Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Flashback Anisa


__ADS_3

"Ja-jadi, Papa selama ini ...." Renata speechless, benar-benar tidak menyangka kalau papa yang dia anggap egois selama ini, ternyata tidak seburuk yang dia pikirkan.


Rajendra hanya tersenyum dan memeluk putrinya itu.


"Papa sayang kamu, jadi apa pun yang membuat kamu bahagia, tidak mungkin papa acuhkan," ucap Rajendra sembari mencium puncak kepala putrinya itu.


Sementara itu, Nathan yang juga tidak menyangka cerita sebenarnya, melangkah menghampiri Nicholas. "Terima kasih, ya Kak!" ucapnya dengan tulus.


Nicholas tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Nathan.


"Tapi, bagaimana dengan Kakak? jujur aku jadi merasa tidak enak, karena gara-gara aku Kakak jadi __"


"Kamu jangan pikirkan hal itu!" Nicholas dengan cepat menyela ucapan Nathan, karena dia tahu apa yang akan diucapkan oleh pemuda itu.


"Apa kamu kira aku masih mencintai Renata? dan tidak punya waktu untuk mencari seorang gadis untukku? tidak sama sekali. Rugi sekali aku, jika tidak membuka hatiku pada wanita lain," sahut Nicholas, dengan gaya nyelenehnya.


"Jangan bilang Kakak sudah memiliki pacar?" Nathan mengrenyitkan keningnya, diikuti dengan yang lainnya, tak terkecuali Anisa.


Wanita itu juga merasa penasaran apakah bosnya itu benar-benar sudah memiliki seorang tambatan hati atau belum, mengingat selama ini, dia tidak pernah melihat pria itu bersama dengan seorang gadis.


"Tentu saja sudah! tuh dia orangnya!" Nicholas menunjuk ke arah Anisa.


Semua orang sontak menoleh ke arah Anisa, sedangkan Anisa menoleh ke belakangnya.


"Mana orangnya?" batin Anisa, sembari kembali berbalik menatap ke depan.


Gadis itu sontak kaget sekaligus bingung melihat tatapan semua orang yang mengarah padanya.


"Hei, kenapa semuanya jadi menatapku?" bisik Anisa pada dirinya sendiri.


"Apa yang Kakak maksud Anisa?" Renata menatap Nicholas, memastikan.


"Iya!" singkat padat dan jelas.


"Hah,aku? sejak kapan?" lagi-lagi Anisa bermonolog pada dirinya sendiri.


"Benar kan, Sayang?"tanya Nicholas dengan mata tajam, memberikan isyarat agar Anisa mengiyakan.

__ADS_1


"Eh, i-iya, benar!" jawab Anisa, gugup, mengerti tatapan Nicholas.


"Sialan, dia memperalatku, ini pasti supaya Nathan tidak merasa bersalah," Anisa menggerutu dalam hati.


"Wah, jadi kamu calon menantuku!" seru Naura dengan raut wajah berbinar seraya memeluk Anisa.


"Iya, sepertinya sih," sahut Anisa, gugup.


"Kok, sepertinya? apa kamu masih ragu?" Naura mengrenyitkan keningnya.


Anisa hampir saja menjawab 'iya', tapi dia urungkan ketika tanpa sengaja dia kembali melihat tatapan membunuh dari Nicholas.


"Ng-nggak sama sekali, Tan," sangkal Anisa dengan cepat.


Reaksi bahagia orang lain, sama sekali tidak berlaku bagi Renata. Justru gadis itu terlihat curiga pada Anisa. Bukannya karena dia tidak suka mendengar hubungan Nicholas dengan sahabatnya itu, tapi karena hal lain.


Mungkin karena trauma dulu yang pernah dikhianati seseorang yang dianggap sahabat masih membekas di hatinya hingga membuatnya seperti itu.


" Sejak kapan dia berhubungan dengan Kak Nicholas? kenapa dia menyembunyikan dariku selama ini? kalau dia berhubungan dengan Kak Nicholas sudah lama, bukannya itu termasuk penghianatan? padahal dia tahu jelas kalau Kak Nicholas adalah tunanganku. Coba seandainya kalau aku sudah tidak mencintai Nathan, dan memilih kak Nicholas, apa dia akan tetap memilih untuk berhubungan dengan Kak Nicholas di belakangku sama seperti yang dilakukan oleh Tania dulu? apa dia memanfaatkanku untuk bisa dekat dengan Kak Nicholas dan prinsipnya yang tidak mau berhubungan dengan orang kaya hanya akal-akalannya saja. Kalau iya berarti dia sama aja dengan Tania," Renata sibuk menduga-duga dalam hati.


