
Seorang perawat masuk ke dalam ruangan Nathan. Pria itu sudah mulai terlihat tenang, setelah mamanya mengatakan dirinya akan mati, kalau melihat Nathan putus asa.
"Siapa kamu? kamu kah itu Bas? tanya Nathan, karena dirinya tidak tahu siapa yang baru saja masuk. Ya, tadi Bastian permisi keluar sebentar karena merasa sangat lapar Sementara Dava tiba-tiba pergi karena katanya dia ada urusan penting.
"Sorry?" perawat itu mengrenyitkan keningnya, karena tidak mengerti apa yang baru saja keluar dari mulut Nathan.
"Oh, maaf! aku kira keluargaku. Aku tadi bertanya, siapa kamu?" kali ini Nathan menggunakan bahasa Inggris, karena dia bisa menyimpulkan kalau yang baru saja masuk, bukanlah keluarganya.
"Aku perawat di rumah sakit ini Tuan. Aku hanya ingin melihat kondisi anda sebentar. Kebetulan ibu dan papa anda, memintaku untuk menjaga anda untuk sementara, sampai mereka datang," sahut perawat itu dengan sopan.
"Oh, seperti itu? silakan!" ucap Nathan yang sikapnya sudah tidak selemah seperti sebelumnya.
Perawat itu mendekat dan mulai memeriksa Nathan.
"Nona, apa anda masih muda?" tanya Nathan ambigu.
"Kenapa, Tuan bertanya seperti itu? kalau aku masih muda, kenapa, dan kalau aku sudah tua kenapa juga?" dari nada bicara sang perawat terdengar jelas kalau dia tidak senang dengan pertanyaan Nathan.
"Maaf, kalau anda tersinggung dan tidak suka. Hanya saja kalau anda masih muda, aku hanya ingin minta tolong satu hal. Aku hanya ingin anda mengambil photo kita berdua yang sangat romantis dan mengirimkanya pada kekasihku. Aku ingin dia membenciku dan mudah melupakanku. Aku ingin dia mencari laki-laki lain, dan tidak menungguku lagi. Dia layak untuk mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku, yang tidak buta sepertiku," tutur Nathan, sembari menyelipkan sebuah senyuman yang miris.
Perawat itu seketika terdiam. Perasaannya yang tadinya sempat tersinggung kini berganti menjadi rasa kasihan dan simpati.
"Tapi, Tuan, apa anda yakin aku secantik kekasih anda?"
"Kenapa tidak? bukannya setiap perempuan itu memang cantik? aku percaya, kalau anda tidak kalah cantik dengan kekasihku,"
"Tuan sangat baik dan sepertinya sangat mencintai kekasih anda. Tapi, apa anda nanti tidak akan menyesal melakukan hal ini?" perawat itu memastikan.
"Tidak! tekadku sudah bulat. Justru kalau aku masih mempertahankannya, itu berarti aku egois. Secara tidak langsung aku akan membuat dia susah merawat orang buta sepertiku sepanjang hidupnya," sahut Nathan dengan tegas dan lugas.
"Baiklah kalau begitu! jadi,apa yang akan aku lakukan sekarang?" tanya perawat itu, merasa canggung.
__ADS_1
"Anda bisa mencopot yang ada di kepala anda sebentar? kemudian anda bawa aku ke sofa. karena kalau di sini, dia akan tahu kalau aku ada di rumah sakit. Kita berpose romantis dan dengan cepat kamu ambil photonya. Setelah itu, kamu kirimkan ke nomornya," ucap Nathan panjang lebar.
Perawat itu akhirnya melakukan apa yang diminta oleh Nathan. Dia melihat hasil photonya sudah sangat natural, ditambah Nathan yang melepaskan pakaian pasiennya, sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang atletis.
"Seandainya kamu nggak buta, akupun mau menjadi kekasihmu," batin perawat itu.
"Bagaimana? apa kamu sudah mengirimkannya?" tanya Nathan menyadarkan lamunan perawat itu.
