. "Hal penting apa? apa ini mengenai pekerjaan di perusahaan? kalau masalah itu, Papa tenang saja, aku bisa handle semuanya dengan baik, apalagi sekarang ada Renata yang magang di kantorku," ucap Nicholas seraya tersenyum, walaupun senyumannya tidak bisa dilihat oleh Rehan papanya.


"Nicho, ini bukan soal pekerjaan. Ini soal Nathan. Dia mengalami kecelakaan dan akibat kecelakaan itu, kornea matanya rusak dan mengalami kebutaan," terang Rehan.


Mata Nicholas membesar dan mulutnya juga terbuka mendengar kabar yang baru saja terlontar dari mulut papanya itu. Bahkan karena terlalu kaget, handphone yang ada di telinganya hampir terlepas dari tangannya.


"Jangan bercanda, Pa! papa sekarang sedang berbohong kan? ini benar-benar tidak lucu, Pa. Hal seperti ini sangat tidak sesuai untuk dijadikan sebagai lelucon," Nicholas menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


"Papa sama sekali tidak bercanda. Tidak mungkin hal serius seperti ini, papa jadikan sebagai lelucon,"


Tubuh Nicholas sontak merosot dengan lemas, mendengar ucapan papanya.


"Kenapa bisa itu terjadi,Pa?" tanya Nicholas dengan lirih.

__ADS_1


"Itu memang ada unsur kesengajaan. Ada seorang gadis Inggris yang sangat menyukai Nathan, tapi Nathan tidak pernah menanggapinya. Karena tidak terima, gadis itu akhirnya merencanakan ini semua. Kebetulan tadi, Nathan sedang berjalan untuk menenangkan diri di sekitaran London Eye. Pikirannya sedang kosong, makanya dia tidak sempat untuk mengelak," tutur Rehan dengan panjang lebar tanpa jeda.


"Menenangkan diri? pikiran kosong? kenapa bisa seperti itu?" Nicholas mengrenyitkan keningnya.


Rehan tidak langsung menjawab. Pria setengah baya itu menarik napas dalam-dalam lebih dulu, kemudian mengembuskannya kembali dengan panjang dan berat.


"Itu, karena dia tahu kalau kamu dan Renata sudah bertunangan,"


Nicholas tercenung, diam seribu bahasa. Seketika perasaan bersalah datang melingkupi hatinya. Sebenarnya dia ingin bertanya dari siapa Nathan bisa tahu, tapi pria itu mengurungkannya, karena dia sudah yakin kalau Nathan tahu pasti dari mamanya.


"Berarti, secara tidak langsung akulah penyebab kecelakaan ini? harusnya aku tidak melanjutkan pertunangan ini. Dia pasti berpikir kalau aku sudah mengambil mamanya, tapi kenapa perempuan yang dia cintai juga aku ambil?" ucap Nicholas dengan lirih.


"Ini bukan salah kamu. Ini sudah jadi takdir yang sama sekali tidak bisa kita elak. Seandainya kamu tidak bertunangan dengan Renata pun, kemungkinan kecelakaan ini akan tetap terjadi. Gadis yang bernama Jeslyn itu sudah merencanakan untuk mencelakai Nathan, jauh-jauh hari. Dia berharap, Nathan cacat agar tidak ada seorangpun wanita yang mau menjadi pasangannya," tutur Rehan, menenangkan hati putranya yang dia yakini pasti merasa terpukul.


"Apa, mata Nathan masih bisa disembuhkan, Pa?"


"Nathan bisa kembali melihat lagi, kalau ada donor mata. Kalau tidak ada, ya mungkin dia tidak akan bisa melihat lagi. Itulah yang membuat mama sekarang drop," kali ini suara Rehan terdengar lirih.


"Mama kamu sekarang sudah tenang, karena dikasih obat penenang oleh dokter. Dari Tadi mamamu tidak berhenti memaksa agar kornea matanya saja yang diambil dan diberikan pada Nathan,"


Nicholas memejamkan matanya sekilas, merasa sedih membayangkan bagaimana kondisi mamanya itu sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nicholas berjalan dengan gontai menuju ruangannya. Tatapan pria itu terlihat kosong, bahkan sapaan karyawan yang berpapasan dengannya, sama sekali tidak dia respon.


Raut wajah Nicholas sontak menarik perhatian para karyawan tak terkecuali Anisa.

__ADS_1


"Kenapa dengan pria angkuh ini? kenapa raut wajahnya tidak ada bedanya dengan Renata?" Anisa mengingat raut wajah Renata sahabatnya yang tidak ada bedanya sama sekali dengan Nicholas.


"Apa mereka berdua sedang berantem?" Anisa kembali berbisik pada dirinya sendiri.


Sementara itu, Nicholas yang sudah hampir mencapai ruangannya, nyaris bertubrukan dengan Renata yang raut wajahnya seperti dikatakan oleh Anisa tadi, 'masam'.


"Haish, moodku sudah hancur, tambah hancur lagi begitu melihat wajahmu. Wajah yang membuat semuanya menjadi kacau," cetus Renata, menatap Nicholas dengan wajah penuh kebencian.


Nicholas tidak membalas sama sekali, seperti biasanya. Pria itu justru berlalu dari hadapan Renata dan masuk ke dalam ruangannya.


Merasa tidak diindahkan, Renata merasa kesal dan menyusul masuk ke dalam ruangan Nicholas.


"Kamu nggak mendengar aku bicara ya? kenapa kamu berlalu begitu saja. Kamu buta nggak melihatku atau kamu tuli?" ucap Renata dengan napas yang memburu penuh dengan amarah.


"Hei, kamu dengar aku nggak sih? kenapa kamu diam saja?" amarah Renata semakin tersulut melihat sikap apatis pria di depannya itu.


"Tadi malam, Nathan menghubungiku dan dia sudah tahu tentang pertunangan kita. Itu semua, pasti kamu kan yang memberitahukan ke dia? kamu pasti mengancamnya, dan memintanya untuk membalas semua budimu. Kamu benar-benar, licik! asal kamu tahu, bagaimanapun cara kamu untuk mendapatkanku, perasaanku pada Nathan tidak akan pernah berubah. Aku justru akan semakin membencimu seumur hidupku, jika kamu terus memaksakan kehendakmu," Renata meluapkan semua amarahnya dengan suara tinggi, tidak peduli dengan sikap Nicholas yang seakan menganggap dirinya tidak ada.


"Nicholas! kamu buta ya? kamu nggak melihat ada orang yang sedang berbicara di depanmu?" ingin rasanya Renata mencabik-cabik wajah pria di depannya itu, karena pria itu seperti menganggapnya tidak ada.


Nicholas akhirnya menatap wajah Renata yang memerah.


"Kamu sudah selesai bicara? kalau sudah aku hanya mau bilang, kamu tadi mengatakan aku buta, untuk sekarang aku mungkin belum buta, tapi kemungkinan, sebentar lagi apa yang kamu ucapkan itu akan jadi kenyataan," ucap Nicholas, lirih.


"Maksud kamu apa?" kali ini suara Renata melemah, gagal paham dengan ucapan Nicholas.


" Apa perlu aku pertegas lagi? bukannya kamu mengatakan aku buta? untuk sekarang mungkin aku belum buta, tapi tidak dengan sebentar lagi. Sudah jelaskan? sekarang kamu boleh keluar! kalau kamu tidak mau magang di kantorku juga tidak apa-apa! kamu bebas memilih,"

__ADS_1


Renata sontak bergeming, benar-benar bingung dengan perubahan sikap pria di depannya itu.


Tbc


__ADS_2