Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Izinkan aku pergi!


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rehan pada Nathan begitu tiba di depan ruangan IGD dimana Naura istrinya sedang ditangani.


"Ini semua salahku, Om. Tidak seharusnya aku muncul di tengah-tengah keluarga kalian. Aku memang anak pembawa sial!" bukannya menjawab pertanyaan Rehan, Nathan justru sibuk menyalahkan diri sendiri. Bahkan pemuda itu kembali memanggil Rehan, dengan sebutan om karena merasa tidak pantas dianggap anak oleh Rehan.


"Kamu tenang dulu! sekarang kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" Rehan berusaha terlihat tenang, padahal jauh di dalam hatinya, sangat takut kalau terjadi apa-apa pada sang istri.


"Ini semua salahku dia, Pa!" celetuk Nicholas sembari menunjuk ke arah Arsen, yang datang menyusul ke rumah sakit.


Rehan memicingkan matanya saat menatap ke arah Arsen. Pemuda yang sama sekali tidak dia kenal. Kemudian, dia kembali menatap ke arah Nicholas.


"Bagaimana bisa yang terjadi pada mamamu itu, karena dia?" tanya Rehan dengan alis bertaut.


Nicholas pun menceritakan siapa Arsen sebenarnya dan ala saja yang dia katakan pada sang Mama hingga membuat mamanya itu tidak sadarkan diri karena berpikir paksa untuk mengingat kembali masa lalunya.


"Ini bukan salah Kak Arsen, tapi ini salahku. Aku memang anak pembawa sial! aku tidak pernah mendatangkan kebahagiaan bagi siapapun!" Nathan kembali menyalahkan diri sendiri.


"Nathan, Diam!" bentak Rehan. "Jangan menyalahkan diri sendiri. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Bukan kamu, bukan juga dengan kakakmu. Semuanya karena takdir, karena bagaimanapun cepat atau lambat, kebenaran tentang kamu, memang harusnya diungkapkan. Dan kamu Nicholas, kamu jangan menyalahkan kakaknya Nathan karena dia hanya mengungkapkan yang dia tahu. Dia sama sekali tidak tahu kondisi mamamu. Dia hanya merasa excited bisa bertemu dengan mamamu kembali," lanjut Rehan kembali dengan bijaksana.


"Tapi yang dikatakan anak Om itu benar. Yang salah memang aku, Om. Coba seandainya aku, menuruti permintaan Nathan untuk langsung pergi, mungkin hal ini tidak akan terjadi," Arsen yang merasa bersalah, menimpali ucapan Rehan.


"Bukannya aku sudah bilang tidak ada yang patut disalahkan? seandainya siapapun di posisimu tidak mungkin akan langsung nurut, kalau masih bingung apa sebabnya disuruh pergi. Semuanya pasti butuh alasan kan? nah itu yang terjadi padamu," sahut Rehan. Kemudian, pria setengah baya itu, mengalihkan kembali tatapannya ke arah Nathan dan Nicholas.


"Kalian bisa berdua, harus tetap berusaha untuk tenang. Untuk sekarang, kita harus fokus berdoa, agar mama kalian baik-baik saja,"


Di saat Rehan menyelesaikan ucapannya, saat itu pula pintu ruangan UGD terbuka. Semua yang ada di sana langsung menghambur ke arah dokter yang baru saja keluar.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Rehan. Tidak bisa ditutupi, wajah yang semula terlihat tenang itu, kini memancarkan rasa khawatir yang amat sangat.


Dokter itu, menghela napasnya dengan berat dan tidak terlihat ada senyum sama sekali.


"Hmm, Nyonya Naura baik-baik saja,tapi__"


"Tapi apa,Dok? anda bilang tadi baik-baik saja, kenapa ada tapinya lagi?" Nathan langsung menyambar ucapan sang dokter.


"Nathan, kamu tenang dulu! kita dengarkan dokter sampai selesai bicara!" tegur Rehan dengan lembut tapi terselip ketegasan di dalam ucapannya.


Nathan sontak terdiam dan meminta maaf dengan suara lirih.


