
Naura dan Rehan kembali masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi wajah yang berbeda. Naura yang tadinya terlihat sangat marah, kini terlihat sudah jauh lebih tenang dan biasa saja. Namun, Nathan masih terlihat sangat penasaran mengenai apa yang baru saja dia dengar.
"Ma,apa benar Renata bertunangan dengan kak Nicholas?" tanya Nathan dengan nada yang menuntut.
"Ti-tidak sama sekali. Mama tadi salah omong," kali ini entah apa yang dikatakan Rehan di luar tadi, membuat Naura menyangkal ucapan yang tercetus dari bibirnya 15 menit yang lalu.
"Kan benar yang Kakek katakan. Mamamu hanya asal omong saja," Nurdin menimpali ucapan Naura.
"Mama kamu benar, Nathan. Tidak ada yang bertunangan dengan Renata," Rehan juga buka suara.
"Oh, seperti itu." ucap Nathan, dengan ekspresi wajah masih belum sepenuhnya percaya dengan ucapan ketiga orang di dalam ruangan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Halo, Nathan!" tampak wajah cantik dan ceria muncul di layar ponsel milik Nathan. Siapa lagi pemilik wajah itu kalau bukan Renata.
"Kamu kenapa?" tanya Renata karena Nathan tidak menjawab sapaannya.
"Kamu tolong jujur, apa kamu sudah bertunangan dengan kak Nicholas?" Renata bergeming, karena Nathan tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang tidak pernah dia sangka-sangka.
"Kenapa kamu diam?" Nathan kembali bertanya, melihat Renata tidak merespon pertanyaannya.
"Dari mana kamu tahu itu? apa kak Nicholas sendiri yang memberitahukanmu?" bukannya menjawab, Renata malah balik bertanya.
"Kamu jawab dulu pertanyaanku, jangan malah balik bertanya! tidak peduli dari siapa aku tahu, tapi yang jelas sekarang, aku mau dengar dari mulutmu,apa kamu benar sudah bertunangan dengan Kak Nicholas?" Raut wajah Nathan terlihat sangat dingin.
"Iya, itu benar! tapi __"
__ADS_1
"Jadi,benar? bagaimana mungkin kamu bisa tega melakukannya?" hati Nathan seketika merasa terpukul. Pria itu bahkan sampai meremas dadanya karena jantungnya tiba-tiba merasa sakit.
"Kamu dengarkan dulu sampai aku selesai bicara. Jangan main potong saja!" ucap Renata.
"Baiklah! lanjutkan!" Nathan berusaha menahan rasa sakit di dadanya.
"Ini semua permintaan Kak Nicholas. Aku sudah berusaha menolaknya dan bahkan sampai memohon agar dia datang ke papa untuk meminta agar pertunangan ini dibatalkan, tapi dia tidak mau mendengar dan justru tetap melanjutkan pertunangannya. Aku tidak bisa menolak lagi karena dia mengancam akan membuat perusahaan papa bangkrut kalau aku kekeh menolaknya. Padahal sudah jelas aku mengakui kalau aku mencintaimu, bukan dia," terang Renata dengan pipi yang sudah mulai basah.
Nathan bergeming, tidak tahu mau mengatakan apa lagi. Pria itu benar-benar bimbang sekarang.
"Nathan, hanya kamu satu-satunya harapanku, agar perjodohan ini batal. Kamu harus cepat pulang ke Indonesia dan datang pada papaku. Papa bilang,kalau kamu datang dan sudah bisa memenuhi janjimu dulu, dia akan membatalkan pertunangan dengan kak Nicholas," lanjut Renata, dengan wajah memelas.
Nathan tetap saja tidak memberikan tanggapan apapun, baik itu mengiyakan maupun menolak. Pria itu hanya memejamkan matanya sekilas, kemudian mengembuskan napasnya dengan cukup berat.
"Nathan, kenapa kamu tidak memberikan tanggapan? kamu mau kan cepat kembali ke Indonesia?" Wajah Renata terlihat semakin memelas.
"Aku tidak bisa janji, karena bagaimanapun aku masih belum bisa menyaingi kekayaan yang dimiliki oleh Kak Nicholas," ujar Nathan sedikit berbohong. Padahal sudah sangat jelas kalau kekayaan yang dia miliki sekarang bahkan lebih dari Nicholas. Karena baru saja dia tahu, kalau ternyata galeri dan perusahaan Nurdin milik mertua kakeknya itu, yang secara tidak langsung merupakan kakek buyutnya, sudah diwariskan padanya setelah pria lanjut usia itu, tahu kalau dirinya adalah cucu kandungnya.
