Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Panggilan video


__ADS_3

Hari baru saja berganti, Nurdin baru saja hendak menutup matanya ketika pintu terbuka tiba-tiba. Pria yang sudah lanjut usia itu begitu terkesiap melihat sosok yang muncul yang tidak lain adalah Naura putrinya sendiri dan dari belakang wanita itu menyusul Rehan suaminya.


"Naura, kenapa kamu sudah ada di sini? bukannya seharusnya kamu berangkat hari ini dan sampainya besok?" tanya Nurdin di sela-sela rasa kagetnya.


"Aku tidak sabar untuk langsung datang ke sini, Pa! aku langsung pesan tiket dan berangkat kemarin," jawab Naura santai.


"Aduh, gawat! aku bahkan belum sempat meminta Nathan untuk tidak pulang dulu ke rumah. Aku juga belum sempat untuk meminta asisten rumah tangga untuk mengembalikan photo-photo Naura ke tempat semula," Nurdin merutuki kebodohannya.


"Ke-kenapa harus terburu-buru? bukannya papa sudah bilang kalau papa sudan mulai pulih," Nurdin berusaha meredam rasa paniknya.


"Iya aku tahu, Pa. Awalnya aku memang ingin berangkat hari ini, tapi tiba-tiba Angga datang dan memberitahukanku kalau ternyata Nathan ada di London ini, hanya saja dia tidak tahu di mana alamatnya. Karena itulah aku tidak sabar dan buru-buru ke sini. Aku hanya ingin mencari keberadaan Nathan di London ini, Pa." Naura terlihat sangat bersemangat, berbanding terbalik dengan reaksi Nurdin yang pucat.


Sedangkan Rehan hanya bisa berekspresi pasrah.


"London ini luas,Naura. Tidak mungkin kamu bisa mencarinya," ucap Nurdin.


"Tidak ada yang tidak mungkin, Pa. Aku yakin kalau Nathan akan menekuni bakat melukisnya. Aku bisa cari dia di tempat-tempat wisata, karena aku yakin kalau dia pasti ada di salah satu tempat itu,"


Nurdin terdiam tidak tahu lagi mau mengatakan apa. Pria lanjut usia itu kini hanya bisa pasrah.


"Oh ya, Pa, tadi aku dari rumah lebih dulu, tapi aku tidak melihat photoku satupun. Kenapa bisa seperti itu?" akhirnya pertanyaan yang sangat ditakutkan oleh Nurdin keluar juga dari mulut Naura.


"Emm, itu karena sudah sangat berdebu dan aku meminta asisten rumah tangga untuk membersihkannya," ucap Nurdin, berbohong.


"Siang, Kek!" tiba-tiba pintu ruangan Nurdin terbuka.


Naura dan dua orang pria berbeda usia itu sontak menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang baru datang, yang tidak lain adalah sosok yang selama ini sangat dirindukan oleh Naura. Siapa lagi dia kalau bukan Nathan.

__ADS_1


Baik,Naura maupun Nathan sama-sama terkesiap kaget. Mata Naura membesar dengan mulut yang terbuka, demikian juga dengan Nathan.


"Na-Nathan!" gumam Naura, mengerjap-erjapkan matanya, antara percaya dan tidak percaya pada penglihatannya.


"Mama!" seru Nathan yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati saja. Perasaan pria itu kini campur aduk. Antara senang melihat wanita yang melahirkannya itu baik-baik saja, dan khawatir kalau wanita itu marah dan benci padanya. Dia mengira kalau mamanya itu masih amnesia dan Rehan papa sambungnya mengatakan seperti yang dia minta dulu.


Tanpa berpikir panjang, Naura seketika menghambur memeluk Nathan yang kini berdiri bagaikan patung.


"Nathan, kamu ternyata ada di sini, Nak! mama sangat merindukanmu. Kenapa kamu pergi meninggalkan mama, Sayang? kamu baik-baik saja kan?" Naura memeluk, memegang kedua pipi Nathan, dan membolak-balikkan tubuh Nathan yang lebih berisi dibandingkan dengan tiga tahun yang lalu.


"Maaf, Tante. Aku Alex bukan Nathan," Alex masih berusaha untuk menyangkal.


"Ya, kamu Alex. Kamu menggunakan nama tengahmu. Kamu itu Nathan Alexander Pramono. Aku yang memberikan nama itu ketika kamu lahir. Kamu itu Nathanku, anak yang aku kandung selama sembilan bulan, dan aku lahirkan dengan penuh perjuangan. Mama tidak mungkin salah mengenali anaknya," tutur Naura dengan air mata yang sudah merembes keluar.


"Ma-mama sudah ingat semuanya?" ucap Nathan dengan terbata-bata dan mata yang berkaca-kaca.