"Bisa saya lanjutkan?" tanya Dokter itu memastikan.


"Silakan,Dok!" sahut Rehan.


"Baik, Dok!" Rehan mengangguk sembari menghela napasnya dengan berat, pertanda kalau pria itu belum sepenuhnya merasa lega, karena sang istri belum diketahui kapa. bangunnya.


"Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Pak, semuanya! istri anda sebentar lagi akan dipindahkan ke ruangan perawatan, jika ada hal penting bisa panggil aku lagi,"


"Silakan, Dok!" lirih dan lesu.


Setelah dokter itu berlalu pergi, Nathan tersungkur sampai membentur tembok. Kemudian pemuda itu mengacak-acak rambutnya, seperti merasa putus asa.


Nathan kemudian, berjalan kembali menghampiri Rehan.

__ADS_1


"Om, aku mohon,kali ini biarkan aku pergi. Nanti kalau mama sudah bangun, bilang saja padanya, kalau aku bukan anak baik, hanya berpura-pura baik. Bilang saja, kalau aku ini sengaja mendekati keluarga ini, karena ada maksud tertentu demi keuntungan sendiri karena tahu beliau adalah pelukis handal, yang memiliki sebuah galeri dan keluarga yang kaya. Bilang juga kalau aku ini bejat, licik__"


"Stop! apa maksudmu mengatakan hal seperti itu? hah!" Rehan dengan cepat menyela ucapan Nathan.


"Hanya itu jalan terbaik, agar mama tidak mengingatku lagi,Om. Bilang juga, kalau Kak Arsen adalah orang yang aku bayar, untuk mengarang-ngarang cerita itu. Please Om. Aku ikhlas, walaupun mama tidak mengingatku dan bahkan sampai membenciku, nanti. Yang lebih penting,mama bisa hidup normal dan bahagia seperti dulu," Nathan memohon sembari menangkupkan kedua tangannya di depan wajah Rehan. Wajah pemuda itu juga kini sudah banjir dengan air mata.


"Tidak! tidak akan ada yang akan pergi. Kamu harus tetap stay, menunggu sampai mama kamu sadar. Tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya, pasti kita akan menemukan caranya,"


"Tidak ada cara lain lagi, Om. Hanya ini cara yang paling tepat. Aku janji setelah ini aku akan pergi sejauh-jauhnya. Tapi sebelum aku pergi, Om berjanji dulu, akan mengatakan seperti yang aku katakan tadi. Aku tidak peduli kalau aku dicap buruk dan dibenci, karena aku sudah terbiasa mendapatkan pandangan seperti itu. Aku sudah kebal, Om." lagi-lagi Nathan dengan kekeh memohon pada Rehan.


"Tidak! sekali tidak ya tidak!" tolak Rehan dengan tegas.


"Aku juga tidak setuju!" Nicholas buka suara, menimpali ucapan Papanya. "Nathan, kamu jangan putus asa, kita sama-sama memikirkan caranya," ucap pria itu, lugas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arsen yang masih merasa bersalah, duduk menyendiri tidak jauh dari Nathan dan Nicholas. Sementara, Rehan pergi untuk mengurus pemindahan ruangan Naura yang direncanakan akan dipindahkan ke ruangan VIP.


Ketika kepala pria itu bergerak menoleh, ke arah lain, tiba-tiba matanya melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang berjalan dengan raut wajah lesu. Sosok itu tidak lain adalah Angga kakaknya.


"Kak, Angga? kenapa dia ada di rumah sakit ini? apa yang dia lakukan di sini?" batin Arsen bertanya-tanya.


"Kak Angga!" Panggil Arsen sebelum Angga benar-benar pergi.


Sementara itu, Angga yang mendengar seseorang memanggil namanya seketika berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Wajah pria itu seketika berubah pucat seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali.

__ADS_1


Suara Arsen yang memanggil nama Angga, juga mengalihkan perhatian Nathan. Pemuda itu juga tidak kalah kagetnya, melihat keberadaan Angga di rumah sakit.


Tbc


__ADS_2