Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Sebaiknya kamu pulang.


__ADS_3

Nathan berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah yang tidak semuram sebelum keluar dari rumah itu.


Ketika pemuda itu membuka pintu, dia langsung dikagetkan dengan kemunculan mamanya yang ternyata sudah berdiri di depan pintu, menyambutnya.


"Astaga, Ma. Kenapa Mama berdiri di depan pintu?" Nathan mengelus-elus dadanya.


"Bagaimana tidak, dari tadi mamamu tidak bisa tidur karena menunggumu. Dia tidak tenang sebelum kamu, benar-benar pulang," bukan Naura yang menjawab, melainkan Rehan. Tampak jelas kalau pria setengah baya itu, sudah sangat mengantuk.


"Ya, Nathan. Kami tidak diizinkan tidur sama,Mama. Kami diminta untuk menemaninya di sini," Arsen yang juga terlihat ngantuk, buka suara.


"Ma, bukannya aku sudah bilang, tidak perlu khawatir? aku tidak bodoh dan bertindak macam-macam," sahut Nathan.


"Ya, bagaimanapun mama tetap khawatir, Nak," sahut Naura yang sekarang sudah terlihat tenang.


"Ya udah, sekarang aku kan sudah pulang, mama sekarang tidur ya," ucap Nathan dengan lembut.


"Emm, sepertinya kamu tidak terlalu sedih lagi, apa ada sesuatu yang membuatmu terhibur di luar sana?" celetuk Arsen dengan alis bertaut.


"Emm, ti-tidak ada sama sekali!" sangkal Nathan dengan gugup.


" Bagaimana tidak bahagia, wanita yang dia cintai datang menyusul ke London. Kamu baru bertemu dengannya kan?" tiba-tiba Nurdin muncul dan menyeletuk.


"Wanita yang dia cintai? maksudnya Renata?" Alis Naura bertaut, menyelidik.


"Emangnya, ada lagi wanita yang dia cintai selain Renata? tidak ada kan?" jawaban Nurdin, sudah bisa menyimpulkan kalau dugaan Naura benar.


"Papa tahu dari mana?" tanya Naura dengan kening berkerut.


"Aku punya mata di mana-mana," sahut Nurdin ambigu.


"Ini pasti Damian dan Robert yang menginformasikan ke Kakek," batin Nathan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

__ADS_1


"Nathan sudah pulang kan? aku mau ke kamar. Aku sudah benar-benar mengantuk. Sayang aku duluan ya!" Celetuk Rehan, berlalu pergi.


Nathan menatap kepergian papa sambungnya dengan pikiran yang kembali berkecamuk.


"Papa pasti merasa kesal, karena aku baru bertemu Renata," batin pemuda itu, sembari menghela napas, berat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi kini sudah menjelang, bahkan boleh dikatakan sudah menuju siang, karena jam sudah menunjukkan pukul 10 waktu London.


Nathan terlihat menggeliat, pertanda pemuda itu sudah akan bangun dari tidurnya.


Benar saja, perlahan-lahan pemuda itu mulai membuka matanya. Dia langsung duduk, melakukan peregangan otot untuk beberapa saat kemudian menoleh ke arah jam yang ada di atas nakas.


"What? jam 10!" Nathan refleks melompat dari tempat tidur dan berlari ke luar kamar. Pria itu tidak peduli dengan penampilannya yang hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong.


"Mama! Papa!" teriak pemuda itu.


"Nathan, ada apa? kenapa kamu teriak-teriak?" tegur Naura yang ternyata sedang duduk santai.


"Mereka berdua baru saja berangkat ke bandara. Emangnya kenapa?" Naura mengrenyitkan keningnya.


"Kenapa aku tidak dibangunkan?"


"Tadi Arsen sudah mau membangunkanmu, tapi, papa melarangnya karena tidak mau mengganggu tidurmu," sahut Naura.


"Bukan itu alasan Papa membangunkanku, tapi itu karena papa memang sedang marah karena kejadian tadi malam," ucap Nathan yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Oh, kalau begitu aku kembali lagi ke kamar ya! aku mau mandi dulu!" Nathan berlalu pergi dengan langkah gontai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku baru saja bisa merasa bahagia karena memiliki keluarga lengkap. Apa aku akan merusak kebahagiaan itu, dengan tetap memilih mempertahankan Renata? Papa Rehan, pasti akan merasa kalau aku ini egois," Nathan membatin dengan tatapan yang menerawang menatap langit-langit kamarnya.


"Kak Nicholas juga pernah hampir bersedia mendonorkan kornea matanya, walaupun tidak jadi. Namun, niatnya itu saja sudah bisa membuktikan, kalau dia rela berkorban untukku. Apa aku juga harus berlapang dada mengorbankan perasaanku, dan merelakan Renata pada Kak Nicholas?" lagi-lagi Nathan mengajak hatinya untuk bercengkrama.


"Arghhh, apa yang harus aku lakukan sekarang? kalau aku merelakan Renata pada Kak Nicholas, bukannya itu termasuk kejam? kesannya Renata itu, adalah benda yang bisa dioper ke sana ke mari. Tapi, kalau aku tetap melanjutkan hubungan ini, ada dua hati yang terluka, papa Rehan dan Kak Nicholas," Nathan mengusap wajahnya dengan kasar.


Kemudian, Nathan duduk dan meraih handphonenya. Pria itu berniat untuk menghubungi Renata, akan tetapi masih terlihat keraguan pada sikap pemuda itu.


Pria itu menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan kembali ke udara. Dengan mantap, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Renata.


"Halo, Nathan!" sapa Renata dengan ceria dari ujung telepon.


"Halo, Ren! kamu ada di mana sekarang? di apartemen atau lagi di luar?"


"Aku baru saja sampai di apartemen. Tadi keluar sebentar untuk cari breakfast. Emangnya ada apa,Nath?" tanya Renata.


"Emm,Ren. Kalau boleh aku sarankan, sebaiknya kamu pulang saja ke Indonesia, karena Om Rajendra pasti khawatir sekarang," ucap Nathan dengan sangat hati-hati.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? apa kamu tidak menginginkan aku ada di sini?"


"Kamu jangan salah paham dulu! bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak ingin Om Rajendra semakin tidak menyukaiku. Lagian kamu harus menyelesaikan magangmu, agar kuliahmu cepat selesai," Nathan memberikan alasan yang masuk akal.


"Jadi, bagaimana denganmu?" tanya Renata lagi.


"Kalau aku, masih akan tetap di sini. Aku baru saja selesai operasi kornea mata, dan tidak diizinkan naik pesawat. Di samping itu, aku harus menyelesaikan kuliahku yang tinggal sebentar lagi. Kali ini, tolong kamu nurut ya! kamu pulang ke Indonesia dan selesaikan magangmu dengan benar. Walaupun kamu magang di perusahaan papamu, tapi kamu harus tetap profesional,"


Tidak terdengar respon dari Renata dari ujung sana.


"Ren, apa kamu masih ada di sana? kamu masih mendengarku kan?" tanya Nathan, memastikan.


"Ya, kamu benar! aku akan pulang ke Indonesia besok," pungkas Renata, akhirnya setuju dengan permintaan Nathan.

__ADS_1


Nathan menghela napas panjang dan berat, setelah panggilannya dan Renata terputus. Entah apa yang ada di kepala pemuda itu sekarang, hanya dialah yang tahu.


Tbc


__ADS_2