"Ma, ini bukan salah,Mama. Mungkin ini sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, dan mau tidak mau kita harus menjalaninya," Nathan menggenggam kedua tangan Naura dan menurunkannya. "Sekarang aku sudah lega. Dengan Mama mengingatku saja, sudah membuat aku bahagia,Ma. Aku tidak mau berharap lebih," ucap Nathan dengan cairan bening yang tanpa dia sadari, sudah menetes di pipinya.


"Sekarang kamu mau apa, Nak? kamu mau mama melakukan apa, untuk menebus waktu yang terbuang sia-sia?" ucap Naura dengan sedikit sesunggukan.


"Nathan tidak mau apa-apa. Yang aku mau Mama sehat dan bahagia, itu sudah menjadi kebahagiaan buatku," ucap Nathan tulus. Namun, walaupun Nathan berbicara seperti itu, masih ada yang mengganjal dalam pikirannya, mengenai keberadaan mamanya di kamar kakek Nurdin.


Kemudian Naura mengalihkan tatapannya, menatap ke arah Nurdin papanya.


"Pa, apa maksudnya ini? dia itu Nathan, anak yang aku cari, Pa!" pekik Naura sembari menatap papanya menuntut penjelasan.


"Papa? jadi ...." gumam Nathan sembari melihat ke arah Nurdin dan Naura bergantian.

__ADS_1


"Dia itu kakek kamu, papanya mama, Nathan," mata Nathan membesar dengan sempurna, benar-benar kaget dengan kenyataan yang baru saja dia dengar.


"Maafkan papa , Naura! maafkan Kakek juga. Nathan! sebenarnya aku sudah tahu dari awal kalau kamu itu cucuku. Aku tahu ketika pameran, aku melakukan panggilan Video dengan Nicholas dan dia melihat kamu ___"


"Jadi Nicholas juga sudah tahu? tapi kenapa dia merahasiakannya,Pa? dan kenapa papa juga ikut-ikutan merahasiakannya? apa ini semua gara-gara Nicholas? ini semua permintaan dia kan?"belum sempat Nurdin menyelesaikan ucapannya, Naura sudah menyambar dengan cepat, memotong ucapan papanya itu.


Wanita itu juga mengalihkan tatapannya ke arah Rehan, menatap suaminya itu dengan tatapan yang sangat tajam."Dan kamu, kamu juga pasti sudah tahu kan rencana anakmu itu? kamu dan dia bekerja sama mengelabuiku. Kamu sengaja merahasiakannya dariku, supaya Nathan tidak kembali lagi, sehingga niat Nicholas yang ingin memiliki Renata, terwujud. Kalian berdua benar-benar egois. Nicholas hanya mementingkan kebahagiaan dirinya sendiri sedangkan kamu, demi Nicholas, tega mengesampingkan rasa kemanusiaanmu," Naura terlihat benar-benar marah sekarang.


"Tu-tunggu dulu! Kak Nicholas bertunangan dengan Renata? apa maksudnya ini semua?" Nathan buka suara menimpali ucapan mamanya.


"Iya, Nicholas sudah mengambil kesempatan dengan tidak adanya dirimu untuk bisa memiliki Renata,"


"Ma, ini tidak benar kan? mama sedang bercanda kan?" Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.


"Mama tidak __"


"Sayang, kamu ikut aku sebentar! ada hal penting yang ingin aku bicarakan!" Rehan menarik tangan Naura, mengajak istrinya itu keluar.


"Aku tidak mau! kenapa emangnya di sini? kamu benar-benar egois!" Naura menepis tangan Rehan dari pergelangan tangannya.


"Aku tahu, kalau Nicholas itu putramu, tapi kamu jangan lupa kalau Nathan itu juga putraku. Harusnya kamu bisa adil dan bijaksana. Kamu pasti tahu kalau Renata dan Nathan itu saling mencintai, tapi karena kamu hanya memikirkan kebahagiaan Nicholas, kamu tetap memenuhi keinginan putramu itu. Kamu benar-benar egois, Mas." mata Naura terlihat berapi-api saat mengeluarkan uneg-unegmya.


"Kalau aku ada di posisimu, aku tidak akan melakukan hal itu. Seandainya Nicholas dan Renata saling mencintai dan Nathan juga mencintai Renata, aku tidak akan memaksakan Renata untuk menerima cinta Nathan sekalipun dia itu anak kandungku. Aku akan berusaha tetap adil," lanjut Naura yang akhirnya meluapkan segala hal yang ada di pikirannya secara panjang lebar, sampai tidak memberikan kesempatan pada Rehan untuk buka suara


"Sayang, tolong ikut aku sebentar! jangan banyak bicara dulu!" Rehan masih terlihat sabar. Pria itu kembali meraih tangan Naura dan membawa wanita itu ke luar dan kali ini Naura tidak melawan sedikitpun.


"Jadi, Kak Nicholas dan Renata sudah bertunangan?" gumam Nathan yang masih bisa didengar oleh telinga Nurdin.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2