"Oh, be-belum! tunggu sebentar!" perawat itu pun mengirimkan photo itu ke nama kontak yang disebutkan oleh Nathan. Awalnya perawat itu merasa ragu, karena merasa aneh dengan nama yang disebutkan oleh pria itu. Dia merasa nama yang disebutkan oleh Nathan, seperti nama seorang laki-laki. Namun, karena tidak mau ambil pusing, perawat itu akhirnya mengirimkannya juga, yang disertai dengan kata-kata, 'aku sudah mempunyai kekasih yang sangat aku cintai di sini. Aku sudah tidak mencintaimu lagi'. Tentu saja Nathan menggunakan bahasa Inggris karena kalau dalam bahasa Indonesia, perawat itu pasti akan kesulitan.
"Ok, Done! ini handphonemu aku kembalikan!" perawat itu memberikan kembali handphone Nathan, dan membantu pria itu untuk kembali ke atas ranjang.
Raut wajah Nathan terlihat tambah sedih sekarang. Sejujurnya dia sangat berat melakukan hal itu. Tapi, pria itu benar-benar tidak mau membuat Renata kesulitan nantinya.
Sementara itu di belahan bumi lain, tepatnya di sebuah ruangan, yang tidak lain adalah ruangan Nicholas, tampak pria itu terlihat sedih sembari melihat sesuatu di layar ponselnya.
Ya, karena pikiran Nathan yang sangat menginginkan Renata bisa bersama dengan Nicholas, tanpa sadar pemuda itu salah menyebutkan nama. Pria itu justru menyebut nama Nicholas ke perawat, sehingga photo bohongannya malah terkirim ke pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Naura dan suaminya serta Nurdin kini sudah kembali ke ruangan Nathan, demikian juga dengan Bastian.
Terlihat Naura dengan sabar dan telaten menyuapkan makanan ke dalam mulut Nathan yang akhirnya sudah mau makan.
"Bagaimana kelanjutan kasus Jeslyn, Om?" Bastian buka suara.
"Dia sudah dipastikan akan mendapat hukuman seumur hidup. Karena memang begitu hukumnya di negara ini," sahut Rehan dengan raut wajah memerah penuh amarah, karena mengingat wajah pura-pura menyesal dari wanita yang bernama Jeslyn itu.
"Oh, seperti itu?" Bastian mengangguk-anggukan kepalanya.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu dan memunculkan dokter yang menangani Nathan. Di belakang dokter itu, ada Dava yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu sekarang, Tuan Nathan?" tanya dokter itu dengan lembut dan tersenyum, walaupun dia tahu kalau senyumnya tidak bisa dilihat oleh pemuda itu.
"Seperti yang dokter lihat. Aku sudah baik-baik saja, dan akan berusaha untuk bisa menerima kondisi kebutaanku," ucap Nathan, optimis.
"Wah, aku kagum dengan semangatmu! tapi, ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan pada kalian semua," lagi-lagi dokter itu menerbitkan senyum manisnya.
"Kabar gembira?" Nathan membeo sembari mengrenyitkan keningnya.
"Iya! Apa kalian semua sudah siap mendengar kabar gembiranya?" lagi-lagi dokter itu tersenyum misterius.
"Dok, tolong jangan berteka-teki. Kabar gembira apa yang anda maksud?" Nathan terlihat sudah tidak sabar.
"Aku tidak tahu, kebaikan apa yang Tuan Nathan perbuat dan atau ini mungkin berkat doa ibumu yang tulus, kamu sekarang sudah mendapatkan donor kornea mata, dan yang membawa kornea itu sudah dalam perjalanan ke sini,"
Semua yang berada di dalam ruangan itu sontak berdiri dari tempat duduk masing-masing karena kaget sekaligus tidak menyangka.
"Anda tidak sedang bercanda kan, Dok? ini benar-benar nyata kan?" Naura buka suara dengan ekspresi wajah yang sudah berbinar dan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tidak berbohong. Kalau tidak percaya, coba nyonya tanyakan pada tuan ini!" dokter itu menunjuk ke arah Dava.
Lagi-lagi semuanya terkesiap kaget dan sontak menoleh ke arah Dava, menatap dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Dava, apa yang dikatakan dokter ini benar?" tanya Naura memastikan.
"Benar, Tan. Kemungkinan besok orang yang membawa donor itu akan tiba di sini," sahut Dava mengiyakan.
"Apa kamu mengenal siapa pendonor itu?" kali ini Nathan yang buka suara.
"Maaf, aku tidak bisa mengatakannya siapa, karena ini permintaan dari beliau. Tapi, kamu akan mengetahuinya setelah kamu bisa melihat lagi,"
Tbc
__ADS_1