"Kamu masih meragukanku? kalau aku tidak mencintaimu, tidak mungkin aku menghubungi kamu lagi. Cuma semuanya tidak segampang yang kamu pikirkan. Tolong biarkan aku berpikir dengan kepala dingin dulu!" Nathan sontak memutuskan panggilan secara sepihak. Dada pemuda itu kini benar-benar makin terasa sakit. Sementara itu, Jauh di Indonesia sana, Renata sudah menangis sembari membenamkan wajahnya di bantal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu kenapa, Bro? wajahmu terlihat sangat pucat?" tanya Dava dengan alis bertaut.
"Aku tidak apa-apa! aku hanya butuh istirahat dan menenangkan diri," sahut Nathan ambigu.
Dava dan Bastian saling silang pandang dan bertanggung satu sama lain dengan tatapan mereka. Kepala keduanya menggeleng bersamaan, pertanda tidak ada dari mereka yang tahu apa yang terjadi pada sahabat mereka.
__ADS_1
"Menenangkan diri? emangnya kamu jingkrak-jingkrak makanya butuh tenang? aku melihat kamu tenang-tenang aja kok," Bastian mencoba melayangkan candaan recehnya untuk mencairkan suasana. Namun, sama sekali tidak mendapat respon dari Nathan.
"Sebenarnya kamu kenapa sih, Nath? kamu tolong berbagi dengan kita, kali aja kami bisa bantu," Dava buka suara dan duduk di samping Nathan.
"Benar kata Dava, Nath. Sebagai sahabat kamu harus berbagi masalah dengan sahabat-sahabatmu. Jangan menyimpan masalahmu sendiri!" Bastian menimpali ucapan Dava.
Nathan menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa dan memejamkan matanya sekilas. Kemudian, pemuda itu membuka kembali matanya seraya mengembuskan napasnya ke udara.
Pemuda itu akhirnya menceritakan apa saja kejutan yang dia dapatkan hari ini, mulai dari kejutan yang membahagiakan sampai kejutan yang membuatnya dilema.
"Apa?! jadi Renata sudah bertunangan dengan kak Nicholas? kok bisa?" celetuk Bastian benar-benar kaget mendengar cerita Nathan.
Sementara itu, Dava justru tidak fokus akan masalah yang membuat Nathan bersedih. Pemuda itu kaget mendengar kalau Nathan sebenarnya cucu kandung dari kakek Nurdin.
"Jadi, kamu konglomerat dong sekarang, Nath?" celetuk Dava yang tentu saja langsung mendapat tatapan tajam dari Bastian.
"Kenapa kamu menatapku seperti hendak menelanku hidup-hidup? apa aku salah ngomong?" Dava terlihat masih bingung.
"Kamu kalau tidak bisa menempatkan situasi dalam bertanya,mending kamu diam!" cetus Bastian.
"Ups, maaf!" Dava nyengir kuda, memperlihatkan deretan giginya.
"Nath, kalau begitu kamu pulang saja ke Indonesia. Kamu jelas-jelas sudah bisa membuktikan kalau kamu bisa membahagiakan Renata tanpa harta dari papanya. Tunggu apa lagi? Bukannya Renata juga sudah mengatakan kalau perjodohan mereka akan dibatalkan kalau kamu pulang?" Bastian memberikan saran dan mendapat dukungan dari Dava.
"Tidak semudah yang kalian pikirkan. Bagaimanapun aku memiliki hutang budi pada Kak Nicholas. Dia satu-satunya orang yang membantuku dulu, mulai dari memberikan tempat tinggal, dan sebagai jalan aku bisa bertemu dengan ibu kandungku. Dia sangat baik padaku, Sob. Bagaimana mungkin aku bisa membuat Kak Nicholas patah hati dengan mengambil Mama dan Renata, dua wanita yang dia cintai ? aku benar-benar bingung sekarang, Sob," raut wajah Nathan terlihat sangat frustasi sekarang.Bahkan berkali-kali pemuda itu meremas dadanya yang benar-benar tambah terasa sakit sekarang.
"Tapi, ini bukan salah kamu, Sob! kalau kamu mengalah dan merelakan Renata bersama dengan kak Nicholas, bukannya itu sama saja kalau kamu menjadikan Renata sebagai imbalan atas balas budi Kak Nicholas? bukan hanya perasaanmu yang kamu korbankan, tapi secara tidak langsung kamu juga membuat Renata terluka," Bastian terlihat sudah mulai emosional.
__ADS_1
Tbc
Maaf ya, aku hanya bisa nulisnya seadanya, karena anakku lagi ujian kenaikan kelas. Aku harus membantunya belajar. 🙏🏻