"Tidak, tidak! aku tidak boleh berprasangka buruk pada Anisa. Tidak semua sama seperti Tania. Anisa itu berbeda!" Renata seketika menghalau pransangka buruknya.


"Renata, Anisa mau menjalin hubungan denganku, karena sebenarnya dia sudah tahu dari awal kalau bukan aku yang bertunangan denganmu, tapi Nathan," celetuk Nicholas tiba-tiba.


"Hah,dia sudah tahu? tapi kenapa dia tidak memberitahukan padaku?" Renata benar-benar kaget dan menoleh ke arah Anisa yang tersenyum padanya.


"Itu karena aku yang memintanya untuk merahasiakan darimu," sahut Nicholas.


"Maaf, Renata. Itulah alasan selama ini, aku selalu mengalihkan percakapan tentang Nathan, karena aku takut keceplosan," Anisa nyengir kuda.


"Kapan kamu tahu tentang itu?" tanya Renata, penasaran.


"Dihari yang sama ketika kamu tidak magang di perusahaan Pak Nicholas eh, Kak Nicholas,"


"What? selama itu!" Renata berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Flashback On

__ADS_1


"Maaf, Pak Nicholas. Sepertinya hari ini hari terakhir aku magang di kantor Bapak. Aku memutuskan untuk berhenti," pungkas Anisa sembari memutar tubuhnya dan mengayunkan kakinya.


"Tunggu, Anisa!" langkah Anisa sontak terhenti, karena tangan Nicholas yang tiba-tiba memegang tangannya.


"Ada apa lagi, Pak? apapun yang akan Bapak lakukan untuk mengancamku agar mau berkerja sama untuk memisahkan Nathan dan Renata, termasuk ingin membuat namaku berada di daftar hitam, aku tetap tidak mau. Jadi, tolong lepaskan tanganku!" ucap Anisa dengan tegas.


"Kamu duduk dulu sebentar, karena ada hal yang ingin aku jelaskan ke kamu,"


Anisa mengrenyitkan keningnya, tapi tetap menuruti permintaan Nicholas untuk duduk di atas sofa.


"Maaf kalau kamu tersinggung! sebenarnya tadi, aku tidak sungguh-sungguh mengajakmu untuk kerjasama. Tapi, aku hanya ingin menguji apa reaksimu, dengan aku menawarkan berbagai keuntungan jika kamu mau menuruti permintaanku. Aku ingin melihat seberapa setia kawannya dirimu. Karena, banyak orang yang munafik di zaman ini. Jadi, aku harus tetap hati-hati," Nicholas berhenti sejenak untuk sekedar menarik napas, mengisi oksigen ke rongga paru-parunya. Sementara itu, Anisa tetap diam sembari menatap tajam ke arah Nicholas.


"Tapi, mendengar kamu menolak permintaanku walaupun aku sudah memberikan ancaman yang sangat merugikanmu, aku bisa menarik kesimpulan kalau kamu itu tulus. Jadi, kamu tetap bisa magang di sini dan aku tidak akan merealisasikan ancamanku," lanjut Nicholas lagi.


"Jadi, Bapak tidak serius untuk memisahkan Renata dan Nathan?" Anisa masih menatap Nicholas dengan tatapan, curiga.


"Tentu saja tidak! justru aku adalah salah satu orang yang ingin mereka bersatu, karena sebenarnya yang bertunangan dengan Renata bukan aku, melainkan Nathan,"


"Hah, kok bisa?" Anisa mengrenyitkan keningnya, gagal paham.


Nicholas kemudian menceritakan semua rencananya, dengan detail tanpa melebih-lebihkan ataupun mengurangi.


"Jadi, seperti itu ya?" Anisa mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti.


"Aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini. Kalau Renata tahu, aku pastikan itu pasti dari kamu. Kalau begitu, aku tidak akan segan-segan untuk merealisasikan ancamanku sebelumnya. Aku tidak main-main!" ucap Nicholas dengan tegas.


"Kok jadi ngancam lagi sih? selain mengancam kamu nggak ada kelebihan lain ya?" ucap Anisa dengan tatapan sengit.


"Ya, kamu memang harus diancam. Kalau tidak, bisa-bisa kamu keceplosan nanti. Makanya, kamu harus selalu hati-hati,"


"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tantang Anisa.


"Ya udah, siap-siap aja kamu kehilangan bea siswa, dan masuk daftar hitam pencari kerja," sahut Nicholas, santai.


Pembicaraan mereka yang awalnya serius akhirnya berakhir dengan perdebatan seperti biasa.


Flashback end

__ADS_1


Tbc


__ADS_2